
Author PoV
Darwin, Ferdi, dan Adie tetap melangkah mendaki.
Darwin berhenti sejenak dan melihat ke belakang. Dia terlihat heran karena dia tidak melihat Chacha di belakang Adie ataupun Ferdi.
Adie yang tetap mendaki dengan pandangan melihat ke titiannya tidak sadar kalau Darwin berhenti di depannya, dan menabrak Darwin.
"Aduh." Sahut Adie.
"Lu ngapain berhenti, Win. Gak bilang-bilang lagi."
"Kenapa berhenti, Win?" Tanya Ferdi yang kemudian bersama mereka.
"Chacha mana Fer?" Darwin bertanya ke Ferdi.
"Ada di belakang gue." Jawab Ferdi sambil membalikkan badannya melihat ke belakang.
"Mana?" Tanya Darwin.
Ferdi pun terlihat heran, "Lah. Tadi di belakang gue dia."
"Iya. Tapi gak ada sekarang." Kata Darwin.
Adie pun duduk sambil menenggak air minumnya.
"Ya udah. Kita tungguin aja si Chacha disini." Sahut Adie.
"Iya, kita tungguin aja. Itung-itung kita sambil istirahat." Kata Ferdi menimpali dan meminum air nya.
Mereka bertiga pun duduk menunggu Chacha.
Darwin terlihat khawatir.
Setelah beberapa saat, Darwin berdiri. Dia merasa ada yang gak beres dengan Chacha.
Dia pun melihat ke atas langit yang sudah mulai gelap dan udara pun semakin lembab dan dingin.
"Gue nyusul Chacha ke bawah dulu deh." Kata Darwin.
"Serius lu? Udah engap nih gue, kalo di tambah naik turun, bisa abis napas gue." Sahut Adie.
"Ya lu tunggu aja disini kalo engap."
Darwin pun kembali menuruni titian langkahnya dan mencari Chacha.
Ferdi pun berdiri dan mengikuti Darwin turun.
Adie terkejut karena dia di tinggal sendirian.
"Eh, gue ikutan juga deh. Iseng banget gue sendirian nungguin lu pada." Kata Adie yang mengikuti Ferdi dari belakang.
Setelah menuruni beberapa langkah, "Fer, tadi dimana lu terakhir ngeliat Chacha?" Darwin bertanya ke Ferdi.
"Masih di depan situ kayanya deh." Jawab Ferdi sambil menunjuk.
Mereka pun kembali melanjutkan menuruni titiannya.
Tak berapa lama Darwin seperti melihat warna jaket Chacha yg bersandar ke pohon.
Darwin pun melangkah ke bawah dengan cepat, "Chacha!" Serunya.
Darwin menepuk pelan pundak Chacha dari belakang, "Cha."
Namun Chacha hanya diam.
Darwin melangkah dan berjongkok di depan Chacha. Dia melihat Chacha tertidur bersandar ke pohon.
Darwin menggoyangkan bahu Chacha dengan kedua tangannya, "Cha. Bangun Cha."
Tapi Chacha tetap tidak bereaksi.
__ADS_1
Ferdi dan Adie pun menghampiri mereka.
"Cha. Woy. Bangun yuk. Tinggal dikit lagi kok nih kita sampe pananjakan, baru lu bisa tidur." Sahut Ferdi ke Chacha.
Namun Chacha tetap tertidur.
Darwin, Ferdi, dan Adie terlihat mulai khawatir.
"Cha. Jangan main prank-prank deh, ini bukan kosan." Kata Adie.
Darwin membuka sarung tangannya dan memegang kedua pipi Chacha, "Cha. Chacha."
Chacha kemudian malah tergeletak tak sadarkan diri.
Ketika Darwin memegang pipi Chacha, dia merasakan kalau wajah Chacha sangat dingin.
Darwin melepaskan tas carrier nya dan memberikannya ke Ferdi, "Fer, lu tolong bawain carrier gue ya."
