Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Chicken, Chicken..


__ADS_3

Masih di kamar hotel Darwin dan Ferdi.


Chacha tertidur dalam dekapan Darwin.


Darwin mengangkatnya ke atas tempat tidur dan membaringkannya.


Dia menarik selimut untuk menyelimuti Chacha. Darwin berdiri dan melihat jam di ponselnya, "Udah mau midnight aja." gumamnya.


Ferdi menggeliat dan terbangun. Dia berdiri dan menepuk pundak Darwin, "Win."


Darwin terkejut, "Wuih! Sialan lu! Ngagetin aja. Kirain gue lu udah tidur."


Ferdi berpegangan ke meja dan mengucek matanya, "Laper gue, Win."


"Ya makan lah." sahut Darwin.


Ferdi menuju meja telepon, dia ingin memesan makanan ke room service.


"Lu mau makan gak, Win? Biar sekalian gue pesen. Kayanya enak nih makan sop buntut malem-malem." tanya Ferdi ke Darwin.


"Ya udah, sekalian pesenin." jawab Darwin sambil menuju toilet.


Dia membasuh mukanya dengan air.


Kemudian dia menuju balkon kamar dan duduk di kursi balkon sambil menyalakan rokoknya.


Ferdi pun menghampirinya dan duduk disebelahnya.


"Mikirin apa lu?" tanya Ferdi.


Darwin menoleh ke Ferdi, "Hah? Gak ada. Gak mikirin apa-apa."


"Ni minum dulu, jahe panas. Barusan gue bikin. Supaya gak terlalu pusing." kata Ferdi menawarkan gelasnya.


Darwin pun meminumnya, dan kembali menghembuskan asap rokoknya.


"Lu mikirin Chacha, kan?" tanya Ferdi ke Darwin.


"Sok tau luh." jawab Darwin.


Ferdi menoleh ke dalam kamar, "Udah tidur koq orangnya. Gak bakalan denger dia." kata Ferdi ke Darwin.


Darwin hanya terdiam dan terus menghisap rokoknya.


"Gue tau kok. Tadi lu sama Chacha ciuman kan?" tanya Ferdi sambil nyengir.


Darwin terkejut menatapnya, "Dasar tukang ngintip."


"Haha.. Win. Gue emang tukang minum, tapi gue jarang banget tepar kaya Adie atau Chacha. Kan gue drunken master."


"Hadeeh. Drunken Master kok bangga." sahut Darwin.


"Trus, kok lu malah lesu gitu, Win? Bukannya seneng ciuman sama Chacha." tanya Ferdi.


Darwin menghela napasnya, "Gue sih sebenernya seneng, Fer. Tapi, gue takut juga."


"Takut apa? Kalo ciuman doank, Chacha gak bakalan hamil, Win."


Darwin mendorong pelan lengan Ferdi, "Bukan itu maksud gue."


"Trus apa? Mestinya, lu tuh seneng Win. Besok berarti Chacha udah sah jadi cewe lu." kata Ferdi ke Darwin.


Darwin mengusap kasar wajahnya, "Fer. Ini itu bukan ciuman pertama gue sama dia."


Ferdi terkejut, "Hah? Jadi lu sebelumnya udah pernah cium Chacha? Jangan-jangan kalian juga udah pernah,"


"Jangan sembarangan kalo ngomong. Gue gak bakalan lah mau nidurin Chacha. Gue sayang sama dia."


"Trus?" tanya Ferdi.


"Waktu itu, gue yang nyium Chacha, dikosan. Kita berdua dalam keadaan sadar, gak ada yang mabok." kata Darwin.


"Bagus donk." sahut Ferdi.


"Nah tadi itu, Chacha yang duluan nyium gue. Tapi kondisinya dia lagi mabok."


"Trus, yang bikin lu mikir apa? Padahal besok tinggal lu bilang aja ke dia, kita pacaran yuk Cha. Kan semalem lu udah nyium gue. Gitu Win." kata Ferdi.


