
Sabtu pagi.
Suara kamar gue diketuk.
"Cha, bangun."
Gue menggeliat dan melihat jam dikamar.
"Jam 8. Tapi kan hari ini libur, gak ada kuliah." gue bergumam.
Gue membuka pintu kamar, "Bun, ini kan Sabtu, Chacha libur."
"Iya, tapi ada Putra tuh, udah dateng. Kata dia hari ini ada pensi dikampus, makanya dia jemput kamu." kaya nyokap gue.
"Ya ampun!" gue lupa kalo hari ini ada pensi dikampus. Putra juga mau manggung.
Gue langsung keruang tamu.
Putra berdiri dan tersenyum, "Baru bangun?"
"Iya, aku lupa kalo hari ini ada pensi dikampus."
"Ya udah sana mandi dulu, aku tungguin."
Gue langsung berbalik ke kamar mandi.
Nyokap gue nemenin Putra diruang tamu.
"Put, kamu pacaran sama Chacha ya?"
"Iya, tante. Saya izin ya."
"Put, Chacha itu temen cowonya banyak. Terutama tiga sahabatnya itu. Tante takut kalo kamu cemburu ngeliat dia deket sama temen-temen cowonya."
"Iya tante, saya udah tau kok. Mereka cuma temennya Chacha aja kok, sebisa mungkin saya gak jealous."
"Bagus deh kalo gitu. Oiya, kamu juga jangan terlalu cemburu ya sama sahabat Chacha yang namanya Darwin."
"Emang kenapa, tante?"
"Dia itu yang paling deket sama Chacha, rumah dia juga gak jauh dari sini. Tante juga kenal sama orang tuanya. Tante kalo nitip Chacha dikampus, ya sama Darwin."
Putra mengangguk tersenyum, 'Darwin ya. Pantesan aja dia jealous banget waktu gue ngajak Chacha jalan.' gumam Putra dalam hatinya.
"Yuk, Put. Aku udah siap." gue keruang tamu. Kaos longgar, jeans, keds, dan topi kebanggaan gue. Kapan lagi ke kampus pake sepatu keds dan baju bebas.
Putra tersenyum melihat gue.
"Kenapa? Kok ngeliatnya begitu?" gue bertanya.
"Gak papa. Kamu cakep kalo gak pake seragam." jawab Putra.
"Bun, Chacha berangkat ya." gue pamit ke nyokap.
"Tante, saya izin ya. Nanti abis pensi mau ajak Chacha ke tempat kerja saya, dicafe. Mungkin pulangnya malem banget, soalnya saya ada manggung dicafe." Putra izin ke nyokap, gue ngeliat dia dan heran. Gue gak tau kalo nanti dia mau ngajak gue ke tempat kerjanya.
"Ooo, ya udah. Yang penting jangan macem-macem ya." kata nyokap ke Putra.
Putra pun mengangguk dan pamit ke nyokap.
*
Diperjalanan.
"Kok kamu gak bilang kalo nanti mau ngajak aku ke cafe?" gue bertanya ke Putra.
"Ya tadi aku udah bilang."
"Tapi kamu bilangnya ke bunda, bukan ke aku."
"Kan minta izin dulu ke bunda, kalo gak dikasi izin ya aku gak jadi ngajak kamu."
Gue menatap Putra, 'Ni cowo, bisa aja ngejawabnya.' gue bergumam dalam hati.
Beberapa saat kemudian, kita sampe dikampus. Setelah parkir, gue dan Putra menuju lapangan. Panggung musik besar dan banyak orang dilapangan.
"Kamu mainnya jam berapa?" gue bertanya ke Putra.
"Mana aku tau. Aku kan belum ke panitianya. Ini baru mau kesana." jawab Putra sambil menggandeng gue.
Kita ke booth daftar ulang. Natalia menghampiri gue.
"Aduuh, Cha. Untung lu dateng." kata dia yang langsung mengalungkan tanda crew ke leher gue.
Gue ngeliat tanda itu, "Apaan nih?"
"Cha. Tolongin ya. Kita kekurangan orang, sementara yang daftar jadi banyak. Tolong ya bantuin kita." jawab Natalia.
Gue sendiri bingung, "Bantuin apaan?"
"Apa aja deh. Gue tau lu orangnya inisiatif. Jadi gue gak perlu kasi lu tempat dimana lu mesti bantu. Ok Cha? Ok ya. Gue ke sound dulu ya, mau cek." kata Natalia sambil pergi.
Gue bengong masih memegang tanda crew. Dan menoleh ke Putra.
Putra tersenyum dan mengangkat bahu.
"Kamu itu pinter. Pasti kamu tau mesti ngapain." kata Putra ke gue sambil merangkul pundak gue.
Gue menghela napas, "Padahal mau enjoy, kenapa malah jadi panitia." gue bergumam.
Gue menarik Putra ke booth registrasi, karena gue liat disitu kerepotan.
__ADS_1
Gue mengambil daftar nama-nama peserta, mengecek, dan memberikan nomor urut ke peserta.