Darwin membuka jaket nya dan memakaikan jaket nya ke Chacha, dia pun mengangkat Chacha dengan kedua tangannya, menggendong Chacha layaknya seorang bayi.
Dia pun melangkah naik meniti track pegunungan.
Adie heran yang melihat Darwin mengangkat Chacha dan melewatinya, "Chacha kenapa Win?"
"Hipotermia." Jawab Darwin singkat dan tetap mengangkat Chacha.
Darwin cukup kuat menggendong Chacha dengan kondisi track menanjak.
Adie pun membawa barang-barang Chacha yang tergeletak di dekatnya tadi.
"Win, tadi Chacha kenapa gak di bawa turun aja supaya lu lebih gampang bawanya!" Seru Ferdi ke Darwin.
Sambil terengah-engah Darwin menjawab, "Ke bawah itu lebih jauh, track nya juga landai dan curam, apalagi udah malem gini. Lebih gampang kalo ke atas."
"Iya, tapi udaranya lebih dingin di atas Win." Sahut Ferdi.
"Sebentar lagi kan kita sampe pananjakan. Jadi bisa bikin api unggun dan bangun tenda disitu." Jawab Darwin sambil terengah-engah.
Darwin membaringkan Chacha yang tak sadarkan diri ke dalam sleeping bag. Wajahnya terlihat sangat panik.
Dia menggosokkan kedua tangannya ke telapak tangan Chacha, "Cha, ayo donk bangun." Dia berkata pada Chacha yang masih tak sadar.
Ferdi mengambil sweater dari carrier nya dan memberikannya ke Darwin, "Win. Lu pake nih. Jangan sampe lu juga gak sadar kaya Chacha."
Darwin pun memakai sweater dari Ferdi.
"Bro, gimana nih ya. Api nya gak mau nyala-nyala. Rantingnya lembab." Kata Adie ke Ferdi dan Darwin.
Darwin tak menggubrisnya, dia mengangkat Chacha beserta sleeping bag nya ke dalam tenda.
"Hhhhkk. Tau gini gue bawa cognag ato brandy tadi." Ferdi menggerutu.
Dia kemudian membantu Adie menyalakan api.
Darwin di dalam tenda bersama Chacha yang masih tak sadarkan diri. Dia mengusap wajah Chacha, "Cha. Please. Respon gue apa aja."
Darwin berusaha membuat Chacha sadar, dengan napas yang terengah-engah dan mengeluarkan asap dari hidungnya karena dingin.
Tak terasa air matanya menetes karena melihat Chacha masih belum memberi respon.
"Win." Ferdi masuk dan duduk di depan tirai tenda.
Darwin hanya menoleh padanya.
"Win, kita keluar dulu. Udah lumayan ada api diluar walaupun kecil." Ajak Ferdi.
"Tapi Fer, ini Chacha belum sadar." Jawab Darwin.
"Kita pikirin caranya gimana bikin Chacha sadar. Ayo." Ajak Ferdi.
Darwin pun menutup sleeping bag hingga ke wajah Chacha. Dia keluar dan duduk di depan api unggun kecil bersama Ferdi dan Adie.
__ADS_1
"Suhu tubuh Chacha makin turun." Kata Darwin khawatir.
"Ok. Kita bertiga gak mau kalo sampe Chacha kenapa-kenapa kan." Ferdi memulai pembicaraan.
"Gue sama Adie tadi udah ngobrol, berdasarkan apa yang pernah dia baca, kalo kita mau Chacha sadar, lu harus tidur bareng dia Win."
"Maksud lu?" Tanya Darwin yang kurang mengerti perkataan Ferdi.
