
Day by day.
Gue baru aja keluar kelas. Nopee nyamperin gue.
"Cha, ke kosan gue yuk." ajak Nopee.
"Ngapain?"
"Mamen ulang taun. Lu kenal dia kan."
"Kenal lah. Mana ada disini yang gue gak kenal. Hehe.."
"Yuk." Nopee menarik tangan gue.
Pas gue sama Nopee keluar gedung, seorang cewe yang paling populer dikampus nyamperin gue, Natalia.
"Cha," dia manggil gue.
Gue berbalik dan menoleh ke dia, "Apaan?"
"Gue minta tolong donk." kata Natalia.
"Tolong apaan?"
"Lu kan gaulnya kemana-mana nih, tolong ya sebarin flyer pensi buat sabtu besok. Soalnya baru dikit nih yang daftar manggung." kata Natalia sambil menyerahkan beberapa flyer ke gue.
Natalia itu, selain cantik, dia juga aktif di senat, pinter, dan untungnya gak sombong. Tapi, dia cukup pilih-pilih kalo berteman. Hampir semua cowo dikampus ngejar-ngejar dia, yah, tapi gak ada satu pun yang dipacarin dia, cuma di PHP-in aja.
Beberapa cewe dikampus sih banyak yang gak suka sama dia, mungkin karena mereka kalah saing.. Hi hi hi.. Ribet ya jadi cewe.
"Ya udah sini. Tapi gue cuma sebarin aja ya. Gak bisa maksa mereka buat ikutan." gue menjawab.
"Iya gak papa. Lagian, lu sih gak mau jadi anggota senat. Kalo lu di senat kan bisa jadi humas kita." kata Natalia ke gue.
"Haduuuh. Males gue ikut-ikutan organisasi. Kebanyakan rapat nya."
Natalia tertawa mendengar gue, "Ya namanya juga organisasi. Ok, Cha. Tolong ya. Thank you in advance."
Gue cuma mengangguk dan berjalan lagi sama Nopee.
"Nop, kita ke kosan lu jalan kaki nih?" gue bertanya.
"Emang motor lu mana?" tanya Nopee.
"Dikosan Adie. Tapi males lah kalo ngambil motor kesana dulu."
"Ya udah, kita jalan aja." ajak Nopee.
Setelah berjalan kaki yang lumayan, akhirnya sampe juga dikosan Nopee. Kosan dia agak sedikit jauh dari kampus. Karena kosan dia bukan di pemukiman kosan kaya tiga temen batang gue itu.
Kosan Nopee sebenernya enak, jauh dari keramaian, halamannya luas, setiap bangunan cuma ada 2 sampai 4 kamar, tapi di dalam satu lingkungan. Kosan Biru namanya. Gue suka juga main kesini, cuma gak setiap hari. Gue kenal juga sama penghuni kosan disini. Yang gak enak di kosan ini adalah yang jaga kosannya. Terlalu kaku, makanya sering jadi bahan bully-an anak-anak kosan.
"Eeehh, ada tamu jauh dateng." sahut mereka ke gue.
Gue cuma nyengir aja, "Sorry, sibuk gue. Jadi gak mampir-mampir."
"Cha, sampe malem kan lu disini? Apa lu nginep aja?" tanya Mamen ke gue.
"Nginep? Emang ada bonus party ya, abis ini?" gue bertanya sambil nyengir.
"Yoi lah."
"Selamat nambah umur ya, Men." gue mengucapkan ulang tahun ke dia sambil menepuk pundaknya.
"Thank you."
Penghuni kosan Biru ada sekitar 20 orang, cewe dan cowo. Dibilang bebas, ya gitu deh. Walaupun ada yang jaga, kosan ini terserah penghuninya. Apalagi jauh dari keramaian. Karena Mamen ulang taun, jadi ada juga beberapa temen kelas dia yang dateng, gue gak begitu kenal sih. Soalnya gue jarang nongkrong bareng dia.
