Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Pernyataan dan Pengakuan


__ADS_3

Si Darwin nih maksudnya apa sih nanya gitu ke gue.


"Ya gue suka lah, Win. Kalo gak suka gue gak bakalan kerja bareng dia."


"Maksud gue, lu sukanya gimana ke si Rangga itu?" Darwin bertanya lagi.


"Ya suka aja. Dia orangnya baik, bisa ngemong gue. Ya kaya abang lah buat gue."


"Ooo. Kalo kaya abang buat lu, ada kemungkinan gak, kalian saling suka dan pacaran?"


Gue mengernyitkan dahi, agak aneh sih ini pertanyaannya.


"Gue gak bisa bilang gak mungkin, Win. Karena gue gak tau kedepannya gimana. Yang gue rasain sekarang sih, mas Rangga itu udah kaya abang gue sendiri."


"Kalo ke gue, yang lu rasa gimana?"


"What?" Gue bertanya balik karena gak pernah ngira Darwin akan nanya hal kaya gitu ke gue.


Ponsel Darwin pun berbunyi. Gue seperti abis dari toilet setelah kebelet, rasanya lega. Siapa pun itu yang nelpon Darwin, makasih lah.


Darwin menjawab teleponnya, ternyata Ferdi yang telepon. Darwin pun men-switch ke video call supaya gue juga bisa ngeliat Ferdi.


"Eh Cha. Ada di rumah Darwin lu?" Ferdi bertanya sambil senyum-senyum


"Iya. Abis nganterin amanat bunda."


"Amanat apa karena mau di tinggal ke amrik?" Ferdi meledek.


"Tau ah." Gue menjawab.


"Win. Congrats ya. Trus kapan nih farewell nya? Gue hari ini belom bisa ke rumah lu. Adie juga kayanya kerja deh hari ini."


"Iya gak papa. Gak hari ini juga kok farewell nya. Ini Chacha lagi main aja kesini."


"Cieeee. Udah baean lu berdua? Kagak diem-dieman lagi kaya speaker mendem?"


Gue tertawa mendengarnya, "Haha. Kita gak diem-dieman kok, Fer. Kemaren cuma ilang sinyal aja."


"Bisa aja lu ngelesnya. Trus kapan nih Win, farewell nya?"


"Nanti gue kabarin deh. Soalnya besok juga gue mesti ke kedutaan ngurus macem-macem. Trus mau bikin paspor juga. Minggu ini juga gue mesti ke Lampung, nyelesein program komputer yang gue bikin buat pemda sana."


Gue memandang Darwin, kok gue sampe gak tau kalo dia ada kontrak sama pemda Lampung. Gila, gue bener-bener gak tau apa-apa tentang dia selama dua bulanan ini.


"Ooo, ok deh Win. Nanti kasi tau gue aja kapan. Awal bulan tuh dua minggu lagi kan? Farewell di tempat gue aja ya. Kita karaokean dari pagi. Hahaha."


"Iya gampang."


"Bye Chacha. Kangen deh gue pengen jitakin lu." Sahut Ferdi tertawa.


"Gue juga kangen. Terutama kangen pengen gep-in lu berdua cewe. Hahaha." Gue menjawab.


Darwin pun menutup teleponnya.


"Cha. Kalo sama gue, kangen gak?" Darwin bertanya sesuatu yang aneh lagi menurut gue.


Mungkin sebenernya gak aneh, tapi cara dia nanya-nya yang aneh.


"Gak lah. Orang lu belom berangkat. Gimana kangennya." Gue menjawab datar.


"Jadi, selama dua bulanan kita gak ketemuan, lu gak kangen gue?"


Gue mengalihkan pandangan dari mukanya.


"Win. Gue mau nanya sesuatu yang sebenernya gue penasaran sampe sekarang." Gue mengalihkan pembicaraan kita.


"Nanya apa?"


"Waktu kita di Bromo, sebenernya gue itu kenapa sih Win? Kok yang gue inget, gue ketiduran senderan di pohon, trus pas bangun gue udah ada di tenda. Kalo gue emang cuma ketiduran, mestinya gue pasti kerasa lah kalo di gendong sama lu. Orang dulu kalo gue mabok, trus lu angkat ke kasur aja gue berasa."

