
Darwin, Ferdi, dan Adie pun dengan cepat keluar dari kamar, menuju suara teriakan Chacha dari arah belakang rumah.
Mereka bertiga pun tiba di depan kamar mandi, yang kemudian Laras beserta bapak dan ibunya pun tiba.
"Kenapa Cha?" tanya Darwin.
Chacha langsung berlari dan memeluk Darwin seperti ketakutan.
Darwin memeluknya.
"Win, liat deh itu." kata Chacha sambil menunjuk ke arah atas.
Kamar mandi di rumah tersebut memang agak keluar rumah, dan tidak beratap. Air kamar mandi pun berasal langsung dari pegunungan.
"Apaan?" tanya Darwin.
Chacha masih menyembunyikan mukanya yang ketakutan di dalam pelukan Darwin.
"Itu Win. Masa lu gak liat. Putih putih melambai gitu di atas. Kayanya itu baju kunti deh." kata Chacha.
Darwin tersenyum, "Ah. Mana ada begituan."
"Ada, Win. Iiih. Ngeri gue juga." sahut Adie sambil bergidik.
Ferdi maju dan melihat ke atas, "Lu berdua masih aja ya percaya ada kunti-kuntian. Adanya kutil, bukan kunti. Nih." kata Ferdi sambil mengambil selendang putih yang tersangkut di atas dinding kamar mandi.
Darwin nyengir dan melepaskan pelukannya, "Tuh liat. Cuma selendang kok."
Chacha menoleh ke Ferdi masih dengan muka tegang.
"Bukan kunti, Cha. Selendang nyangkut aja kok ini." kata Ferdi ke Chacha.
"Iiih, siapa tau punya si kunti itu. Pas lagi terbang nyangkut disitu." kata Chacha.
Darwin dan Ferdi tertawa mendengarnya, "Hahaha."
"Eh, bener juga kata Chacha. Siapa tau ya kan emang punya si kunti. Iiiih, udah lu pegang-pegang lagi, Fer. Nanti dia ngikutin lu lagi." kata Adie yang ngeri juga.
"Maaf, mas. Ini selendang ku. Pantes aja aku cari-cari dari tadi sore ndak ketemu. Rupanya terbawa angin dari jemuran, malah tersangkut disini." kata Laras yang menghampiri Ferdi.
"Oalah, Ras. Emangnya kamu ndak jepit waktu jemur? Kasian loh non itu sampe ketakutan." kata bapak ke Laras.
"Iya, maaf ya non. Soalnya jepitan ne habis tadi pagi." jawab Laras.
Ferdi tersenyum dan memberikan selendangnya ke Laras.
"Tuh Cha, kuntinya si Laras." ledek Ferdi ke Chacha.
"Iiih. Tetep aja gue masih merinding." sahut Chacha sambil melirik ke atas langit di atas kamar mandi.
"Lagian lu malem-malem mau ngapain disini?" tanya Ferdi.
"Ya mau mandi lah. Badan gue lengket gini seharian diluar." jawab Chacha.
Mereka semua pun tersenyum dan melangkah kembali menuju kamar masing-masing.
Chacha menahan tangan Darwin,
"Win. Lu temenin gue ya. Gue takut, tapi gue juga gak betah kalo badan gue lengket gini gak mandi."
"Hah? Maksud lu, gue temenin lu mandi gitu? Gak sekalian lu minta tolong gue yang mandiin lu." jawab Darwin.
Chacha menepuk lengan Darwin,
"Gak usah ngeres. Maksud gue, lu tungguin gue di depan kamar mandi. Terus lu sambil ngobrol-ngobrol gitu sama gue, jadi gue gak iseng sendirian di kamar mandi semi outdoor ini."
"Ya udah ayo. Cepetan." sahut Darwin.
*
Besoknya.
Gue menggeliatkan badan dan terbangun.
Rasanya kok laper ya. Pasti karena udara disini sejuk, jadi bawaannya laper terus.
