
Day by day. Rumah. Sore hari.
Gue lagi mengacak-acak lemari pakaian gue. Mencari-cari baju buat malem kelulusan besok.
"Hhhkk. Kenapa sih mesti pake formal dress. Udah tau gue gak punya baju gituan." gue bergumam kesal.
Gue turun ke bawah, "Buuun. Bundaa." gue memanggil nyokap.
Nyokap lagi ngobrol sama papi di ruang tamu.
"Kenapa Cha?" nyokap bertanya.
Gue duduk di sofa di depan nyokap dan papi.
Gue menghela napas, "Pak Dewa. Saya sebagai seorang mahasiswi fakultas bapak, saya mau komplain."
Papi dan nyokap saling memandang, "Mau komplain apa? Kaya tamu hotel aja." tanya papi tersenyum.
"Pak Dewa, kenapa sih pas malem kelulusan mesti pake baju formal? Pake dress lagi. Saya gak punya dress." gue menjawab papi.
Papi malah tertawa, "Ya kan acaranya gala dinner. Masa pake jeans sama kaos. Lagian, itu kan nanti jadi pengalaman para mahasiswa sebagai tamu hotel. Sebelum mereka kerja di hotel atau di tempat pariwisata. Makanya acaranya juga di hotel pinggir pantai. Kita kan setiap tahun memang disitu, udah kerjasama dengan hotelnya." jawab papi panjang lebar.
"Iya, papi. Tapi, Chacha itu gak punya baju formal dress. Dan pastinya gak akan pantes pake baju kaya gitu." gue menggerutu.
"Eeeh, biar bunda cariin. Kayanya bunda punya deh formal dress." kata nyokap sambil menuju ke kamarnya.
"Papi. Boleh gak, kalo Chacha gak usah ikutan malem kelulusan?" gue bertanya.
"Boleh aja sih. Tapi minggu depannya kamu kuliah lagi. Sesuai sama sks nya." jawab papi nyengir.
"Emang malem kelulusan pake sks?" gue bertanya heran.
"Kan ada gala dinner nya." jawab papi.
"Oh my God. Kenapa gue dulu ngambil jurusan hotel yaa......" gue bersandar ke sofa dengan penyesalan.
Papi cuma nyengir aja. Nyokap keluar dari kamar, dan memunjukkan dress ke gue.
"Nih Cha. Masih bagus kan. Yuk, cobain." kata nyokap.
Gue cuma bengong ngeliatin dress itu dari atas kebawah.
'Gue pake gituan? Apa kata tiga sahabat gue nanti. Aduuuh. Pasti mereka bakal ngeledek gue abis-abisan nih.' gue bergumam dalam hati.
Nyokap narik tangan gue menuju kamarnya.
"Aduh, bun. Ini tuh ribet banget." gue menggerutu.
Nyokap memakaikan dress nya ke gue.
"Kalo jadi perempuan ya begini. Emang ribet." kata nyokap ke gue.
"Gak semua perempuan ribet kaya gini, Bun." gue memprotes.
Nyokap pun mengajak gue keluar, "Kita tanya papi Dewa, gimana menurut dia."
Gue mengikuti nyokap keluar dengan cemberut.
Papi menatap gue tersenyum.
"Gak usah ngeledek." gue berkata ke papi.
"Siapa yang mau ngeledek." sahut papi.
"Trus, itu papi ngapain senyum-senyum?"
__ADS_1
Papi berdiri menghampiri gue, "Cha, kamu itu cantik kok kalo pake gaun kaya gini."
"Hadeeeh. Telinga Chacha gatel denger kata cantik." gue menjawab.
Papi malah semakin tertawa, dan merangkul bunda.
"Di, lihat lah ini putri kita. Padahal dia itu cantik, tapi gak sadar." kata papi ke nyokap.
"Ya memang begitu dia. Eh, bentar. Kayanya ada yang kurang." kata nyokap sambil mengambil sesuatu.
Nyokap memberikan sepasang sepatu high heels ke gue.
Gue terbelalak kaget, "Apaan ini bun?"
"Ya kamu pake ini. Jadi akan semakin kelihatan anggun." kata nyokap.
"What? Pake high heels?" gue bertanya.
"Iyalah." jawab nyokap.
Gue menggelengkan kepala, "Nggak, nggak. Chacha gak bisa pake itu. Pake dress gini aja udah ribet, disuruh lagi pake high heels. Makin ribet."
"Bun, kenapa bunda gak ikut aja ke hotel besok. Soalnya nanti siapa yang bantuin Chacha pake baju ini."
"Yee, mana bisa. Itu kan acara kampus kamu, bukan mau kondangan." kata nyokap.
"Ya bisa ajalah bun. Bunda kan calon istrinya pak Dewa." gue menjawab sambil melirik papi.
Papi tersenyum, "Papi juga kalo bisa maunya bunda kamu ikut. Tapi, ini kan emang program kampus. Dosen-dosen juga gak ada yang bawa keluarganya."
"Udah, nanti kamu minta tolong aja sama temen kamu yang cewe. Kamu kan pasti dapet kamarnya sama temen kamu yang cewe bukan sama sahabat kamu." kata nyokap ke gue.