__ADS_1


"Ya emang lu lagi cape aja, makanya lu tidur pulas banget. Pas gue gendong, malah makin pulas lu nya."


Gue berpikir. Kayanya bukan gitu deh yang sebenernya. Ini aja si Darwin ngomongnya gak sambil ngeliat gue. Apa sih yang dia tutupin dari gue, sampe bikin dia berubah dalam semalem.


"Eh, Cha. Besok lu kerja ya?" Darwin bertanya, membuyarkan lamunan gue.


Gue mengangguk, "Iya. Kenapa emang?"


"Yah. Tadinya gue mau minta lu temenin gue besok, bikin paspor sama ke kedutaan."


"Emang kalo lu jalan sendiri kenapa?" Gue bertanya ke Darwin.


"Ya iseng aja sendirian. Kan biasanya juga lu yang suka nganter-nganterin gue."


"Tapi besok gue kerja, Win."


"Ya udah, gak papa."


Gue dan dia kemudian berada dalam keheningan. Emang bener kata orang-orang. Kalo lu tiba-tiba gak ngomong atau menjaga jarak sama sahabat lu, nanti pas ketemu lagi pasti jadi canggung.


*


Author Pov


Dua minggu kemudian.


Semenjak kemarin, Darwin sudah packing barang-barang dan dokumen yang harus dia bawa.


Hari ini adalah farewell untuknya. Mereka berempat berkumpul di karaoke milik Ferdi.


Chacha dan Adie sedang bernyanyi-nyanyi di salah satu ruangan karaoke.


Darwin dan Ferdi sedang ke toilet.


"Win."


"Apaan?"


"Ngomong apaan?"


Ferdi menepuk jidatnya, "Aduuuh. Lu jago komputer tapi otak lu kok lemot ya? Ya masalah perasaan lu sama Chacha lah. Jangan bilang kalo lu udah gak mau lagi sama Chacha."


Darwin menghela napasnya, "Gimana cara gue ngomongnya, Fer? Kemaren waktu dia kerumah gue aja, gue udah pancing-pancing dia, tetep aja datar jawaban dia. Gimana kalo sampe gue nembak dia. Yang ada dia bakalan beneran ngediemin gue selamanya."


"Ah, elu mah. Masa lu mau pergi tapi tetep memendam rasa. Nanti nyesel lu. Apalagi kalo tiba-tiba lu dapet undangan merit Chacha dan Rangga."


"Ah, nggak. Nggak mungkin Chacha sama si Rangga itu." Darwin berusaha menyangkalnya, walaupun sebenernya dia juga takut kalau suatu saat Chacha akhirnya jadian sama Rangga. Apalagi mereka kerja bareng dan ketemu setiap hari.


"Apanya yang gak mungkin, Win. Kita gak tau kedepannya gimana. Jadi, kalo menurut gue mendingan lu tembak Chacha. Lu iket dia, jadi dia gak bakalan punya cowo selama lu di amrik." Ferdi menyarankan.


"Ya kalo Chacha nya mau jadi cewe gue. Kalo gak, gimana? Apa gak bakalan marah-marah tuh dia sama gue nanti."


"Makanya lu tembak. Jadi lu tau dia gimana ke lu. Kalo pun dia nolak lu, dan dia marah sama lu, lu kan besok udah terbang ke amrik. Jadi, gak bakalan ketemu dia. Daripada lu gak nyatain, trus tiba-tiba lu dapet undangan nikah dia sama Rangga, itu malah lebih ngenesin, karena ada penyesalan nantinya."


Darwin memikirkan semua yang Ferdi katakan.


Kadang-kadang, si Ferdi ini emang ada benernya, terutama kalo masalah cewe.


Mereka berdua pun kembali ke ruang karaoke.


Setelah mereka berempat bernyanyi-nyanyi, mereka pun beristirahat.


Chacha meminum sodanya, dan menyalakan rokoknya. Darwin duduk disamping kirinya.


"Cha." Darwin mulai berbicara.


"Hmmm." Chacha menjawab.


Darwin duduk menghadap Chacha.

__ADS_1


"Cha. Maafin gue selama ini."


Chacha menoleh ke Darwin dengan heran.


