
Sekitar dua jam gue tertidur. Gue membuka mata. Darwin malah udah bangun, dia lagi ngemil-ngemil sambil ngobrol sama Ferdi dan Adie.
Gue bangun dari sandaran dan menggeliatkan badan.
Ketiga sahabat gue menoleh keep gue,
"Udah bangun?" tanya Darwin ke gue.
"Ya menurut lu?" gue balik bertanya.
"Judes amat. Abis mimpi berantem ya." ledek Darwin ke gue.
Gue mengambil botol dan meminum air, "Iya. Mimpi berantem sama lu." gue menjawab.
Darwin hanya tersenyum menggelengkan kepala.
"Fer. Gue laper. Ini udah mau malem kali." gue berkata ke Ferdi yang sedang menyetir.
"Iya, gue juga laper. Bentar lagi nyampe. Kita makan lesehan ya." jawab Ferdi.
"Hah? Makan lesehannya apa makan di lesehan, Fer?" tanya Adie sambil meledek.
"Makan lesehannya. Soalnya gue udah laper." jawab Ferdi ketus.
Adie tertawa mendengarnya.
Tak berapa lama, kita semua pun tiba di sebuah tempat makan.
Kita semua duduk lesehan dan memesan makanan.
Tempat makan yang cukup rame menurut gue.
Si Ferdi tau-tau aja ya tempat makan yang enak dan viral.
Darwin duduk disebelah gue, sambil memegang menu makanan.
"Mau makan apa, Cha?" Darwin bertanya ke gue sambil memperlihatkan menu makanan.
Gue melihat dan membaca menu tersebut.
"Win. Coba baca deh ini. Soto sampah. Ini isi sotonya apaan? Ya kali sampah beneran." gue berbisik ke Darwin.
Darwin tersenyum, "Ini soto ayam atau daging. Di sebut soto sampah, soalnya penyajiannya dicampur aduk semua, kaya sampah. Tapi enak kok ini. Lu mau coba?" Darwin bertanya ke gue.
"Kok lu tau kalo enak? Emang lu udah pernah?"gue bertanya balik.
"Kalo gak enak, gak mungkin banyak orang yang datang buat makan disini." jawab Darwin.
"Iya juga sih." gue bergumam.
"Jadi lu mau gak?" tanya Darwin lagi.
"Ya udah deh iya. Yang daging ya. Lu makan apa?"
"Nasi cat double, sama ayam bakar kayanya enak." jawab Darwin.
"Ooo. Nanti gue cobain ya."
"Iya. Gue juga pesenin gorengan kok."
"Udah belom milih makanannya?" tanya Ferdi ke gue dan Darwin.
Dia dan Adie duduk di depan gue dan Darwin.
"Udah. Nih, udah gue tulis semua." jawab Darwin sambil memberikan kertas order ke Ferdi.
Ferdi pun berdiri dan memberikan kertas order ke seorang pelayan.
Sambil menunggu makanan, gue meminum teh poci panas. Adie ke toilet, gue melihat Ferdi sedang ngobrol dengan orang lokal.
Gue menyalakan rokok dan mengecek ponsel gue.
Ada chat dari nyokap gue, gue pun membalasnya.
Tak berapa lama, nyokap gue pun menelepon gue melalui video call.
Gue menjawab nya,
"Ya bun."
"Cha, udah sampe mana? Kok gak ngabarin bunda?"
"Maaf bunda, tadi seharian Chacha di mobil, terus tidur. Ini baru buka hp."
"Ooh. Papi mu nih, udah nanya-nanyain kamu terus."
Gue melihat papi dan tersenyum ke dia,
"Hai pap. Chacha Baik-baik aja kok."
"Kamu dimana? Kok sendirian?"
Darwin kemudian menggeser duduknya mendekati gue,
"Hai papi. Saya disini kok, Chacha gak sendirian." sahut Darwin ke papi.
"Kalian sudah dimana?" tanya papi lagi.
"Masih di Jogja ke Jawa Tengah, pap. Ini lagi mau makan malam dulu." jawab Darwin.
"Win. Coba bilangin ke cewe di samping kamu itu, jangan kebanyakan ngebul."
Darwin nyengir sambil melirik gue, "Cha, denger tuh papi lu."
"Ya ampuuun. Dari tadi juga Chacha belum ngebul papi. Baru ini, dari tadi kan di mobil terus." gue berkata ke papi.
"Ya udah ya bunda, papi. Chacha mau makan dulu. Nanti Chacha kabarin lagi yaa. Bye."
"Ya sudah. Kalian hati-hati ya." jawab nyokap dan papi.
