
Gue terus berdansa sama Darwin, dan tenggelam dalam dekapannya.
Dia memeluk gue lembut dan hangat.
Setelah berdansa beberapa lagu dari ponselnya, dia melepaskan pelukannya.
Dia menatap gue dan tersenyum, "Feel better now?" dia bertanya.
Gue nyengir ke dia, "Sekarang lu ngomongnya bahasa bule mulu ya."
"Kan gue mau ke amrik. Hehe.."
"Emang lu udah lulus?" gue bertanya.
"Belum tau sih." jawabnya.
Gue tersenyum memandang dia, "Lu tau, gue gak pernah ngerasa sebaik ini. Thanks ya, Win."
Darwin mengangguk tersenyum, "Kita ke kamar gue ya." ajak Darwin.
"Hah? Mau ngapain? Jangan bilang lu mau ngerjain gue kaya si Putra itu." gue bertanya.
Darwin tertawa, "Haha.. Chacha, Chacha. Kalo gue mau nidurin lu, gak usah nunggu malem ini kali. Lu kan sering nginep dikosan gue."
"Ya kali lu udah pasang candid kamera juga dikamar lu." gue menyahut.
Darwin tersenyum, "Gak perlu pake candid kamera, gue mah terang-terangan kalo mau bikin video." kata Darwin sambil mengacak-acak rambut gue.
"Yaaah, Win. Berantakan deh rambut gue." gue menggerutu.
"Biarin. Gue lebih suka ngeliat lu kaya biasanya aja. Kalo kaya gini, yang ada gue malah..." jawab Darwin.
"Malah apa, Win?" gue bertanya.
Darwin terlihat salah tingkah, "Yaaa, gue malah jadi aneh ngeliat lu. Hehe.." jawab Darwin.
'Sebenernya gue malah jadi jealous, karena jadi banyak cowo yang ngeliatin lu kalo lu cantik kaya gini.' gumam Darwin dalam hati.
Gue memakai lagi sepatu keds gue.
"Win, kamar lu sama Ferdi sama kan?" gue bertanya ke Darwin.
Darwin tertawa, "Nggak. Gue udah booking kamar sendiri, kaya mantan lu itu. Haha.." ledek Darwin sambil mengacak-acak rambut gue dan pergi.
"Rese lu, Win!" gue berteriak dan berlari menghampiri dia.
Gue berjalan disampingnya.
Dia menggenggam tangan gue dan tersenyum, tanpa ngomong apa-apa.
'Gue gak akan ngebiarin siapapun nyakitin lu, Cha.' gumam Darwin dalam hatinya.
*
Kamar hotel Darwin dan Ferdi.
Darwin membuka pintu kamarnya, Ferdi dan Adie sudah menunggu di dalam.
"Nih dia ban sepeda baru pada dateng. Pada kemana sih lu berdua? Lama amat?" tanya Ferdi ke gue dan Darwin.
"Abis mancing di kegelapan." gue menjawab.
Ferdi bengong gak ngerti. Adie cuma senyum-senyum aja.
"Win. Lu bawa kaos sama celana pendek lebih gak? Gue pinjem ya. Gue males kalo mesti ke kamar dulu." gue bertanya ke Darwin.
"Ada tuh kayanya. Lu cari aja dikoper." jawab Darwin.
Gue pun mengambil kaos dan celana pendek dari kopernya, gue ke kamar mandi dan mengganti gaun pesta gue.
Kita berempat duduk di lantai kamar hotel yang beralaskan karpet.
"So?" gue bertanya.
Gue menatap Ferdi, ada yang aneh sama mukanya. Ada beberapa memar dan lebam di mukanya.
__ADS_1
"Fer, itu muka lu kenapa banyak stempel? Lu abis berantem?" gue bertanya.
Ferdi nyengir menjawab, "Iyalah. Lu pikir gue abis nabrak pintu."
"Hah? Sama siapa, Fer?" gue bertanya heran.
Ferdi menatap Darwin, "Lu gak ceritain, Win?" Ferdi bertanya ke Darwin.
Darwin hanya menggelengkan kepalanya.
Gue mengernyitkan alis dan menatap mereka heran, "Kayanya ada yang gue gak tau nih."
Ferdi menghela napasnya dan merangkul pundak gue, "Cha. Kita bertiga ini kan sayang sama lu. Jadi, kalo lu ada yang nyakitin, atau lu kenapa-kenapa, ya pastinya lu kita back up." kata Ferdi ke gue.
