
Setelah beberapa saat, kita akhirnya tiba di tujuan.
Ferdi memarkirkan mobil nya. Kita berempat pun keluar dari mobil.
Ferdi berjalan menghampiri sebuah pos. Gue memperhatikan tempat tersebut.
"Win. Ini beneran kita di Bromo?" Gue bertanya ke Darwin.
"Iya. Tapi ini kita gak lewat gerbang utama wisata gunung Bromo. Ini kita lewat Cemoro Lawang." Darwin menjawab.
"Ooo.." Gue pun hanya mengangguk-angguk yang sebenernya gue gak begitu ngerti. ๐
Gue mulai mengarahkan kamera dan meng-capture beberapa objek yang menurut gw menarik.
Gak berapa lama, Ferdi pun nyamperin gue, Darwin, dan Adie.
"Gimana Fer, aman?" Darwin bertanya.
"Aman. Kita lewat pananjakan 1 2. Nanti kita camp di pananjakan 2, perkiraan gw kita sampe situ udah mau malem soalnya." Jawab Ferdi yang kemudian membuka pintu bagasi mobil nya dan menyiapkan barang-barang.
"Fer, kira-kira itu jalannya nanjak gak? Secara namanya pananjakan gitu." Tanya Adie ke Ferdi sambil membantunya menyiapkan peralatan.
"Turunan." Jawab Ferdi nyengir.
"Wah. Berarti gak berat donk yaa. Tapi kenapa namanya pananjakan, bukan panurunan aja." Adie bergumam sambil berpikir.
Darwin tertawa dan menepuk pundak Adie, "Lu percaya aja sama si Ferdi. Lagian mana ada mau naik gunung tapi jalannya turunan duluan."
Adie pun menepuk pundak Ferdi, "Kalo gue sampe nyasar nanti di atas, berarti gara-gara lu."
"Hahaha." Ferdi malah tertawa.
Kita berempat pun menyiapkan barang-barang.
Gue mengambil tas carrier dan tas kamera gue.
"Cha. Barang-barang lu gak banyak kan?" Darwin bertanya ke gue.
"Nggak terlalu sih. Cuma kaos, jeans, jaket, dan onderdil-onderdil."
"Barang-barang lu masukin aja ke carrier gue, jadi lu gak perlu bawa carrier, cukup bawa tas kamera lu aja supaya gak repot."
Gue agak heran dan menatap Darwin, "Emang nya kenapa?"
"Ya kan jalan tracking nya nanjak dulu, nanti lu kerepotan, ribet keberatan." Darwin menjawab.
Gue berpikir, "Tapi Win,"
"Gak ada tapi-tapian. Udah lu nurut aja kalo gue bilangin."
Gue kemudian mengeluarkan barang-barang gue dan memasukkannya ke dalam carrier Darwin.
"Cha, jaket nya lu pake aja sekarang. Udaranya gak panas kok." Sahut Darwin.
Gue pun mengambil dan memakai jaket gue, "Ya udah iya."
"Gimana guys? Udah siap semua?" Ferdi bertanya.
"Iya. Udah ready nih." Darwin menjawab.
"Cha. Carrier lu gak di bawa?" Adie bertanya ke gue.
"Gak. Kata bapak ini gak usah di bawa, supaya gue gak ribet." Gue menjawab sambil menunjuk Darwin.
"Wah, lenggang kangkung donk lu. Ya udah nih, lu bawain nih satu sleeping bag sama pad aja. Gak berat koq ini." Ferdi berkata.
"Yowes sini." Gue pun mengambil sleeping bag dan pad, meletakkannya di bahu gue.
"Eh, abang-abang, brothers, guys. Kita foto-foto dulu donk sebelum cusss." Gue mengajak mereka untuk berfoto sambil mengeluarkan kamera.
"Ok, ok. Yuk ah narsis dulu." Sahut Adie.
Kita berempat pun bergaya sambil membawa barang masing-masing.
__ADS_1
"Eh, gue ngopi dulu ya di warung situ sebelum naik. Biar melek." Kata Ferdi sambil menunjuk ke arah warung.
"Gue juga mau deh." Kata Adie sambil berjalan mengikuti Ferdi.
"Lu mau ngopi juga gak, Cha?" Darwin bertanya ke gue.
Gue tiba-tiba teringat sesuatu, "Nanti gue nyusul deh kesitu, lu duluan aja." Gue menjawab Darwin sambil membuka tas kamera gue untuk mengambil ponsel gue.
"Lu mau nelpon?" Darwin bertanya.
"Iya." Gue menjawab tanpa melihat Darwin karena gue sibuk mencari nomor seseorang.
"Ya udah. Gw ke situ duluan."
"Hmmm."
Gue keinget mau nelpon mas Rangga.
"Nih dia nomornya." Gue bergumam dan menelpon mas Rangga.
"Hallo.."
"Hei, Cha."
"Mas Rangga?"
"Iyalah. Lu pikir ini nomor siapa?"
"Hehe. Kirain gue salbung. Salah sambung."
"Eh, gimana Cha? Udah sampe Bromo?"
"Iya. Makanya gue telpon lu."
"Bagus deh. Eh Cha, lu ke puncak kawah nya pake jeep?"
