
Depan gedung pariwisata.
"Win, kayanya lu tunggu disini aja deh. Biar gue ke dalem sendirian." gue ngomong ke Darwin.
"Kenapa?" tanya Darwin.
"Ya gak papa. Supaya gak ada omongan-omongan gak jelas kalo ada yang ngeliat lu sama gue kesini."
"Yakin lu sendirian gak papa?"
"Iya. Kalo gue kenapa-kenapa, gue tinggal teriak aja. Haha.."
"Ya udah, gue tunggu disini."
Gue mengangguk dan masuk ke dalam gedung pariwisata.
Darwin duduk di tangga pintu masuk gedung.
Sebenernya sih di kampus gue semuanya keliatan sama, orang semua mahasiswa nya pake seragam. Cuma gue aja kali yang keliatan beda, soalnya pake jaket sama topi dikepala gue. Dan selalu dengan sepatu keds.
Pas gue masuk, gak semua mahasiswa di kelas, jadi yaa banyaklah yang ngeliatin gue.
Mungkin mereka mikir gue siapa, jalan seenak-enaknya, seragam juga nggak lengkap.
Gue berjalan ke arah cowo-cowo yang lagi nongkrong di depan kelas. Gue pernah ngeliat mereka di taman ngobrol sama Putra.
Mereka melihat kedatangan gue, dan senyum-senyum.
Senyum yang aneh kalo menurut gue.
"Danisha ya?" tanya salah satu cowo.
Gue menatap dia, "Iya."
"Tumben main kesini." katanya lagi.
"Gue mau nyari Putra. Lu semua temen dia kan?"
"Ooo, nyari Putra. Kenapa gak nyari kita aja?" tanya cowo yang lain.
"Gue gak perlu nyari kalian, kalian gak ada utang sama gue." gue menjawab.
"Ooo, berarti Putra banyak utang ya sama lu."
"Iya. Banyak."
"Wuiiih. Utang apa nih."
"Gak perlu tau. Jadi kalian liat Putra gak?" gue bertanya.
"Putra gak masuk hari ini, dia kayanya masih sibuk rekaman."
Gue menghela napas dan membalikkan badan mau pergi, "Ya udah. Makasih."
"Eh, Danisha. Tunggu. Kalo lu udah putus sama Putra, lu mau gak jadi cewe gue? Gue juga bisa kok nganterin lu kemana-mana."
Gue menghentikan langkah, pengen banget rasanya gue tampol nih orang. Tapi gue inget, kalo gue berantem lagi, Putra bisa dikeluarin dari kampus.
Gue berbalik dan menatap ke mereka, "Yakin lu mau nganterin gue kemana-mana?"
Mereka tersenyum mengangguk, "Kalo ke neraka, mau?" gue berkata sambil meninggalkan mereka.
Mereka semua kaget dan terdiam.
"Wuih, bener kata si Putra. Cewenya ini emang luar biasa." kata seorang cowo.
"Tapi kita liat nanti pas malem lulus-lulusan. Putra bisa gak ngelakuin apa yang kita bilang ke dia." sahut seorang cowo lagi sambil senyum-senyum.
*
Diluar gedung.
Seorang cowo nyamperin Darwin.
"Hei, lu Darwin ya?" tanya nya.
Darwin ngeliatin dia dari atas kebawah, karena Darwin gak kenal dia.
"Gue Galang, anak pariwisata." dia memperkenalkan diri.
"Ooo." jawab Darwin singkat.
"Gue tau lu, karena gambar lu di mading." kata Galang.
Muka Darwin langsung berubah, dia langsung ngerasa mungkin ni orang mau ngebully dia.
Galang duduk disamping Darwin dan menyalakan rokoknya.
"Gue juga dulunya junkie. Kaya lu." kata Galang.
Darwin kaget ngedengernya.
"Malah, gue hampir mati." kata Galang lagi.
"Sekarang sih udah gak sering sakau lagi. Yaa pasti kita juga gak mau gitu terus kan, rasa pengen sembuh pasti ada, walaupun berat banget."
