
Author PoV
"Lu jahat Win!" Seru Chacha sambil meneteskan air mata.
"Cha. Gue gak bermaksud,"
"Gak bermaksud apa?!" Chacha berteriak.
"Lu sekarang tiba-tiba bilang kalo lu cinta sama gue, di waktu yang sama juga, lu ngakuin apa yang udah lu lakuin ke gue di waktu gue gak sadarkan diri, dan itu semua lu akuin ke gue hari ini, setelah besok lu udah berangkat jauh. Selama ini, gue percaya banget sama lu. Entah apa lagi yang lu lakuin ke gue." Chacha berkata dengan kecewa dan pergi keluar dari ruangan karaoke tersebut.
Darwin tetap diam mematung. Dia menyesal telah mengatakan semua kebenaran tentang perasaannya dan apa yang dilakukannya ke Chacha.
Adie keluar ruangan mengejar Chacha.
Ferdi berdiri ke samping Darwin dan merangkul pundaknya.
"Kasih Chacha waktu, Win. Dia pasti shock sama semua pengakuan lu."
Darwin duduk dan mengusap kasar wajahnya.
"Ahkkk! Nyesel gue udah ngomong semuanya ke Chacha. Bener kan sama apa yang gue duga, kalo dia bakalan marah ke gue."
"Sorry Win, kalo gue udah maksa lu untuk ngomong ke Chacha. Tapi gue juga gak nyangka kalo lu mau ngakuin apa yang lu lakuin ke dia waktu dia hipotermia."
Darwin menyalakan rokoknya dan terdiam. Matanya terlihat basah, namun air matanya belum sempat menetes.
Diluar tempat karaoke.
Chacha sedang menunggu taksi, dia memutuskan untuk pulang kerumah. Perasaannya sangat tak menentu.
Adie menghampirinya.
"Cha. Lu jangan marah kaya gini dulu." Bujuk Adie.
Chacha menatap Adie dengan matanya yang masih basah.
"Menurut lu, gue bisa baik-baik aja, Die?"
"Cha. Darwin itu udah lama suka sama lu. Dari kita masih kuliah. Tapi dia takut buat ngomong ke lu, takut lu marah kaya gini."
"Die. Kita berempat udah tau kan dari awal kita sahabatan, no romantic atau heart feeling di antara kita. Trus sekarang kenapa dia harus break the promise?"
"Cha. Dia juga tetep seorang cowo. Apalagi dia sering bareng sama lu. Kalo menurut gue, ya wajar aja kalo dia jadi cinta sama lu."
"Tapi Darwin tau banget kalo gue gak suka sama orang yang gak nepatin janji." Chacha tetap mempertahankan pendapatnya.
Adie menghela napas, "Cha. Kadang-kadang, promises are made to be broken. Dan itu untuk hal yang baik. Gue juga yakin, kalo jauh di dalam hati lu, lu sebenernya juga cinta sama dia."
Chacha terdiam. Dan dia berbicara kembali.
"Dia nyatain perasaannya, dia juga ngakuin apa yang kalian selama ini tutupin dari gue. Trus besok dia berangkat. Kalian para cowo, apa gak sedikitpun mikirin perasaan gue gimana, waktu gue gak sadarkan diri, dan lu ngebiarin Darwin nelanjangin gue dengan alesan untuk nyelametin gue. Kenapa gak sekalian kalian bakar aja badan gue supaya gue sadar dari hipotermia."
"Cha. Apa lu yakin, lu marah sama dia karena apa yang udah dia lakuin waktu lu hipotermia? Atau lu marah karena Darwin baru ungkapin perasaannya sekarang setelah dia mau berangkat besok?" Adie bertanya dengan serius.
Sebuah taksi lewat di depan mereka. Chacha menghentikan taksi tersebut. Dia berdiri dan membuka pintu belakang taksi.
"Die. Gue perlu sendirian saat ini." Sahut Chacha dan dia pun masuk ke dalam taksi.
Adie pun hanya melihat taksi tersebut kemudian melaju.
*
__ADS_1
Akhirnya sampe rumah juga. Gue membayar taksi dan langsung masuk ke rumah. Gue melihat jam tangan, masih jam 9 malam. Pasti bunda dan papi belum tidur.
Gue membuka pintu rumah, dan bener aja, bunda sama papi masih nonton TV.
