Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
On The Way Kiss


__ADS_3

Pagi-pagi.


Kita berempat check out dari hotel dan mau lanjutin lagi perjalanan ke Jatim.


Ini menurut gue si Ferdi agak gila sih, jam 7 check out dari hotel. Mestinya kita sarapan dulu gitu baru berangkat.


Di parkiran hotel.


"Cha. Lu yang nyetir yah. Gue masih agak ngantuk. Semalem gue abis jalan-jalan sama Adie." kata Ferdi sambil melempar kunci mobilnya ke gue.


Gue menangkap kunci mobilnya, "Hah? Lagian sih, kenapa pagi bener check out nya." gue menggerutu.


"Ya kan mumpung masih sepi di jalanan. Jadi enak ngebutnya." jawab Ferdi sambil masuk ke kursi belakang mobil di ikuti oleh Adie.


Darwin mengambil kunci mobil dari tangan gue.


"Sini biar gue aja yang nyetir." kata Darwin sambil masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Gue pun duduk di samping nya.


Setelah beberapa saat mobil masuk tol.


Gue melihat ke bangku belakang, Ferdi dan Adie emang bener-bener langsung tidur.


"Mereka berdua semalem kemana, Win?" gue bertanya ke Darwin.


"Ke club." jawab Darwin.


"Oh. Lu ikut? Kok gue gak di ajak?"


"Gue gak ikut, males. Karena gue tau mereka mau minum-minum. Lu semalem kan udah tidur duluan, gue bilang ke Ferdi kalo gak usah bangunin lu."


"Kok gitu?"


"Kan gue bilang ke lu, kalo kita mulai berhenti minum."


Gue cemberut sambil menatap lurus ke depan.


"Gak usah ngambek begitu. Gak pantes. Lagian lu kaya gak pernah minum-minum aja." kata Darwin sambil nyengir.


Gue cuma menghela napas.


"Win. Kalo ada rest area di depan, mampir drive thru yaa. Gue laper, belom sarapan."


"Iya. Gue juga laper." jawab Darwin tersenyum.


Setelah beberapa saat, mobil pun memasuki drive thru disebuah rest area tol.


Gue menoleh ke kursi belakang, "Fer. Die. Lu pada mau makan apa?" gue bertanya ke Ferdi dan Adie.


Mereka berdua tetap tertidur dan gak ada respon,


"Woi. Bangun dulu bentar." gue berkata lagi.


Tapi mereka berdua tetap gak bergerak.


Darwin tersenyum ngeliat nya, "Mereka mah dibeliin aja, nanti pas bangun pasti pada lapar."


"Ya udah lah." gue menyahut.


Darwin pun memesan makanan dan minuman melalui drive thru.


Setelah selesai, mobil pun kembali masuk ke jalan tol.


Gue memakan burger dan kentang goreng, gue beneran laper.


Gue melirik ke Darwin yang kayanya dia kerepotan membuka burger sambil memegang kemudi.


Gue tersenyum dan mengambil burgernya, "Sini gue bantuin."


"Eh," sahut Darwin.


Gue menyiapkan burger dan memberikan saus di burgernya.


Gue memegang burgernya dan mulai menyuapi Darwin.


"Mangap." gue berkata.


Darwin melirik ke gue sambil membuka mulutnya dan mulai menggigit burgernya.


"Dejavu ya? Tapi gue bukan Putra." ledek Darwin ke gue sambil nyengir.


Ngedenger dia ngomong gitu, bikin mood gue down.


Gue meletakkan burgernya di dashboard mobil dengan kesal, "Nih. Makan aja sendiri."


"Haha. Gitu aja marah." kata Darwin sambil mengusap muka gue dengan tangannya.


Dia membelai kepala gue, "Gue kan cuma bercanda, Cha." kata Darwin sambil nyengir.


"Hmmm." gue merespon sambil meminum kopi gue.


"Suapin lagi donk. Kan gue masih laper. Biasanya juga elu yang gue suapin, gantian donk sekarang." kata Darwin lagi.


Masih dengan cemberut gue mengambil lagi burgernya dari dashboard, dan mulai menyuapi Darwin lagi.


"Wuih. Kalo kesel nyuapinnya galak juga ya." kata Darwin nyengir.

__ADS_1


Gue menahan rasa ingin tertawa.


Gue terus menyuapi Darwin sampai burgernya habis.


"Win, lu mau kentang juga gak?" gue menawari Darwin.


