Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Baikan


__ADS_3

"Gimana ya?"


"Gimana apanya Cha?"


"Eh, nggak mas. Gak gimana-gimana."


"Udah take fotonya?"


"Udah mas."


"Coba gue liat."


Gue pun menyerahkan kamera gue ke mas Rangga.


"Ok nih. Nanti kita tinggal edit di studio. Sekarang kita makan yuk, gue laper." Seperti biasa kalo abis motret-motret mas Rangga pasti langsung ngajak makan.


Gue pun masuk ke dalam mobilnya. Pikiran gue masih menerawang. Darwin mau berangkat ke US, trus nanti gue ngomong apa kalo ketemu dia dirumahnya.


"Cha." Mas Rangga memanggil.


"Ya? Kenapa mas?"


"Lu yang kenapa?"


"Gue? Gue gak napa-napa koq."


Mas Rangga tersenyum simpul, "Chacha, Chacha. Gue itu tau lu luar dalem. Jadi kalo lu diem-diem kaya gini, pasti lu lg kenapa-kenapa."


Gue hanya terdiam dan tetap memandang keluar jendela mobil.


"Mas."


"Apa?"


"Mas pernah gak, gak ngomong atau ketemuan sama temen mas sampe berbulan-bulan?"


"Ya pernah lah. Sama lu."


"Ih. Maksud gue, marahan gitu. Diem-dieman."


"Ooo. Pernah."


"Trus kalian baikan lagi gak akhirnya?"


"Ya baikan lah. Gak sengaja ketemu, orang satu tongkrongan."


"Pas ketemu, mas ngomong apa?"


"Yaa gue tanya, hei bro kemana aja. Bagi rokok sini. Gitu..."


"Ooo. Temen mas itu cowo ya."


Gue bergumam dan terdiam lagi.


"Cowo ya Cha?" Ms Rangga bertanya.


"Maksudnya?"


"Yang bikin lu sampe diem kaya gini, pasti cowo kan?"


"Iyalah. Masa banci."


"Hehe. Lu suka sama dia Cha?"


"Hah?"


"Lu pasti suka sama dia. Bukan sebagai temen lu. Soalnya, kalo lu gak suka sama dia, gak mungkin lu jadi rungsing begini."


"Bukan gitu mas. Cuma aneh aja. Dari yang biasanya selalu ada buat gue, cerewet, perhatian, eh tiba-tiba berubah dalam satu malam."


"Siapa sih? Dia yang lu kenalin ke gue waktu di nikahan bunda ya? Ya kan? Siapa namanya? Darman ya? Apa Darto?" Mas Rangga bertanya sambil senyum-senyum ke gue.


"Darwin mas."


"Nah iya, Darwin. Trus, apa masalahnya?"


Gue menundukkan kepala dan berkata pelan.


"Darwin mau berangkat kuliah lagi ke US, mas."


"Wah. Bagus donk. Giat nuntut ilmu dia. Gak bosen belajar sampe jauh-jauh. Trus, koq lu malah sedih dia mau berangkat?"


"Pas pulang dari Bromo, sikap dia ke gue berubah mas. Gue gak tau kenapa. Dia jadi cuek banget, jadi ketus sama gue."


"Trus?"


"Trus gue jadinya kesel kan sama dia. Ya gue bilang aja ke dia, gak usah lagi urusin gue karena dia udah gak peduli lagi."


"Yakin lu, dia gak peduli lagi sama lu?"


Gue mengangguk pelan, "Kayanya sih iya mas."


"Trus, koq lu tau dia mau berangkat ke US? Bukannya kalian udah gak ngomong lagi?"


"Dia bilang itu di grup chat."


"Ooo. Lu belum ngucapin apapun ke dia?"

__ADS_1


Gue menggelengkan kepala, "Belum mas."


"Tapi sebenernya lu mau gak baikan sama dia? Mau tau gak kenapa dia sampe berubah sama lu?"


"Ya mau lah. Kalo nggak, gue bisa mati penasaran nanti."


"Hahaha. Ya udah, nanti lu tanya dia aja. Lu dapetin jawaban sebelum dia berangkat. Tapi, apapun yang dia bilang ke lu, lu harus terima Cha. Kadang-kadang, kita para pria punya alesan sendiri ngelakuin hal yang kalian para wanita gak bisa pahami."


"Lu curcol mas?"