"Ok. Terus?" gue masih belom ngerti.
"Lu tadi keluar dari toilet ngeliat gue sama Adie kan?" tanya Ferdi.
"Iya. Then?" gue balik bertanya.
"Gue berantem sama Putra dan temen-temennya." jawab Ferdi.
"Lu lawan mereka berempat?" gue bertanya lagi.
"Iyalah. Empat mah masih bisa gue lawan sendiri." jawab Ferdi nyengir.
Gue menghela napas, "Guys, kalian bertiga sebenernya dari awal udah tau kan rencana Putra apa ke gue?" gue bertanya.
"Iya, Cha. Tapi, kita bertiga juga bingung waktu itu mau kasi tau lu gimana. Soalnya, setiap Darwin juga berusaha untuk bahas Putra sama lu, lu selalu ngebelain dia. Dan akhirnya lu malah berantem sama Darwin." kata Adie ke gue.
Gue menunduk dan gak kerasa gue meneteskan air mata, "Guys. Maafin gue ya. Mestinya gue waktu itu sadar, kalo kalian itu emang cuma mau ngelindungin gue. Gue seharusnya lebih ngedengerin kalian sahabat gue. Terutama elu, Win." gue berkata pelan sambil menghapus air mata gue.
"Iya. Ya udah gak papa, Cha. Untungnya semua belum terlambat kan." kata Adie.
"Makanya, sekali-kali jangan jadi gurita. Jadi anak kucing kek gitu, yang nurut." ledek Ferdi ke gue.
Gue tersenyum dan memukul tangannya, "Gak usah ngeledek."
"Haha. Gimana gak ngeledek lu. Lu gak sadar tuh, pasangan lu malem ini hampir gila mikirin gimana caranya ngegagalin rencana Putra." kata Ferdi sambil menatap Darwin.
Ferdi berkata lagi, "Padahal, dia sayang sama lu itu udah kaya..."
"Udah kaya abang ke ade nya." kata Darwin memotong perkataan Ferdi.
Gue tersenyum, "Iya, iya. Gue tau kok, kalian semua itu sayang sama gue. Kaya abang-abang ke adik cewe satu-satunya."
"Udah lah ngomong-ngomongnya. Kapan buka botolnya nih?" tanya Adie.
"Oiya. Kita gak usah mikirin yang udah lewat ya. Kita happy happy aja malem ini." jawab Ferdi sambil mengambil dua botol minuman dari kopernya.
"Nih, spesial guys. Hennessy VSOP sama Jose Cuervo. Dikirim langsung dari bokap." kata Ferdi nyengir.
"Gue kadang-kadang aneh deh sama bokap lu, Fer. Kok dia mau-mau aja ya ngirimin lu minuman?" gue bertanya ke Ferdi.
"Ya kan gue bilang, masa gue kalo kuliah bartending gak praktek juga dikosan, yang ada gue nanti malah jadi cupu gak tau apa-apa." jawab Ferdi nyengir sambil membuka botol.
"Lu pada tuang sendiri aja ya. Kalo mau di mixing, kayanya ada soda deh di kulkas minibar." kata Ferdi.
"Wuih. Ini jarang-jarang minum cognac. Gue berasa jadi bangsawan." kata Adie sambil menuang VSOP ke gelasnya.
Darwin nyengir, "Norak lu, Die." kata Darwin sambil menenggak minumannya.
Gue menuang tequila ke gelas dan meminumnya.
"Fer, lu gak bawa jeruk nipis?" gue bertanya.
"Wah, gue lupa Cha. Ya udah lah gak papa. Apa mau gue orderin lime juice aja ke room service?" tanya Ferdi.
Gue mengangguk, "Iya deh. Campur lime juice juga boleh, daripada straight gini. Gak liat lu, disebelah gue udah ngelirik nih kalo gue minum straight mulu." gue nyengir sambil ngelirik Darwin.
Ferdi pun menelepon room service dan memesan lime juice.
Kita berempat masih setengah mabuk, dan terus mengobrol gak jelas. Gue bersandar ke tempat tidur, Darwin duduk disamping gue.
"Eh, gue ada rencana nih." kata Ferdi.
__ADS_1
"Rencana apaan? Buka botol lagi?" tanya Adie.
"Bukan." Ferdi menggelengkan kepalanya.
