Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Rencana


__ADS_3

Gue terjebak diantara cowo gue atau tiga sahabat gue.


Gue menghampiri tiga sahabat gue yang masih menatap tajam Putra.


"Guys, gue ngomong dulu bentar ya sama Putra. Abis itu gue ke kosan deh." gue berbisik ke mereka.


"Cha, lu gak mesti minta izin kali ke dia. Lu kan awalnya emang mau ke kosan sama kita." kata Ferdi.


"Iya, gue tau. Bentar aja kok, yaa. Kalian duluan aja." gue menyahut.


Darwin hanya menatap gue sendu, "Terserah lu aja." dia berbalik badan dan pergi.


Adie dan Ferdi pun mengikuti Darwin.


Gue menghela napas dan berbalik menghampiri Putra.


"Yuk, kita jalan sekarang." ajak Putra sambil menggandeng tangan gue.


Gue menahan tangannya, "Put."


"Apalagi?" tanya Putra.


"Put, kita makan barengnya besok aja ya."


"Kenapa? Kamu udah janjian sama mereka?" tanya Putra agak kesal.


"Iya. Tadi aku udah duluan mau ngumpul bareng mereka. Kan aku gak tau kalo kamu mau ngajakin aku makan." gue menjawab.


"Yang. Aku tuh ada waktunya hari ini. Besok kayanya aku gak ke kampus."


Gue mendekat ke Putra dan merangkul pinggangnya, "Ya udah, kita makan pas kamu ada waktu aja."


"Kita tuh jarang ketemu loh, yang. Dalam seminggu aja belum tentu setiap hari ketemuannya. Aku kan pengen juga berduaan aja sama kamu."


"Iya, iya. Aku tau. Tapi hari ini aja ya. Aku udah duluan janji sama mereka soalnya."


Putra hanya terdiam, wajahnya terlihat gak seneng.


Gue merangkul pundaknya dengan kedua tangan gue, "Put, jangan marah donk. Aku janji deh, nanti mau ngelakuin apa aja buat kamu pas kita jalan."


Putra menoleh ke gue, "Bener mau ngelakuin apa aja?"


Gue mengangguk tersenyum, "Iya."


Putra tersenyum ke gue dia merangkul pinggang gue, "Ngelakuin apa aja buat aku nya, gimana kalo nanti aja pas malem kelulusan kita."


"Iya. Asal kamu jangan minta yang macem-macem ya." gue menjawab.


Putra menempelkan dahinya ke gue, "Nggak macem-macem kok yang. Satu macem aja. Kamu juga pasti mau."


Gue tersenyum, "Jadi hari ini kamu gak usah marah ya."


"Iya, sayang. Aku gak marah. Tapi kamu jangan bandel-bandel ya."


"Iya." gue menjawab senang.


Putra mengecup kening gue, "Ya udah. Nanti aku chat kamu lagi. I love you." dia berbisik di telinga gue.


Gue tersenyum dan meninggalkan dia.


Gue berjalan keluar kampus menuju kosan Darwin.


Putra memperhatikan Chacha berjalan dengan senyum.


Teman-temannya menghampirinya dari belakang. Tommy menepuk pundaknya.


"Kenapa gak nyari kamar aja kalo mau mesra-mesraan." ledek Tommy.


"Ah, gila lu." jawab Putra nyengir.


"Menghitung hari nih, Put." kata Tommy lagi.


"Iya, gue tau. Chacha lagian udah bilang kok mau ngelakuin apa aja buat gue." kata Putra tersenyum.


"Serius lu?" tanya Tommy.

__ADS_1


"Iya lah. Lu siapin aja duit lu." jawab Putra sambil menuju mobilnya.


Tommy dan yang lainnya mengikuti Putra, "Eh, Put. Tapi lu inget ya. Lu putusin dia besoknya."


Putra tersenyum licik, "Iya, gue inget. Udah lah, gue balik dulu." kata Putra sambil masuk ke mobilnya.


*


Kosan Darwin.


Gue masuk ke kamarnya. Ketiga sahabat gue langsung menatap ke gue.


"Kirain lu bakalan pergi sama cowo lu." sindir Adie ke gue.


"Nggak. Kan gue udah janji sama kalian duluan." gue nyengir sambil menyalakan rokok.


"Emang dia ngajakin lu kemana?" tanya Adie.


"Makan bareng aja. Ya gue bilang, next time aja pas dianya lagi gak sibuk." gue menjawab.


"Trus, dia gak marah?" tanya Ferdi.