Gue langsung menuju tangga ke kamar gue. Gue gak bersuara, karena gue gak mau bunda dan papi ngeliat gue semrawut begini kaya baju belom disetrika.
"Cha." Suara bunda memanggil. Gue menghentikan langkah tapi gak berbalik.
"Ya bun." Gue menjawab pelan. Gue berusaha sebisa mungkin supaya suara gue kedengeran biasa aja.
"Koq udah pulang jam segini? Bukannya tadi izinnya sampe midnight?" Bunda bertanya.
"Iya bun. Chacha ngantuk." Gue menjawab.
Bunda pun menghampiri gue. Kayanya bunda ngerasain ada yang gak beres sama gue.
"Ngantuk? Kamu gak minum-minum kan?"
Gue hanya menggelengkan kepala.
"Trus kamu pulang sama siapa? Mana Darwinnya?"
Mendengar nama Darwin di sebut, gue pun meneteskan air mata, dan terisak pelan.
Gue menoleh ke bunda, "Bun. Chacha ngantuk, cape. Chacha mau istirahat." Gue mengusap air mata yang menetes di pipi gue, dan melangkah naik ke kamar.
Gue menutup pintu kamar. Memandangi semua foto-foto gue dan ketiga sahabat gue yang terpajang di tembok kamar.
Semua perasaan gue campur aduk. Marah, kecewa, sedih, semuanya jadi satu.
Gue bertanya-tanya, koq bisa orang yang selama ini gue percaya, yang selalu ada buat gue, sekarang tiba-tiba ungkapin semuanya. Dan mungkin yang paling bikin gue marah, setelah Darwin mengakui semuanya, besok dia terbang ke US. Koq jadi cowo kaya gak ada tanggung jawabnya sama sekali ke gue.
Gue menangis dan memejamkan mata hingga gue lelah dan tertidur.
*
Author PoV
Keesokan harinya. Siang-siang.
Chacha sedang di kamar di depan laptop nya. Dia mencoba untuk mengedit-edit foto untuk kerjaannya. Dia izin untuk tidak masuk kerja ke Rangga. Karena dia merasa tidak enak badan.
"Darwin berangkat hari ini." Dia bergumam sendirian. Dia tidak terlalu fokus pada pekerjaannya.
Tiba-tiba, Ferdi dan Adie datang dan masuk ke kamarnya.
"Cha." Sahut Ferdi dan Adie.
Chacha menoleh ke mereka terkejut.
"Ngapain lu berdua kesini?" Tanya Chacha ketus.
"Cha. Gue minta maaf sama lu." Kata Ferdi.
Chacha menaikkan satu alisnya, "Kenapa lu minta maaf sama gue?"
"Apa yang terjadi di Bromo itu, gak sepenuhnya salah Darwin." Jawab Ferdi.
"Iya Cha. Waktu itu, gue yang bilang ke Darwin untuk nyelametin lu, mesti tidur dan peluk lu naked." Adie menambahkan.
Chacha menggenggam sebuah pulpen dengan geram.
__ADS_1
"Pada saat itu, tadinya Darwin gak mau ngelakuin itu. Dia bilang ke kita, pasti ada cara lain untuk buat lu sadar. Tapi gue paksa Darwin, karena gue juga udah gak bisa mikir apa-apa lagi, Cha. Yang ada di pikiran kita saat itu tuh, gimana caranya supaya bisa balikin suhu tubuh lu normal lagi." Ferdi menjelaskan.
"Kenapa mesti Darwin?" Chacha tetap bertanya ketus.
Ferdi dan Adie saling berpandangan, "Karena kita berdua tau, kalo Darwin itu suka sama lu, sayang sama lu, dia cinta sama lu. Jadi menurut gue dan Adie, cuma Darwin yang pantes ngelakuin itu ke lu. Awalnya Darwin gak mau, Cha. Trus gue bilang, kalo dia gak mau biar gue aja yang ngelakuin itu ke lu. Tapi dia nahan gue, dan akhirnya dia yang maju. Itu karena dia sayang sama lu, dia gak mau ada cowo lain yang mungkin akan berbuat hal-hal yang ngerugiin lu, termasuk gue. Walaupun gue gak ada niat jelek sama lu. Tapi yang dia lakuin itu untuk nyelametin lu sekaligus ngelindungin lu." Ferdi bercerita panjang lebar.
