
Ferdi setelah makan dari restoran hotel.
Ferdi ingin kembali ke kamarnya, dia masuk ke dalam lift.
Lift berhenti, dan masuk seseorang ke dalam lift, Pak Dewa.
Ferdi tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke pak Dewa.
Pak Dewa hanya tersenyum.
Mereka berdua terdiam di lift.
Ferdi melihat ke arah tombol nomor di dalam lift.
"Bapak di lantai 10?" tanya Ferdi memecahkan suasana.
"Iya." jawab pak Dewa singkat.
Lift berhenti di lantai 7.
Ferdi hanya terdiam dan tidak keluar dari lift.
Pak Dewa membalikkan badannya dan menoleh ke Ferdi, "Gak keluar?" tanya pak Dewa.
Pintu lift tertutup, Ferdi pun nyengir.
"Saya mau ke kamar bapak." kata Ferdi ke pak Dewa.
Pak Dewa terkejut, "Hah? Kamu mau ke kamar saya? Mau ngapain?"
"Hehe.. Mau ngobrol-ngobrol aja kok pak. Sebentar aja. Gak papa ya pak." jawab Ferdi.
Pak Dewa menghela napas, "Ya sudah lah. Untung kamu sahabatnya anak saya."
"Anak tiri maksudnya?" tanya Ferdi menegaskan.
"Anak tiri atau kandung juga sama-sama anak kan. Tetep aja anak saya." jawab pak Dewa.
"Hehe. Iya deh, terserah bapak aja. Kebetulan, yang saya mau omongin juga tentang Chacha." kata Ferdi.
Pak Dewa mengernyitkan dahinya.
Lift berhenti di lantai 10. Pak Dewa keluar menuju kamarnya, di ikuti oleh Ferdi dibelakangnya.
Pak Dewa membuka pintu kamarnya, Ferdi langsung ikut masuk ke kamarny dan duduk di sofa dalam kamar.
Pak Dewa hanya menggelengkan kepalanya. Dia pun duduk di hadapan Ferdi.
"Jadi, apa yang kamu mau omongin?" tanya pak Dewa ke Ferdi.
"Wuih. To the point amat pak. Saya gak di tawarin minum dulu gitu." jawab Ferdi sambil nyengir.
"Minum aja tuh air mineral yang di meja." sahut pak Dewa.
Ferdi mengeluarkan rokok dari kantongnya.
"Heh. Jangan merokok di kamar saya. Ini non smoking room." tegur pak Dewa ke Ferdi.
"Ya ampun. Begini banget hidup yak." gumam Ferdi sambil memasukkan lagi rokok ke kantongnya.
Ferdi menghembuskan napasnya, "Jadi gini pak. Semalem itu, saya juga berantem sama Putra. Malah sama temen-temennya dia juga." kata Ferdi.
Pak Dewa terkejut mendengarnya, "Apa? Masa sih? Kok bisa?"
"Ya bisa pak. Bapak gak liat nih muka saya juga banyak stempelnya." jawab Ferdi.
Pak Dewa semakin heran, "Kenapa kamu juga berantem sama Putra? Bukannya cuma Darwin yang cemburu karena Chacha pacaran sama Putra? Apa iya kamu juga cemburu sama Putra."
Ferdi tertawa mendengarnya, "Haha. Kalo saya emang cemburu sama Putra, gak usah nunggu malam ini saya mukul dia pak. Bukan itu masalah sebenernya kenapa saya atau Darwin bisa mukul Putra." jawab Ferdi.
"Kalo bukan cemburu, terus apa?" tanya pak Dewa.
"Gini pak,............" Ferdi pun mulai menceritakan rencana Putra dan teman-temannya untuk mengerjai Chacha.
Ferdi juga bercerita bagaimana Darwin, dia, dan Adie berusaha menggagalkan rencana mereka tersebut.
"Jadi pak, kalo menurut saya kenapa Darwin tadi menghajar Putra, ya karena itu tadi. Darwin sendiri juga pasti udah kesel banget sama si Putra." kata Ferdi ke pak Dewa.
