
Author PoV
Untuk beberapa lama Darwin tetap terjaga dengan mata yang masih tertutup dan memeluk Chacha.
Dia merasakan kalau suhu tubuh Chacha kembali normal.
"Bunda." Chacha mengigau namun masih belum membuka matanya.
Darwin melepaskan pelukannya. Dia membuka retsleting sleeping bag. Masih dengan mata yang tertutup, dia meraba dan mengambil pakaian Chacha. Dia memakaikan kembali pakaian dan jaket Chacha.
Setelah Chacha sudah terbungkus lagi dengan pakaian dan jaketnya, Darwin pun membuka ikatan handuk di matanya. Dia segera memakai baju dan celana nya. Darwin tidak mau kalau Chacha membuka matanya, dia melihat kondisinya tanpa pakaian.
Dia duduk di samping Chacha sambil memegang dahi Chacha.
"Cha. Lu bisa denger gue?" Darwin bertanya.
"Bunda." Respon Chacha masih dengan mata tertutup.
Darwin berbisik pada Chacha, "Cha, lu sekarang mendingan tidur aja ya. Gak usah mikirin apa-apa."
"Hmmm." Respon Chacha.
Darwin pun mengecup kening Chacha, menarik retseleting sleeping bag hingga ke dada Chacha.
Darwin pun keluar dari dalam tenda.
Dia duduk menghadap api unggun kecil tersebut, dan menyalakan rokoknya.
Adie menuangkan kopi panas ke gelas dan memberikannya ke Darwin, "Ngopi dulu, Win."
"Thanks." Darwin meminum kopinya.
"Lu mau makan gak? Gue bikinin popmi kalo mau." Kata Adie menawarkan.
"Gak usah, Die. Gue gak begitu laper. Nanti gue ngemil aja."
"Gimana Chacha, Win?" Ferdi bertanya.
"Tadi udah ada respon sih dari dia. Suhu tubuh nya juga udah normal pas gue cek."
"Bagus deh kalo gitu. Trus, dia ngeliat lu sama dia naked?"
Darwin menggelengkan kepalanya, "Gak. Waktu dia merespon, gue langsung pakein lagi bajunya. Gue juga langsung pake baju sebelum dia melek."
"Ooo. Eh, tapi lu jadinya udah ngeliat luar dalem nya Chacha donk Win." Kata Ferdi sambil nyengir.
Darwin menghembuskan asap rokoknya, "Nggak. Gue gak liat."
Ferdi dan Adie saling bertatapan heran, "Emang lu bisa sulap, sekali tring bisa langsung kelepas bajunya Chacha?" Tanya Ferdi.
"Gue tutup mata gue selama di dalem tenda." Jawab Darwin singkat.
"Lu bener-bener gak buka mata sekalipun, Win?" Tanya Adie heran.
"Gue sayang dia dan sangat menghargai dia. Gue tutup mata gue pake handuk. Dan selama gue meluk dia pun, gue sama sekali gak berniat untuk membuka mata gue atau ngelakuin hal-hal buruk ke dia." Darwin menjelaskan.
"Tapi lu masih normal kan Win..." Ledek Ferdi.
Darwin mendorong bahu Ferdi, "Sialan lu. Lu pikir gue jeruk makan jeruk. Kalo gue gak normal, berarti lu berdua nih bisa jadi santapan gue." Darwin berkata sambil melirik ke Ferdi dan Adie dengan tatapan meledek.
"Iiiiihh.. Ngeri amat gue adu anggar sama lu. Udah ah, gue mau tidur. Lumayan nih 2 3 jam." Sahut Adie sambil masuk ke dalam sleeping bag nya.
"Gue juga ah, tidur." Ferdi tak mau kalah masuk ke dalam sleeping bag nya.
__ADS_1
Darwin menatap kedua sahabat nya yang masuk ke dalam sleeping bag nya masing-masing.
"Lah, trus gue tidur dimana? Lu Fer, pake sleeping bag gue. Lu Die, pake sleeping bag Chacha. Trus gue?"
"Lu pake aja sleeping bag gue yang sama Chacha." Sahut Ferdi.
"Lu gak bawa sleeping bag, Die?" Darwin bertanya ke Adie.
"Gue mana punya sleeping bag. Tadinya gue mau tidur di sleeping bag nya Ferdi, kan ukuran double punya dia. Tapi sekarang kan di pake Chacha." Jawab Adie sambil merem.
"Hadeeeh." Darwin menggerutu dan masuk lagi ke dalam tenda.
Dia melihat Chacha yang sedang tertidur. Dia mengecek lagi suhu tubuh Chacha.
"Udah normal sih ini." Gumam Darwin.
Darwin memakai jaket nya, dia berbaring di samping Chacha, namun dia tidak masuk ke dalam sleeping bag nya.
Dia kembali menatap Chacha yang berbaring di sampingnya.
"Cha, maafin gue ya. Tapi semua yang gue lakuin tadi karena darurat. Gue takut kehilangan lu." Darwin bergumam sambil mengelus wajah Chacha.
