
Tiba di hotel.
Gue sekamar sama Nopee. Setiap kamar berisi dua orang.
Gue langsung merebahkan diri di tempat tidur.
'Ya ampun, enaknya.' gue bergumam dalam hati.
"Nop, kalo gue anak CEO, gue bisa tidur di hotel tiap malem kali yak. Ini nyaman banget gaes kasurnya." gue berkata ke Nopee sambil nyengir.
"Haha.. Kayanya tadi ada yang gak semangat kesini. Sekarang malah mimpi jadi anak CEO." ledek Nopee ke gue.
"Gue emang males sama acara entar malem. Tapi kalo rebahan kaya gini, gue semangat."
Nopee pun merebahkan dirinya di tempat tidur nya, "Iya sih, ini enak. Nyaman. Tapi, kalo gue mah, dimana aja excited."
Gue tersenyum ngedengernya.
"Eh, Cha. Ngomong-ngomong, nanti malem pasangan dinner lu siapa?" tanya Nopee ke gue.
"Siapa lagi kalo bukan Darwin." gue menjawab.
"Hah? Kok lu bukannya sama cowo lu?" tanya Nopee terkejut.
"Gue aja gak tau mesti pasangan, baru tadi dikasi tau Darwin."
"Lah, terus cowo lu gimana?"
Gue mengangkat bahu, "Gak tau deh. Kayanya dia juga gak ngeh tuh kalo dinner nya mesti pasangan. Soalnya dia juga gak ngomong ke gue."
"Kalo nanti cowo lu pasangan sama cewe laen, gimana? Lu gak jealous?" tanya Nopee lagi.
"Mungkin jealous mungkin juga nggak." gue menjawab sambil nyengir.
"Maksud lu?"
"Soalnya gue juga kan gak tau mesti pasangan. Ya kalo dia pasangan sama cewe laen, ya udah lah. Dadakan juga kali. Kaya gue sama Darwin."
"Lu sendiri, sama siapa?" gue bertanya ke Nopee.
"Sama Adie." jawab Nopee.
"What? Nop, dia udah punya cewe loh."
"Haha.. Iya, gue tau. Lagian kan cuma pasangan dinner doank. Lu pikir pasangan dikehidupan nyata. Lu kali tuh nanti yang jadi pasangan beneran sama Darwin." kata Nopee ngeledek.
Gue tertawa ngedengernya, "Haha.. Sama Darwin? Gile aja luh. Trus, Putra mau gue kemanain?"
"Ya poliandri lah. Emansipasi, jangan cowo mulu yang poligami." jawab Nopee.
Gue melempar bantal ke Nopee, "Gue masih waras, Nop."
"Btw, Cha. Nanti malem lu pake dress?" tanya Nopee.
Gue terbangun dan bersandar di tempat tidur, "Iya. Punya nyokap gue. Nanti lu tolong bantuin gue ya, soalnya ribet kayanya."
"Haha.. Gampang lah itu. Nanti sekalian gue make over elu. Supaya orang-orang gak ada yang ngenalin lu." jawab Nopee nyengir.
Gue heran, "Maksud lu?"
"Ada deh." jawab Nopee.
'Make over? Perasaan gue kok gak enak ya.' gue bergumam dalam hati.
Ponsel gue berdering, Darwin yang telpon.
"Apa Win?" gue menjawab telponnya.
"Cha. Lu dimana?" tanya Darwin.
"Dikamar lah."
"Iya, gue tau. Maksud gue, nomor kamar lu berapa?"
"505. Lu?"
"710. Gue sama Ferdi."
"Ooo."
"Cha, kita keluar dulu yuk. Jalan-jalan di pantai, rame-rame." ajak Darwin.
"Aduuuh. Males gue Win. Udah pewe banget gue rebahan dikasur hotel. Hehe."
"Norak. Kaya gak pernah nginep di hotel aja." ledek Darwin.
"Emang gak pernah. Orang nginep nya dikosan lu mulu. Haha.."
"Jadi gak mau ikut nih?" tanya Darwin lagi.
"Gak deh Win. Gue beneran mau rebahan aja. Agak ngantuk juga gue." gue menjawab.
"Ooo, ya udah. Nanti malem gue jemput lu kesitu sebelum dinner."
"Ok." gue menjawab dan mematikan telponnya.
Gue baru juga mau naro ponsel gue, eh udah bunyi telpon masuk lagi. Kali ini dari Putra.