"Tapi kalo memang begitu kejadiaannya, kenapa Darwin tidak keberatan dengan konsekuensi yang diberikan ke dia." jawab pak Dewa.
"Pak. Darwin itu sayang banget sama Chacha. Menurut Darwin, kalo tadi dia bongkar semuanya di depan bapak dan pejabat kampus, itu sama aja kaya mempermalukan Chacha di depan kalian semua. Karena kurang lebih, kalian akan berpikir kalau Chacha itu bukan cewe baik-baik, dijadiin bahan taruhan, plus di tidurin sama Putra." cerita Ferdi.
Pak Dewa kelihatan berpikir.
"Pak. Saya cerita gini bukan karena Darwin yang jadi gak dapet ijazah sama gak bisa ikut wisuda. Saya sama Darwin gak terlalu peduli sama ijazah atau wisuda. Cuma, menurut saya bapak mesti tau kejadian yang sebenernya gimana." kata Ferdi lagi.
"Keputusan tersebut di ambil berdasarkan kesepakatan para dewan kampus. Kalau sekarang saya sendiri tiba-tiba bilang atau cerita kejadian ini, para dewan pasti gak percaya. Apalagi saya gak ada bukti. Terus, ini menyangkut salah satu mahasiswa yang riwayat akademis dan prestasinya bagus." jawab pak Dewa.
"Kalo bukti-bukti sih semua ada di Darwin, pak. Tapi, kayanya Darwin juga gak mau ngebeberin itu semua. Dia bukan tipe orang yang mau ngemis-ngemis ngelakuin apa aja supaya ijazah dia keluar atau supaya bisa ikut wisuda." kata Ferdi.
"Ya sudah. Nanti saya pikirkan dulu bagaimana ya. Walau gimana juga, saya tetep maunya berlaku adil. Yang salah ya tetap salah." sahut pak Dewa ke Ferdi.
Ferdi pun mengangguk, "Ok deh pak. Kalo gitu saya permisi dulu ya." kata Ferdi melangkah menuju pintu.
__ADS_1
Pak Dewa menoleh ke Ferdi, "Fer." sahut pak Dewa menghentikan langkah Ferdi.
"Ya pak?" tanya Ferdi.
"Makasih ya. Kamu udah ngejagain putri saya, Danisha. Kamu, Darwin, dan Adie." kata pak Dewa tersenyum.
Ferdi memberikan jempolnya ๐, "Gak masalah pak. Apapun buat Chacha." jawab Ferdi.
*
Setelah semua mahasiswa selesai makan siang, mereka semua akan check out dari hotel dan kembali ke kampus.
Semua mahasiswa dan dosen naik ke bus dan mobil masing-masing.
Gue menarik koper kecil gue dan mau melangkah naik ke bus. Tapi suara Darwin menghentikan langkah gue.
"Cha." Darwin memanggil gue.
Gue menoleh ke arahnya, "Apaan?"
"Sini gue bantuin bawa koper lu. Gue naik di bus lu ya." kata Darwin sambil mengambil koper gue dari tangan gue dan dia langsung naik ke bus.
Gue bengong ngeliat dia yang naik ke bus dengan membawa koper gue.
'Hah? Emang boleh pindah bus?' gue bertanya dalam hati.
"Woi. Ngapain bengong? Cepet naik." teriak Darwin ke gue.
Gue tersadar dari lamunan gue, "Eh, iya Win."
Gue masuk ke bus, Darwin langsung menarik tangan gue.
"Kita duduk disini aja ya." kata Darwin yang langsung menyuruh gue duduk di dekat jendela.
Gue hanya diam menuruti apa kata dia.
Dia pun langsung duduk disamping gue.
Kita berdua duduk di kursi dua dan di bagian belakang.
"Win. Emang boleh pindah bus?" gue bertanya ke Darwin.
Darwin tertawa, "Boleh lah. Orang udah lulus kan. Lu liat aja nih bus, isinya sama gak kaya waktu berangkatnya."
"Iya juga sih. Si Adie aja gue gak ngeliat ada disini." gue bergumam.