Gue menghela napas dan berbalik ke kamar nyokap. Gue mau membuka dress nya.
*
Seluruh mahasiswa yang akan lulus taun ini berkumpul dikampus.
Semua akan berangkat dengan bus yang sudah disiapkan oleh kampus.
Gue berdiri di luar bus sambil ngebul.
"Cha. Kok lu gak semangat sih?" Nopee menepuk pundak gue.
"Iye. Acara ini menurut gue aneh." gue menjawab.
"Haha.. Lu aja kali yang aneh. Semua pada semangat, lu doank yang lesu." ledek Nopee.
"Gue rasa juga begitu, gue yang aneh." gue menyahut datar.
Nopee pun naik ke dalam bus.
Darwin dan Ferdi menghampiri gue, "Cha. Lu gak satu bus sama kita ya?" tanya Ferdi.
Gue menggelengkan kepala, "Nggak. Gue sama Adie. Kita kan gak pernah satu kelas. NIM lu sama gue juga jauh banget."
Darwin menatap gue, "Lu kenapa? Kok kayanya gak semangat?"
"Iya. Gue males. Soalnya mesti pake dress nanti." gue menjawab.
Darwin menahan senyumnya, "Yaa, berarti momen langka kan. Nanti gue yang fotoin pake kamera lu."
"Gak usah ngeledek." gue menjawab kesal.
Darwin dan Ferdi nyengir ke gue. Gue males banget ngeliat mereka nyengir begitu. Pasti mereka nanti bakalan ngeledekin gue.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang merangkul pundak gue dari belakang, dan mencium pipi gue.
"Sayaaang." kata Putra.
"Ih, kirain siapa." gue menjawab.
Wajah Darwin dan Ferdi seketika berubah jadi gak enak.
"Ada apa, Put?" gue bertanya.
"Kamu di bus ini ya?" tanya Putra.
"Iya."
Putra berdiri di depan gue dan merangkul pinggang gue. Dia membelakangi Darwin dan Ferdi.
Gue menatap putra.
"Yang, nanti malem abis gala dinner, kamu ke kamar aku ya."
Gue mengernyitkan alis, "Ke kamar kamu? Aku kan gak kenal sama temen-temen kamu. Gak mau ah."
"Aku gak sama temen-temen aku kok. Aku booking kamar sendiri." kata Putra tersenyum.
"Hah? Buat apaan?" gue bertanya.
"Ya buat apa aja. Buat berduaan sama kamu kek, atau apa kek." jawab Putra.
"Ya elah. Emang sempet nanti kita ketemuan? Kan acaranya padat banget kayanya. Abis dinner ada dance lah, ada pengumuman lulusan terbaik king and queen lah."
Putra merapikan rambut gue kesamping, "Ya abis dinner kita gak usah ikutan dance ya. Kan kamu udah janji mau ngelakuin apa aja buat aku. Aku cuma mau berduaan aja sama kamu."
Gue melirik ke arah Darwin dan Ferdi, mereka berdua keliatan gak seneng, "Ya udah iya." gue menjawab Putra supaya dia cepet pergi.
Putra mengecup kening gue, "Ya udah. Aku ke bus aku ya. See you."
Putra pun pergi meninggalkan gue tanpa melihat Darwin dan Ferdi.
"Cha. Pokoknya nanti malem, lu ke kamar gue. Kita ngumpul berempat. Gue mau bukan botol, spesial." kata Ferdi ke gue.
"Fer, gue gak janji ya. Mungkin nanti abis sama Putra gue ke kamar lu." gue menjawab.
Darwin hanya terdiam menatap gue. Gue gak tau apa yang dia pikirin.
Darwin menghampiri gue, "Gue pasangan lu pas gala dinner."
"Hah? Emang mesti pasang-pasangan?" gue bertanya.
"Iya. Kalo nggak berpasangan, duduknya nanti di pisah. Makanya, kalo baca pengumuman itu yang teliti." jawab Darwin sambil menuju ke bus.
Ferdi pun mengikutinya.
Gue menghela napas dan naik ke dalam bus.
'Kenapa acara kaya gini malah bikin ribet gue sih.' gue bergumam dalam hati.
*
Darwin dan Ferdi di dalam bus.
"Win, lu gak denger tadi si Putra bilang apa sama Chacha. Dia booking kamar sendiri buat dia berduaan sama Chacha." kata Ferdi ke Darwin.
"Iya, gue udah tau. Nomor kamarnya juga gue udah tau. Dia sama temen-temennya yang booking satu kamar di luar nama kampus. Nanti, lu sama Adie bantuin gue ya." kata Darwin ke Ferdi.
Ferdi mengangguk, "Ok sip. Lu kasi tau aja gue mesti ngapain. Tapi, kalo yang mukul Putra sama temen-temennya, lu gak perlu ngasih tau kapan, pasti gue beri mereka."
__ADS_1
Darwin mengangguk, "Terserah lu kalo yang itu."
Darwin menatap keluar jendela bus yang sedang berjalan, 'Gue akan gagalin rencana lu dan temen-temen lu, Put. Mungkin lu cowonya Chacha, tapi dia sahabat gue yang gue sayang.' gumam Darwin dalam hatinya.