Makan-makan sebenernya udah selesai, ada yang balik ke kamar masing-masing, dan masih ada yang nongkrong bareng Mamen. Termasuk gue.
Dia mengambil beberapa botol minuman dari kamarnya.
"Ooo, jadi ini bonusnya." sahut gue nyengir sambil nyalain rokok.
Mamen memberikan segelas Whiskey Cola ke gue.
"Thanks." gue menyahut.
"Kalo abis, lu bikin sendiri lagi aja ya Cha." kata Mamen ke gue.
Gue cuma mengangguk dan kembali ngobrol-ngobrol dengan Mamen dan temen-temennya.
*
Dikosan Adie.
Adie lagi mondar mandir sambil ngeliat-liat ponselnya.
"Kemana ini si Chacha udah sore begini. Motor belom di ambil, dikampus udah gak ada siapa-siapa, dikosan Darwin juga gak ada. Apa dia pergi berdua Darwin ya, tapi kemana. Gak mungkin gak bawa motor." Adie bergumam sendiri.
Tak lama kemudian, muncul lah Azis. Dia ini emang udah kaya reporter, dia tau hampir semua info yang lagi happening dikampus dan disekitar kehidupan para penghuni kosan.
"Woi, Die. Ngapain lu mondar mandir kaya setrikaan belom panas?" tanya Azis pada Adie.
Adie menoleh dan nyengir, "Eh, Zis. Tumben lu kesini."
"Iya, mau ke kamar pojok, ada gak orangnya?" tanya Azis.
"Ada kayanya." jawab Adie.
Azis pun melangkah menuju kamar yang dipojok.
"Eh, Zis." Adie menahan Azis.
"Apaan?" tanya Azis.
"Darwin ada gak dikosan?" tanya Adie.
"Gak ada. Emang lu gak chat dia?" jawab Azis.
"Chat sih, tapi gak aktif hpnya."
"Dia dikosan atas kayanya. Ada yang minta benerin laptop." kata Azis.
"Wuih, tau aja lu ya."
"Iyalah. Gue kan ngider nyari makan. Hahaha.."
"Eh, kalo Chacha, lu liat dia gak?" tanya Adie.
Azis kemudian berpikir mengingat-ingat, "Kayanya dia di kosan Biru deh. Ada yang ulang taun disana. Dia di undang, soalnya tadi gue liat dia jalan sama anak kosan Biru."
"Yang ulang taun, cewe apa cowo?" tanya Adie.
"Cowo kayanya. Tapi gak kenal gue." jawab Azis.
"Ok deh. Thank you ya." kata Adie.
__ADS_1
Adie pun kemudian ke kosan Ferdi. Dia melihat Ferdi lagi main kartu sama temen-temen kosannya.
"Die, sini. Maen yo, ceki." ajak Ferdi pas liat Adie ke kamarnya.
"Gak ah. Sini Fer." ajak Adie keluar kamarnya.
"Apaan?" tanya Ferdi.
"Kita jemput Chacha yuk, ke kosan Biru." ajak Adie.
"Hah? Chacha dikosan Biru? Ngapain?" tanya Ferdi.
"Ada yang ulang taun katanya. Tapi perasaan gue gak enak deh. Yuk."
"Darwin mana?"
"Lagi sibuk dia. Sama lu aja yuk."
"Ya udah. Trus kita naik apa kesana? Masa jalan kaki."
"Naik motor Chacha, nih kuncinya. Lu yang bawa." sahut Adie sambil memberikan kunci motor Chacha ke Ferdi.
"Kenapa gak lu bawa kesini motornya, supaya gak bolak balik." kata Ferdi.
"Yeee, kalo bisa bawa motor mah, gue udah kesana sendiri kali." jawab Adie nyengir.
Ferdi menepuk jidatnya, "Lu sama Darwin sama aja. Cowo kok gak bisa bawa motor."
