Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
KERIPIK-KERIPIK


__ADS_3

Author PoV


Beberapa jam sebelumnya.


Adie menggeliatkan badannya. Dia mengintip ke sebelahnya, dia melihat kalau Chacha tidak ada di kursi pengemudi.


Adie pun terbangun. Dia melihat ke belakang membangunkan Ferdi dan Darwin.


"Win. Fer. Bangun woy." Adie menggoyangkan kaki mereka.


Ferdi dan Darwin pun menggeliatkan badannya dan membuka mata.


"Apaan? Udah sampe Jakarta ya?" Ferdi bertanya sambil mengucek matanya.


"Sampe Jakarta pala lu. Gak lu baca tuh plang di depan, Batu Secret Zoo. Which is kita masih di Malang." Kata Adie.


Darwin pun bangun dan duduk. Dia mengambil air minum.


"Chacha mana, Die?" Darwin bertanya.


"Nah. Itu dia. Makanya gue bangunin lu berdua."


Darwin mengernyitkan dahinya, "Maksud lu?"


"Pas gue bangun barusan, si Chacha udah gak ada disini." Jawab Adie sambil menepuk kursi pengemudi.


"Trus kemana dia?" Tanya Ferdi.


"Ya kalo gue tau, ngapain gue bangunin lu."


Darwin keluar dari mobil dan pindah ke kursi pengemudi untuk mematikan mesin mobil. Dia pun keluar lagi. Melihat-lihat sekeliling seperti mencari Chacha.


Ferdi dan Adie pun keluar dari mobil sambil membawa bungkusan makanan yang di beli Chacha lewat drive thru. Ferdi membuka pintu bagasi mobilnya agar bisa duduk.


"Sambil makan Win, supaya bisa mikir." Ferdi memberikan satu bungkusan ke Darwin.


Darwin mengambilnya tanpa berbicara apapun.


Matanya terus memperhatikan sekitarnya.


"Si Chacha masuk ke dalem kali ya." Sahut Adie sambil memakan burgernya.


"Iya kali." Ferdi merespon.


"Coba Win, lu telpon dia." Adie menyarankan.


"Ya udah, bentar." Darwin pun mengambil ponsel dari kantong celananya.


Sambil makan, dia pun mencoba menelepon Chacha.


Namun samar-samar, suara ponsel Chacha terdengar dari dalam bagasi mobil.


Ferdi melihat-lihat bagasi mobil nya, dan mencoba mencari dimana suara ponsel Chacha.


"Win. Nih hand phone Chacha masih di tas lu." Sahut Ferdi sambil memberikan ponsel Chacha ke Darwin.


"Lupa. Dia belum ambil ponsel nya di carrier gue." Darwin bergumam.


Dia melihat ada miskol dari Bunda Chacha dan juga dirinya.


"Trus gimana? Kita cari aja dia ke dalem?" Adie bertanya karena mulai melihat kekhawatiran di wajah Darwin.


Ponsel Chacha pun berdering, Darwin melihat layar ponselnya.


"Bunda lagi nih yang telpon." Darwin berkata.


"Ya udah, angkat aja. Daripada nelponin terus nanti." Saran Ferdi.


Darwin menghela napas dan mengangkat panggilan telpon di ponsel Chacha.


"Hallo bun,"

__ADS_1


"Loh, Win. Kok kamu yang angkat? Emang Chacha kemana?"


"Hmmm itu bun, Chachanya lagi ke toilet. Hand phone nya tadi di titipin ke Darwin." Jawab Darwin.


"Ooo. Trus kalian berempat gimana disana? Chacha kok pagi ini belum kabarin bunda ya Win? Apa dia baik-baik aja?"


"Baik kok bun. Mungkin Chacha kelupaan belum kabarin bunda. Dia keasikan foto-foto."


"Eeeh, emang dasar si Chacha. Ya sudah Win. Nanti tolong bilangin Chacha aja ya kalo bunda telpon. Kalian juga disana hati-hati ya, cepet pulang."


"Iya bunda. Makasih bun."


Darwin pun menutup telpon nya.


"Gimana, Win? Kita nunggu apa masuk aja?" Ferdi pun bertanya.


"Kita tunggu aja deh. Kalo masuk juga malah muter-muter jadinya. Belom tentu ketemu juga si Chacha. Di dalem kan luas. Tapi kalo lu berdua pengen enjoy zoo nya, masuk aja berdua. Gue tungguin disini."


"Gak ah. Gue gak demen-demen banget ke kebon binatang. Kalo kebon yang laen sih, gue mau. Hehe."


"Kebon apaan, Fer?" Adie bertanya dengan polosnya.


"Kebon sirih, tuh di menteng. Hahaha." Jawab Ferdi.


Mereka bertiga pun tetap menunggu sambil menikmati kopi starling.


Sambil ngobrol-ngobrol dan bercanda sesekali. Walaupun tertawa, tapi sebenernya Darwin itu khawatir sama Chacha. Apalagi Chacha perginya sendirian dan bukan di daerahnya.


Pada saat mereka mengobrol, ponsel Chacha berdering lagi. Mereka bertiga pun melihat nama siapa yang menelepon Chacha.


"Mas Rangga." Sahut mereka bertiga kompak.


Darwin tetap melihat ke layar ponsel Chacha. Sementara Ferdi dan Adie saling berpandangan dan mereka menoleh ke Darwin.