"Trus, lu masih suka pake sekarang?" tanya Darwin.
"Nggak lah. Gue coba untuk ngelawan sendiri." jawab Galang.
"Lu mungkin lebih beruntung dibanding gue, Win." kata Galang.
"Kenapa? Kok lu bisa ngomong gitu?" tanya Darwin.
"Kemaren gue liat kok, lu sama temen-temen lu. Terutama yang cewe itu. Dia sampe naik ke meja untuk ngebelain lu. Lu beruntung punya cewe kaya dia."
Darwin tersenyum, "Dia bukan cewe gue. Dia sahabat gue."
"Mungkin lebih baik begitu ya, soalnya pacar sendiri belum tentu bisa ngebelain kita kaya gitu. Lu juga punya temen-temen yang care sama lu."
"Iya, gue pikir gue juga beruntung punya mereka sebagai sahabat gue."
"Btw, lu lagi ngapain disini?" tanya Galang.
"Lagi nungguin sahabat gue. Dia lagi ke dalem nyari cowonya." jawab Darwin.
__ADS_1
"Danisha ya?" tanya Galang.
"Iya. Kok lu tau?" tanya Darwin.
Galang tersenyum dan berdiri, "Win, sebaiknya lu jagain Danisha. Putra dan temen-temennya itu gak sebaik yang orang-orang kira." kata Galang sambil masuk ke gedung.
"Maksud lu apa, Lang?" tanya Darwin.
Galang berbalik dan tersenyum, "Walaupun lu pernah jadi junkie, tapi gue yakin lu lebih baik daripada orang-orang yang keliatannya baik dan kaya malaikat." kata Galang sambil memberi hormat dengan tangannya ke Darwin.
Darwin hanya terdiam dan bengong. Dia gak begitu ngerti maksud Galang.
*
Gue berjalan menuju pintu keluar gedung, gue ngeliat Darwin masih duduk di tangga.
"Win, udah yuk."
"Udah? Ketemu gak?"
"Nggak. Putra hari ini gak kuliah katanya." gue menjawab Darwin.
"Trus, kita kemana?"
"Makan lah. Gue laper." gue langsung menarik tangan Darwin.
Di tempat makan.
Darwin duduk di depan gue.
"Laper apa kesel?" tanya Darwin.
"Dua-duanya."
Darwin tersenyum.
"Emang hari ini Putra belum chat atau telpon lu?"
Gue menggeleng, "Belom. Tumben juga sih. Biasanya udah kaya jadwal makan, pagi, siang, malem."
"Trus, tadi lu ketemu siapa disana, kok sampe kesel?"
"Ternyata temen-temen nya itu ngeselin. Dasar cowo beneran."
"Cowo beneran?" Darwin heran.
"Iyalah. Kalo cowo nggak beneran tuh kaya lu, Ferdi, Adie. Nggak beneran kuliah, nggak beneran kalo ngomong, nggak beneran kalo ngeledek."
"Haha.. Mana ada teori kaya gitu. Chacha, Chacha.."
"Win, abis makan gue balik lah. Dari kemaren belom pulang."
"Ooo ya udah. Nanti langsung ke kosan Adie aja ya abis makan."
*
Rumah.
Abis masukin motor ke garasi, gue pun masuk ke dalam rumah. Gue ngeliat nyokap lagi terima telpon sambil nyengir-nyengir.
Gue ke dapur berniat mengambil minum, gue terkejut ngeliat ada seorang wanita di dapur, "Anjrit!"
Wanita itu tersenyum ke gue.
'Siapa dia.' gue bergumam dalam hati.
Tau-tau nyokap udah disamping gue.
"Cha, kenalin ini bu Surti. Dia akan tinggal disini bantu-bantuin bunda. Lagian, bunda iseng sendirian kalo kamu nginep-nginep." kata nyokap ke gue.
"Non," kata bu Surti.
"Hah? Non? Aduh, bu. Gak usah panggil saya begitu. Saya bukan tuan putri. Panggil aja Chacha."
Bu Surti mengangguk tersenyum.