"Hahaha. Enak aja lu. Dikit sih. Udah gak usah di bahas masalah gue, belum saatnya. Lu kelarin dulu tuh kegundahan di hati lu. Gue gak mau kerja sama orang yang gak fokus nanti. Jadi gak maksimal hasilnya."


"Iya."


Mas Rangga pun membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan padang.


*


Author PoV


Sore hari.


Rangga mengantarkan Chacha sampai rumah Darwin. Chacha cerita kalau bundanya yang menyuruh dia kerumah Darwin.


Mereka pun tiba di rumah Darwin.


"Udah sana turun. Gak usah grogi. Ini bukan mau kontes nyanyi."


"Lagian siapa yang mau ikutan kontes nyanyi. Orang gue gak bisa nyanyi."


"Ya udah, makanya turun."


"Mas, kalo gue ketemu dia, gue ngomong apa ya?"


"Ya lu tanya aja. Apa kabar Darwin. Sambil lu pasang tuh muka lugu lu."


Chacha memukul lengan Rangga.


"Gue serius."


"Hahaha. Chacha, Chacha. Gue juga serius. Udah sana turun, gue gak perlu kasi tau lu untuk ngomong apa kalo ketemu dia. Nanti juga lu bisa sendiri. Naluri."


"Ya udah deh. Thank you ya mas."


"Iya. Nanti kabar-kabarin lagi ya."


Chacha mengangguk dan keluar dari mobil. Dia berjalan masuk ke rumah Darwin melalui kedai.


Dia bertemu dengan salah seorang pegawai kedai.


"Nggak mba. Gue mau ketemu tante."


"Ooo. Ibu ada di dalam koq. Masuk aja mba."


Chacha mengangguk dan berjalan masuk ke dalam rumah Darwin.


"Win. Coba kamu tolong liatin dulu di kedai. Kayanya agak rame deh. Mama lagi tanggung nih ngaduk bumbu, takut hangus kalo di tinggal." Mama Darwin menyuruhnya ke kedai.


"Emang gak ada orang di kedai?" Darwin bertanya.


"Ya ada. Cuma si Imron sama Lela gak masuk hari ini. Lagi gak enak badan mereka. Jadi gak ada yang liatin cashier. Udah sana liatin dulu sebentar."


Darwin pun bangun dengan malas dan berjalan menuju kedainya dari dalam rumah.


Darwin berjalan sambil melihat-lihat ponselnya, ketika dia berjalan keluar dari pintu rumah, dia bertabrakan dengan Chacha yang ingin masuk ke dalam rumahnya. Chacha pun tidak melihatnya, karena dia masih memikirkan apa yang harus di katakannya kalau bertemu Darwin. Dan sekarang mereka malah bertabrakan.


"Aduh!" Seru Chacha.


"Ouch!" Darwin berseru.


Mereka pun saling berpandangan.


"Sorry." Sahut Chacha pelan.


"Chacha."


"Eh, Win. Ini, gue di suruh bunda anterin ini buat nyokap lu." Chacha langsung berkata dan mengambil amplop uang di dalam tasnya agar dia tak lagi menatap Darwin.


Darwin hanya terdiam memandangnya.


"Udah di liatin, Win? Koq malah berdiri disini?" Mama Darwin menepuk pundaknya.


"Eh, mam. Iya mam, ini lagi di liatin." Darwin menjawab sambil tetap memandang Chacha.


Mama Darwin pun melihat Chacha yang berdiri di depan Darwin.


"Eeeh, Chacha. Koq berdiri disini aja? Masuk aja langsung. Lagian tumben sih lewat kedai." Mama Darwin menyapa Chacha.


"Gak papa tante. Chacha cuma mau nganterin titipan bunda aja koq. Ini tante." Chacha menjawab sambil menyerahkan amplop tersebut ke mama Darwin.


"Oiya. Makasih ya Cha, tante jadi ngerepotin kamu."


"Gak koq tante. Ya udah ya, Chacha pulang dulu tante." Sahut Chacha sambil melirik ke Darwin yang masih saja terdiam.


Mama Darwin pun melihat kelakuan anaknya yang aneh.


"Koq buru-buru, Cha? Biasanya juga sampe malem disini." Mama Darwin bertanya.

__ADS_1


"Iya tante. Soalnya tadi pulang kerja langsung kesini dulu. Jadi Chacha mau pulang aja, mau mandi. Chacha permisi ya tante." Jawab Chacha. Dia pun membalikkan badannya dan melangkah keluar.