"Hah? Pake jeep? Nggak. Pake kaki mas. Orang gue juga gak ngeliat ada jeep disini."
"Lah, emang lu mau ke atas dari mana? Bukan dari jalan utama?"
"Sepi apa rame?"
"Gak terlalu rame sih mas. Ada juga beberapa orang yang mau hiking."
Gue melihat layar ponsel gue, mas Rangga men-switch ke video call.
"Coba kamera hand phone lu di switch, gue mau liat." Sahut mas Rangga.
"Nih." Gue pun memakai kamera belakang ponsel dan mengarahkan ponsel gue ke beberapa arah.
"Ooo. Lu lewat Cemoro Lawang."
"Iya, itu lah apanya."
"Ya udah, lu hati-hati ya Cha. Oiya, lautan pasirnya lumayan banget di Bromo. Jangan lu lepas kacamata sama masker hidung lu."
"Iya. Gue pasti pake nanti."
"Kalo udah di puncak kawah, lu arahin kamera lu random aja ya, gak perlu lu bidik. Untuk keselamatan lu juga."
"Ok mas."
"Lu mau camp juga ya?"
"Kaya nya iya mas. Ini gue udah bawa-bawa sleeping bag."
"Tapi temen lu ada yang bawa tenda portable juga kan, Cha?"
"Iya mas, bawa. Emang kenapa sih?"
"Ya lu jangan tidur di sleeping bag tapi gak di dalem tenda. Lu kan baru pertama kali, lu belum paham medan dan situasi disana. Plus, lu itu cewe dan disana itu dingin."
'Koq si mas Rangga ngomongnya udah kaya si papi sih.' Gue bergumam dalam hati.
__ADS_1
"Iya mas, iya. Kacamata, masker, selalu di pake. Tidur di dalem tenda. Trus, ada lagi mas?"
"Hahaha. Lu mah ngeledek gue Cha."
"Ya lagian elu mas. Lu pikir gue masih SMP."
"Ya gue kan kalo sama lu kebiasaan begini, Cha."
"Ya udah deh. Thank you ya mas. Gue cabs dulu ya. Nanti gue kabar-kabarin lagi. Kalo inget. Hahaha."
"Dasar lu semut rambutan. Haha.. Ya udah. Hati-hati ya. See you."
Gue pun menutup telponnya. Gue nyengir sendirian, "Semut rambutan. Masih inget juga dia manggil gue begitu."
Gue menghampiri tiga tentara gue.
"Lama banget nelpon nya. Lu mau ngopi gak, Cha?" Tanya Ferdi ke gue.
"Gak deh, Fer. Nanti mules, gue bingung mesti kemana."
"Lu abis telpon bunda?" Darwin bertanya ke gue.
"Nggak. Tadi kan gue udah chat bunda."
"Trus, itu lu nelpon siapa sampe lama banget?" Darwin bertanya lagi.
"Mas Rangga."
Ferdi tersedak kopinya, "Uhuk."
Dia menatap ke arah Darwin.
Darwin hanya membuang pandangannya melihat cangkir dan mengaduk-aduk kopinya.
Darwin menghela napas, "Udah yuk berangkat. Nanti kemaleman belum sampe pananjakan." Dia berdiri dan mengangkat carrier nya.
*
Kita berempat mulai mendaki. Darwin berada di paling depan, Adie, gue, dan Ferdi di belakang gue.
Ternyata, lumayan curam juga pendakiannya. Dan gue sebagai pendatang baru, ya pastinya ngos-ngosan lah jalan kaya gini.
"Lagian si Darwin juga jalannya cepet banget sih." Gue bergumam di tengah ngos-ngosan jalan mendaki.
"Soalnya dia lagi kesel kayanya tuh." Sahut Ferdi nyengir, dan tiba-tiba berada di samping gue.
"Hah? Kesel kenapa?" Gue heran bertanya.
"Hahaha. Udah ayo jalan terus." Jawab Ferdi.
Gue pun mendengus kesal karena gak dapet jawaban.
Sumpah, mendaki kaya gini engap juga. Cuaca nya sih emang dingin, tapi mungkin karena gue belum pernah naik-naik gunung gini makanya gue engap.
Gue kembali berjalan pelan. Dari yang gue pernah baca, semakin tinggi naik nya, semakin dingin suhunya. Pantesan aja gue ngerasa kedinginan, padahal jaket gue udah setebal ini.
*
Beberapa jam mendaki, gue beneran ngerasa lemes.
Gue melihat ketiga sahabat gue di depan. Mereka tetap melangkah.
Gue berusaha untuk memanggil salah satu dari mereka, tapi kok kayanya suara gue gak keluar, atau mereka yang gak dengar.
Gue bener-bener gak kuat, dan duduk di atas sebuah batu serta bersandar ke pohon.
Pandangan gue tetap melihat ke arah tiga sahabat gue yang masih melangkah.
"Win.. Fer.. Die.." Gue berusaha memanggil mereka dengan lirih.
Gue seperti gak punya tenaga lagi.
Gue mendongakkan wajah ke atas, melihat langit diantara pohon-pohon.
__ADS_1
'Ini udah gelap, udah mulai masuk malam.' Gue berkata dalam hati.
Dan setelah itu semua pandangan gelap di mata gue.