Gue menghembuskan asap rokok, "Nggak. Kan gue bilang ke dia, kalo gue nanti akan ngelakuin apa aja buat dia, supaya dia gak marah."


Ketiga sahabat gue kaget dan heran, "Lu bilang gitu ke dia?" tanya Darwin.


"Iya. Emangnya kenapa?" gue bertanya balik.


"Trus, cowo lu bilang apa?" tanya Adie.


"Ya dia seneng lah. Dia bilang nanti aja pas malem kelulusan gue ngelakuin janji gue."


"What?!" mereka bertanya kompak.


Gue heran ngeliat mereka, "Lu pada kenapa sih?"


"Cha, lu mestinya gak perlu janji apa-apa sama cowo lu." kata Darwin.


"Lah, emangnya kenapa? Wajar kali kalo gue janji bakal ngelakuin apa aja yang dia minta, secara dia juga gak pernah minta apa-apa ke gue. Jadi, supaya dia gak kesel dan marah ke gue, ya gue akan ngelakuin apa yang dia minta." gue menjawab.


"Ya kalo dia minta macem-macem gimana?" tanya Darwin.


"Pacaran sama gue aja yuk." kata Darwin tiba-tiba.


Gue bengong ngeliat dia, dan tertawa, "Haha.. Win, lu aneh ya. Lu waktu itu juga nyuruh gue ninggalin Putra dan pacaran sama lu. Kalo lu emang mau pacaran sama gue, kenapa gak dari dulu aja."


Ketiga sahabat gue terdiam. Mereka keliatan berpikir.


"Lu juga Fer, waktu itu tiba-tiba lu bilang suka sama gue. Jangan sampe lu juga ya, Die. Jangan kaya mereka berdua nih, yang satu bilang suka, yang satu lagi ngajakin gue pacaran sama dia, supaya gue mutusin Putra." gue nyengir sambil melirik mereka bertiga.


Ferdi menghela napas, "Udah lah, gak usah dibahas. Gue niatnya mau seneng nih, bukan mau bete." kata Ferdi sambil menuang minuman ke gelas.


"Ya kan kalian yang nanya-nanyain gue tentang Putra." gue menjawab santai.


Darwin masih terdiam dan berpikir. Dia cuma berbicara sesekali.


*


Putra. Dirumahnya.


Dia sedang dikamarnya sambil bermain gitar dan bernyanyi.


Mamanya masuk ke kamarnya.


"Gimana sidang kamu, Put?" tanya mamanya.


"Ok mam. Lulus." jawab Putra.


"Ooo, bagus lah kalo gitu. Berarti sebelum wisuda kita adain pesta pertunangan kamu ya, sama Lovi." kata mama.


Putra kaget mendengarnya, dia meletakkan gitarnya di tempat tidur, "Apa mam? Tunangan?"


"Iya. Untuk mengikat Lovi. Jadi, nanti setelah wisuda, kamu bisa nikah sama dia."


"Hah? Nikah?" Putra lebih terkejut lagi.

__ADS_1


Mama heran melihat Putra, "Kenapa memangnya? Kok kamu kaget. Kan kalian memang sudah dijodohkan dari dulu."


"Mam, Putra itu gak cinta sama Lovi. Putra gak pernah anggep dia siapa-siapa."


Wajah mama berubah kesal, "Cinta itu nanti juga tumbuh kalau terbiasa. Jangan bilang kalo kamu punya pacar selain Lovi."


Putra menunduk dan menghela napas, "Iya. Putra punya pacar dan dia bukan Lovi."


"Dia yang kamu kenalin ke Lovi waktu dia ketemu kalian di mall kan?" mama bertanya.


Putra menatap mamanya, "Pasti Lovi yang cerita ke mama kan?"


"Iya. Dan menurut Lovi, pacar kamu itu gak lebih cantik dibanding dia. Trus, pacar kamu itu tomboy, lebih pantes jadi drummer di band kamu daripada jadi pacar kamu." kata mama.


"Danisha namanya mam. Dan Putra ngerasa nyaman sama dia. Mungkin Lovi lebih cantik dibanding Danisha, tapi Danisha itu punya sesuatu yang gak ada di cewe manapun." jawab Putra.


"Alaaaaaah. Gak usah berteori kamu, Put. Mama tau kok, kamu kalo macarin cewe itu gak pernah ada yang kamu seriusin. Makanya kamu mama jodohin sama Lovi. Mama juga gak ngelarang kamu buat pacaran sama cewe manapun, tapi, in the end, kamu tetep harus nikah sama Lovi. Mama cuma mau dia yang jadi menantu mama, gak mau yang lain."


