
Abis beli banyak keripik-keripik, kita berempat lanjut lagi perjalanan.
Hari udah mulai gelap dan malam.
Gue masih duduk di belakang berdua Adie.
Ferdi yang menyetir mobil sekarang. Dan Darwin di sampingnya.
"Kita nginep di Madiun ya. Gak usah bablas Jakarta deh. Masih cape gue." Sahut Ferdi sambil melirik ke gue melalui spion.
"Gue sih oke oke aja. Kan duduk doank gue mah. Hehe." Sahut Adie.
"Gimana Cha?" Ferdi bertanya ke gue.
"Ya terserah lah."
Tak berapa lama, Ferdi pun membelokkan mobil nya ke sebuah hotel bintang tiga di Madiun.
Kita semua keluar dari mobil. Gue pun hanya membawa tas ransel gue yang isinya baju-baju ganti gue.
Gue berjalan mengikuti mereka bertiga menuju resepsionis hotel.
"Mba. Atas nama Ferdi ya." Kata Ferdi ke seorang petugas FO sambil memperlihatkan ponselnya.
Gue berpikir dan menghampiri petugas FO yang satu lagi.
"Mas. Saya mau check in. Walk in bisa kan?" Gue bertanya.
"Bisa mba. Silahkan isi ini dulu." Jawab sang petugas sambil menyerahkan selembar kertas untuk gue tulis.
Mereka bertiga melihat gue dengan heran. Ferdi pun mendekat ke gue.
"Cha. Lu kenapa check in sendiri? Biasanya juga kita satu kamar berempat."
Gue menghela napas dan menoleh ke mereka bertiga, terutama Darwin. Dia tetep datar mukanya.
"Gue lagi pengen sendiri. Sendirian." Gue menjawab sambil menanda-tangani formulir tersebut.
"Udah nih, mas."
Sang petugas pun meng-input data-data gue di komputernya dan memberikan kunci kamar ke gue.
"Ini kunci nya, mba. Dan ini kupon breakfast nya. Ada lagi yang bisa di bantu? Atau perlu bellboy untuk membawa barang-barang?"
"Gak perlu mas. Makasih ya." Gue menjawab dan mengambil kunci kamar.
Gue pun berjalan menuju kamar gue meninggalkan mereka bertiga yang terpaku ngeliat gue.
*
Setelah mandi dan membersihkan diri. Gue merebahkan diri di queen bed size.
"Ah... Akhirnya bisa rebahan dikasur empuk." Gue bergumam.
Ponsel gue berdering. Adie yang video call.
"Apaan?" Gue bertanya dan melihat dia di layar ponsel.
"Cha. Kamar lu dimana sih? Berapa nomor kamar lu?" Adie bertanya.
"Kenapa emangya? Mau ngapain?"
"Nanti kalo lu kenapa-kenapa, kita gak tau lu dimana, gimana?" Ferdi tiba-tiba muncul di layar.
"Gue gak bakalan kenapa-kenapa kalo sendirian. Lagian kalo kenapa-kenapa juga lu tinggal tanya aja sama FO kamar gue yang mana."
"Trus besok kalo lu bangun kesiangan, lu ketinggalan kita gimana Cha?" Ferdi bertanya lagi.
"Gue bisa pulang sendiri. Gak perlu khawatir. Bilangin tuh sama yang di belakang lu." Gue melihat Darwin yang lagi duduk sambil memainkan ponselnya.
Gue sebenernya ngerasa kalo si Adie sama Ferdi ini juga pasti di suruh Darwin buat vc gue. Kenapa gak dia aja yang nelpon gue. Biasanya juga dia yang paling heboh dan cerewet kalo gue keluar dari barisan.
Gue pun mengakhiri video call tersebut.
"Entah apa salah gue." Gue bergumam.
Group chat di ponsel gue pun bunyi.
__ADS_1
Ferdi
Cha, mau ikut makan malem gak di luar?
Gak. Gue order room service aja.
Adie
Cha. Gak enak makan sendirian di kamar.