"Nama band kamu yang mana?" gue bertanya ke Putra sambil memegang list.
"Nih, yang ini." kata Putra menunjuk ke kertas.
"The Men?"
"Iya. Kan cowo semua."
"Ya udah nih, nomor urut kamu." gue memberikan Putra nomor urut untuk bandnya.
"Yang, aku nungguin temen-temen band aku dulu ya diparkiran. Nanti sebelum naik, aku kesini lagi."
"Iya." gue menjawab sambil melihat daftar peserta.
"Yang semangat ya, jadi panitia dadakannya." ledek Putra sambil mencium kepala gue dan pergi.
Gue duduk disamping panitia lain. Seorang cewe, tapi gue gak kenal.
"Makasih ya udah ngebantuin." katanya ke gue.
"Iya, gak papa."
"Lu Danisha kan?"
"Iya."
"Gue Kei. Lu pasti gak kenal, soalnya kita gak pernah sekelas."
"Ooo. Tapi kok lu tau nama gue?"
"Ya tau lah. Tuh di tanda crew ada nama lu."
"Oh iya ya." gue nyengir sambil ngebenerin topi gue.
"Btw, lu cewenya Putra ya?"
"Lu kenal dia?"
"Bukan kenal, tapi tau. Dia kan vokalist nya The Men. Band nya sering tampil di pensi-pensi, suka jadi co-star juga. Mereka main di cafe kan?"
"Iya. Kok lu tau banget ya."
"Tau lah. Band nya kan lagi mau rilis album indie. Disini rata-rata tau dia kok. Cuma dia emang low profile."
"Ooo." respon gue datar. 'Jadi cowo yang gue pacarin sekarang sebenernya cukup dikenal dikampus.' gue bergumam dalam hati.
"Jadi, bener kan, lu pacaran sama Putra?" tanya Kei lagi.
Gue cuma senyum aja gak ngejawab, dan terus ngurusin daftar ulang peserta.
*
Adie dan Ferdi ke kamar Darwin.
"Win, kok lu masih selonjoran?" tanya Ferdi.
Darwin duduk bersandar ketembok.
"Kan libur. Kenapa emang?" tanya Darwin.
"Ayo kita ke kampus. Kan lagi ada pensi." ajak Adie.
"Males ah gue." jawab Darwin.
"Yeee, jangan males. Pasti banyak yang buka botol disana. Kita icip-icip, Win." kata Ferdi.
"Ah, lu mah. Minum aja di otak lu." kata Darwin.
Tak berapa lama, Azis melewati kamar Darwin.
"Lah, elu semua kok masih disini?" tanya Azis.
"Lu sendiri?" Darwin bertanya balik.
"Gue cuma mau ambil henpon ke kamar, abis tu ke kampus lagi. Rame loh dikampus. Lu bertiga malah disini. Si Chacha aja udah dikampus." jawab Azis sambil berjalan ke kamarnya.
Darwin, Ferdi, dan Adie berpandangan, "Chacha udah dikampus? Kok dia gak ke kosan gue dulu, atau ke kosan lu, Win?" Adie bertanya.
"Mana gue tau. Ya udah yuk, kita ke kampus. Nanti banyak yang ngajakin dia buka botol lagi." kata Darwin berdiri dan keluar kamar.
*
Kampus. Acara pun telah dimulai. Pengunjung dan peserta pun sudah memenuhi lapangan.
Gue ngeliat kampus jadi rame, dan ngeliat ketiga sahabat gue juga dateng.
"Samperin gak ya. Samperin aja deh. Kan ada Ferdi sama Adie." gue bergumam dan menghampiri mereka.
"Cha!" Ferdi berteriak manggil gue.
"Heeii. Kok baru pada dateng?" gue bertanya.
"Kita nungguin lu, taunya lu udah disini." jawab Adie.
Mereka bertiga melihat tanda crew di badan gue.
"Lu jadi panitia?" tanya Ferdi.
"Iya. Men-da-dak." gue menjawab.
__ADS_1
"Eh, gue kesitu dulu ya. Gak enak, ditinggalin lama-lama." gue pamit ke mereka.
Darwin menahan tangan gue, "Cha."
Gue menatapnya, 'Sial! Kenapa gue jadi deg deg-an gini.' gue bergumam dalam hati.
"Apa Win?"
"Cha, pasti disini banyak yang buka botol. Lu jangan ikutan ya."
Gue tersenyum menatap dia, dan kedua sahabat gue lainnya, "Iya. Gue gak akan mabok kalo gak ada kalian."
Mereka bertiga tertawa, "Nah, gitu donk. Itu baru namanya bisa di atur." kata Ferdi.
Gue pun langsung menuju meja merchandise, untuk diberikan ke peserta yang udah tampil.
"Sayang," Putra tiba-tiba ada di belakang gue.
Gue membalikkan badan.
"Wuih, bener-bener udah kaya anak band ya, bukan anak pariwisata lagi." gue meledek Putra.