"Ya Put?" gue menjawab telponnya.
"Kok sibuk terus telponnya?" tanya Putra.
"Iya. Tadi abis terima telpon." gue menjawab.
"Dari siapa?" Putra bertanya penuh selidik.
"Darwin."
"Hmmm. Ngapain dia telpon kamu?"
"Ya gak papa. Tadi ngajakin ke pantai, tapi aku males."
"Kamu dikamar sekarang?" tanya Putra lagi.
"Iya. Sama Nopee. Aku cape, mau rebahan aja."
"Yang, ternyata dinner nya mesti pasangan ya?" tanya Putra.
"Iya." gue menjawab singkat. 'Aduh. Kalo tiba-tiba Putra minta gue jadi pasangan dia gimana ya.' gue bergumam dalam hati.
"Yang, maaf ya." kata Putra.
Gue heran, "Maaf? Kenapa?"
"Nanti kamu gak perlu jealous ya. Soalnya aku pasangan sama cewe lain. Anak pariwisata juga. Soalnya mesti sesama fakultas kan pasangannya." jawab Putra.
__ADS_1
Gue menghela napas lega, "Ooo, ya udah. Gak papa. Tapi kamu juga jangan marah ya, kalo aku pasangan sama cowo lain."
"Kamu pasangannya siapa?" tanya Putra.
"Darwin." gue menjawab pelan.
"Hah? Darwin?" Putra terkejut.
"Iya. Kamu gak perlu jealous lah sama dia. Kamu kan tau dia siapa. Daripada pasangan aku cowo lain yang kamu gak tau." gue menjawab.
"Iya sih. Tapi gak tau kenapa, kayanya akhir-akhir ini dia kaya gak suka deh sama aku. Jadinya aku males juga kalo ngeliat dia sama kamu. Kayanya dia jealous banget sama aku." kata Putra.
'Putra ngerasa juga kalo Darwin akhir-akhir ini emang udah mulai gak suka sama dia. Malah nyuruh-nyuruh gue mutusin Putra.' gue bergumam dalam hati.
"Masa sih, Put? Perasaan kamu aja kali." gue merespon berusaha berada di tengah.
"Gak tau juga deh aku. Ya udah deh yang, kamu istirahat aja ya. Gak usah keluar-keluar, nanti malem malah cape lagi. Kan nanti malem aku mau berduaan aja sama kamu." kata Putra.
"Iya. Lagian emang kita mau lomba lari berdua." gue menjawab tersenyum.
"Haha.. Lebih daripada lomba lari, yang. Ya udah ya. See you. Love you."
"See you." gue menjawab dan mematikan telponnya.
Gue melirik ke Nopee, "Lah. Gue yang ngantuk, dia yang udah merem duluan. ***** juga si Nopee."
*
Sebelum gala dinner.
Gue, Nopee, dan Natalia dikamar siap-siap.
Nopee meminta bantuan Natalia untuk me-make over gue.
Gue ngeliat mereka berdua ribet banget lagi dandan.
"Nat. Siapa pasangan lu pas dinner?" gue bertanya ke dia.
"Coba lu tebak." kata Natalia sambil nyengir dan memoleskan blush on ke pipinya.
"Manalah gue bisa tebak. Cowo yang minta lu jadi pasangan lu kan pasti banyak." gue menjawab.
"Pasangan gue temen lu kok." kata Natalia tersenyum.
"Temen gue? Siapa?" gue bertanya.
"Ferdi." jawab Natalia sambil nyengir.
"Hah? Hahahaha.. Serius?" gue seakan gak percaya.
"Iye, beneran." jawab Natalia.
Gue bertanya heran, "Kok bisa?"
"Emang gak sengaja. Mendadak. Tadi gue ketemu temen-temen lu di pantai. Trus, pas ngeliat Ferdi, gue tanya dia udah punya pasangan apa belum. Dia bilang belum, ya udah, gue tawarin aja supaya jadi pasangan gue. Eh, dia mau." jawab Natalia.
Gue nyengir, "Kok Ferdi sih."
"Yaa abisnya gue males sama cowo-cowo yang ngajakin gue. Kalo si Ferdi kayanya gak pernah ngajak-ngajakin cewe, jadi gue aja yang ngajak."
"Udah, jangan banyak nanya lu, Cha. Cepet ganti baju. Trus, sini biar gue sama Natalia dandanin lu." kata Nopee ke gue.
