Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Delay


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya.


Gue cuma scroll-scroll editan foto aja di laptop. Pikiran gue melayang kemana-mana. Sampe gak ngeh kalo bunda masuk ke kamar gue.


Bunda ngerapiin tempat tidur gue yang sebenernya gak berantakan.


"Tumben seharian dikamar belom abis sebungkus." Sahut bunda melihat bungkus rokok gue dimeja.


"Lagi males ngebul." Gue menjawab pelan.


"Cha. Kalo di Amerika sana ada Chacha-Chacha lain, si Darwin gimana ya?" Bunda bertanya tiba-tiba.


"Hah? Maksudnya, Bun?"


"Kamu gak mau say goodbye ke Darwin? Belom tentu loh kamu bisa ketemu dia lagi."


"Emangnya kenapa, Bun?"


"Ya kalo dia udah selesai kuliah disana, trus dapet kerjaan disana, gimana? Pasti dia menetap disana kan. Trus tiba-tiba kenalan sama Chacha-Chacha lain disana." Bunda berkata senyum-senyum.


"Gak ada Chacha-Chacha lain Bun. Chacha ya cuma satu."


"Itu kalo kamunya yang nunjukin ke Darwin, kalo Chacha itu cuma satu, kamu."


Gue berpikir, "Maksud bunda apa sih?"


"Maksud bunda, Darwin itu bukan orang lain buat kamu. Bunda juga tau koq, kalo kamu itu sebenernya sayang sama dia kan."


Gue menghela napas dan duduk disamping bunda.


"Bun. Chacha emang sayang sama Darwin, tapi dia udah berbuat yang ngelewatin batas di antara kita berdua."


"Batas yang mana? Yang gak boleh ada romantic feeling di antara kalian, atau cara dia waktu berusaha nyelametin kamu di Bromo?"


Gue terkejut dan menoleh ke bunda, "Bunda tau apa yang Darwin perbuat ke Chacha? Trus bunda gak marah sama dia?"


Bunda menggelengkan kepala dan tersenyum, "Cha. Setelah kalian kembali dari Bromo, beberapa hari kemudian Darwin datang ke yayasan untuk ketemu bunda. Dia ngejelasin semuanya ke bunda. Awalnya bunda juga kaget dan mau marah sama dia. Tapi dia melakukan hal yang benar untuk kamu. Kalau dia gak ngorbanin semuanya, termasuk persahabatan kalian, mungkin bunda udah kehilangan kamu. Dan bunda pasti akan lebih menyalahkan dia, Ferdi, dan Adie."


Gue terdiam menunduk dan meneteskan air mata mendengar penjelasan bunda.


"Cha. Darwin cukup bertanggung jawab dengan cerita semuanya ke bunda. Dia juga yang meminta bunda untuk gak bilang ke kamu, karena kamu gak tau apa-apa waktu itu. Dia menjauh dari kamu, karena dia merasa bersalah sama kamu. Makanya waktu itu bunda berpikir untuk membuat kalian baikan."


"Chacha gak tau mesti gimana bun. Semua perasaan Chacha campur aduk. Darwin nyatain perasaannya, trus dia mengakui perbuatannya ke Chacha, dan dia juga berangkat hari ini."


Bunda mengambil tas selempang gue dan memberikannya ke gue.


"Darwin take off jam 9 malam, berarti dia mesti check in jam tujuhan. Kamu ke airport sekarang, minta maaf sama dia dan bilang kalo kamu juga sayang sama dia."


Gue terperanga melihat dan mendengar bunda. Gue memegang tas gue. Gue melihat jam di dinding.


"Sekarang udah jam lima bun."


"Ya udah. Makanya berangkat sekarang. Masih keburu koq dua jam ke airport." Sahut bunda menyemangati gue.


Gue mengambil jaket dan turun kebawah. Mengambil kunci motor. Gue di garasi untuk mengeluarkan motor, ketika papi juga baru pulang.


"Mau kemana, Cha?" Papi bertanya.


"Mengejar cinta, pap." Gue menjawab sekenanya sambil mendorong motor gue, yang kayanya koq motor gue jadi berat gini.


Gue mengecek ke ban motor. Oh my God. "Bundaaaaa...!" Gue berteriak.


"Kenapa Cha?" Bunda bertanya.


"Ban motor Chacha kempes, gimana ini."


