
Gue menggandeng Darwin memasuki ballroom.
Untung masih ada beberapa mahasiswa yang bareng masuk ke ballroom, jadi gue gak telat-telat amat.
Gue berbisik ke Darwin, "Win, kok kayanya pada ngeliatin gue begitu. Gue keliatan aneh ya Win?"
Darwin tersenyum dan berbisik ke gue, "Iya. Lu aneh. Saking anehnya sampe keliatan cantik banget."
Gue memukul lengannya, "Gue serius, Win."
"Haha.. Gue juga serius Cha."
Sebelum gue dan Darwin menuju meja, Putra menghampiri gue dan langsung merangkul pinggang gue dengan kedua tangannya.
Gue melepaskan tangan gue dari Darwin.
Putra keliatan senang melihat gue, dia tersenyum, "Kamu cantik, yang. Coba aja aku yang jadi pasangan kamu. Pasti perfect kan."
"Iya. Tapi sayangnya, dia pasangan gue malam ini." sahut Darwin sambil menggenggam tangan kanan gue.
Putra menoleh ke Darwin dan keliatan gak senang.
'Waduh. Kok gue ngerasa kaya bola yang direbutin ya.'
Tangan kiri gue memegang lengan Putra, "Put. Aku kan udah bilang kalo kamu gak perlu jealous."
Putra menghela napas dan menatap gue, "Yang. Abis dinner kamu sama aku aja ya."
Gue mengangguk supaya Putra gak marah dan gak lama-lama berdiri di depan gue.
Putra mencium pipi gue, "Love you." Putra berbisik ke gue.
Gue mengangguk tersenyum.
Darwin pun langsung menggandeng gue ke salah satu meja bundar. Kita satu meja bareng Ferdi, Adie, Nopee, dan Natalia.
Gue memperhatikan Ferdi dan Adie yang ngeliatin gue senyum-senyum.
"Ngapain lu pada senyum-senyum? Mau ngeledek ya? Sekarang aja sebelum makan." gue berkata pada mereka.
Ferdi tertawa, "Chacha, Chacha. Lu bener-bener udah kaya ade perempuan kita, bukan ade tomboy kita lagi. Haha.."
"Iya, Cha. Coba setiap hari lu kaya gini. Kan adem kita ngeliatnya." Adie menambahkan sambil nyengir.
"Ooo, jadi selama ini, kalian kalo ngeliat gue gak adem ya. Panas gitu? Emang gue kompor, panas?" gue sewot ke mereka.
"Haha.. Becanda Cha." jawab Adie.
"Iyalah. Gue juga tau. Lagian kalo beneran juga gue gak peduli. Kalo gak ada gue juga lu pada nyariin kan."
"Pastinya. Apalagi pasangan lu itu tuh." kata Ferdi sambil melirik Darwin.
Gue melirik ke Darwin. Di sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.
"Win. Lu ngapain sih? Chat sama siapa?" gue bertanya heran ke dia.
Darwin langsung memasukkan ponselnya ke kantong celananya, "Eh, nggak. Gak chat sama siapa-siapa kok." jawab Darwin tersenyum.
Tak berapa lama, acara makan malam pun dimulai. Hidangan disediakan mulai dari appetizer hingga dessert.
"Kira-kira di deket hotel ada nasi padang atau getraw yang buka 24 jam gak ya?" gue bergumam.
"Emangnya kenapa, Cha?" tanya Nopee.
"Aduh, Nop. Makan begini doank, gue mana kenyang. Belom ketemu nasi soalnya."
Nopee dan Natalia nyengir, "Apa gak malu tuh sama dress lu?" ledek Natalia ke gue.
"Hah? Malu kok sama dress. Gak lah, kalo laper ya gue bilang laper." gue menyahut sambil memakan dessert gue.
Setelah menikmati hidangan dessert, nanti akan ada acara berdansa dengan pasangan masing-masing.
Darwin berdiri dari duduknya, "Cha, gue ke toilet dulu ya." Darwin pamit ke gue sambil menatap Ferdi dan Adie.
Gue cuma mengangguk.
Gue melihat papi menghampiri meja gue dan duduk disamping gue.
"Naaaah, gini donk anak papi. Cantik kan. Tadi aja kayanya hampir jadi rebutan Putra sama Darwin." kata papi sambil nyengir.
__ADS_1
"Gak usah ngeledek Chacha." gue menyahut.
"Siapa ini yang make over anak papi?" tanya papi.