Gue keluar dari kamar, di ruangan tengah terlihat banyak hidangan.
"Apa gak salah nih. Kapan masaknya si ibu." gue bergumam.
"Eh, non udah bangun. Ayo non, sarapan dulu." tiba-tiba suara si ibu mengejutkan gue dari belakang.
Gue tersenyum, "Iya bu."
Gue duduk di atas tikar,
"Yang lain mana bu?" gue bertanya.
"Oooh, temen-temen non tadi udah sarapan duluan. Terus mereka ke sungai di anterin sama Laras." jawab si ibu.
'Kenapa yang lain gak ngebangunin gue. Malah di tinggal gue.' gue bergumam dalam hati sambil menghela napas.
Gue meminum air teh hangat dari cangkir.
"Tapi ndak usah kuatir non, kalo pacar non belum kemana-mana kok. Dia masih nungguin non." kata si ibu ke gue.
Gue tersedak teh, "Uhuk. Uhuk."
"Nah, tuh dia pacar non." sahut si ibu ketika melihat Darwin duduk menghampiri.
"Baru bangun?" tanya Darwin.
Gue mengangguk, "Iya. Lu dari mana?"
"Abis jalan-jalan nih sama si bapak. Ngeliat kebon dia." jawab Darwin.
"Ooh. Kirain lu udah nyemplung ke sungai."
"Gak lah. Gue kan nungguin lu bangun dulu."
"Yowis yok. Ayo makan dulu." ajak si ibu.
"Non. Apa non nanti ndak sedih kalo di tinggalin sama den Darwin ini ke Amerika sana?" tanya si bapak.
Gue heran mendengar si bapak, pasti Darwin cerita kalo dia mungkin akan ke Amerika.
__ADS_1
"Nggak pak. Lagian kan belum tentu dia berangkat ke Amerika. Belum tau lulus apa nggak."
"Lah iya. Maksud bapak tuh, kalo misalnya jadi berangkat, apa non ndak sedih ditinggal sama pacar nya." kata si bapak lagi.
Gue dan Darwin saling berpandangan.
'Pacar? Darwin?' gue bergumam dalam hati.
Darwin hanya tersenyum mendengarnya.
"Non." sahut si bapak membuyarkan lamunan gue.
"Eh iya pak. Ya sedih lah pak, tapi kan gak selamanya juga di tinggal. Lagian jaman sekarang kan udah bisa video call, jadi tetep bisa ngeliat setiap hari." gue menjawab si bapak.
"Oiya yo. Kalo bapak mah ndak ngerti telpon video video itu." sahut si bapak sambil nyengir.
Setelah makan, gue dan Darwin pun keluar dari rumah. Kita berdua mau ke sungai menyusul yang lain.
"Emang lu tau jalannya, Win?" gue bertanya ke Darwin.
"Tau. Tadi kan udah dikasi tau si bapak." jawab Darwin.
Gue pun berjalan mengikuti dia.
"Awas, hati-hati jalannya." kata Darwin sambil memegang tangan gue.
Pemandangan sama udara disini menurut gue enak sih. Sejuk, gak ada bau knalpot.
"Win. Bentar deh." gue berhenti di sebuah kebun dan melihat pemandangan sebuah gunung di depan gue.
Gue mengarahkan kamera gue dan mengambil foto.
"Coba deh, lu berdiri disini." gue menarik tangan Darwin dan mengarahkan dia.
Darwin pun hanya mengikuti gue.
Gue mengarahkan kamera ke dia dengan sebuah gunung di belakangnya.
"Perfect." gue bergumam setelah memotret nya.
"Coba liat." sahut Darwin.
Gue pun menyerahkan kamera gue ke Darwin.
"Bagus juga." kata Darwin tersenyum.
"Iya donk. Chacha." gue menjawab dan kembali mengarahkan kamera gue ke arah pemandangan.