Darwin mengecup kening Chacha, "Gue sayang sama lu."
Dan dia pun berbaring di samping Chacha untuk tidur.
*
Gue ngerasa kayanya udah tidur lama banget. Jangan-jangan gue ketiduran di pohon tadi, kok gak ada yang bangunin gue ya.
Gue pun mencoba membuka mata. Cahaya senter samar-samar terlihat oleh gue.
"Ini kok gue ada di dalem tenda."
Gue mencoba untuk bangun dan duduk, "Aduh."
"Pasti gue pusing karena belom makan nih. Kok gue gak di bangunin buat makan sih." Gue masih berkata sendirian.
Gue menoleh ke samping kanan gue, "Lah. Ini si Darwin tidur di samping gue. Ferdi sama Adie kemana. Kok mereka gak tidur di dalem tenda."
"Win." Gue mencoba membangunkan Darwin. Gue menggoyangkan badannya.
"Win."
Darwin menggeliat dan sedikit membuka matanya, dan tiba-tiba duduk mengahadap ke gue.
"Cha. Kenapa Cha? Ada yang sakit?"
Gue heran ngeliat dia yang kayanya khawatir banget. Padahal tadi pas tracking, dia cuek-cuek aja tuh jalan duluan di depan gue.
"Gue laper Win. Jadi kepala gue agak pusing."
"Gue ada roti di tas. Bentar gue ambilin."
Darwin pun mengambil roti di dalam carrier nya.
"Nih makan. Ini air di termos sih masih lumayan anget. Tadi pas api nyala, si Adie manasin air." Kata Darwin sambil memberikan roti dan air buat gue.
Gue pun memakan roti dan meminum air. Sumpah, gue haus banget.
"Win. Tolong ambilin paracetamol donk di tas kamera gue. Di bagian depan. Gue pusing soalnya."
"Ok." Darwin pun mengambil tas kamera gue dan mencari paracetamol di dalam tas gue.
__ADS_1
"Nih."
Setelah gue makan roti dan minum obat, gue kok ngerasa ada yang aneh ya sama si Darwin. Kok dia nunduk terus ya kalo mulai ngomong sama gue.
"Win."
"Eh, apa Cha?"
"Lu kenapa sih?"
"Kenapa gimana, Cha?"
"Lu sakit Win?"
"Nggak. Gak papa kok gue."
"Kalo lu masih ngantuk, lu tidur aja Win."
"Gak kok Cha. Gak papa, gue temenin lu aja."
"Oh, ya udah. Tapi ini juga udah mau pagi kan." Gue melihat jam di layar ponsel gue.
"Iya, udah mau pagi." Darwin menjawab singkat.
Gue keluar dari tenda dan melihat Ferdi dan Adie sedang tidur di dalam sleeping bag.
Gue membangunkan mereka, "Fer, Die."
Gue menggoyangkan lagi badan mereka, "Die, Fer. Bangun dooonk."
Mereka pun menggeliat dan mulai membuka mata. Gue pun tersenyum penuh kemenangan.
"Apa sih, Cha? Gak di kosan, gak di gunung, kerjaan lu gangguin gue tidur aja yaa." Sahut Adie malas.
"Ayo donk bangun. Udah mau pagi ini. Katanya kita mau liat sun rise."
"Liat aja di yutub." Sahut Ferdi malas. Dia malah mulai memejamkan matanya lagi.
"Ih, lu mah gitu Fer. Ngapain gue jauh-jauh ke Bromo tapi liat sun rise nya di yutub. Ayo banguuun." Gue kembali menggoyangkan badannya.
Ferdi pun bangun dan duduk dengan malasnya.
"Kita tuh kurang tidur Cha. Makanya ngantuk banget."
"Emang kalian abis pada begadang? Ngapain?" Gue bertanya heran ke Ferdi.
"Soalnya lu itu semalem,"
"Lu semalem ngigau terus, Cha. Makanya kita kebangun terus." Darwin memotong jawaban Ferdi sambil melirik Ferdi dan Adie.
Gue melihat mereka bertiga. Alis gue sampe naik satu, "Gue mengigau? Sampe lu semua kebangun terus? Emang gue ngigau nya ngomong apa?"
Mereka bertiga saling memandang.
"Lu bilang, kalo lu cinta sama gue. Hahaha." Kata Adie sambil keluar dari sleeping bag dan berlari.
Gue mengejarnya, "Adiiiiiiiieee. Gak mungkin gue ngigau ituuuu! Sini lu! Awas lu ya kalo ketangkep!"
"Chacha udah sembuh tuh Win." Kata Ferdi ke Darwin.
Darwin pun tersenyum sambil merapikan barang-barang, "Iya. Syukur deh gak sampe ada apa-apa sama dia."
"Berarti energi lu bagus juga buat dia. Atau, itu yang dinamakan kekuatan cintaaaaaa. The power of love." Ledek Ferdi ke Darwin.
__ADS_1
"Gak usah sok puitis lu. Gak pantes." Sahut Darwin sambil memukul pundak Ferdi.
"Hahaha...."