"Hah? Dandan? Hey, ladies. Gue gak mau di lukis mukanya kaya kalian."
"Gak usah banyak cing cong. Cepetan ganti baju." Nopee menyuruh gue.
"Nop, bantuin gue donk. Ini ribet banget retseletingnya di belakang." gue meminta bantuan Nopee.
Nopee pun menolong gue, "Coba muter." Nopee memutar badan gue.
"Nah, kalo pake dress gini kan lu keliatan cewe nya." kata Nopee.
"Iya betul." Natalia menambahkan.
"Lu berdua gak usah ngeledek." gue menyahut.
"Yee, kalo di bilangin. Sini duduk. Dan diem. Tutup mata lu." sahut Nopee ke gue.
Entah apa yang dia dan Natalia bikin ke muka gue.
"Girls, muka gue pasti udah kaya mau ngelenong deh ya kalian bikin."
"Ssst. Jangan ngomong. Nanti berantakan." kata Natalia ke gue.
Nopee pun mulai melakukan sesuatu dengan rambut gue.
"Nop, mau lu apain rambut gue?" gue bertanya.
"Di ikalin sedikit. Rambut lu terlalu lurus. Lu diem aja pokoknya." jawab Nopee.
'Ya ampun. Kok jadi mereka yang antusias ya ngedandadin gue.' gue bergumam dalam hati.
Setelah beberapa lama.
"Done." sahut Nopee dan Natalia ke gue.
Gue membuka mata gue, gue menatap mereka berdua yang tersenyum.
"Kok lu berdua begitu ngeliatinnya?" gue bertanya.
Nopee menarik gue untuk berdiri dan menghadap cermin.
Gue menatap diri gue sendiri di cermin seperti orang lain. 😳
Gue memegang muka dan rambut gue.
"Eh, jangan pegang-pegang begitu. Nanti rusak make up lu." kata Natalia.
"Lu itu cakep Cha, kalo di make over begini." kata Nopee tersenyum.
"Bukan masalah cakepnya, Nop. Tapi gue malah gak ngenalin diri gue sendiri." gue menjawab aneh.
"Berarti, kita berhasil make over lu. Lu sendiri aja gak ngenalin, apalagi yang lain." kata Natalia tersenyum.
"Gue keliatan aneh kan?" gue bertanya pelan.
Mereka berdua tersenyum, "Lu gak keliatan aneh, Cha. Cuma emang lu aja yang ngerasa aneh." kata Nopee.
Bel pintu kamar pun berbunyi. Gue mendengar suara tiga sahabat gue di luar.
"Nah, itu kayanya para gentlemen udah dateng. Yuk, keluar." ajak Natalia.
Gue duduk di tempat tidur dan berpikir, 'Kalo mereka ngeliat gue begini, pasti mereka langsung ngetawain gue deh.' gue bergumam dalam hati.
"Yeee, malah duduk. Ayo." ajak Nopee.
__ADS_1
"Kalian duluan deh. Nanti gue nyusul." gue menjawab.
"Lah, gimana sih lu?" tanya Natalia.
"Iya, udah sana. Gue nanti nyusul ke ballroom langsung." gue menjawab dan mengusir mereka.
Mereka pun keluar.
*
Di luar kamar.
"Loh, kok cuma kalian berdua yang keluar. Chacha mana?" Darwin bertanya ke Natalia dan Nopee.
"Masih di dalem. Nanti dia nyusul katanya." jawab Nopee.
"Nyusul?" Adie, Ferdi, dan Darwin bertanya heran.
"Iya. Dia lagi mikir kayanya. Yuk, Fer. Kita duluan aja." ajak Natalia ke Ferdi sambil menggandeng tangan Ferdi.
"Ya udah, ayo." kata Ferdi.
"Gue juga duluan deh. Yuk, Die." ajak Nopee ke Adie.
"Ayo. Lu, tungguin aja si Chacha, Win." kata Adie sambil menepuk pundak Darwin.
Darwin hanya mengangguk.
*
Gue menarik napas panjang. Gue mengambil sepatu keds gue dan memakainya.
"Untung dress nya panjang. Jadi sepatu gue gak keliatan. Lagian mana bisa gue jalan kalo pake high heels." gue bergumam sambil mengambil tas kamera gue, memasukkan ponsel dan rokok.
Gue berjalan keluar dan membuka pintu kamar.