Ferdi kemudian mengambil motor Chacha, dan berdua Adie ke kosan Biru untuk menjemput Chacha.
*
Kosan Biru.
Chacha masih bersama dengan Mamen dan teman-temannya. Mereka semua ada dikamar Mamen. Ngobrol dan tertawa.
Chacha terlihat sangat mabuk dan duduk bersandar di tembok.
Adie dan Ferdi tiba dikosan Biru.
"Eh, ada tamu seberang nih." sapa salah seorang penghuni kosan Biru.
Adie tersenyum, "Ada Chacha gak?" dia bertanya.
"Ada. Tuh dikamar Mamen kayanya." kata cewe tersebut sambil menunjuk ke arah kamar Mamen.
Adie dan Ferdi pun ke kamar Mamen. Karena pintu kamar tidak di tutup, mereka pun langsung masuk. Mereka melihat Chacha yang sedang bersandar ke tembok. Mamen dan teman-temannya sedang tertawa sambil mengisap beberapa linting ganja.
"Cha!" Ferdi langsung menarik tangan Chacha.
Chacha tidak bisa berdiri tegak.
Adie menggelengkan kepalanya.
"Ayo pulang." Ferdi menggandeng Chacha agar Chacha tidak terjatuh.
Mamen dan teman-temannya berdiri melihat Ferdi dan Adie. Adie langsung menahan mereka, "Weits, santai bro. Gue sama temen gue cuma mau ngambil Chacha. Kalian, silahkan lanjutkan."
Adie mengambil tas Chacha dan menyusul Ferdi.
Mereka bertiga meninggalkan kosan Biru dan menuju kosan Adie.
*
Di kosan Adie.
Adie dan Ferdi menggelengkan kepala melihat Chacha.
"Die, lu cari Darwin gih. Gue mau bikin minuman dulu buat Chacha supaya dia gak terlalu tepar." kata Ferdi ke Adie.
Adie pun mengangguk.
Setelah beberapa jam.
Adie berada dengan Ferdi dan Darwin dikamarnya. Mereka bertiga ngeliatin Chacha yang masih tertidur.
"Kok bisa sih, Chacha sampe mabok begini?" tanya Darwin ke Adie.
"Gue juga gak ngerti." jawab Adie.
"Lu kan sekelas sama dia, emang lu gak bareng dia tadi?" Darwin bertanya dengan nada agak marah.
"Gue tadi buru-buru keluar kelas, sakit perut." jawab Adie.
"Udeh, jangan pada ribut. Lagian lu juga tadi gak ada dikosan, Win." kata Ferdi.
"Ya gue kan lagi nolongin orang juga benerin laptop." jawab Darwin.
"Gue ngeliat, tadi yang minum bareng Chacha pada ngebaks juga, tapi gue gak tau Chacha ikutan apa gak." kata Ferdi ke Darwin.
Gue kaya ngedenger suara orang ribut-ribut. Gue menggeliat membalikkan badan. Membuka sedikit mata gue. Kayanya gue tau ini kamar siapa. Gue memegang kepala gue yang masih pusing, dan melihat kesamping. Ada tiga orang cowo ngeliatin gue.
Gue berusaha untuk bangun dan duduk, walaupun kepala gue masih pusing.
Gue duduk bersandar sambil menghadap tiga pasang mata yang menatap gue tajam. Adie, Ferdi, dan Darwin.
'Aduh, mampus gue. Pasti gue diceramahin abis-abisan nih, gara-gara mabok gak sama mereka.' gue bergumam dalam hati.
Ferdi menghampiri gue, dia memberikan gue segelas minuman.
"Nih minum." kata Ferdi.
"Apaan nih?" gue bertanya.
"Racun." jawab Ferdi kesal.
Gue melongo menatapnya.
Ferdi menatap gue balik, "Lu pikir gue tega ngasih lu racun. Itu air lemon, supaya lu enakkan."