"Adie di bus gue. Dia sama Ferdi. Ya anggep aja gue tukeran sama dia. Haha." kata Darwin ke gue.
"Ooo. Pantes."
Gue mengambil kamera gue dan melihat foto-foto yang gue ambil dari kemaren di hotel.
Gue memperlihatkan foto-foto itu juga ke Darwin. Kita berdua tertawa bersama-sama.
"Ini hasil jepretan gue ya?" tanya Darwin.
"Iya." gue menjawab nyengir.
"Wah. Gak jelek-jelek amat kan hasil jepretan gue." kata Darwin bangga.
"Ini mah lu kebetulan aja." gue bergumam.
Darwin tersenyum menatap gue, "Iyalah. Gue kebetulan banget. Kebetulan ngeliat lu lagi cantik gini, makanya gue foto."
Gue tersenyum memandang dia, "Jadi, mendingan gue kaya semalem, apa kaya sekarang?"
Darwin merapikan rambut di jidat gue ke samping, "Ya mendingan lu kaya sekarang. Natural dan apa adanya elu. Cerewet. Urakan. Gak bisa di atur. Lokomotif. Tukang minum."
Gue seneng ngedengernya. Gue menyandarkan kepala gue ke bahunya.
Darwin melingkarkan tangannya ke pundak gue.
Dia mengecup kepala gue dan berbisik, "Karena udah lulus, kita gak usah minum-minum lagi ya."
"Kok gitu?" gue bertanya heran.
"Ya udahan aja minum-minum nya. Kan udah tau rasanya. Lagian, masa kita berdua mau gitu terus." jawab Darwin.
"Tapi, kalo sekali-kali gak papa kali."
"Gak ada sekali-kali. Pokoknya berhenti. Nanti juga kita pelan-pelan berhenti ngebul ya."
Gue agak terkejut, "Hah? Apa lu gak salah ngomong?" gue bertanya sambil memukul pelan dada nya.
"Gak Cha. Kan gue bilang nanti, pelan-pelan. Bukan sekarang. Udah, lu gak usah banyak protes." kata Darwin sambil terus merangkul gue. Membuat kepala gue semakin tenggelam dalam bahunya.
'Ini dia ngomong udah ngelebih-lebihin bunda. Udah ngelebih-lebihin cowo ke cewe nya. Gue juga gak tau kenapa kok gue diem-diem aja dan mau-mau aja nurutin apa kata dia.' gue bergumam dalam hati.
Tak terasa mata gue terpejam dan tertidur dalam pelukannya. Dengan tangan gue yang melingkar juga diperutnya.
Sore menjelang malam.
Rombongan mahasiswa tiba dikampus.
__ADS_1
Beberapa mahasiswa ada yang langsung pulang kerumah masing-masing.
Gue dan Darwin turun dari bus.
"Cha." Ferdi memanggil.
Gue menoleh ke Ferdi dan Adie.
"Hei." gue menjawab.
"Lu langsung pulang apa nginep dulu dikosan?" tanya Ferdi.
"Hah? Nginep? Baru juga abis nginep di hotel, masa gue nginep lagi dikosan." gue menjawab.
"Ya ini kan udah mau malem. Lu juga gak bawa motor. Masa lu mau pulang ngangkot sendirian." kata Ferdi.
Gue menatap Darwin, "Lu pulang apa nggak, Win?"
"Terserah lu. Kalo lu mau pulang, ayo gue temenin sekalian gue pulang. Tapi kalo lu mau nginep dulu dikosan, pulangnya besok, gak masalah juga." jawab Darwin.
"Cha." seseorang memanggil gue.
Gue menoleh ke belakang, "Papi." gue bergumam.
Gue sebenernya masih kesel sama dia.
"Cha. Kamu mau pulang kan. Ayo, biar papi anterin." kata papi ke gue.
"Maaf pak Dewa, tadinya Chacha kayanya mau nginep tuh dikosan." celetuk Ferdi.
Papi memandang gue, "Malam ini pulang aja ya. Semalem kan kamu juga udah gak pulang. Kasian bunda." kata papi ke gue.
