
Minggu. Rumah.
Gue turun ke bawah dari kamar. Niatnya cuma mau ngambil cemilan aja ke dapur. Pas gue liat ada pak dekan di ruang tamu.
"Buset. Apa gak bosen dia, baru semalem dari sini, eh, tau-tau sekarang udah disini lagi aja." gue bergumam dan menghampiri dia dan nyokap gue.
Dia menyapa gue, "Eh, udah bangun Cha."
"Ya udah lah, dari tadi."
Dia tersenyum dan melanjutkan ngobrol sama nyokap sambil melihat sebuah katalog.
"Apaan sih itu?" gue bertanya.
Nyokap gue menarik gue untuk duduk disamping dia, "Ini katalog wedding dress. Coba kamu liat, kira-kira yang cocok buat bunda yang mana."
Gue heran menatap nyokap, "Wedding dress? Buat bunda?"
Nyokap gue mengangguk tersenyum.
"Gak salah?" gue bertanya heran.
"Gak lah. Kenapa emangnya?" tanya nyokap.
"Baru kemaren malem di lamar, masa udah nyari wedding dress. Emang kapan mau meritnya?"
"Ya kan kalo pesen wedding dress itu gak bisa mendadak, Cha. Belom nanti fitting-fitting dulu." jawab nyokap.
Gue menatap pak dekan, "Pak. Eh, papi."
"Iya, ada apa?" tanya pak dekan.
"Papi degdeg-an gak? Ini kan merit yang pertama, trus dapetnya paket lengkap lagi."
Pak dekan tersenyum, "Siapa bilang ini nikah yang pertama buat papi."
Gue mengernyitkan alis, "Lah, emang papi udah pernah merit? Kaya bunda?"
Dia dan nyokap memandang gue. "Papi dulu juga udah pernah nikah." kata pak dekan.
"Trus, sekarang dimana istri papi? Anak-anak papi dimana? Pastinya mereka seumuran atau lebih tua daripada Chacha." gue bertanya.
Nyokap menyenggol gue. Gue gak ngerti.
Pak dekan menghela napas, "Dulu waktu habis pulang honeymoon, mobil yang di tumpangin papi sama istri papi mengalami kecelakaan. Papi selamat, tapi istri papi meninggal."
Gue kaget ngedengernya, gue gak bermaksud membangkitkan kenangan buruk dia.
Gue berpindah duduk kesampingnya dan merangkul pundaknya layaknya seorang teman.
"I'm sorry to hear that, papi. Chacha gak tau."
Dia menatap gue dan tersenyum, "Gak papa. Lagian itu udah lama banget."
"Ooo. Pantesan ya papi keliatan masih kaya single." gue berkata nyengir.
Dia merangkul pundak gue, "Untung waktu itu kamu sama sahabat kamu papi panggil ya." dia senyum-senyum.
"Kenapa emangnya?" gue bertanya heran.
"Yaa, kalo nggak, papi gak bakalan ketemu bunda kamu. Dan gak bakalan lagi ngerasain yang namanya falling in love." jawabnya nyengir.
"Hadeeeh. Inget umur papi."
Dia membelai kepala gue, "Papi juga beruntung, dapetnya paket. Jadi gak perlu nambah lagi."
"Bagus deh. Chacha juga gak mau punya adik. Soalnya nanti kalo berantem, pasti Chacha yang di omelin."
"Iya. Papi juga maunya kamu aja yang jadi anak papi."
Gue seneng banget ngedengernya, setelah sekian lama, akhirnya gue punya bokap. Dan kayanya pak dekan gue ini bisa ngertiin gue.
"Makasih ya papi. Chacha seneng dengernya." gue memeluk dia.
"Kita makan siang keluar yuk." ajak papi.
Gue berpikir, "Kayanya Chacha gak ikut deh. Mau kerumah Darwin."
"Mau ngapain?" tanya nyokap.
"Kemaren udah janji, hari ini mau nemenin dia belajar. Nanti malem dia ada tes tahap pertama." gue menjawab.
"Ooo. Ya udah kalo gitu." kata nyokap.
*
Rumah Darwin.
Hari ini kedai dirumah Darwin tutup. Biasanya kalo tutup, orang rumahnya pada pergi.
Darwin terlihat sedang membuat sesuatu di dapur. Tak berapa lama, Chacha tiba dirumahnya.