Gue melihat pemandangan plateau yang ada dibawah.
"Wonderful." gue bergumam.
Gue berdiri dan menikmati pemandangan sekitar. Ini tuh bener-bener orisinil, pedesaan. Kalo di Jakarta ada kaya gini, gue cari kosan kali disitu.
Tiba-tiba gue merasakan sesuatu dipinggang gue. Tangan seseorang, memeluk gue dari belakang.
Gue terdiam. Darwin.
Gue merasakan tubuhnya semakin mendekat dan memeluk gue. Hembusan napasnya begitu terasa di telinga dan leher gue.
"Ssssstt. Gue cuma mau menikmati saat ini berdua sama lu." bisik Darwin.
Dia merapatkan dirinya dan tangannya yang tetap di pinggang gue memeluk gue.
Kepalanya terbenam di samping wajah gue.
Gue melirik ke dia, dia memejamkan matanya dan tersenyum.
Gue menghela napas dan tersenyum, gue menggengam lengan dan tangannya yang memeluk gue di pinggang gue.
Gue membenamkan kepala gue dipundaknya.
Rasanya begitu nyaman, dan aman. Gak akan ada yang bisa memberi dekapan senyaman ini selain dia.
Gue pun memejamkan mata.
Kita berdua menikmati saat ini, dengan udara yang sesegar ini.
Gue gak tau sebenernya maksud Darwin apa dengan saat ini.
Emangnya besok-besok dia mau kemana........
Setelah berjalan beberapa lama, kita pun tiba di sungai.
Gue melihat dua sahabat gue kayanya seneng banget main air.
Antara seneng apa norak sih sebenernya. Hihihi..
"Woi, Cha!" panggil Adie.
Gue pun menghampiri dia.
"Hati-hati loh itu banyak batu-batu licin." kata Darwin mengingatkan.
"Iya." gue menjawab dan melangkah hati-hati.
Gue mengarahkan kamera gue ke arah Adie, Ferdi, dan Laras.
Gue senyum-senyum ngeliat Ferdi sama Laras.
"Kenapa?" tanya Darwin.
"Ya lu liat aja tuh mereka berdua. Kasian si Laras nanti. Emangnya Ferdi mau tuh terikat." gue menjawab.
"Yaa siapa tau aja kan, kali ini si Ferdi berubah." sahut Darwin.
"Haha. Kayanya gak dalam waktu dekat ini." gue merespon sambil kembali memotret mereka.
"Lu mau turun gak?" tanya Darwin ke gue.
Dia udah menginjakkan kakinya di sungai.
Gue memasang waterproof di kamera gue dan memegang tangannya untuk turun ke sungai.
"Cha, coba donk foto gue di dalem air. Airnya jernih nih." sahut Adie ke gue.
__ADS_1
Gue pun mengangguk. Adie menyelam. Gue mengarahkan kamera dari dalam air dan memotretnya.
"Udah. Jangan kebanyakan moto. Gak bisa ya santai dulu." kata Darwin sambil mencipratkan air ke muka gue.
"Aduh." gue mengucek mata gue yang kena air.
Kita berlima bercanda dan tertawa di sungai.
Di sungai ini cuma ada kita aja berlima.
Gue seneng sih. Soalnya jarang-jarang banget bisa kaya gini.
Di Jakarta ada sungai sih, tapi......
Lu tau sendiri deh, sungai di Jakarta kaya gimana.
Beberapa saat kemudian, kita berlima pun naik ke atas.
Semua basah. Ini siap-siap gue mesti minum tolak angin supaya gak masuk angin.
"Di rumah, ibu pasti udah siapin wedang jahe buat semua. Enak hangat-hangat." sahut Laras.
"Waah. Enak donk kalo gitu. Ya udah yuk, kita pulang." kata Ferdi dengan senang.
"Btw Fer, ini kita mau berapa hari disini? Kapan mau lanjut lagi?" gue bertanya ke Ferdi.