"Kamu sih, kelamaan gak pake motor. Berangkat kerja di jemput terus." Sahut bunda.


"Aduuh, bunda. Sekarang bukan saatnya ceramahin Chacha." Gue bersungut.


"Ya udah, pake mobil papi aja. Mumpung masih di luar." Saran bunda.


"Gak usah, bun. Naik mobil pasti gak keburu. Jakarta sore-sore gini pas jam pulang kerja pasti macet." Gue menjawab sambil memesan ojol melalui ponsel.


"Trus kamu naik apa?" Papi yang sekarang bertanya.


"Ojol papi. Nih udah deket koq dia."


Tak berapa lama, sang ojol pun tiba.


Gue pun langsung naik ke motor si ojol. Sumpah, gue gak sabaran sama cara bawa motor si abang ojol.


"Mas. Bisa gak lebih ngebut bawa motor nya?" Gue bertanya.


"Waduh, neng. Ngeri saya kalo bawa penumpang ngebut-ngebut."


"Ya udah mas, saya aja yang bawa motornya, mas saya boncengin."


"Ah, jangan neng. Gak enak saya. Lagian neng kan perempuan. Masa neng yang bawa motornya."


Gue kesel denger jawaban si abang ojol, gue pun memaksa dan sedikit mengancam, "Mas! Saya yang bawa motornya, atau sekarang saya cancel mas, dan saya kasi bintang satu karena pengemudi tidak cooperative."


Mendengar gue berkata begitu, si abang ojol pun menepikan motornya.


"Ok deh neng. Tapi hati-hati ya bawa motornya."


Gue gak ngejawab dan langsung berganti posisi.


'Semoga gue belom terlambat.' Gue bergumam dalam hati.


Eh, bentar-bentar. Ini bukan ceritanya si Cinta ngejar Rangga ke Airport di film AADC yaa. Gak gitu konsepnya.. Lu pada baca aja deh, apa gue sempet ketemu Darwin atau nggak.


*

__ADS_1


Author PoV


Darwin pun menarik kopernya dan berkumpul dengan penerima beasiswa lainnya. Mereka bersiap masuk untuk check in.


Adie dan Ferdi masih setia melihat Darwin yang memasuki pengecekan untuk check in.


Namun mereka seperti melihat ada kendala dengan Darwin dan teman-temannya.


"Lah, itu ngapa si Darwin malah jalan balik lagi kesini, Fer?" Adie bertanya ke Ferdi.


"Mana gue tau. Emangnya gue CCTV." Jawab Ferdi.


Darwin tersenyum menghampiri sahabatnya.


"Kenapa, Win? Koq gak jadi check in?" Adie bertanya.


"Flight nya delay. Jadi gue pikir nanti aja lah check in nya." Jawab Darwin.


"Ooo. Delay berapa jam?" Tanya Ferdi.


"Gak tau. Katanya paling cepet setengah jam."


"Ya udah, kita ngopi-ngopi dulu aja yuk disitu." Ajak Ferdi.


Mereka bertiga pun duduk di cafe untuk ngopi bareng. Darwin juga mengajak teman barunya untuk berkumpul bareng mereka.


"Guys, kenalin nih. Mereka temen seperjuangan gue nanti di US." Darwin memperkenalkan mereka ke Adie dan Ferdi.


"Gue Ronald."


"Gue Bowie."


Adie dan Ferdi pun berjabat tangan dengan mereka.


Mereka berlima bercerita dan tertawa sambil menikmati kopinya masing-masing.


Chacha pun akhirnya tiba di Airport. Dengan terburu-buru dia membuka helm.


"Makasih ya mas."


"Iya neng, jangan lupa bintang limanya."


"Jangankan bintang lima mas, bulan juga saya kasi ke mas kalo saya berhasil ketemu sama dia." Sahut Chacha yang kemudian sedikit berlari menuju pintu check in.


Dia melihat-lihat ke arah orang-orang yang sedang mengantri pemeriksaan untuk masuk ke pintu check in.


"Mana sih si Darwin? Apa iya gue telat dan dia udah take off." Chacha bergumam.


Raut wajah Chacha berubah jadi panik dan khawatir. Bagaimana kalau benar Darwin sudah take off dan dia gak sempat untuk meminta maaf.