Darwin menoleh ke gue, "Cieee, udah gak marah nih?"


"Bisa jadi marah lagi loh gue, kalo lu terus-terusan ngeledek gue." gue menjawab.


Sebelum Darwin berkata lagi, gue langsung menyuapi dia kentang goreng.


"Gak usah banyak omong ya. Makan aja." gue berkata ke dia.


Darwin tersenyum, "Pelan-pelan donk. Yang lembut gitu kalo nyuapin orang."


"Ya lu kan bukan orang." gue menyahut.


"Trus, apa donk?" Darwin bertanya sambil nyengir.


"Gak tau. Gak jelas. Samar-samar. Blur." gue menjawab.


Darwin tertawa sambil meminum kopinya dan me-lap mulutnya dengan tissue.


Dia kemudian membuka sedikit jendela mobil dan mengecilkan AC mobil.


"Mau ngebul kan?" kata Darwin ke gue.


"Tau aja lu."


"Iyalah. Gue juga pengen ngebul soalnya."


Gue dan Darwin pun menyalakan rokok.


"Eh, kita keluar tol nya nanti sore aja kali ya sekalian makan malem." kata Darwin.


Gue melihat map di ponsel gue, "Iya deh. Lagian gak begitu laper kayanya sampe siang. Banyak cemilan juga di mobil." gue menjawab.


"Kalo lu cape nyetir, gantian aja ya Win sama gue."


"Iya." jawab Darwin.


Tak berapa lama di perjalanan, ponsel gue berbunyi. Gue melihat siapa yang menelepon.


"Mas Rangga." gue bergumam tersenyum.


"Halo mas," gue menjawab teleponnya.


"Halo, Cha. Lagi dimana? Gue mau ngajak lu ke pameran fotografi nih." jawab mas Rangga.


"Yaaah. Kok ngedadak banget sih mas?"


"Emang kapan acaranya?"


"Besok sih. Bisa gak lu?"


"Gak bisa mas. Sekarang gue lagi otw ke Bromo. Ini aja masih dijalan."


"Wuih, jalan-jalan nih. Sama siapa kesana?"


"Sama temen-temen."


"Ooo, kirain sama bokap nyokap lu."


"Nggak."


"Ya udah deh, have fun aja. Oiya, nanti kalo udah sampe Bromo, kabarin gue ya. Gue kasi tau lu spot foto yang bagus disana disebelah mana."


"Ok mas. Nanti pasti gue kabarin lu, kalo ada sinyal. Haha."


"Sinyal mah masih ada kalo dibawah. Hati-hati ya lu disana."


"Iya iya. Tetep ya gak berubah. Khawatiran."


"Haha. Iya juga ya. Lagian gak tau kenapa, kalo sama lu gue malah worry terus. Takut lu kenapa-kenapa."


"Haha. Makasih ya mas. See you."


"See you."


Gue pun menutup telepon dari mas Rangga sambil senyum-senyum.


Darwin melirik ke gue. Mukanya langsung berubah serius.


"Sebenernya, Rangga itu siapa sih?" tanya Darwin ke gue.


"Hah?" gue bertanya balik ke dia.


"Ya dia, si Rangga itu siapa?"


"Dia itu elu. Elu itu dia." gue menjawab.


Darwin memasang wajah heran, "Maksud lu?"


Gue nyengir dan menjawab, "Ya mas Rangga itu kaya lu. Dan lu itu kaya dia. Khawatiran sama gue. Dulu waktu masih SMP, dia yang selalu jagain gue kalo gue lagi dititipin dirumahnya. Trus, karena sekolah dia sama gue deketan, dia emang selalu bareng gue. Kalo gue ada yang bully, dia juga pasti yang selalu nolongin gue."

__ADS_1


Darwin terdiam dan menepikan mobil ke arah bahu jalan. Dia menghentikan mobil.


"Kenapa, Win? Mau gantian nyetir?" gue bertanya.


Darwin menghela napas, membuka seatbelt nya dan menatap gue.


"Cha. Gue bukan mas Rangga lu itu. Gue gak suka kalo lu nyama-nyamain gue kaya dia. Gue juga gak sebaik dia." kata Darwin sambil menatap gue dalam.


Gue kaget ngedenger dia berkata begitu, gue gak bermaksud untuk bikin dia tersinggung kaya gini.


"Win. Gue gak ada maksud untuk nyama-nyamain lu sama mas Rangga. Cuma emang kalian berdua itu care banget sama gue. Kalian berdua itu,"


"Cha." Darwin memotong perkataan gue.