Gue pun mematikan teleponnya dan menghela napas.
"Itu berarti papi lu sayang sama lu. Walaupun dia bukan bokap kandung lu." kata Darwin ke gue.
"Hmmm." gue merespon.
"Dasar gurita. Susah di atur, susah di bilangin." kata Darwin lagi.
Makanan kita pun akhirnya datang, Adie dan Ferdi pun kembali ke tempat duduk.
__ADS_1
Kita berempat makan dengan lahap, ya karena kita lapar berat.
"Eh, malam ini kita gak usah nginep di hotel." kata Ferdi.
"Trus?" gue bertanya.
"Tadi gue ngobrol-ngobrol sama orang sini. Katanya di sekitar prambanan sono, kita bisa nginep di rumah penduduk sekitar. Banyak juga kok pelancong-pelancong yang begitu." jawab Ferdi.
"Tapi, apa gak ngerepotin yang punya rumah tuh?" tanya Adie.
"Nggak. Mereka udah biasa katanya. Nanti kita kasih imbalan seikhlasnya aja. Trus, enaknya kita bisa dianterin maen-maen air di sungai besoknya." jawab Ferdi.
"Ya gue sih gak masalah, yang penting bisa dipercaya orangnya." kata Darwin.
"Kayanya bisa dipercaya, Win. Orang gue liat juga banyak kok yang dari luar daerah nginep juga." kata Ferdi.
"Lagian, ini itung-itung bagian dari adventure kita. Merakyat dikit lah, gak hotel melulu." kata Ferdi lagi.
"Ok." Darwin mengangguk.
Setelah selesai makan, kita berempat pun menuju salah satu rumah warga sesuai dengan petunjuk orang yang ditemui Ferdi tadi.
Mobil berhenti di salah satu rumah warga. Kita semua keluar dari mobil.
Gue melihat ke sekitar perkampungan tersebut, memang ada beberapa mobil dengan plat luar kota terparkir di depan rumah-rumah penduduk.
Pemilik rumah pun keluar dan
menyambut kita semua.
Sepasang suami istri yang kira-kira seumuran nyokap gue.
"Malem aden-aden. Yang mana ya yang namanya den Ferdi?" tanya bapak tersebut ke kita.
"Saya pak." Ferdi menyahut dan bersalaman.
"Ooo, ini toh. Tadi sudah diberi tahu sama mas Larno kalo yang mau nginep namanya den Ferdi sama temen-temennya." kata bapak itu lagi.
"Iya pak. Tadi di tempat makan, mas Larno yang kasi tau rumah bapak." jawab Ferdi.
"Yowes kalo gitu. Ayo masuk-masuk. Maaf yo, kalo rumah ne ndak sebesar rumah di Jakarta." kata bapak itu lagi.
"Gak papa, pak. Yang penting tidur kita mah." sahut Adie.
Kita berempat pun masuk ke dalam rumah bapak tersebut.
Emang rumahnya gak terlalu besar, tapi pekarangannya cukup luas. Terus, ruang buat duduk-duduknya juga lebar. Rumahnya sih adem walaupun gak pake AC. Ada tiga kamar di rumah itu.
"Ini kamar untuk aden-aden. Silahkan. Kalau ada yang kurang, bilang aja yo." kata si bapak sambil membuka pintu kamar.
Kamarnya adem, ada satu kasur tanpa tempat tidur di lantai.
'Ini kaya dikosan, cuma lebih besar aja kasurnya.' gue bergumam dalam hati.
Gue melangkah masuk ke kamar mengikuti para sahabat gue.
"Eh, non ini mau kemana toh?" giliran si ibu menahan dan menarik tangan gue.
Gue menatapnya heran, "Saya mau masuk ke kamar, bu. Sama temen-temen saya."
Tiga sahabat gue juga langsung menoleh ke si ibu dan bapak dengan heran.
"Hah? Kenapa emang?" gue mengernyitkan dahi bertanya.
Gue agak takut sih, dipikiran gue jangan-jangan gue mau diculik terus dijual ke laki-laki gatel, secara gue cewe sendirian.
Gue memegang tangan Darwin, dia juga menggenggam dan melirik ke gue supaya gue tenang.
"Non itu perempuan. Moso tidur ne bareng mereka yang lelaki." sahut si ibu tersenyum.
Gue menghela napas, "Gak papa bu. Saya sama mereka udah biasa tidur sekamar bareng-bareng."
Mendengar jawaban gue, si ibu dan si bapak keliatan terkejut.
"Opo iyo toh. Perempuan laki-laki wes biasa tidur sekamar kalo di Jakarta?" tanya si ibu.