Air mata Chacha menetes lagi di ujung mata.
"Lu tau guys. Walaupun gue sering tidur bareng Darwin, bahkan ketika gue mabok, gue tau kalo Darwin itu gak akan macem-macem sama gue. Tapi ini, gue di bikin half naked sama dia. Dan gue dalam keadaan gak sadar. Sementara dia full dalam kesadaran juga, gak lagi mabok." Chacha berkata sambil terisak.
"Cha. Lu tau apa yang Darwin perbuat demi tetap ngejaga kehormatan lu? Saking sayangnya dia sama lu." Adie bertanya.
Chacha terdiam menggelengkan kepala.
"Cha. Dari awal dia mau ngebuka semua yang nempel di badan lu, dia menutup kedua matanya. Dia iket mata dan kepalanya. Dia tau betapa berharganya lu buat dia. Dan dia tetep menutup matanya sambil memeluk lu, sampe suhu tubuh lu normal, dan makein lagi baju lu. Dia juga rela tidur kedinginan disamping lu tanpa jaket, karena jaket nya di pakein ke lu. Tidurnya juga gak nyenyak karena selalu ngeliat kondisi lu waktu itu. Gue pikir, gue aja belum tentu bisa berbuat sejauh itu sama cewe gue kalo cewe gue kena hipotermia."
Chacha masih terdiam mendengar penjelasan Adie.
"Cha. Gue sama Adie mau nganterin Darwin ke airport sore ini. Lu juga tau kan penerbangan dia malem jam berapa. Lu mau ikut gak? Dari sini gue mau kerumah Darwin jemput dia." Kata Ferdi.
Setelah semua penjelasan yang Chacha dengar, entah apalagi yang Chacha rasakan. Setelah selama ini Chacha sering bareng Darwin, kenapa baru sekarang terungkap semuanya pas dia malah mau pergi.
"Kayanya gue gak ikut, Fer. Bilangin aja ke dia, good luck." Chacha menjawab Ferdi sambil mengalihkan pandangannya ke laptop dan berpura-pura melanjutkan pekerjaannya.
Ferdi menghela napas dan berdiri. Adie mengikutinya. Ketika mereka keluar menuju pintu, Ferdi berhenti dan berkata pada Chacha.
"Cha. Lu gak perlu terlalu mengikuti janji yang pernah kita buat berempat dulu. Cewe sama cowo bersahabat kalo sampe gak ada heart feeling, itu cuma di cerita novel. Mulai hari ini, gue ngebatalin janji kita berempat waktu dulu itu."
Chacha hanya terdiam. Ferdi dan Adie pun keluar dari kamar Chacha.
*
Airport.
Darwin, Ferdi, dan Adie menunggu waktu check in untuk Darwin. Penerbangannya malam hari, itu pun Darwin harus transit dulu di Jepang.
Mereka bertiga duduk disebuah bangku panjang.
"Berapa menit lagi check in, Win?" Ferdi bertanya.
Darwin melirik jam tangannya, "Sepuluh menitan lagi kayanya."
Darwin tetap melihat-lihat ke arah pintu masuk pengunjung. Dia masih berharap kalau Chacha datang dan mengucapkan selamat tinggal padanya. Walaupun Ferdi telah mengatakan kalau Chacha bilang dia tidak akan datang.
Setelah beberapa menit, Darwin pun berdiri.
"Chacha gak dateng. Ya udah ya, gue check in dulu." Sahut Darwin lemas.
Ferdi dan Adie pun berdiri. Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan.
"Hati-hati ya Bro disana. Sering-sering lah kabarin gue." Sahut Adie.
Darwin mengangguk tersenyum.
"Entar kita conference call deh berempat. Kalo ada rejeki lebih, gue maen-maen nanti kesana." Kata Ferdi sambil memeluk Darwin.
"Thank you, guys. Buat lu berdua. Walaupun gue berharap ada Chacha juga sekarang." Kata Darwin pelan.
"Ya udah, Win. Mungkin cerita Chacha di hidup lu emang cukup sampe disini. Gue harap lu cepet move on." Ferdi menyemangati.
Darwin hanya tersenyum simpul. Dia pun menarik kopernya dan memberikan penghormatan kepada kedua sahabatnya itu, dan mulai melangkah menuju pintu masuk check in.
__ADS_1