"Tapi mam," sahut Putra.


"Gak ada tapi-tapian. Kalo masalah Danisha, itu urusan kamu sendiri. Kamu bisa mutusin dia sekarang atau nanti sebelum pertunangan kamu dengan Lovi." kata mama dan kemudian keluar dari kamar Putra.


"Mutusin Chacha? Gimana caranya? Abis malem kelulusan aja gue masih gak tau bisa mutusin dia atau nggak." Putra bergumam sendiri.


*


Kosan Darwin. Sore.


"Guys, kayanya gue udah kaya lobster banget nih. Gue rebahan dulu ya." Chacha terlihat mabuk dan memutuskan untuk tiduran.


Darwin melirik ke arahnya, "Hadeh, bakalan gak pulang ni anak." Darwin pun mengetik sesuatu di ponselnya. Dia mengabari bunda Chacha, kalau Chacha gak pulang malam ini.


"Win, jadi gimana tuh? Si Chacha malah janji ke cowonya mau ngelakuin apa aja." tanya Ferdi ke Darwin.


"Gue khawatir kalo si Putra pasti minta macem-macem. Jadi, kalo Chacha atau kita marah-marah ke dia, dia tinggal bilang, karena Chacha yang udah janji." kata Adie.


"Kan lu pada udah denger dia tadi, dia gak mau pacaran sama gue." kata Darwin.


"Ya gak mau lah. Lagian elu begitu bilangnya. Mestinya tuh dari lubuk hati, yang serius kalo nembak cewe." ledek Ferdi ke Darwin.


"Itu gue udah dari lubuk hati. Lagian, lu aja yang dari lubuk hati dikira becanda sama dia. Apalagi gue." kata Darwin.


Adie tertawa, "Dari lubuk hatinya elu ternyata begitu ya, Win. Haha.. Emang bener, lu gak bisa nembak cewe."


Chacha terlihat menggeliat.


"Ssst. Nanti dia dengerin kita lagi." kata Darwin sambil melirik Chacha.


"Nggak. Dia mabok banget tuh. Kalo ngedenger kita, pasti langsung bangun dan marahin kita pastinya. Haha.." kata Ferdi.


"Jadi, rencana lu gimana Win?" tanya Adie.


Darwin mengambil ponsel Chacha, dia mencari nama Putra di ponselnya.


Darwin menyimpan nomor ponsel Putra di ponselnya.


"Lu ngapain?" tanya Adie heran.


"Gue tinggal butuh nomor temen-temennya si Putra aja. Nanti gue tanya ke Galang aja." jawab Darwin.


Adie dan Ferdi masih belum mengerti, "Trus, kalo udah dapet nomor mereka, lu mau ngapain? Lu mau pasang togel?" tanya Adie.


Darwin tersenyum licik, "Kalo gue bisa hack kartu kredit orang buat beli barang, ngehack chat mereka bukanlah sesuatu yang susah buat gue. Jadi, gue nanti akan tau kapan dan dimana mereka beraksi." jawab Darwin.


"Waah, master akhirnya ngeluarin ilmu juga ya." kata Adie nyengir.


"Gue sebenernya sih gak mau ngehack-ngehack. Chacha itu suka marah kalo gue ngehack. Tapi kalo untuk ini, gak ada pilihan lain. Gue bakal ngelakuin apa aja buat ngelindungin Chacha." kata Darwin.


"Hehe.. Ternyata emang bener kata pepatah. Ide cemerlang itu emang muncul pada saat kita high." kata Ferdi sambil nyengir.


Darwin dan Adie menatapnya aneh, "Pepatah apaan? Darimana pepatahnya?" tanya Adie.


"Ya dari gue lah. Darwin aja lagi mabok bisa tiba-tiba punya ide kan. Nah gue, jadi tiba-tiba punya pepatah." jawab Ferdi.


Adie mengusap mukanya, "Hadeeeh. Kapal goyang banget, kapten?" ledek Adie ke Ferdi.

__ADS_1


Mereka bertiga pun tertawa.


'Gue gak akan ngebiarin Putra sama temen-temennya ngerjain lu, Cha. Gue sayang sama lu. Kenapa sih, lu gak sadar-sadar juga.' Darwin bergumam dalam hatinya sambil memandangi wajah Chacha yang terlelap.


__ADS_2