Gue duduk di sofa. Nyokap gue pun duduk disamping gue.
"Cha, tadi di kampus ada masalah apa?" nyokap nanya.
"Masalah? Kayanya gak ada."
"Kalo gak ada, kok dekan kamu sampe telpon bunda, dia nanyain riwayat rehab Darwin." kata nyokap.
Gue menghela napas dan menceritakan semuanya ke nyokap gue.
"Ooo, jadi gitu."
"Iya, bun. Chacha juga gak tau siapa yang nempelin itu di mading. Kalo Chacha tau,"
"Kamu mau ngapain? Mau berantem lagi?" tanya nyokap.
"Ya nggak juga sih. Cuma penasaran aja. Apa gak punya hati ya dia, masa mengekspose hal-hal yang kaya gitu." gue menjawab.
"Ya mungkin dia ada maksud lain dari sekedar mengekspose." kata nyokap.
"Gak tau lah bun. Trus, pak dekan bilang apa lagi? Jangan bilang kalo Darwin dikeluarin dan Chacha di skors."
"Nggak kok. Dia gak bilang begitu." kata nyokap senyum-senyum.
Gue aneh ngeliat muka nyokap gue begitu, "Bunda kenapa sih? Kok senyum-senyum gitu?"
"Dekan kamu itu, ternyata ganteng juga loh Cha." jawab nyokap.
Gue kaget sejadi-jadinya, "Ganteng? Emang bunda udah pernah liat dia?"
"Iyalah. Orang tadi kita video call-an." jawab bunda sambil pergi ke kamarnya senyum-senyum.
Gue yang ngedengernya, cuma bengong.
"Vıdeo call-an? Ini sebenernya nanyain riwayat rehab Darwin apa online dating sih jadinya." gue bergumam.
Abis mandi, gue berbaring di kasur kamar gue. Ponsel gue bunyi, gue ngeliat Putra yang telpon. Gue menjawab telponnya.
"Hmmm."
__ADS_1
"Yang, kamu dirumah?" tanya Putra.
"Iya."
"Kata temen-temen aku, tadi kamu nyariin aku ya ke gedung pariwisata?"
"Iya."
"Maafin aku ya yang. Hari ini aku bener-bener padat banget. Break aja sampe di dalem studio. Gak sempet pegang hp."
'Ya gak masalah sih.' dalam hati gue menjawab.
"Iya, gak papa. Aku juga tau kamu sibuk, makanya aku gak chat kamu."
"Besok aku ke kampus deh. Apa mau aku jemput aja paginya?" tanya Putra.
"Gak usah Put. Aku jalan sendiri aja. Nanti ketemu di kampus aja. Ini kamu masih di studio?" gue bertanya.
"Nggak sih. Baru selesai, ini lagi mau makan malem. Lagi otw. Hari ini gak ada jadwal ngamen juga."
"Ooo. Ya udah hati-hati."
"Iya sayang. Ya udah ya, kamu juga langsung tidur aja ya. Bye sayang, love you."
"Bye." gue menutup telponnya dan berbaring lagi.
"Gak usah lu suruh tidur juga gue mau tidur, orang gue ngantuk." gue bergumam.
*
Kosan Darwin.
"Win, Die." Ferdi tiba dikamar Darwin.
"Apaan." jawab Adie.
"Kita makan keluar yok." ajak Ferdi.
"Keluar? Tiap hari juga makan diluar." kata Adie.
"Yee, maksud gue kita makan diluar yang agak jauhan gitu. Ke mall." kata Ferdi.
Adie dan Darwin tertawa ngeliat Ferdi, "Ke mall? Sejak kapan lu jadi kutu mall?" ledek Darwin.
"Yaa, sekali-kali lah yuk. Kita ganti suasana sekalian cuci mata." jawab Ferdi.
"Nyuci mata kok di mall. Dikamar gue aja nih, ada sabun kok dikamar mandi." kata Darwin.
"Ah, elu mah. Beneran nih, yuk. Gue yang traktir deh." kata Ferdi lagi.