Siapa bilang gue sendirian. π
Ferdi
Lu sama siapa Cha?
Gue gak ngebales lagi. Gue tersenyum simpul. Mereka pasti mikir gue sama seseorang di kamar.
Biarin aja lah. Lagian tadi juga si Darwin nyangka gue abis ngedate waktu di Batu zoo.
Gue pun menelpon room service untuk mengorder makanan.
*
"Hhhoooaaam." Gue menguap dan membuka mata.
Gue melihat jam di ponsel.
"Wah. Udah pagi aja. Pantesan gue laper."
Gue pun ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Gue mengambil kupon breakfast untuk sarapan di resto hotel.
Setelah mengambil beberapa macam menu sarapan, gue duduk sendiri dan menyantap makanan gue.
Tiba-tiba, gak tau darimana datengnya, tiga makhluk yang dinamakan cowo duduk juga. Mereka bertiga sarapan di meja yang sama.
Gue menghentikan suapan dan memperhatikan mereka.
"Ya elah. Sejak kapan makan bareng lu satu meja pake permisi." Sahut Adie nyengir.
Gue bergeleng dan melanjutkan makan.
"Cha. Abis sarapan kita berangkat lagi ya." Kata Ferdi.
"Oh. Ya udah. Kirain gue mau ditinggal." Gue melirik Darwin.
Dia membalas tatapan gue, "Lu semalem makan sama siapa di kamar?" Dia bertanya dingin.
"Kenapa emangnya? Lu masih peduli?" Gue menjawab sinis.
"Ya terserah lu sih. Tapi kalo lu kenapa-kenapa, kan gue yang nanti di salahin bunda sama papi lu."
Gue menghela napas dan menyudahi makan, "Ya udah. Kalo gitu, mulai sekarang lu gak usah lagi ngurusin gue. Nanti gue bilangin ke bunda dan papi, kalo ada apa-apa jangan tanya-tanyain Darwin lagi. Karena dia udah gak peduli lagi."
Gue pun berdiri dan melangkah menuju ke kamar.
"Aduuuh. Win. Udah sih. Lu malah bikin si Chacha kesel tau gak." Kata Ferdi ke Darwin.
Darwin tetap memandang Chacha yang berjalan keluar resto hotel.
"Gue gak tau apa yang gue rasain, Fer. Semua campur aduk."
"Lu itu, cemburu, takut keilangan, cinta, tapi sayang lu itu minderan, gak enakan. Jadi lu sebenernya kesel sama diri lu sendiri. Tapi lu lampiasin ke Chacha." Kata Ferdi panjang lebar.
Darwin terdiam mendengar Ferdi.
Adie yang melihat situasi kurang enak pun bersuara, "Udeh Win, santai aja. Yang campur aduk itu gak selalu gak enak. Contohnya es campur, enak kan tuh." Kata Adie nyengir sambil merangkul pundak Darwin.
*
Author PoV
Dua bulan kemudian. Jakarta.
"Iya mas iya. Ini gue lagi siap-siap. Lu udah dimana?" Chacha sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
__ADS_1
"Gue dikit lagi sampe rumah lu. Jangan sampe lu belom mandi yaa. Haha." Sahut Rangga.
"Belom mandi juga gak papa kali. Makin harum semerbak gue." Chacha menjawab.
"Ya udah. Bye."
Chacha pun menutup telpon nya.
Dia turun ke bawah sambil membawa peralatan memotretnya.
Setelah pulang dari liburan, Chacha di tawari oleh Rangga untuk internship photography di kantor majalah nya. Dia juga diminta Rangga untuk membantu Rangga di studio foto miliknya.
Tak lama kemudian, Rangga pun tiba di rumah Chacha.
"Bun, Chacha berangkat dulu ya." Chacha berpamitan.
"Hati-hati ya. Oiya, Cha. Kalo sempet nanti kamu mampir ke rumah Darwin ya."