Darwin tetap memandangnya. Mamanya pun terlihat kesal dengan Darwin.


Dia menepuk bahu Darwin, "Kejar sana. Jangan sampe nyesel kamu keburu berangkat ke US."


Darwin pun tanpa berpikir lagi menyusul Chacha yang berjalan di kedainya.


Darwin menahan tangan Chacha dari belakang, "Tunggu Cha."


Chacha menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Apa?"


"Gue mau ngomong."


"Ya udah ngomong."


"Ya masa di kedai. Di kamar gue aja yuk, kaya biasanya." Ajak Darwin sambil tersenyum.


Chacha pun hanya mengangguk, dia melangkah menuju kamar Darwin.


"Mba. Tolong bikinin jus alpukat buat Chacha ya. Inget, susu putih bukan yang coklat." Darwin berkata pada salah satu pegawai kedainya.


Chacha duduk di ujung tempat tidur Darwin dan menyalakan rokok nya.


Darwin masuk ke kamarnya dan duduk di kursi kerjanya. Dia tetap memandangi Chacha.


"Trus?" Chacha bertanya padanya sambil menghembuskan asap rokoknya.


"Cha. Gue lulus beasiswa, dan mau berangkat ke US awal bulan depan."


"Ooo. Gue udah tau." Jawab Chacha datar.


"Trus, gak ada yang mau lu ucapin?" Darwin bertanya.


"Selamet ya." Sahut Chacha dingin. Walaupun di dalam hatinya dia mau berteriak dan mengacak-acak muka dan rambut Darwin. Karena biasanya dia selalu begitu untuk menyemangati Darwin.


"Gitu doank?" Darwin bertanya lagi.


"Trus lu maunya gimana? Gue mesti manggil tanjidor gitu untuk ngerayain keberhasilan lu?" Chacha balik bertanya dan menyilakan kakinya ke atas tempat tidur.


Darwin tersenyum dan memajukan kursinya sehingga dia berhadapan dekat dengan Chacha.


"Maafin gue ya." Kata Darwin.


"Maaf? Kenapa?"


"Karena gue udah bikin lu kesel."


Chacha menghembuskan asap rokoknya ke muka Darwin.


"Lu itu emang ngeselin! Lu tiba-tiba berubah dalam semalem. Entah apa salah gue sama lu! Sampe lu juga gak ada omongan apa-apa ke gue! Dan sekarang lu juga mau pergi, setelah udah bikin gue kesel sampe ke ubun-ubun." Seru Chacha meluapkan emosinya.


"Iya. Makanya gue minta maaf ya Cha. Masa nanti gue pergi, lu masih kesel juga sama gue."


"Nah, itu juga. Lu gak ada tuh cerita-cerita kapan lu psikotestnya, tau-tau lu udah lulus aja tuh tes ketiganya. Dulu, tes satu dua lu selalu bilang ke gue." Kata Chacha yang masih kesal.


"Iya, sorry. Soalnya gue juga gak mau ngerepotin lu mulu. Walaupun lu maunya direpotin gue ya kan. Hehe."


"Permisi mas Darwin, ini jus buat mba Chacha." Seorang pegawai kedai mengetuk pintu kamar Darwin.


"Iya mba, masuk aja." Sahut Darwin dari dalam.


"Makasih ya mba."


Darwin pun memberikan jus tersebut untuk Chacha, "Nih minum, supaya gak marah-marah terus."


"Thank you." Chacha pun langsung meminum jus nya.


"Trus, gimana lu sama si Rangga itu?" Darwin bertanya penuh selidik.


"Mas Rangga?" Chacha balik bertanya.


"Iya. Mas Rangga. Emang gue gak boleh ya manggil dia gak pake mas."


"Ya boleh aja."


"Trus gimana?"


"Ya gak gimana-gimana, Win. Gue kerja bareng dia. Magang di kantor majalah nya. Trus assist dia di studio foto nya."


"Di studio nya cuma kalian berdua aja?"


"Ya nggak sih. Kan ada FO, ada OB, ada model-model yang mesti di take fotonya. Trus ada juga editor."


"Lu seneng kerja bareng dia?"


"Ya seneng lah. Dia kan bukan orang yang baru gue kenal."


Darwin terdiam dan berpikir.


"Lu suka sama dia, Cha?"


"Hah?"


Chacha terheran dengan pertanyaan Darwin.

__ADS_1


__ADS_2