"Gak bisa segampang itu, Fer. Dulu aja, waktu kita abis ciuman. Besoknya gue mau bahas, eh, dia bilang anggep aja gue sama dia lagi khilaf. Trus, dia menghindari gue. Dan beberapa hari kemudian, dia malah pacaran sama Putra. Nah, kalo besok gue bahas masalah ciuman kita atau gue minta dia jadi cewe gue, bukan gak mungkin kalo dia bakalan hindarin gue lagi dan malah pacaran sama cowo lain." kata Darwin.


Bel pintu kamar berbunyi, "Eh, itu kayanya room service. Bentar, Win." kata Ferdi sambil menuju pintu kamar dan mengambil pesanannya.


Dia membawa makanannya ke balkon,


"Kita makan dulu, Win." ajak Ferdi.


Darwin dan Ferdi pun makan.


"Trus kalo kaya gitu, gimana lu jadinya sama Chacha?" tanya Ferdi disela-sela santapannya.


"Ya gak tau gue. Mungkin untuk saat ini, ya gue seperti biasa aja. Gue gak mau dia nanti malah ngejauh dari gue dan punya pacar lagi." jawab Darwin.


"Tapi kalo misalnya si Chacha punya pacar lagi gimana, Win? Apa gak bakalan jealous lu?" tanya Ferdi.


"Ya jealous lah. Bohong kalo gue gak jealous mah. Tapi, mulai besok gue bakal bikin seolah-olah Chacha sama gue pacaran. Jadi, gak bakalan ada cowo yang berani deketin dia lagi." jawab Darwin.

__ADS_1


"Kalo gue yang deketin gimana? Kan gue tau lu cuma seolah-olah. Hehe." tanya Ferdi nyengir.


Darwin melempar napkin ke muka Ferdi, "Awas aja lu kalo sampe berani. Lu kan udah pernah nembak Chacha, dan ditolak sama dia. Untung dia gak ngejauh dari lu."


"Hahaha.. Gue bukan di tolak, Win. Tapi di kira becanda." sahut Ferdi.


"Ya coba aja lagi lu tembak dia. Gue yakin dia bakalan marah-marah sama lu." kata Darwin.


"Wah, gue udah tau dia. Emang bener, dia pasti bakalan marah-marah. Makanya, gak berani lagi gue. Lagian, kayanya Chacha itu lebih seru kalo di jadiin sahabat gue daripada pacar gue." jawab Ferdi.


"Iya sih. Tapi gue juga mau milikin dia. Gue udah kebiasaan sama dia." kata Darwin.


"Makanya, lu cepetan ngomong ke dia. Lu tembak dia. Lagian, kalian berdua itu emang udah kaya pacaran kok." Ferdi menyarankan.


"Masalahnya, gue gak berani ambil resiko dijauhin dia, Fer." jawab Darwin.


"Hadeeh. Chicken, chicken." kata Ferdi menggelengkan kepalanya.


Darwin hanya diam termenung.


*


Keesokan harinya.


Gue menggeliatkan badan, mencoba membuka mata gue. Lampu di kamar masih remang-remang.


Gue membuka selimut, dan melihat ketiga sahabat gue masih tertidur.


Ferdi dan Adie di tempat tidur sebelah tempat tidur gue. Darwin tidur di sofa.


Gue menghela napas, "Pasti mereka lanjut mabok nih pas gue tepar."


Gue berdiri dan mengambil ponsel, melihat jam.


"Pantesan gue laper. Udah pagi." gue bergumam sambil menuju toilet dan membasuh muka gue dengan air.


Gue menatap muka gue di cermin, "Kayanya, semalem gue nyium Darwin deh. Tapi kok abis itu gue gak inget apa-apa ya. Ini gara-gara tequila nya Ferdi nih." gue bergumam.


Masih dengan kaos oblong putih Darwin dan celana pendek dia, gue keluar dari toilet dan memakai sneakers gue.


"Gue sarapan dulu deh kebawah. Mereka juga kayanya masih pada ngantuk." gue membuka pintu kamar dan menuju restoran hotel untuk sarapan.


Di restoran.


Beberapa mahasiswa dan dosen juga sedang sarapan.


Gue mengambil hidangan buffet dan duduk menyantap sarapan gue.