Gue mengambil gelasnya dan minum, "Yaiks. Asem banget sih."
"Namanya juga lemon." gumam Ferdi.
Setelah gue minum beberapa teguk, ya mendingan sih kepala gue. Gue mengambil rokok dan mau menyalakannya. Tapi Darwin mengambil rokok gue.
"Eh," sahut gue.
"Cha, udah berapa kali kita bilangin ke lu, lu jangan minum kalo gak sama kita." kata Ferdi.
Gue cuma diem aja ngedenger dia ngomong.
"Iya, Cha. Lagian mereka juga pake ngebaks. Lu juga ikutan ngebaks ya?" tanya Adie.
Gue menghela napas, "Nggak. Gue cuma minum aja kok."
"Yakin lu?" tanya Adie sambil mendekat dan menatap mata gue.
__ADS_1
Gue nyengir ngeliat dia, "Selinting doank sih."
Mereka bertiga menghela napas dan menggelengkan kepala.
"Chacha, Chacha." gumam Ferdi.
Gue merasa akan ada kemarahan disini, entah mereka bertiga atau salah satu di antara mereka.
Gue mengambil tas dan jaket, 'Mendingan gue pulang, mereka lebih serem kalo marah dibanding bunda.' gue bergumam dalam hati.
"Mau kemana?" tanya Darwin dingin.
"Balik lah."
"Lu jalan lurus dulu ke pintu, kalo gak nabrak, baru lu boleh pulang." kata Ferdi ke gue.
Gue mencoba berdiri. Dan kepala gue masih sedikit bergoyang. Gue berjalan menuju pintu kamar, belom sampe pintu gue udah nabrak lemari bajunya Adie.
Ferdi bangun menghapiri gue, dan menoleh ke Adie dan Darwin, "Die, Win, lu urusin deh nih. Susah dibilanginnya." Ferdi langsung pergi meninggalkan kamar Adie.
Darwin berdiri dan menarik tangan gue, "Ayo ke kosan gue."
*
Dikamar Darwin.
"Mandi dulu sana. Gue beli makan dulu." kata Darwin ke gue.
"Tapi udah kemaleman, Win. Gue mau pulang, gue gak bilang nyokap kalo mau nginep."
"Gue udah telpon nyokap lu tadi. Bilangin lu gak pulang malam ini." jawab Darwin sambil keluar dan menutup serta mengunci pintu kamarnya.
"Dikunciin? Udah kaya bocah aja gue." gue bergumam.
Setelah gue selesai mandi, Darwin pun udah kembali dari beli makan. Dia memberikan sebungkus nasi ke gue. Karena gue laper, ya gue cuek aja makan. Gue hampir gak pernah jaim kalo sama dia.
Makan pun selesai, kenyang. Gue mencari rokok gue.
"Win, mana tadi rokok gue?"
"Kalo gue gak kasih, gimana?"
"Abis makan ini. Nyiksa namanya."
"Nih, satu aja." Darwin memberikan gue cuma sebatang rokok.
"Sebatang?" gue bergumam.
"Cha, emang gak bisa ya gak minum kalo gak ada gue, Ferdi, atau Adie?" tanya Darwin.
"Win, tadi itu kan gue gak sengaja. Mamen ulang taun, trus dia buka botol. Ya masa gue gak minum."
"Ya kan lu bisa aja bilang nggak ke mereka, dan lu langsung balik ke kosan Adie atau gue." kata Darwin.
"Gak enak kan gue, Win."
"Cha, lu kan tau kenapa kita bertiga ngelarang lu untuk minum-minum sama orang lain, kecuali ada salah satu di antara gue, Ferdi, atau Adie. Soalnya lu gak tau apa yang bakal mereka perbuat ke lu pas lu mabok."
Gue terdiam mendengar Darwin yang kayanya marah.
"Kalo sampe lu kenapa-kenapa, gue bakal ngomong apa sama nyokap lu?!" kata Darwin lagi.