"Nggak semua orang sih bu. Cuma, kalo saya sama mereka emang udah biasa." gue menjawab.
"Trus, ndak terjadi apa-apa?" tanya si bapak.
Gue menggelengkan kepala karena heran dengan pertanyaan si bapak, "Nggak."
"Waduh. Gini ya aden-aden sama non, ini kan rumah saya. Jadi sebaiknya non tidurnya di kamar anak saya aja yo. Dia perempuan juga." kata si bapak ke gue.
"Kok gitu pak?" gue bertanya.
"Iyo non. Lagian, disini kalo makin malem, udara ne dingin. Untuk mencegah hal-hal yang diinginkan tapi dilarang, lebih baik non ndak sekamar sama aden-aden yo. Saya ndak mau loh, kalo rumah saya jadi ndak berkah nantinya." kata si bapak lagi.
Gue berpikir, "Hal-hal yang diinginkan tapi dilarang. Apaan?" gue bergumam.
"Kita gak minum-minum kok pak." gue menyahut.
"Bukan itu maksud ne. Yowes, bapak panggil dulu anak bapak." kata bapak tersebut dan memanggil anaknya.
"Bukan minum-minum maksudnya, Chacha. Tapi, si bapak takut kalo lu sama kita maen kawin-kawinan kalo kedinginan." kata Ferdi ke gue sambil nyengir.
"Hadeeeh. Gak sekalian maen masak-masakan." gue menggerutu.
"Ya udah, gak papa ya Cha. Lagian cuma malem ini kok." kata Darwin menghibur gue.
"Iya. Tapi gue ngeri juga Win. Gimana kalo lagi tidur, tiba-tiba gue di bekep pake bantal atau pake obat tidur, trus gue di angkat dan di bawa ke suatu tempat yang gue gak tau." gue menyahut.
Darwin berdiri di depan gue, dia memegang kedua pundak gue dan tersenyum, "Makanya jangan kebanyakan nonton film action misteri, jadi gini kan pikiran lu. Lu tenang aja, gue gak akan tidur pulas kok. Gue pasti jagain lu. Yah."
"Ya udah deh iya." gue menyahut.
"Fer, kunci mobil lu mana? Sini biar gue yang pegang." gue meminta kunci mobil ke Ferdi.
Ferdi memberikan kunci mobilnya ke gue, "Nih. Buat apaan?"
"Buat jaga-jaga. Kalo gue gak bisa tidur, gue mendingan tidur di mobil lu." gue menjawab.
Tak lama kemudian, bapak dan ibu tersebut pun datang dengan seorang anak perempuan yang kira-kira seumuran gue.
"Kenalin, ini Laras. Anak saya." kata si bapak.
"Hai. Gue Chacha." gue tersenyum dan menyapa dia.
Tiga sahabat gue pun tersenyum berkenalan dengan Laras.
__ADS_1
Tapi si Ferdi yang kayanya paling semangat.
"Wah, pak. Anak bapak, cakep juga. Udah punya pacar atau suami belum pak?" tanya Ferdi to the point.
Adie mendorong pundaknya, "Jangan mesum." bisik Adie ke Ferdi.
"Anak saya ini belum punya pacar atau suami. Saya ndak kasi dia pacaran." jawab si bapak.
Gue dan Darwin tersenyum meledek Ferdi.
"Dilarang pacaran, cuy." gue menyahut.
"Ras, kamu ajak non ini ke kamar kamu ya." kata si ibu menyuruh Laras.
Laras pun mengangguk, "Mari non." dia mengajak gue.
"Ayo. Tapi gak usah panggil gue non. Kita seumuran juga kayanya." gue berkata sambil mengikuti dia ke kamarnya.
Gue masuk ke kamarnya. Kamar yang rapi menurut gue. Dan sangat perempuan.
Gue duduk bersandar diatas tempat tidur.
"Ras. Lu kuliah?" gue bertanya memulai pembicaraan.
Laras tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" gue bertanya lagi.
"Soalnya, kata bapak perempuan itu ujung-ujung ne ke dapur juga dan ngurus suami. Jadi gak perlu kuliah." jawab Laras.
'Hadeeh. Old minded nih bapaknya.' gumam gue dalam hati.
"Ooh. Tapi, lu sendiri sebenernya mau kuliah gak?" gue bertanya.
"Mau sih non. Tapi, setelah makin lama, aku tuh jadinya ndak kepengen lagi kuliah." dia menjawab.
"Yaa soalnya lu udah kebiasaan dirumah." gue menyahut.