Dia menyalakan rokoknya, "Minggu depan kan kita wisuda. Abis wisuda kita jalan yuk." ajak Ferdi.
"Jalan? Kemana? Ogah gue jalan mah." sahut Adie.
"Yeee, dasar sambel botol. Bukan jalan kaki. Kita adventure lah, yuk. Udah lama nih gak pergi berempat bareng, jauh-jauh." jawab Ferdi.
"Gue sih ayo aja. Yang penting ada kalian." gue menjawab sambil mengebulkan asap rokok.
"Kalo Chacha mau, ya gue juga pasti ikut lah. Masa iya gue gak ikut. Tapi kemana, Fer?" tanya Darwin.
"Kita ke bromo yuk." jawab Ferdi.
"Hah?" gue, Darwin, Adie bertanya kompak.
"Iya. Ke gunung bromo, jawa timur." kata Ferdi lagi.
"Aiih. Gak salah lu, Fer. Gue gak pernah naik naik ke puncak gunung tinggi tinggi sekali. Kalo gunung yang laen sih sering. Hehe." kata Adie tertawa.
"Justru itu. Makanya kita semua ke sana. Gue rasa kayanya cuma gue sama Darwin aja yang pernah jadi anak gunung." kata Ferdi.
"Gue sih ayo aja. Pengalaman buat gue yang gak pernah naik gunung. Spot fotonya pasti bagus kan disana." gue menyahut.
"Kita kesana pake apa? Pesawat?" tanya Darwin.
"Eeeh, norak. Kan gue bilang adventure. Berarti gak naik pesawat lah. Cepet banget nyampenya. Kita bawa mobil. Pake mobil gue." jawab Ferdi.
Gue, Darwin, Adie kembali terkejut dan bengong.
"Ada gilanya juga lu ya." kata Adie ke Ferdi.
"Namanya juga adventure. Jadi sebelum sampe bromo, kita bisa mampir-mampir dulu. Trus, nginep-nginep dulu, di mobil kek, di hutan-hutan kek. Lagian, yang nyetir kan bukan gue aja. Bisa gantian sama Darwin and Chacha." kata Ferdi.
"Boleh, boleh. Berarti gue tinggal duduk aja kan. Enak lah. Sekali-kali ngerasain jadi juragan. Hehe." sahut Adie nyengir-nyengir.
Darwin melempar bantal ke Adie, "Makanya, lu belajar nyetir kek. Udah gak bisa bawa motor, gak bisa juga nyetir mobil."
"Yah, Win. Ngapain ada kalian, kalo gue mesti belajar nyetir mobil. Haha.. Berangkat, Fer. Gue mau jadi bos punya tiga supir pribadi nanti." jawab Adie.
Kita berempat pun tertawa. Untuk malam ini, gue cukup seneng dan bisa ngelupain sakit hati gue sama Putra.
Ketiga sahabat gue ini, mereka selalu ada di waktu yang tepat buat gue.
Gue gak akan pernah bisa ngebales kebaikan mereka dengan apapun.
Dan gue juga udah gak sabar mau adventure bareng mereka nanti.
Ferdi dan Adie merebahkan dirinya di lantai, kayanya mereka mabuk berat.
Darwin berbisik ke gue, "Cha. Muka lu udah kaya lobster rebus. Lu udahan ya minumnya."
Gue menoleh dan menatap wajahnya. Mukanya begitu dekat dengan gue.
Gue memegang pipinya dengan tangan kanan gue.
Gue mendekati mukanya dan mencium bibirnya. Dia pun membalas ciuman gue.
'Shit! Kok gue jadi nyium Darwin. Ini yang kedua kalinya.' gue bergumam dalam hati.
Tapi gue menikmati ciuman gue dan Darwin.
Mungkin karena gue mabuk, gue gak begitu sadar sama apa yang gue lakuin.
Tapi, gue ngerasain ciuman Darwin yang lembut, sama kaya waktu itu dia nyium gue pertama kali. Waktu kita berdua gak mabuk.
Darwin memegang wajah gue dan terus mencium bibir gue.
Setelah beberapa lama, dia melepaskan ciumannya.
Tangannya masih memegang wajah gue, dia tersenyum menatap gue, dan mengecup kening gue.
Menenggelamkan kepala gue kedalam dadanya tanpa mengatakan apa-apa.
__ADS_1
Gue bersandar dalam pelukannya. Cuma satu yang gue rasain, kedamaian.