Gue melirik Nopee dan Natalia, "Tuh, mereka."
Mereka berdua pun tersenyum, "Iya, pak Dewa. Kita berdua yang dandanin Chacha. Tapi dianya malah ngerasa aneh ngeliat dirinya sendiri." kata Natalia ke papi.
Adie dan Ferdi pun berdiri dari kursi, mereka pamit ingin menghampiri teman-teman yang lain.
Tak lama pun papi pamit, karena dia harus bersama dengan para pejabat kampus dan dosen.
Nopee dan Natalia juga bangun dari kursi dan menghampiri teman-teman yang lain.
Ponsel gue berdering, Darwin yang telpon.
"Mau ngapain telpon gue. Lagian lama banget ke toilet aja." gue bergumam.
"Kenapa, Win?" gue mengangkat telponnya.
"Cha. Tolongin gue donk." jawab Darwin.
"Hah? Tolongin apaan? Lu dimana?" gue bertanya heran.
"Gue di dalem toilet." jawab Darwin.
Gue pengen ketawa, "Lu di toilet, tapi lu minta tolong gue? Minta tolong apaan? Jangan bilang kalo lu gak tau cara flush toilet. Atau jangan-jangan, lu minta tolong cebokin lagi. Haha.. Gila luh, Win."
"Cha. Gue serius ini. Gue gak minta tolong cebokin. Emang gue bocah." kata Darwin dengan nada serius.
Gue pun berhenti tertawa, "Ok. Lu minta tolong apaan?"
"Kaki gue nyangkut di toilet." jawab Darwin.
"Hah? Kok bisa? Emang bocah sih lu."
"Gue gak becanda, Cha. Gue kepleset tadi."
"Tapi itu kan toilet cowo, Win. Lu telpon Adie atau Ferdi aja."
"Mereka berdua udah gue telpon, gak di angkat. Mungkin hp nya pada di silent."
"Udah gak papa. Ini gue sendirian kok di toilet, makanya gue telpon lu. Gue teriak-teriak juga gak ada yang denger."
Gue berpikir, "Ya udah deh iya. Lu toilet yang dimana nih?" gue bertanya.
"Toilet function room lantai dua. Soalnya toilet ballroom tadi rame, makanya gue naik satu lantai." jawab Darwin.
"Ya udah, gue kesana."
"Iya. Cepetan ya." kata Darwin.
Gue pun mematikan telponnya.
Gue bangun dan berdiri. Mengambil tas kamera gue, sambil mata gue mencari-cari Ferdi atau Adie.
"Aduuuh. Mereka kemana sih. Di telepon juga susah lagi." gue bergumam sambil menuju toilet di lantai dua.
"Darwin juga ada-ada aja lagi. Pasti celananya udah basah tuh nyangkut di toilet. Mabok aja belom, tapi udah kepleset." gue bergumam sendirian.
Darwin sebenarnya sedari tadi sibuk ngehack chat Putra dan teman-temannya.
Darwin mengatur agar Putra dan teman-temannya berkumpul di toilet dan membicarakan tentang rencana mereka terhadap Chacha malam ini.
Darwin pun menelpon Chacha karena dia mau Chacha sendiri yang mendengar rencana Putra dan teman-temannya. Karena Chacha mungkin aja gak percaya kalau Darwin yang mengatakannya.
Darwin juga telah memberitahu Ferdi dan Adie. Apabila Chacha, Putra, dan teman-temannya sudah di toilet, maka Ferdi dan Adie akan berjaga di pintu luar toilet agar tidak ada seorang pun yang masuk lagi ke toilet.
"Nih dia toiletnya." gue bergumam dan membuka pintu toilet pelan-pelan.
Gue takut kalo tiba-tiba ada cowo lagi berdiri di depan Urinoir.
"Win." gue memanggil Darwin.
"Cha! Gue disini Cha!" jawab Darwin.
Gue pun menghampiri salah satu bilik toilet dimana gue mendengar suara Darwin.
Gue membuka pintu bilik toilet, "Win, lu kena........"
__ADS_1
Tiba-tiba Darwin menarik gue dari belakang pintu bilik toilet, menutup dan mengunci pintunya, dan menutup mulut gue, "Ssst. Jangan berisik."
Gue kaget ngeliat dia gak kenapa-kenapa. Gue memukul pundaknya.
"Apaan sih lu, Win." gue berusaha melepaskan tangannya dari gue.