Mendengar kata traktir, Adie langsung semangat, "Ayo lah. Kalo di traktir mah, berangkat gue. Jangan ke mall, ke mars juga mau gue. Ayo Win. Masa gue ngemol berdua Ferdi aja. Dikira gayung nanti gue berdua dia."
Darwin pun menutup laptop nya, mengambil hoodie, "Ayo."
Mereka bertiga pun berangkat ke mall untuk makan naik mobil Ferdi.
Di food court mall.
"Rame juga ya. Malem gini." gumam Adie.
"Ini belom malem, Die. Cuma pas jam makan malem aja." kata Ferdi.
"Eh, Win, coba video call Chacha, kita bikin sirik dia." kata Ferdi ke Darwin.
Darwin nyengir dan mengeluarkan ponselnya. Dia menelpon Chacha.
"Halo, ngapain video call jam segini?" tanya Chacha.
Darwin meletakkan ponselnya dimeja agar Chacha bisa melihat Ferdi dan Adie, "Cha, liat nih kita bertiga lagi dimana?" kata Ferdi.
"Lu pada makan dimana? Kok rame?" tanya Chacha.
"Di mall donk. Jarang-jarang kan kita ngemol." ledek Adie.
"Wah. Curang lu ya pada. Giliran gue nginep, boro-boro ngajakin gue makan di mall. Getraw lg, getraw lg kalo makan." kata Chacha cemberut.
"Ferdi yang ngajakin. Dia mau cuci mata katanya." Darwin menyahut.
"Halaaah. Sama aja lu juga kan. Mumpung gak ada gue." kata Chacha.
"Iyalah, mumpung gak ada lu." ledek Ferdi.
Mereka berempat tertawa bersama, ketika Darwin melihat ke arah depannya, dia seperti melihat seseorang yang dia kenal.
"Eh, gue ke toilet dulu ya. Nanti kalo udah telponnya, matiin aja." Darwin pun berdiri dan pergi.
Dia sebenernya mau melihat lebih dekat orang yang dia kenal itu. Dia memakai kupluk hoodie nya agar orang-orang tak mengenalinya.
Dia berdiri gak jauh di belakang meja orang itu.
"Bener. Itu Putra." gumam Darwin.
"Tapi sama siapa dia ya. Kok mereka kaya marahan. Apa iya itu cewenya Putra. Tapi kan cewenya Putra itu si Chacha." Darwin bergumam.
Dia terus memperhatikan Putra dengan seorang cewe tersebut. Dia melihat Putra pindah duduk ke samping cewe itu. Dan lebih dekat.
"Kalo itu sodaranya, masa ngambeknya sampe begitu tuh cewe. Pake di belai-belai lagi. Kayanya bukan anak kampus cewenya." gumam Darwin.
"Emang bener kan feeling gue, Putra ini gak bener. Tapi kalo gue langsung bilang ke Chacha, pasti Chacha gak percaya. Gimana ya." Darwin berpikir.
Tak lama kemudian, Putra dan cewe tersebut pun berdiri dan pergi meninggalkan food court. Putra terlihat menggandeng cewe tersebut.
"Gue gak akan biarin lu nyakitin Chacha. Tapi gue akan nyari bukti lagi, apa sebenernya yang lu mau dari Chacha, kalo lu udah punya cewe." gumam Darwin sambil menuju meja sahabat nya.
"Win, lama amat lu ke toilet. Semedi di toilet?" tanya Adie.
"Ngantri toilet nya. Eh, udahan telpon Chacha?" tanya Darwin.
"Udah. Dia ngantuk katanya." jawab Ferdi.
"Abis makan kita ngegame dulu ya. Udah lama nih gak balapan." ajak Ferdi.
"Suka-suka lu aja lah. Daripada gue pulang ngangkot." jawab Adie.
Darwin hanya diam dan tersenyum kecut. Dia masih memikirkan siapa dan apa yang dilihatnya barusan.
__ADS_1
'Gue sayang sama Chacha, gue gak akan ngebiarin siapapun nyakitin dia.' gumam Darwin dalam hatinya.