Ferdi menoleh ke gue, "Lah. Darwin gak bilang ke lu?"
Gue menoleh ke Darwin. Dia menepuk jidatnya,
"Ya ampun. Gue lupa bilang ke lu."
"Hmmm." gue menyahut.
Ferdi, Adie, dan Laras pun mulai berjalan melangkah.
Darwin pun menarik tangan gue.
"Kata Ferdi, nanti malem kita lanjut lagi."
"Hah? Jalan malem?" gue bertanya.
"Iya. Sekali-kali jalan malem katanya, bareng sama bus malam." jawab Darwin.
"Hadeeh. Bilang aja dia masih betah disini." gue bergumam sambil berjalan.
Darwin tersenyum, "Nah, tuh lu tau."
Dia pun berjalan di samping gue.
"Haaatsyi!" gue bersin.
"Tuh kan, kedinginan ya?" tanya Darwin.
"Udah tau, pake nanya." gue menjawab dan kembali bersin.
"Ya udah, bisa cepetan gak jalannya? Nanti pas sampe rumah, lu duluan aja yang langsung mandi. Trus, obat-obatan lu ada di ransel apa di koper?" tanya Darwin.
'Ini orang, gak bisa ya nanya satu-satu gitu.' gue bergumam dalam hati.
"Ada di ransel. Hatsyi!" gue menjawab sambil bersin.
Darwin menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke gue.
"Kenapa? Kok berhenti?" gue bertanya.
"Lu lama jalannya. Ayo sini naik." jawab Darwin sambil berjongkok menawarkan punggungnya untuk menggendong gue.
"Ih, gue masih kuat jalan kali."
"Iya. Tapi lama. Nanti lu malah jadi sakit. Udah cepetan sini." Darwin menarik gue dan menggendong gue dibelakang.
Dia berdiri dan berjalan sambil menggendong gue di punggungnya.
"Win. Kok lu care banget sih sama gue?" gue berbisik di telinganya.
"Ya ampun. Kaya gitu aja lu masih nanya, Cha? Emangnya gue sama lu baru kenal kemaren apah." jawab Darwin sambil sedikit terengah-engah.
"Gue berat kan. Makanya gue jalan aja."
"Lu gak berat. Karena baju kita basah aja ini. Udah, gak usah cerewet ya."
Gue pun terdiam dan tetap dalam gendongannya.
Gue melingkarkan tangan gue di pundaknya.
Darwin ini kuat juga ya, tau-tau kita ngelewatin Ferdi, Adie, sama Laras.
"Minggir-minggir. Gue buru-buru." sahut Darwin ketika melewati mereka.
"Chacha kenapa, Win?" tanya Ferdi.
Darwin gak ngejawab dan tetap berjalan.
Gue menoleh ke arah Ferdi di belakang dan meledek dia dengan lidah gue.
Ferdi dan Adie menggelengkan kepala.
"Ni antara Darwin yang mau ngegendong, apa Chacha yang lagi ngerjain Darwin." Adie bergumam.
"Oalah. Mereka berdua serasi yo." kata Laras.
Ferdi dan Adie hanya tersenyum.
"Mereka pacarannya pasti udah lama ya mas?" tanya Laras ke Ferdi.
"Bukan udah lama lagi. Dari semenjak dalam kandungan kali. Haha.." jawab Ferdi tertawa sambil terus berjalan.
"Oooh. Jadi mereka berdua sudah dijodohkan sama orang tua mereka yo. Pantesan lah akur." kata Laras dengan polos.
"Ras. Lu jangan percaya omongan si Ferdi ini. Nanti bisa jadi gak waras lu." sahut Adie ke Laras.
Laras berhenti, terdiam dan berpikir,
"Jadi ndak waras piye toh. Lah wong mas Ferdi itu baik. Malah ciuman ne juga lembut." gumam Laras pelan dan tersenyum memegangi bibirnya.
__ADS_1