"Cha. Kok sendirian?" seseorang bertanya ke gue.


Pak Dewa tersenyum dan duduk disamping gue, "Siapa yang masih pada tidur? Itu Nopee aja baru abis sarapan, dia langsung ke pantai. Kamu tidur di kamar siapa emangnya semalem?"


Gue memasukkan sesendok nasi goreng ke mulut, "Di kamar Darwin. Bareng Ferdi sama Adie." gue menjawab.


"Abis minum ya kalian semalem?" tanya papi.


Gue menatap papi, "Iya." jawab gue singkat.


"Trus, yang lain masih pada mabok?" tanya papi lagi.


"Bukan mabok papi. Tapi masih pada tidur. Chacha gak tau mereka semalem tidur jam berapa. Soalnya Chacha tidur duluan." gue menjawab.


Muka papi berubah serius, "Kamu satu-satunya cewe semalem?"


Gue mengangguk, "Iya. Emangnya kenapa?"


"Kamu yakin mereka bertiga gak ngapa-ngapain kamu? Apalagi kalian minum-minum."


Gue meletakkan sendok ke piring dan menghela napas, "Papi. Chacha itu tau betul siapa mereka. Mereka gak akan ngapa-ngapain Chacha. Lagian, ini bukan pertama kalinya kita berempat minum bareng."


"Tapi, Cha. Mereka itu kan cowo, dan kamu itu cewe. Pastinya, mereka itu punya birahi, apalagi pas abis minum-minum." kata papi.


Gue mengambil gelas dan meminum airnya.


"Papi. Tolong jangan ngomong jelek tentang mereka. Iya mereka cowo normal. Tapi mereka itu luar biasa. Sampe saat ini, mereka gak pernah ngambil kesempatan ke Chacha kalo Chacha lagi mabok. Malah mereka yang selalu jagain Chacha supaya Chacha gak sampe lost control. Jadi tolong ya papi. Kalo papi gak tau apa-apa tentang mereka dan Chacha, sebaiknya papi jangan asal ngomong dan nuduh mereka yang nggak-nggak. Justru, orang yang keliatannya kaya malaikat itu yang perlu di waspadai." gue menjawab papi dan berdiri meninggalkan dia.


Gue kesel sama calon bokap gue. Kekhawatirannya berlebihan. Terutama sama sahabat gue.


Gue melangkah menuju pantai yang gak terlalu ramai.


Gue duduk di pasir pantai dan menyalakan rokok gue.


Pandangan gue lurus ke arah pantai.


Gue berpikir, kalo aja semalem Darwin gak narik gue ke toilet, mungkin aja pagi ini gue lagi nangis-nangis di kamar karena abis dikerjain Putra sama temen-temennya.


Gue menghembuskan asap rokok.


Tiba-tiba seseorang duduk disamping gue.


Gue menoleh ke dia, "Putra." gue bergumam.


Putra memegang tangan gue, gue berusaha melepaskannya. Tapi Putra tetap menggenggam tangan gue.


"Cha. Aku minta maaf." kata Putra ke gue.

__ADS_1


"What?" gue terkejut mendengarnya. Setelah apa yang dia rencanain ke gue, sekarang dia dengan gampangnya minta maaf ke gue?


Gimana kalo seandainya semalem beneran kejadian? Dia juga pasti dengan gampangnya minta maaf dan selesai.


"Cha. Aku akuin semuanya. Aku emang salah. Emang awalnya aku taruhan sama Tommy. Tapi aku beneran sayang sama kamu." kata Putra lagi.


"Hah? Kamu bilang kamu beneran sayang? Kalo kamu emang sayang, kamu gak akan nerusin taruhan kamu itu." gue menjawab tanpa menoleh mukanya.


"Iya, Cha. Aku tau, aku salah." kata Putra.


"Put. Kamu gak perlu buang-buang waktu. Aku udah gak percaya lagi sama kamu. Lagian, aku bukan siapa-siapanya kamu lagi." gue menjawab sambil berdiri mau meninggalkan dia.