"Maaf kenapa lagi lu?" Chacha bertanya. Dia pun melirik Adie yang duduk di belakang Darwin. Namun Adie mengangkat bahunya, menandakan dia tidak tau.


"Maaf, kalo selama ini gue ada rasa sama lu. Gue suka sama lu, gue sayang sama lu. Bahkan gue cemburu waktu lu pacaran sama Putra."


Chacha membelalakkan matanya, dia pikir ada yang salah dengan pendengarannya.


"Maksud lu, Win?"


"Cha. Sebelum gue berangkat, gue mau minta satu hal, di depan mereka berdua." Darwin berkata dan melirik Adie dan Ferdi.


"Oke. Apa?" Chacha bertanya.


"Cha. Gue mau meminta lu untuk jadi cewe gue. Jadi pacar gue dan jadi pasangan gue, hari ini dan untuk selamanya." Darwin berbicara serius.


Chacha terkejut mendengarnya, "What?! Lu udah gila, Win?"


"Iya, gue udah gila. Gue gila karena gue sayang sama lu, bahkan mungkin gue udah cinta sama lu."


"Win! Lu sendiri tau lu itu siapa buat gue. Dan kita semua juga tau, dulu kita pernah janji dan bilang kalo gak akan ada heart feeling dia antara kita berempat."


"Sorry, Cha. Janji itu ternyata gak bisa gue tepatin." Jawab Darwin.


Semua perasaan Chacha menjadi bimbang. Bagaimana bisa seorang cowo meminta dia untuk jadi cewenya, yang kemudian besok nya dia akan di tinggal pergi.


"Lu tuh kenapa sih, Win? Kok lu jadi aneh gini sih semenjak kita pulang dari Bromo. Setelah lu berubah sikap, sekarang tiba-tiba lu nyatain perasaan lu dan mau jadi pacar gue. Sedangkan besok, lu udah terbang ke US. Lu sadar gak sama apa yang lu bilang semua?"


Darwin memandang Chacha, "Gue sadar betul apa yang gue bilang, Cha. Gue cinta sama lu. Bukan karena lu sahabat gue, dan bukan karena gue anggap lu ade gue."


Chacha berdiri, dia menahan semua emosinya. Dia berpikir kenapa Darwin baru bilang itu semua ketika dia mau berangkat besok. Apa jadinya pacaran tapi gak ketemuan juga.


Darwin masih duduk dan memandang Chacha yang berdiri. Dia berpikir kalau Chacha benar marah atas pernyataannya. Dia pun semakin merasa bersalah.


"Cha. Gue akan mengakui satu hal lagi. Gue gak mau berangkat besok, tapi masih ada yang belum gue omongin ke lu." Darwin berbicara.


Chacha membalik badannya, namun tetap berdiri.


"Waktu di Bromo, memang lu gak tertidur pulas." Darwin mulai berbicara.


"Hah? Maksud lu?" Chacha memandang Darwin dan kedua sahabat nya yang duduk juga dihadapannya.


"Waktu itu, lu pingsan. Gak sadar." Sahut Ferdi.


Chacha menaikkan satu alisnya dan semakin bertanya, "Gue pingsan. Kenapa?"


"Lu kena hipotermia." Adie menjawab.


"Hah? Hipotermia? Trus, kok kalian bisa selametin gue?" Chacha bertanya.


"Bukan gue atau Adie, tapi Darwin yang nyelametin lu." Ferdi menjawab.


Chacha memandang Darwin penuh pertanyaan.


"Maaf, Cha. Saat itu gue gak ada pilihan lain. Karena gue gak mau kalo sampe kehilangan lu." Kata Darwin.


"Lu nyelametin gue? Gimana? Apa yang lu lakuin ke gue?"


Darwin berdiri dan melangkah ke hadapan Chacha.


"Kita tidur bareng di dalem sleeping bag, gue memeluk lu dalam keadaan half naked."


Plak!


Belum selesai Darwin menjelaskan, Chacha menamparnya.


Chacha penuh dengan emosi yang campur aduk. Setelah mendengar pernyataan cinta Darwin, dia pun mendengar pengakuan Darwin tentang apa yang terjadi dengannya di Bromo.

__ADS_1


"Lu jahat, Win!" Seru Chacha, dan meneteslah air matanya.


__ADS_2