"Win, kok tutup?" tanya Chacha.
"Iya, lagi pada pergi. Jadi libur." jawab Darwin.
"Ooo. Lu lagi ngapain? Tumben di dapur."
"Ini, gue lagi iseng-iseng bikin sorbet. Belom jadi sih, mesti di bekuin dulu di freezer."
"Trus, jadi belajar gak nih?" Chacha bertanya.
"Ya jadilah. Bentar."
Chacha pun melangkah menuju kamar Darwin.
Chacha menyalakan rokoknya. Darwin pun masuk ke kamarnya.
"Mesti ya, itu kamera dibawa kemana-mana." kata Darwin nyengir.
__ADS_1
"Iyalah. Kan kita gak pernah tau kalo ada moment bagus tiba-tiba." jawab Chacha.
Darwin duduk di depan laptop nya, "Ngebul terus?" tanya Darwin.
"Nggak juga sih. Soalnya tadi dirumah ada si papi. Eh, maksud gue si pak dekan." jawab Chacha.
"Cieeee. Dari kemaren malem gue denger lu udah manggil dia papi ya." ledek Darwin.
"Ya dia yang nyuruh gue manggilnya begitu. Lagian masa mau merit sama nyokap gue, gue manggil dia pak Dewa." jawab Chacha sambil mengarahkan kameranya ke Darwin yang serius di depan laptop.
"Cha, kalo misalnya gue dapet ni beasiswa, trus ke US, menurut lu gimana?" Darwin bertanya.
"Ya bagus donk, kan emang cita-cita lu." jawab Chacha.
"Nanti lu gimana kalo gak ada gue disini?" tanya Darwin lagi.
Chacha terdiam mendengar pertanyaan Darwin, dia meletakkan kameranya.
'Iya juga ya. Gue kan kebiasaan ada dia.' Chacha bergumam dalam hatinya.
"Ya nanti kita video call-an aja tiap hari." jawab Chacha.
Darwin tersenyum, "Mana bisa begitu. Beda waktunya aja sehari. Disini malem, disana pagi."
"Aduuuh. Gak usah dibahas sekarang deh. Belom tentu juga kan lu lulus."
"Jadi lu doain gue gak lulus?" ledek Darwin.
"Yaa gak gitu juga. Udah sini, gue bantuin lu belajar. Gue tanya-tanyain yaa." jawab Chacha mengalihkan pembicaraan.
Chacha sebenernya gak mau juga kalo Darwin pergi lama-lama. Tapi dia juga gak mau kalo Darwin gak bisa ngejar impiannya.
Setelah beberapa jam Chacha membantu dan menemani Darwin belajar.
Chacha menggeliatkan badannya, "Cape juga ya duduk-duduk doank."
Darwin menatap Chacha dan tersenyum, "Kita cobain sorbet yang gue bikin tadi yuk."
Darwin menarik tangan Chacha untuk bangun.
Mereka ke dapur dan duduk di kursi kedai.
"Nih, cobain." Darwin menyuapi Chacha sesendok sorbet.
"Heeem. Ini enak, seger. Tapi, kayanya ini pake rum ya." kata Chacha.
"Iya. Lime, mint, trus rum. Enak kan?"
"Enak sih. Trus abis ini muka gue kaya lobster. Haha."
"Gak lah. Rum nya kan gak banyak-banyak. Cuma buat aroma aja." kata Darwin sambil terus menyuapi Chacha.
Chacha sambil mengetik di ponselnya.
"Lu ngapain sih? Sibuk banget." tanya Darwin.
"Ini, lagi bales chat Putra." jawab Chacha.
Chacha menoleh ke Darwin, dia ngerasa kayanya ada yang aneh.
Chacha meletakkan ponselnya Di meja dan berdiri menghampiri Darwin.
"Win."
"Hmmm." jawab Darwin sambil meminum air.
"Lu marah ya?" tanya Chacha.
"Nggak. Kenapa gue marah?" tanya Darwin balik.
"Yaa, karena gue bilang kalo gue lagi chat sama Putra."
Darwin hanya mengangkat bahunya, "Lu kan tau gue udah mulai gak suka sama dia."
"Iya. Sorry. Gue gak bermaksud mau ngomongin dia ke lu. Tadi kan lu nanya gue, ya gue jawab." kata Chacha.