"Sorry, Win. Gue gak kepikiran."
Gue yang masih lemes kemudian bersandar ditembok. Darwin masih duduk dipintu kamarnya sambil memandang keluar dan ngebul.
"Lu juga pake ngebaks lagi." gumam Darwin.
"Gue sama Ferdi dan Adie pernah gak sampe nawarin lu gituan?" tanya Darwin ke gue.
"Nggak."
"Lu tau kenapa?"
"Iya, tau. Ya udah donk, jangan marahin gue terus. Masa semaleman lu mau ngomelin gue aja. Nanti gak bisa tidur gue."
"Abisnya lu susah dikasi tau, susah di atur." kata Darwin.
Gue nyamperin dia dan nyengir di depan mukanya, "Kan gue gurita, susah di atur."
Darwin menoleh ke gue, mukanya keliatan kesel. Dia mengacak-acak rambut gue, "Kesel gue sama lu."
Gue nyengir dan narik dia masuk ke kamar, "Kalo kesel, main gitar donk. Bawain lagu buat gue."
Darwin bangun dan menutup pintu kamarnya, "Tutup aja ya. Kalo maen gitar malem-malem takut ganggu yang lain, berisik."
Gue cuma mengangguk mengiyakan. Ya karena ini dikamar Darwin, bukan kamar orang yang gue gak kenal.
Darwin mengambil gitarnya dan menyetel ke speakernya, "Cha, tapi lu janji ya, jangan minum lagi kalo gak ada gue, Ferdi atau Adie." katanya sambil menatap gue tajam.
"Iya."
"Dan jangan ngebaks lagi. Kalo sampe ketauan lagi, gue gak mau sahabatan lagi sama lu. Lu cari aja sana Darwin Darwin yang laen." katanya sambil memainkan gitar.
Gue tersenyum mengangguk, 'Mana ada Darwin Darwin yang lain. Yang kaya lu ya cuma lu doank.' gue bergumam dalam hati.
Ngedenger dia main gitar, gue malah ngantuk. Gue merebahkan badan gue di kasur. Darwin masih main gitar disamping gue. Dia ngeliat gue yang mulai mengantuk, dia pun berhenti bermain dan menyimpan lagi gitarnya serta mematikan lampu kamar. Kamarnya sih jadi gak terlalu gelap, karena ada cahaya dari lampu teras.
Dia berbaring disamping gue, gue memegang tangannya.
"Win,"
Dia terkejut, "Wuih! Gue kirain lu udah tidur. Ngagetin aja lu."
Gue tersenyum ngeliat dia kaget, "Belom tidur banget kok gue."
Darwin memiringkan badannya ke gue, menahan kepalanya dengan tangannya, "Ada apa?"
"Makasih ya. Kalo gak ada lu, Ferdi, atau Adie, mungkin gue udah lost control banget. Makasih juga, soalnya lu selalu back up gue ke nyokap gue." gue berkata pada Darwin.
"Iya. Tapi Cha, gue juga gak bisa selamanya ngejagain lu. Jadi lu mesti bisa jaga diri lu sendiri."
Gue menatapnya dan menggelengkan kepala, "Gak mau. Gue maunya selamanya di jagain kalian, apalagi sama lu."
Darwin tersenyum menatap gue, dia gak ngejawab gue. Wajahnya semakin mendekat, "Gue akan selalu jagain lu."
Dia menyentuh muka gue dan mencium bibir gue.
'Damn! Apa ini?' gue bergumam dalam hati.
Gue merasakan sesuatu yang bergetar di hati dan jantung gue. Gue merasakan darah gue mengalir cepat naik ke kepala gue.
Gue memegang wajahnya, kepalanya, dan membalas ciumannya.
'Gue nyium sahabat gue sendiri?!' gue berteriak dalam hati.
'Gue sayang sama lu, Cha.' gumam Darwin dalam hatinya.
__ADS_1