Sampai dering panggilan berhenti, kemudian berbunyi lagi. Tetap dari panggilan nama yang sama, Mas Rangga.


"Lu gak coba angkat Win?" Adie bertanya.


Darwin menghela napas dan memberikan ponsel Chacha ke Adie, "Gue ke toilet dulu."


Adie memegang ponsel Chacha yang masih berdering. Dia pun menatap Ferdi.


Ferdi mengangkat bahunya dan menutup pintu bagasi mobil, "Au ah."


Dan dia pun pergi menyusul Darwin.


"Lah kok?" Adie bergumam.


Dia pun melangkah untuk menyusul Ferdi dan Darwin, "Gue ikut woi."


*


Dengan mata penuh kekesalan juga, Chacha saling berpandangan dengan Darwin.


'Dia pikir gue gak bisa pulang sendiri apah.' Chacha berkata di dalam hatinya.


"Bukain bagasi!" Chacha sedikit berteriak sambil berjalan ke belakang mobil.


Darwin hanya melihatnya dari kaca spion.


"Bukain bagasi! Gue mau ambil barang-barang gue dan gue bisa pulang sendiri!" Chacha berteriak dari belakang mobil.


"Win. Kita semua tau Chacha. Dia itu nekat kalo di tantangin." Sahut Adie.


Darwin masih tetap melihat Chacha melalui spion.


"Bukain!" Chacha berteriak lagi sambil memukul pintu bagasi mobil.


"Win. Kita semua gak mau sampe Chacha kenapa-kenapa kan? Lu simpen dulu deh kekeselan lu sama dia, atau sama si Rangga itu." Kali ini Ferdi yang berkata.


Mesin mobil tetap menyala. Darwin pun keluar dari mobil. Dia berjalan menghampiri Chacha.

__ADS_1


Dia menggenggam dan menarik tangan Chacha tanpa berkata apa-apa.


Darwin membuka pintu mobil, "Masuk!"


Chacha balik menatap tajam Darwin, "Nggak!"


"Masuk, atau setelah sampe di rumah, kita gak usah ketemuan lagi." Seru Darwin ke Chacha.


Tentu saja perkataan Darwin itu bikin Chacha agak terkejut. 'Nggak ketemuan lagi? kenapa sih nih orang?' Chacha bertanya dalam hati sambil terus berdiri memandang Darwin.


Adie yang melihat sepertinya akan ada perang dunia ketiga pun segera meraih tangan Chacha dengan pelan, "Cha, udah yuk masuk. Gak usah lu dengerin tuh omongan si Darwin." Adie menarik pelan tangan Chacha agar dia duduk disampingnya.


Chacha pun menuruti Adie. Dia duduk di belakang kursi pengemudi.


Tangannya melipat di dadanya, dengan pandangan yang tajam dan penuh pertanyaan.


Darwin pun kembali ke kursinya dan mulai mengendarai mobil.


Untuk pertama kalinya dalam sejarah persahabatan mereka, mereka berempat hening. Tak ada satu pun yang berbicara.


Keheningan tiba-tiba terpecah karena ponsel Chacha berdering.


Chacha melihat siapa yang meneleponnya.


"Mas Rangga." Gumamnya pelan.


Darwin melirik Chacha melalui spion tanpa diketahui Chacha.


'Si Rangga lagi yang telpon.' Darwin berkata dalam hatinya.


Chacha pun mengangkat panggilan telpon nya.


"Hallo mas,"


Darwin menghidupkan musik di mobil dan mengencangkan suaranya.


Chacha sedikit berteriak berbicara dengan mas Rangga nya.


"Apa mas?! Nanti aja deh mas telpon lagi. Soalnya gue tiba-tiba ada di konser musik nih."


Chacha pun menutup panggilan telpon nya.


Ferdi hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Darwin dan Chacha.


Dia pun mengecilkan volume musik di mobil nya.


"Udah sih, gak usah perang dingin gitu." Sahut Ferdi.


Chacha tetap cemberut dan Darwin tidak menjawab hanya fokus mengemudi.


"Anterin gue ke tempat oleh-oleh yang jual keripik-keripik di Malang." Tiba-tiba Chacha bersuara.


"Lu ngomong sama siapa Cha?" Tanya Ferdi.


"Gak tau. Sama siapa aja yang ngerasa lagi nyetir mobil."


Ferdi nyengir sambil melirik Darwin yang sedang menyetir mobil.


"Denger tuh. Nanti ada yang ngambek jadi pulang sendiri lagi."


"Cha. Emang lu mau beli oleh-oleh keripik-keripik buat siapa?" Adie bertanya ke Chacha.


"Mas RANGGA..." Chacha menjawab dan memberi penekanan pada nama Rangga.


Darwin yang mendengarnya malah menambah kecepatan mobil.


"Weits. Kok tiba-tiba lu jadi Dom Toretto, Win?" Tanya Ferdi yang langsung mengencangkan seat belt nya.


"Soalnya nanti keburu tutup tuh tempat KERIPIK-KERIPIK." sahut Darwin yang tak kalah memberi penekanan pada keripik-keripik.


"Hadeeeeh.." Sahut Ferdi dan Adie berbarengan sambil menggelengkan kepala mereka.

__ADS_1


__ADS_2