"Ya udah. Terserah lu aja." kata Darwin sambil menuju kursi dan duduk.
Chacha menghampiri dan duduk disamping Darwin, "Win,"
"Cha, gue gak papa. Yah." kata Darwin tanpa melihat Chacha.
Chacha menghela napas, "Tuh kan. Gue salah lagi."
Darwin menoleh ke Chacha. Dia paling gak tega kalo ngeliat Chacha murung dan cemberut kaya gitu.
Dia membelai lembut kepala Chacha, "Cha, gue beneran kok gak papa. Yah?" kata Darwin sambil menyuapi lagi sesendok sorbet ke mulut Chacha sambil tersenyum.
Chacha membuka mulutnya dan tersenyum, "Gitu donk. Gak marah."
"Gue udah bilang, kalo gue gak marah." jawab Darwin.
'Gue cuma kesel. Sama cowo lu.' gumam Darwin dalam hatinya.
'Gue tau kalo sekarang lu sebenernya gak suka gue sama Putra. Tapi gue juga sayang sama Putra, Win. Gimana gue mau ninggalin dia.' gumam Chacha dalam hatinya sambil terus membuka mulutnya yang disuapi sorbet oleh Darwin.
*
Senin. Kampus.
Semangaaat. Tinggal berapa minggu lagi. Minggu depan gue sidang, kayanya sih pasti lulus lah. Masa iya gak lulus.
Seperti biasa, gue dan ketiga sahabat gue jalan bareng ke kampus.
Kita berempat sambil bercanda-canda masuk ke gedung kelas. Perkuliahan belum di mulai, jadi masih banyak mahasiswa yang nongkrong-nongkrong di koridor.
Pas kita berempat masuk ke gedung, semua mata langsung memandang kita.
Kita berempat saling pandang-pandangan.
__ADS_1
Gue heran, "Guys, kenapa nih orang-orang pada ngeliatin kita?"
"Kayanya bukan ke kita bertiga deh, Cha. Tapi elu." jawab Adie.
Gue ngeliat ke arah mereka, "Iya bener. Trus mukanya pada angker lagi. Kenapa ya? Apa ada yang salah sama seragam gue?"
Tiga sahabat gue langsung memperhatikan gue, "Nggak. Lu kaya biasanya aja, Cha." sahut Ferdi.
Yang gue liat, para mahasiswa itu ngeliatin gue sambil megang hp nya masing-masing.
Tiba-tiba Nopee nyamperin gue, dan dari mukanya sih gak bersahabat banget. Biasanya dia selalu ketawa dan senyum kalo ketemu gue.
"Cha!" Nopee berseru ke gue.
"Apaan Nop?" gue bertanya.
"Cha. Gue bener-bener gak nyangka sama lu." kata Nopee.
Gue bingung dan heran, "Gak nyangka apaan?"
"Lu kan cewe bae-bae, Cha. Lu cuma punya temen cowo banyak aja. Tapi kenapa lu malah jadi ayam kampus juga dan jadi simpenan dekan kita?" tanya Nopee dengan kesal ke gue.
"What?!" gue kaget.
"Nop! Chacha gak begitu." Darwin berseru ke Nopee.
Nopee memberikan ponselnya ke Darwin, "Nih, lu liat aja sendiri."
Gue dan ketiga sahabat gue ngeliat sebuah foto. Foto gue sama pak Dewa yang lagi meluk gue di ruangannya.
"Dammit." gue bergumam.
"Jadi ini foto nyebar ke mahasiswa?" tanya Ferdi ke Nopee.
"Iyalah. Gue gak nyangka sama lu Cha." kata Nopee.
Gue menghela napas, walaupun gue sebenernya kesel. Gue tau siapa yang nyebarin foto dan berita ini.
"Nop. Lu satu-satunya temen cewe gue yang akrab. Lu percaya sama ini?" gue bertanya ke Nopee.
"Ya gue maunya sih gak percaya, Cha. Tapi ini ada foto lu lagi pelukan sama pak Dewa." kata Nopee.
"Kalo lu percaya sama gue. Mestinya gue gak perlu ngejelasin apa-apa ke lu." gue menjawab Nopee dan pergi meninggalkan mereka semua.