Chacha terkejut dan heran. Karena setelah pulang dari liburan, hubungannya dengan Darwin tidak seperti dulu lagi. Dia ataupun Darwin tidak lagi saling berkunjung di rumah. Mereka juga tidak ngobrol di chat atau telepon.
"Mau ngapain bun?" Chacha bertanya ke bunda.
"Tolong bayarin pesenan catering untuk yayasan. Nih uangnya." Jawab bunda sambil memberikan uang ke Chacha.
"Kenapa gak di transfer aja sih bun? Atau bunda aja yang kesana anterin uangnya."
"Mama nya Darwin lagi perlu nya cash, gak mau di transfer. Bunda juga gak sempet mau kesana, banyak urusan di yayasan. Nanti juga ada janji mau ngedate sama si papi."
"Aduuuuuh..." Chacha bimbang, karena berarti mungkin dia akan bertemu Darwin, dan dia gak tau apa yang mesti di omongin kalo ketemu dia.
Suara klakson mobil Rangga kembali terdengar.
"Ya udah deh. Nanti Chacha kerumah Darwin. Bye bunda." Chacha pun melangkah keluar rumah dan masuk ke dalam mobil Rangga.
*
Ferdi mulai membuka usaha karaoke dan bar nya. Karena dia anak seorang juragan, maka ayahnya memberikannya modal untuk berbisnis. Dia pun membuka bisnis yang tak jauh dari jurusan kuliahnya.
Adie. Dia mendapatkan wawancara dan panggilan kerja di salah satu hotel bintang lima di Jakarta. Dia bekerja sebagai waiter pada awalnya. Karena performanya bagus, atasannya tidak ragu lagi untuk memberikan posisi Captain di resto hotel tersebut.
Darwin. Dia tetap belum mengerti dengan perasaannya yang tak menentu. Bayang-bayang ketika dia berusaha menyelamatkan Chacha di Bromo, masih saja terlintas dibenaknya. Dan membuat dia semakin merasa bersalah terhadap Chacha. Tapi jauh di dalam hatinya, dia sangat merindukan Chacha. Walaupun hanya sekedar mengobrol dan bercerita. Darwin juga telah mengikuti tes terakhir untuk beasiswanya. Dia sedang menunggu hasil tes untuk beasiswanya.
Darwin sedang berada di depan laptop nya. Ketika ada notifikasi email masuk. Dia pun membuka email tersebut yang dikirim oleh MIT.
Darwin membacanya dan terkejut. Dia terlihat gembira dan tersenyum. Dia berhasil lulus semua tes, dan menjadi salah satu dari tiga orang yang mendapatkan beasiswa dan berangkat untuk study di MIT.
"Yeeeayy. Unbelievable. Gue lulus! America, I'm comiiiiiiiiing!" Seru Darwin di kamar nya.
Darwin segera mengambil ponselnya dan mengetik di grup chat nya.
Darwin
Guys, thanks atas doa kalian. Gue lulus semua tes MIT. Awal bulan depan gue berangkat ke US. πππ
Ferdi
Waaah. Selamet ya mister. Keren banget sih si bangsat ini.. Hahaha.. βπ
Adie
Farewell donk nih. Gue udah bikin nih, list oleh-oleh. Hahaha.. π€£π€£
*
Disuatu tempat.
Chacha sedang memotret suatu objek. Ponselnya berbunyi notifikasi grup chat.
Dia pun membacanya.
"Darwin lulus tes dan mau berangkat. Hmmm." Chacha tidak tau apa yang harus di lakukannya.
Ada perasaan senang karena Darwin akhirnya berhasil mendapatkan apa yang di impikannya, kuliah di MIT.
Tapi, Chacha juga merasa sedih, karena berarti dia gak akan lagi ketemu Darwin untuk waktu yang lama. Walaupun semenjak pulang dari Bromo, diri nya dan Darwin tidak saling berbicara dan bertemu.
"Gimana yaa..?" Chacha bertanya pada dirinya sendiri. Karena dia juga teringat kalau nanti dia harus kerumah Darwin untuk mengantarkan amanat bundanya.
__ADS_1