Gue menghela napas dan menatap ketiga sahabat gue, "Gue balik aja deh guys. Nyokap gue juga pasti nungguin gue pulang."
"Ooo. Ya udah, Cha. Gak papa." kata Adie ke gue.
"Gue juga mau pulang aja deh, bareng sama lu. Itu juga kalo papi lu ngebolehin gue nebeng di mobilnya." kata Darwin ke gue sambil melirik papi.
"Oh, boleh. Tentu boleh. Ya sudah, ayo kita ke mobil papi." ajak papi.
"Guys. Besok ngumpul dirumah Darwin ya. Gue sama Adie besok kesana pake mobil gue. Kalo malem ini, kayanya gue gak kuat kalo nyetir. Ngantuk banget." kata Ferdi ke gue dan Darwin.
"Iya, iya. Gue cabut ya." gue menjawab sambil melangkah menuju mobil papi di ikuti oleh Darwin.
Diparkiran mobil.
Ketika gue dan Darwin berjalan menghampiri mobil papi, seseorang menarik tangan gue dari belakang, "Cha."
Gue menoleh karena gue mengenal suaranya, "Putra."
"Cha. Aku anterin kamu pulang ya." ajak Putra.
'Gue rasa ni cowo udah gila. Apa gak sadar dia kemaren mau ngapain gue. Sekarang kaya gak ada dosa bilang mau nganterin gue pulang.' gue bergumam dalam hati.
Darwin melangkah maju ke depan gue, gue menahan tangannya. Gue gak mau kalo Darwin lagi-lagi menghajar Putra.
"Put. Aku kan udah bilang, kalo kita berdua udah gak ada apa-apa lagi. Kamu berhenti gangguin aku." gue menjawab Putra.
"Cha. Aku sayang sama kamu. Aku akan tebus kesalahan aku supaya kamu mau maafin aku. Kasih tau aku, apa yang mesti aku lakuin." kata Putra ke gue.
"Aku maafin kamu, asal kamu menjauh dari aku." gue menjawab Putra dengan dingin.
"Cha. Please. Aku gak bisa untuk menjauh dari kamu. I'm so in love with you." kata Putra sambil memegang tangan gue.
Darwin terlihat kesal, "Put! Lu gak denger dia bilang apa? Dia minta lu menjauh dari dia. Bisa gak sih, sekali ini aja lu hargai apa yang Chacha minta?!"
Gue merasakan sepertinya mereka berdua akan berantem lagi.
Tapi, untungnya papi menghampiri kita.
"Ada apa ini? Putra? Darwin?" tanya papi.
"Maaf pak Dewa. Saya rasa bapak sudah tau kenapa Darwin sangat tidak menyukai saya dan sampai memukul saya tadi di pantai." kata Putra ke papi.
Gue tau Darwin kesel banget, gue menggenggam jari tanggannya.
"Tahan, please." gue berbisik ke dia.
Gue melihat papi tersenyum ke arah Putra, "Iya. Saya sudah tau. Dan saya juga sangat tau alasan yang sebenarnya." kata papi ke Putra.
Putra seperti heran mendengarnya.
Papi menepuk pundak Putra, "Putri saya pulang dengan saya malam ini. Jadi kamu gak perlu repot-repot nganterin dia. Ayo, Cha, Win. Masuk ke mobil papi." ajak papi ke gue dan Darwin.
Gue tersenyum mengangguk dan masuk ke mobil.
Gue duduk di bangku belakang, Darwin dan papi di depan.
"Win. Kalo kamu pas ada waktu besok, saya mau bicara ya. Di rumah Chacha aja." kata papi ke Darwin.
Gue heran mendengar papi, Darwin pun menoleh ke arah gue.
Gue cuma mengangkat bahu karena gue gak tau ada apa.
__ADS_1
"Iya, pak. Besok saya ke rumah Chacha." jawab Darwin.
'Ini ada apa lagi sih. Kok pak Dewa mau ngobrol-ngobrol sama gue. Di rumah Chacha lagi.' gumam Darwin dalam hatinya.