"Mungkin juga non. Oiya non, di Jakarta itu enak yo?" dia bertanya ke gue.
"Enak apanya?" gue bertanya balik.
"Ya kayanya mau apa juga ada di Jakarta. Terus, cowo-cowonya juga keren-keren dan ganteng-ganteng ya non?"
Gue tertawa mendengarnya, "Hahaha. Ya apa juga ada di Jakarta kalo ada duitnya. Trus, siapa bilang cowonya ganteng-ganteng?"
"Itu, temen-temen non aja ganteng-ganteng." jawab Laras.
"Hahahaha." gue bener-bener tertawa.
"Kok non ketawa?" tanya Laras lagi.
"Mungkin lu doank kali yang bilang kalo temen-temen gue itu ganteng-ganteng." gue menjawab.
"Masa sih non? Berarti di Jakarta banyak yang lebih ganteng dari mereka ya?"
"Iya. Banyak banget." gue menjawab dengan geli.
"Eh non. Itu yang tadi berdiri di samping non, pacar non ya?"
Gue berpikir, 'Pasti dia pikir Darwin nih.' gue bergumam dalam hati.
"Kok lu bisa ngomong gitu?" gue bertanya ke Laras.
"Iya non. Soalnya tatapan dia ke non itu lain. Gak kaya yang lainnya."
Gue cuma diam tersenyum.
"Eh, gue mau mandi dulu deh. Seharian diluar, kayanya gak enak banget belom mandi." gue berkata mengalihkan pembicaraan.
"Ooh. Ayo non, biar saya anter ke kamar mandi." ajak Laras.
Gue pun bangun dan mengambil tas ransel gue yang berisi peralatan mandi dan baju.
*
Sementara itu di kamar para cowo.
Darwin duduk dikasur dan bersandar ketembok. Ferdi dan Adie rebahan dikasur.
Darwin sedang melihat-lihat email melalui ponselnya.
"Sinyalnya naik turun juga disini." gumam Darwin.
"Laras." gumam Ferdi sambil senyum-senyum menatap langit-langit kamar.
Darwin melempar bantal ke muka Ferdi, "Jangan mesum. Pasti lagi bayangin yang nggak-nggak lu ya. Dia gak dikasi pacaran sama bokapnya."
Ferdi bangun dan tersenyum, "Gak dikasi pacaran, tapi kalo deket tanpa status berarti gak papa kan. Kaya lu sama Chacha." ledek Ferdi ke Darwin.
"Gue sama Chacha beda. Gak kaya lu ke si Laras itu." jawab Darwin.
"Beda apanya. Bedanya cuma lu sama Chacha udah kenal lama, kalo gue baru kenal sama Laras, baru mau pedekate. Kalo besok gue minta izin ke bapaknya, mungkin dia bisa ikut kita ke Bromo." kata Ferdi.
Adie yang mendengar perkataan Ferdi pun terbangun dari rebahannya, "What? Lu mau ngajak dia ikut kita ke Bromo?? Gue jadi kambing conge donk. Lu sama dia, Darwin sama Chacha. Lah gue? Masa iya gue suruh nyusul si Annie?" protes Adie.
"Yaa lu cari cewe aja disini atau di Bromo nanti. Gak usah setia-setia banget lah sama cewe lu." kata Ferdi ke Adie.
"Hah?" Adie terkejut.
"Jangan dengerin, Die. Apalagi sampe lu ikutin nih saran si srigala ini." kata Darwin ke Adie.
"Haha. Ya masih mending gue srigala, daripada elu ayam sayur. Gak berani bilang juga ke Chacha kalo lu cinta sama dia." jawab Ferdi meledek Darwin.
"Lu pikir gue sama kaya lu, yang gampang bilang cinta ke cewe. Apalagi ini Chacha." Darwin menggerutu.
"Hahaha. Bener juga sih kata Ferdi, Win. Masa lu sama dia gak jelas sih, tanpa status. Apa status palsu?" ledek Adie ke Darwin.
"Wah, lu udah gue belain malah ngeledek gue sekarang." jawab Darwin sambil menyalakan rokok.
"Bukan ngeledek, Win. Tapi, menyemangati. Supaya lu punya nyali buat ngomong ke Chacha. Jangan sampe, lu liat lagi Chacha nanti punya pacar. Patah hati lagi kan lu." kata Adie ke Darwin.
Mereka bertiga pun tertawa.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara Chacha berteriak dari luar.
"Darwiiiiiiiiiiiiiinn!"
Mereka bertiga pun terkejut dan berdiri, "Chacha!" sahut mereka bertiga berbarengan.
__ADS_1