Gue menuju ruangan pak dekan. Gue langsung masuk ke ruangannya, "Papi,"
Papi dan pak rektor langsung menatap gue.
"Eh, maaf pak. Saya gak tau kalo ada pak rektor juga disini." gue berkata sambil nyengir.
"Masuk, Cha. Trus tutup pintunya yang bener." kata papi.
Gue menutup pintu dan duduk di sofa disamping papi. Pak rektor duduk di depan kita.
"Kamu kesini pasti mau kasi tau masalah foto itu kan?" papi bertanya ke gue.
Gue mengangguk sambil melirik ke pak rektor.
"Pak Oka sudah tau. Makanya beliau ke ruangan papi. Beliau tadinya mau negur papi, dikirain papi ada main sama mahasiswi disini. Tapi, papi udah jelasin siapa kamu, dan siapa bunda kamu." kata papi ke gue.
Pak rektor tersenyum ke gue, "Iya Danisha. Pak Dewa sudah menceritakan ke saya kejadian yang sesungguhnya. Selamat ya, kamu sebentar lagi jadi anaknya pak Dewa."
"Makasih pak Oka. Tapi, semua mahasiswa malah jadi aneh ngeliat saya." gue menjawab.
"Ooo, kalo masalah itu, saya serahkan ke papi kamu. Karena dia dekan di fakultas ini. Jadi, nanti biar dia yang menindak lanjuti ya." kata pak rektor.
"Iya, Cha. Nanti biar papi yang urus ya. Kamu gak perlu sampe emosi apalagi sampe berantem. Lagian, yang paling penting kan sahabat kamu tau siapa papi." kata papi menghibur gue.
"Ya sudah kalau begitu. Saya juga kembali ke ruangan saya lagi ya. Ingat ya Dewa, segera selesaikan." kata pak rektor ke papi.
Papi mengangguk, "Iya, pak. Baik. Terima kasih."
Pak rektor pun keluar dari ruangan papi.
Gue pun mengeluarkan kekesalan gue, "Oh my God, papiiiii! Boleh gak, Chacha berantem sekali lagi aja? Chacha tau kok siapa yang nyebarin foto itu."
Papi malah senyum-senyum, "Shanti kan?"
"Nah, tuh papi tau. Jadi boleh ya pap, sekali lagi aja Chacha berantem." gue memohon.
"Kamu emang mau kalo Putra sampe dikeluarin?" ledek papi.
Gue berpikir, "Nggak mau sih."
"Makanya jangan berantem." kata papi.
"Kalo nggak, Chacha berantemnya gak di kampus deh. Jadi kan gak papa. Putra juga gak perlu sampe dikeluarin." gue berkata sambil tersenyum licik.
"Eeeh, nggak, nggak. Papi gak kasi kamu ribut-ribut di luar kampus. Kalo nggak, nanti papi bilangin bunda supaya kamu gak boleh keluar rumah lagi. Jadi nanti cuma masuk kuliah pas sidang aja. Mau begitu?" tanya papi dengan sedikit nada tegas.
Gue mengusap-usap muka gue, "Haduuuh. Chacha tuh udah kesel banget sama dia, pap."
"Biar papi yang urus ya. Kamu sekarang masuk kelas aja. Hari ini cuma kuliah pagi doank kan?" tanya papi.
"Iya." gue menjawab singkat.
"Ya udah sana. Selesai kelas kamu langsung pulang aja, atau sama Darwin aja. Nanti papi chat dia supaya jagain kamu." kata papi.
"Hah? Papi mau chat Darwin? Emang papi punya nomor dia?"
"Kamu lupa siapa papi disini?" ledek papi.
Gue menghela napas, "Ya udah deh iya." gue bangun dari duduk dan mau keluar dari ruangan papi.
Papi mengantar sampai pintu, sebelum gue membuka pintu, papi mengatakan sesuatu.
"Inget ya anak ku. Gak perlu ribut-ribut." katanya sambil mengecup kening gue.
Gue tersenyum dan memeluk dia, "I'm so lucky to be your daughter."
__ADS_1
Papi mengangguk tersenyum, gue pun keluar dari ruangannya.
"Mungkin quote Dad is daughter's first love, atau yang Dad is daughter's superhero ada benernya juga. Gue bener-bener ngerasain gimana punya bokap sekarang." gue bergumam dengan senang sambil menuju ke kelas gue.