"Bisa aja kamu. Oiya, ini temen-temen band aku." Putra ngenalin temen-temennya.
Gue tersenyum ke mereka, "Hai."
"Put, jadi lu pacaran sama Avril Lavigne ya." ledek seorang temannya.
"Gak lah. Cakepan cewe gue daripada Avril Lavigne. Lagian dia gak maen skateboard." jawab Putra sambil merangkul pundak gue.
Gue cuma nyengir aja. Sebenernya gue gak enak, karena banyak mata ngeliatin gue sama Putra. Mungkin kalo yang sering ke cafe, udah pada sering ngeliat Putra sama bandnya.
"Eh, kita nih yang naik abis ini." kata Putra ke temen-temennya.
"Ya udah yuk." ajak temen-temennya ke backstage.
"Sayang, aku ke panggung dulu ya. Kamu dari sini keliatan kan?" tanya Putra.
"Iya, keliatan kok."
Putra berbisik ketelinga gue, "Nanti di lagu kedua, ada kejutan buat kamu." dia tersenyum dan pergi ke backstage.
Gue cuma diam dan melihatnya pergi.
MC memanggil band Putra. Dia dan temen-temennya pun di posisi masing-masing. Mereka memainkan lagu indie ciptaan mereka sendiri. Beberapa orang yang sering melihat mereka tampil, sudah tau lagunya.
Hingga tiba mereka akan membawakan lagu kedua. Gue ngeliat ke arah panggung.
Putra dan mic nya, dia berkata sebelum bernyanyi.
"Hai semua. Makasih ya masih support The Men. Di lagu kedua ini, gue akan bawain lagu orang sih. Tapi lagu ini khusus gue bawain buat seseorang yang gue sayang. Dan gue seneng banget dia jadi cewe gue." kata Putra sambil melihat ke arah gue.
Semua mata otomatis memandang gue. Seketika itu juga, gue terdiam mematung, 'Aduh. Itu mata banyak amat ya.' gumam gue dalam hati.
Putra melanjutkan perkataannya, "Buat cewe gue yang lagi berdiri disitu, Danisha. Love Song by 311."
Para pengunjung bersorak dan bertepuk tangan. Mereka pun memainkan lagu dan Putra bernyanyi.
Gue hanya terdiam, dan melihat ke arah sahabat gue. Adie emang udah tau pacar gue. Ferdi yang keliatan senyum-senyum ngeledek gue. Tapi gak Darwin. Dia cuma duduk, diam, tanpa ekspresi. Gue gak tau apa yang ada dipikirannya saat ini, apalagi setelah Putra mengumumkan dengan jelas kalo gue adalah cewenya.
Lagunya udah mau selesai, Putra turun dari panggung sambil terus bernyanyi dan menghampiri gue. Dia melingkarkan tangannya dipinggang gue.
"However faraway, I will always love you, however long I stay, I will always love you, whatever words I say, I will always love you, I will always love you." Putra bernyanyi bait terakhir di hadapan gue.
Gue terdiam menatapnya.
"I love you." dia berkata di mic dan memeluk gue.
'Darwin, liat nih. Sahabat lu ini cewe gue sekarang.' Putra bergumam dalam hatinya.
Semua orang bersorak dan bertepuk tangan. Tapi gue ngeliat Darwin berdiri dan meninggalkan lapangan.
Gue gak mungkin berlari dan mengejar dia untuk ngejelasin semua. Dia mungkin marah karena gue gak ngasih tau dia kalo gue punya pacar.
Putra melepaskan pelukannya. Dia mengelap keringat di jidatnya.
Gue mengambil tissue di meja dan mengelap keringatnya.
"Kamu seneng gak, sama kejutan yang aku kasih?" tanya Putra.
Gue cuma mengangguk dan tersenyum. Gue gak tau apa yang gue rasain sekarang.
"Chaaa! Ya ampuun. Gak nyangka gue. Selamet ya, cowo lu juga bentar lagi jadi artis." ledek Nopee ke gue.
Temen-temen cewe gue yang lain juga memberikan gue selamat.
Gue sebenernya bingung, kok pacaran aja di kasi selamat ya. Pacar itu kan bukan piala atau kemenangan dan menang trophy.
"Sayang, makan dulu yuk. Kamu udah gak terlalu repot kan?" tanya Putra yang membuyarkan lamunan gue.
"Iya sih. Tapi kantin juga rame banget."
"Ya udah, kamu mau makan dimana? Apa kita keluar aja? Kalo mau ke cafe masih kesorean sih, masih sepi."
"Makan disekitar kampus aja deh. Gak usah bawa mobil. Traffic flow nya juga ribet kayanya."
"Ya udah, ayo." Putra berjalan sambil menggandeng tangan gue.
Semua mata melihat.
Gue sendiri bingung, mesti seneng atau nggak atas pengakuan yang diberikan Putra di panggung tadi.
__ADS_1
Dan yang masih gue pikirin adalah, kenapa Darwin tiba-tiba pergi setelah dia tau kalo Putra adalah cowo gue.