"Nah, itu dia si Darwin." Chacha bergumam dan berlari mengejar Darwin yang dia lihat sedang mengantri. Dia menyerobot di dalam antrian, sehingga beberapa orang merasa kesal dengan tingkahnya. Mereka berpikir kenapa cewe ini asal serobot aja dan tidak mengantri.


Dia menepuk bahu Darwin dari belakang, "Win." Sapanya sambil terengah-engah.


"Sorry. Siapa ya? Saya kenal kamu, atau kamu kenal saya?" Tanya orang tersebut.


Chacha terkejut melihat orang yang dia tepuk ternyata bukan Darwin.


"Eh, maaf, maaf. Saya salah orang." Sahut Chacha senyum-senyum sambil melangkah mundur.


Chacha yang membuat beberapa orang yang disalip antriannya jadi bereaksi dan merespon ramai.


Darwin dan teman-temannya yang sedang duduk ngopi mendengar ada keramaian diarah pintu masuk. Darwin berdiri untuk melihat apa yang terjadi.


"Chacha." Dia bergumam dan segera berlari ke antrian tersebut.


Dia melihat Chacha sedang senyum-senyum minta maaf ke orang-orang yang kesal padanya.


Adie dan Ferdi pun ikut menyusul, karena mereka juga penasaran dengan keramaian tersebut.


"Gurita?!" Darwin memanggil.


Chacha yang mendengar suara dan panggilan yang dia kenal, dia pun menoleh ke arah pemilik suara tersebut.


"Darwin?!" Dia bergumam, tersenyum dan langsung berlari ke arah Darwin yang sedang berdiri.


"Win." Chacha langsung memeluk Darwin dengan erat.


Darwin pun memeluknya hingga Chacha terangkat.


"Win. Maafin gue ya." Sahut Chacha di telinga Darwin.


Darwin terus memeluk Chacha. Kemudian dia melepaskan pelukannya dan memegang wajah Chacha dengan kedua tangannya.


"Lu gak salah, Cha." Sahut Darwin tersenyum. Darwin merasa senang karena Chacha akhirnya datang juga untuk mengantarkan kepergiannya.


"Win."


"Ya?"


"Gue juga sayang sama lu. Gue mau koq jadi cewe lu."


Mendengar Chacha berkata seperti itu, Darwin kembali memeluk Chacha. Dia pun mengecup kepala Chacha. Dia merasa bahagia, karena akhirnya Chacha bersedia menjadi pacarnya.


"Tapi, Win." Sahut Chacha.


Darwin melepaskan pelukannya, "Tapi apa, Cha? Gue janji, gue gak bakal ngeduain lu di US. Gue bukan tipe cowo yang gampang suka dan pacaran sama cewe. Lu tau gue."


"Bukan itu, Win."


"Trus?" Darwin bertanya heran.


"Kalo kita pacaran, gak usah aku kamu ya. Aneh kedengerannya. Lu gue aja ya, kaya biasa."

__ADS_1


Darwin tertawa, "Iya. Aneh juga gue manggil lu pake kamu. Hahaha."


Darwin mengambil sesuatu di tasnya. Dia mengambil cincin berlian yang pernah dibelinya dengan cara ngehack.


Dia memakaikan cincin tersebut ke jari Chacha.


"Cha. Sementara gue di US dan belum kerja, lu pake cincin ini dulu ya. Jadi orang-orang tau kalo lu itu udah punya TUNANGAN, gak bisa di gebet."


"Hah? Ya tapi masa pake cincin boleh ngehack?" Chacha bertanya sambil cemberut.


"Sementara aja. Nanti pas gue udah balik dari US dan udah kerja, gue beliin yang baru. Gak dari hasil ngehack. Tadinya nih cincin gue bawa buat koncian aja, kalo gue lagi gak punya duit bisa gue jual. Tapi, gue berubah pikiran sekarang. Gue bakal cari kerja part time disana, jadi gak nganggur-nganggur amat."


"Cieeee, yang tiba-tiba udah tunangan aja. Pake gigi berapa nih, ngebut banget." Sahut Ferdi meledek.


"Waduh, lu pulang nanti kayanya langsung merit ya, Win." Kata Adie nyegir.


Darwin memandang Chacha, "Ya semoga aja."


Chacha mengeluarkan topinya yang berinisial D dari dalam tasnya. Dia memakaikan topinya ke kepala Darwin.