Putra berdiri dan menahan gue, "Cha. Aku jatuh cinta sama kamu. Semua kata sayang yang aku bilang ke kamu itu beneran, aku gak bohong. Aku juga tau kamu itu masih sayang aku. Please. Kasi aku kesempatan kedua, I will fix everything."


Baru aja gue mau menjawab, tiba-tiba Darwin datang dan merangkul pundak gue dan mengecup kepala gue.


"Gak akan ada kesempatan kedua buat orang kaya lu." sahut Darwin ke Putra.


Gue melepaskan tangan Putra dari tangan gue.


Gue membalikkan badan dan mau pergi, "Gue duluan, Win." gue berbisik ke Darwin.


Darwin pun mengangguk.


Darwin dan Putra saling menatap tajam.


"Gue gak akan berhenti sampe Chacha maafin gue dan kembali ke gue." kata Putra sambil menatap tajam Darwin.


Darwin sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya pada Putra.


Buuggh!


Darwin melayangkan tinjunya ke Putra.


"Gue nyesel kenapa dulu gue gak nampol lu di depan Chacha!" teriak Darwin ke Putra.


Putra berdiri dan langsung membalas pukulan Darwin.


"Lu itu terlalu ngurusin hidup Chacha. Lu itu bukan siapa-siapanya. Lu bukan suaminya, apalagi pacarnya." kata Putra ke Darwin.


Darwin pun membalas lagi pukulan Putra, "Gue lebih dari sekedar pacarnya."


Putra pun mendorongnya. Mereka berdua terjatuh dan berkelahi di atas pasir pantai.


Gue melihat orang-orang berlari berlawanan arah dengan gue.


"Ada yang berantem, woy." teriak salah satu mahasiswa sambil nyengir dan berlari.


Gue menoleh kebelakang, mahasiswa berkerumun.


Gue kaget, Darwin dan Putra lagi berkelahi.


Gue berbalik dan berlari ke arah kerumunan mahasiswa.


Gue melihat Darwin dan Putra sedang saling memukul.


Gue menghampiri mereka dan menarik Darwin.


"Win!" gue menarik Darwin.


Mukanya lebam dan berdarah.


"Win. Please. Gue gak mau liat lu begini." gue memeluk dia supaya dia gak maju dan menghajar Putra lagi.


Dari ukuran tubuh, Darwin emang sedikit lebih besar dibanding Putra.


Gampang buat Darwin kalo mau bikin bonyok Putra.


Napas Darwin menderu tak beraturan, "Gue gak bisa nahan kesel gue sama ni orang." kata Darwin sambil menunjuk Putra.


Putra mengelap darah dari mulutnya dan tersenyum sinis ke Darwin.


"Gue gak takut sama lu, Win. Gue bukan lu yang sembunyi di balik Chacha." sindir Putra ke Darwin.


Darwin kesal dan ingin melangkah maju, gue menahan tubuhnya.


"Win. Please. Lu sayang sama gue kan. Gue mohon, lu gak usah ladenin dia ya." gue berkata ke Darwin dan menatap mukanya.


Darwin pun hanya memandang gue.


Gue membalikkan badan dan menatap tajam Putra, "Put. Kita udah gak ada apa-apa lagi. Aku menghentikan perkelahian kalian ini bukan karena aku masih sayang sama kamu dan takut kamu kenapa-kenapa." gue berkata ke Putra.


Dia dan Darwin menatap gue.


Gue menatap Darwin dan kemudian menatap Putra, "Aku cuma gak mau Darwin yang kenapa-kenapa karena dia berantem sama kamu. Aku rasa kamu ngerti itu."


Gue menatap Darwin dan menarik tangannya, "Ayo. Kita pergi."


Darwin pun melangkah mengikuti gue.


Dia merangkul pundak gue. Gue tau semua mata pasti ngeliatin gue dan dia.


Mungkin ini lebih baik, kalo semua orang berpikir gue dan Darwin pacaran.


Walaupun gue sendiri sebenernya gak yakin, kalo kita berdua pacaran beneran bakalan jadi lebih baik atau malah jadi lebih buruk.

__ADS_1


__ADS_2