Darwin malah memeluk gue dari belakang, dia menempelkan mukanya ke telinga gue, "Cha. Please. Kali ini aja, lu percaya sama gue."
Gue mengerutkan dahi gue, "Maksud lu apa sih, Win?"
"Cha. Gue gak akan ngapa-ngapain lu. Apalagi di bilik toilet sempit ini. Tapi, gue mohon lu diem aja dan jangan berisik ya."
Entah apa yang Darwin maksud. Tapi gue tau dia gak akan mungkin macem-macem sama gue.
Gue juga ngerasa pelukan dia hangat, untuk ngelindungin gue.
Gue terdiam menurutinya.
Tak berapa lama, gue mendengar beberapa orang memasuki toilet dan tertawa. Mungkin ada sekitar empat orang.
"Win." gue berbisik.
"Sssst." bisik Darwin ke gue.
Gue mengenali suara seseorang, 'Putra.' gue bergumam dalam hati.
Gue berpikir, gimana kalo Putra sampe tau sekarang gue lagi dipeluk sama Darwin di bilik toilet. Makanya gue bener-bener gak bersuara.
"Jadi, gimana Put, lu udah siap?" Tommy bertanya ke Putra.
"Sip." jawab Putra.
"Gue sama yang lain udah pasang kamera candid dikamar. Jadi, pas lu bikin Chacha naked dan ML sama lu. Semua bakal di record." kata Tommy.
Gue terkejut mendengarnya, 'What? Putra mau ML sama gue? Dan itu semua nanti di record?!' gue bergumam dalam hati.
Darwin tetap berusaha membuat gue tenang dengan terus memeluk gue erat.
"Iya, iya. Gue tau." kata Putra.
"Inget ya, Put. Dari awal, ini cuma taruhan kita. Lu pacarin salah satu anak hotel, dan perawanin dia." kata Tommy lagi.
"Haha.. Iya, Tom. Gue inget."
"Trus, gimana cara lu supaya dia mau ML sama lu nanti?"
"Chacha udah janji mau ngelakuin apapun buat gue. Nanti juga dia pasti mau lah minum sedikit bareng gue. Gue udah siapin kok. Jadi, gak susah kalo ngajakin dia ML." jawab Putra.
"Haha.. Bagus. Oiya, jangan lupa. Lu putusin dia besok. Dan 20 juta langsung ke rekening lu."
Seketika itu juga gue gak tau apa yang gue rasain.
Kaki gue rasanya lemes, darah gue mengalir ke kepala dengan cepat. Napas gue gak beraturan, gue menahan kekesalan dan kesedihan gue.
Tak terasa, air mata menetes dari ujung mata gue, gue langsung mengusap air mata gue.
Darwin yang memeluk gue dari belakang berbisik, "Tenang, Cha. Gue gak akan ngebiarin itu semua terjadi sama lu. Gue akan selalu jagain lu."
Kata-katanya sedikit menenangkan gue. Gue memegang kencang tangan Darwin yang melingkar di pinggang gue. Dia tau banget kalo gue lagi kesel.
"Iya, Tom. Lu siapin aja duit lu. Lagian, kalo gue gak bisa mutusin dia besok, tetep aja kan lu mesti transfer 15 juta ke gue, karena gue udah berhasil nidurin Chacha." kata Putra ke Tommy.
"Iya, iya. Oiya nih, pengaman buat lu. Isi tiga. Bisa kali, tiga kali dalam semalem." sahut Tommy sambil memberikan satu pack ****** ke Putra.
"Ok. Sip." kata Putra tersenyum.
Gue bener-bener udah gak tahan ngedenger mereka. Jadi selama ini Putra itu emang cuma mainin gue. Bener apa kata Darwin. Gue bener-bener nyesel gak ngedengerin apa kata Darwin.
Gue terlalu sibuk dan terbuai dengan pesona Putra selama ini.
Gue melepaskan tangan Darwin dari pinggang gue, gue mencoba keluar dari bilik toilet. Gue bener-bener muak ngedenger semuanya.
Darwin berusaha menarik gue, tapi malah tas kamera gue yang tertarik olehnya. Gue udah gak peduli lagi, gue bener-bener marah. Gue keluar dari bilik toilet dan menghampiri Putra serta teman-temannya.
"Put!" gue berteriak ke Putra.
Putra dan temen-temennya membalikkan badan dan menatap gue.
Putra keliatan terkejut, "Chacha? Sayang? Kamu......."
__ADS_1