Ketika gue membuka pintu kamar, gue terkejut ngeliat Darwin ada di depan gue.
Dia ngeliat gue gak berkedip sedikit pun.
'Waduh. Gue kirain dia udah duluan tadi sama yang lain. Nih pasti dia mau ngeledekin gue deh.' gue bergumam dalam hati.
Darwin juga keliatan beda. Kemeja dan jas hitam, dengan dasi mengkilap berwarna biru dongker.
'Itu warna dasi kok bisa sama kaya dress gue ya?' gue bertanya dalam hati.
"Cha, elu...." Darwin mencoba berbicara.
"Apa? Gue aneh ya kan? Lu ngeledekinnya sekarang aja, mumpung belom ke ballroom." gue berkata ke Darwin.
Darwin tersenyum, "Siapa yang mau ngeledekin lu."
"Trus, kenapa muka lu kaya baru ngeliat setan?" gue bertanya.
"Soalnya setannya cantik." jawab Darwin.
"What?" gue merasa aneh dan menoleh ke belakang gue.
"Lu ngeliat ada setan di belakang gue, Win?" gue bertanya ngeri.
Darwin maju mendekati gue, "Lu setannya." kata Darwin tersenyum.
"Tuh kan, ngeledek. Lagian mana ada setan cantik." gue menggerutu.
"Ada lah. Ni yang di depan gue. Untungnya bukan setan." kata Darwin.
"Aduuuh. Udah deh bercandanya."
Darwin tersenyum, "Beneran kok Cha. Lu cantik."
"Win. Telinga gue langsung gatel-gatel nih denger lu ngomong gitu. Gue alregi sama kata cantik."
Darwin malah semakin tertawa, "Haha.. Dasar gurita aneh. Sini kamera lu, gue mau foto lu dulu."
Darwin pun memoto gue, "Senyum donk. Masa cemberut gitu."
Gue pun memasang senyum terpaksa gue.
Darwin mengeluarkan ponsel nya, "Sekarang kita wefie-an ya." ajak Darwin.
"Hah? Sejak kapan lu doyan narsis."
"Sejak sekarang." jawab Darwin singkat.
Gue menatap dia, "Bentar Win. Dasi lu gak bener." gue menghadap dia dan merapikan dasinya.
Gue tau Darwin menatap gue pas gue ngerapiin dasinya. Gue gak berani liat mata dia, jadi gue cuma fokus ke dasinya aja.
"Udah tuh. Udah rapi. Jadi kaya CEO kan lu." gue ngeledek dia.
"Haha.. CEO apa sales? Kalo ngeledek jangan nanggung." jawab Darwin.
"Apa aja boleh dah. Udah ayo cepetan kalo mau narsis."
Darwin pun mengarahkan kamera depan ponselnya. Kita berdua berfoto dengan banyak gaya.
"Udah." kata Darwin sambil memasukkan ponselnya ke kantong celananya.
Dia mengajak gue, "Yuk. Kalo kita yang terakhir turun, gak enak. Berasa jadi artis nanti diliatin."
"Eh, bentar Win." gue menahan tangan Darwin.
"Apalagi?" tanya Darwin.
"Win, beneran nih gue gak keliatan aneh atau kaya setan?" gue balik bertanya.
Darwin tersenyum, "Nggak, Cha. Lu cantik kok. Serius gue. Nanti lu tanya aja sama papi lu."
Gue menaikkan dress gue sedikit keatas, "Liat nih. Gak aneh kan kalo pake keds?"
Darwin nyengir, "Ya nggak lah. Malah lu aneh nanti kalo pake high heels. Karena jalan lu jadi kaya robot." kata Darwin sambil menawarkan lengannya untuk gue gandeng.
Gue tersenyum dan menggandeng lengannya, "Yuk."
"Win, pokoknya nanti lu jangan kemana-mana ya pas dinner. Lu mesti disamping gue. Soalnya gue gak pede pake baju ginian sama di lukis-lukis mukanya." gue berbisik ke Darwin sambil berjalan menggandengnya.
Darwin tersenyum, "Iya tenang aja. Gue pasti sama lu terus kok."
'Dan yang pasti, Putra dan temen-temennya gak akan berhasil untuk ngerjain lu malam ini, Cha. We will see later.' gumam Darwin dalam hatinya sambil melirik Chacha dan tersenyum.
Dress Chacha
Darwin suit
__ADS_1