"Supaya lu selalu inget gue." Sahut Chacha.


"Ini bukannya D untuk nama gue?" Tanya Darwin meledek.


"Gak usah kepedean. Itu D untuk DANISHA." Jawab Chacha cemberut.


Darwin tersenyum dan memeluknya lagi, "Gue pasti inget sama lu."


Ronald dan Bowie pun menghampiri Darwin.


"Win, kita check in sekarang yuk. Udah gak delay nih katanya." Ajak Ronald.


"Ya ok. Lu duluan aja. Gue nyusul bentar lagi." Jawab Darwin.


Darwin memandang Chacha, "Cha. Handphone lu mana dah?"


Chacha terheran dan memberikan ponselnya, "Nih. Kenapa Win?"


Darwin menukar sim card tray dari ponselnya ke ponsel Chacha. Mereka berdua memang memiliki ponsel yang sama, hanya warnanya yang berbeda. Ponsel Chacha berwarna merah, dan ponsel Darwin berwarna putih.


"Kenapa di tuker begini?" Chacha bertanya.


"Itu untuk ngebuktiin kesetiaan lu dan gue. Kalau salah satu dari kita ganti handphone atau sim tray nya, berarti kita punya someone else. Lu inget aja, gue selalu ada di deket lu dan lu juga begitu." Darwin menjelaskan sambil menunjuk sim tray di ponsel mereka.


Chacha tersenyum, "Ternyata si gitaris ini bisa romantis juga ya. Ngalah-ngalahin Ed Sheeran."


Darwin pun tersenyum menatap Chacha. Dia mendekatkan dahinya ke dahi Chacha.


"Cha. Kalo gue bisa memilih, gue pasti gak mau berangkat dan memilih sama lu saat ini. Tapi, ini juga impian gue,"


Chacha menutup bibir Darwin dengan jarinya, "Ssst. Gue gak pernah mau jadi penghalang mimpi lu. Gue akan baik-baik aja koq disini, dan nunggu lu pulang."


"Gue cinta sama lu." Sahut Darwin.


"Gue bukan cinta lagi, tapi udah love." Sahut Chacha tersenyum.


Darwin pun tersenyum dan dia pun mencium bibir Chacha dengan lembut.


Chacha pun membalasnya dengan lembut.


"Gue berangkat ya. Gue pasti langsung kabarin lu pas landing." Sahut Darwin lagi.


Chacha pun mengangguk tersenyum.


"Die, Fer. Gue titip Chacha ya. Kalo dia macem-macem sama si Rangga itu, kasi tau gue." Kata Darwin ke Ferdi dan Adie.


"Siaaap." Sahut mereka kompak.


Chacha mencubit Darwin, "Gue gak akan macem-macem sama mas Rangga. Lu tuh yang jangan nyari-nyari Chacha yang lain disana."


"Aduh. Iya nggak. Chacha gue cuma satu, lu doank koq. Gue cabs ya." Darwin mengecup kening Chacha dan melangkah masuk ke pintu check in.


Dia tetap tak melepaskan pandangannya ke Chacha sampai dia benar-benar masuk.


Chacha pun merasa lega setelah dia berhasil mengejar cintanya.


Dia tersenyum menatap cincin di jari manisnya.


"Lu bawa motor apa mobil, Cha?" Ferdi bertanya.


"Gue mau nebeng sama lu lah. Gue naek ojol tadi kesini."


"Wuih. Niat bener donk lu yak." Kata Adie.


"Au ah. Yuk pulang." Jawab Chacha sambil menggandeng dua sahabatnya di kiri dan kanan.


"Trus, kita nongki kemana dulu nih?" Ferdi bertanya.


"Makan ketan yuk, Fer. Udah lama nih kita gak kesana." Ajak Chacha.


"Ayook. Gue juga laper kebetulan."


"Eh, gue masuk kerja midnight. Gak bisa guys." Sahut Adie.


"Ya elah. Sekarang baru jam 8 kali." Kata Ferdi.


"Iya jam 8. Tapi kalo sama lu lu pada, mana kerasa waktunya nanti."


Ferdi dan Chacha saling berpandangan licik. Biasanya kalo udah begini, mereka akan melakukan sesuatu ke Adie agar Adie menuruti mereka.


"Hehehe.." Ferdi dan Chacha tertawa licik.


sim card tray switched

__ADS_1



__ADS_2