"Di dunia ini, gue itu cuma satu. Gue, Darwin. Yang kaya gue, ya cuma gue."


"Iya Win, gue tau. Cuma,"


"Cha," Darwin memegang pipi gue dengan tangannya.


Gue menatapnya. Gue meihat kedua matanya yang teduh. Gue merasa wajahnya semakin mendekat ke gue.


Gue memejamkan mata gue, dan merasakan kalau bibirnya mencium bibir gue.


Gue terdiam beberapa saat, dan kemudian membalas ciumnnya.


'Shit! We're kissing again!' gue bergumam dalam hati.


'Ini sebenernya maksud si Darwin apa sih?' gue bertanya dalam hati.


Gue merasakan kalau seseorang mulai menggeliat dari kursi belakang mobil, Ferdi mulai terbangun.


Gue dan Darwin langsung melepaskan ciuman kita.


Ferdi bangun dari sandarannya, "Kita udah sampe?" tanya Ferdi.


"Sampe mana?" tanya Darwin ke Ferdi.


"Sampe mana kek." jawab Ferdi asal-asalan karena baru bangun tidur.


"Kenapa berhenti, Win?" tanya Ferdi lagi.


"Gak papa. Tadi gue ngelurusin kaki dulu." jawab Darwin sambil mulai melajukan mobil lagi.


Gue hanya duduk terdiam sambil memandang ke arah jendela. Gue gak habis paham, apa ya maksud si Darwin ini. Kenapa dia seenak-enaknya nyium gue. Trus gue juga kenapa malah ngebales.


Abis itu, gak ada omong-omongan lagi. Sebenernya dia nganggep gue siapa sih.


"Cha. Kenapa lu diem aja? Mabok? Ada kantong plastik gak?" tanya Ferdi ke gue.


"Hah? Nggak, gue gak mabok. Lagi enjoy the trip aja." gue menjawab.


"Oiya, Fer. Nih ada makanan buat lu sama Adie kalo lu laper." gue berkata sambil memberikan sekantong berisi makanan ke Ferdi.


"Kebetulan gue laper." jawab Ferdi.


Dia pun kemudian membangunkan Adie.


Mereka pun berdua memakan makanannya.


*


Setelah sekian jam menempuh perjalanan, mobil pun keluar tol.


Kita berempat ada di Jogja.


"Sini, Win. Gantian. Kalo di Jogja, gue hapal jalan-jalannya." sahut Ferdi ke Darwin.


"Ok. Lagian gue juga udah cape nyetir." sahut Darwin sambil menepikan mobil.


"Lah. Kalo lu cape, tadi kenapa gak bilang ke gue supaya gantian." gue bergumam.


"Gak usah. Kan kata papi lu, lu itu cewe sendirian, mestinya duduk-duduk santai aja." jawab Darwin sambil membuka pintu mobil dan keluar.


Gue juga ikut keluar dari mobil dan pindah duduk di belakang.


Ferdi dan Adie di depan. Gue dan Darwin duduk di bangku belakang.


Darwin meregangkan badan dan tangannya, "Wuuuiiih. Kaku juga tulang-tulang. Udah lama gak nyetir jauh. Cape juga." Darwin bergumam.


Dia mengambil bantal kecil, meletakkannya di pangkuan gue dan merebahkan kepalanya.


Sebelum dia menutup matanya dan tidur, dia menatap gue dan tersenyum.


"Gue harap lu ngerti." kata Darwin pelan.


Gue cuma heran menatap dia yang lama-lama memejamkan mata dan tertidur.


'Ngerti apaan?' dalam hati gue bertanya.


Kepalanya tetap diatas bantal di pangkuan gue. Gue membelai kepalanya. Gue menyenderkan badan dan kepala gue ke jok mobil. Gue juga mengantuk, padahal gue gak nyetir. Tapi cape juga selama beberapa jam ngeliatin jalan tol.


Gue pun memejamkan mata gue dan tertidur.


Satu tangan gue tetap dikepala Darwin, dan satu tangan lagi di atas dadanya. Gue merasakan kalau tangan dia pun menggenggam tangan gue yang di atas dadanya.

__ADS_1


Mata gue terlalu ngantuk untuk sekedar ngeliat tangan Darwin menggenggam tangan gue.


'What will happen later, ya udah lah.' gue bergumam dalam hati dan tertidur.


__ADS_2