Adie mulai berbicara, "Win. Ketika kondisi tubuh Chacha mulai turun, dan respon tubuh nya juga gak ada, padahal udah diselimutin dan dipakein jaket sampe berlapis-lapis, cara terakhir lu harus memberikan kehangatan tubuh lu ke dia. Lu tanpa pake baju, Chacha juga, lu peluk dia di dalem sleeping bag, itu sleeping bag yang double kan, bisa muat berdua. Lu transfer energi panas dalam tubuh lu ke dia."
Darwin terkejut mendengar perkataan Adie, "What? Maksud lu gue sama Chacha naked, terus gue meluk dia gitu?"
Adie dan Ferdi mengangguk, "Iya."
"Ah. Gila lu berdua. Nggak mau ah. Gue itu sayang sama Chacha. Walaupun dia sering nginep dikosan gue, gue gak pernah sekalipun ngeliat Chacha telanjang. Kalo Chacha sampe tau gue meluk dia dalam keadaan naked, pasti dia langsung marah dan gak mau lagi ketemu gue."
"Tapi ini urgent, Win. Dan dari kita bertiga, cuma lu yang pantes untuk ngelakuin itu ke Chacha." Bujuk Adie.
"Pasti ada cara lain selain itu." Jawab Darwin.
"Win. Kita nggak sempet pikirin cara lain. Kalo sampe suhu Chacha terus menurun dan jantungnya gagal memompa, kita semua akan kehilangan Chacha. Dan yang lebih buruk, kita semua akan disalahin sama bunda dan papinya Chacha." Ferdi membujuk Darwin.
"Tapi Fer,"
"Win. Kalo lu gak mau. Biar gue aja yang ngelakuin itu ke Chacha." Sahut Ferdi sambil berdiri.
Dengan refleks Darwin menahan Ferdi, "Jangan. Biar gue aja."
Darwin pun berbicara, "Tapi gue mohon sama lu berdua, jangan sampe Chacha tau kalo dia sadar nanti."
Adie dan Ferdi merangkul pundak Darwin, "Ini akan jadi rahasia kita bertiga." Kata Ferdi.
Darwin menghela napas dan masuk ke dalam tenda dan menutup tirai tenda nya.
Dia melihat wajah Chacha yang semakin pucat. Dia mengambil handuk kecil dari carrier nya.
Dia membuka sweater, kaos, dan celana jeans nya. Dia hanya memakai boxer nya.
Darwin menghela napasnya dan duduk membuka retseleting sleeping bag.
"Maafin gue Cha." Darwin bergumam.
Dia menutup matanya menggunakan handuk kecil yang diikatkan di mata dan kepalanya.
"Gue sayang dan menghargai lu."
Darwin pun kemudian membuka dan melepaskan jaket dan pakaian Chacha tanpa melihat tubuh Chacha.
Tapi dia tau bagian-bagian inti tubuh Chacha.
Chacha pun kini hanya menggunakan underwear nya atas dan bawah.
Dengan mata yang masih tertutup handuk, Darwin masuk ke dalam sleeping bag, dia menarik retseleting sleeping bag hingga ke dadanya.
Dia memeluk Chacha dari belakang tubuh Chacha.
Darwin memegang kedua tangan Chacha dan didekapkan di depan dada Chacha, kaki Chacha pun berada di antara kedua kakinya.
Wajahnya berada di antara leher dan telinga Chacha.
Masih dengan matanya yang tertutup handuk kecil, "Gue udah janji akan ngelakuin apa pun buat lu. Apa pun." Darwin berbisik di telinga Chacha.
Darwin sama sekali tidak merasakan dingin.
Dia berpikir, mungkin benar ini yang dinamakan mentransfer energi panas lu ketika seseorang mendapatkan gejala hipotermia.
Dia terus mengusap tangan Chacha, sesekali dia mengecup pundak Chacha. Dia pun kembali meneteskan air matanya, "Cha, please respon apa pun. Gue gak akan pernah siap kalo kehilangan lu. Please.." Darwin berbisik di telinga Chacha.
Bukit pananjakan tempat mendirikan tenda.
__ADS_1