Kembang Diantara Kumbang

Kembang Diantara Kumbang
Dia atau Mereka


__ADS_3

Kosan Darwin.


"Cha, papi lu chat gue nih. Disuruh jagain lu supaya gak berantem." kata Darwin ke gue.


Gue menghembuskan asap rokok, "Iye, udah tau. Tadi dia bilang ke gue."


"Mau ada party donk nanti." ledek Ferdi ke gue.


"Party apaan?" gue bertanya.


"Ya nyokap lu merit sama pak Dewa."


"Ooo. Gak tau gue. Gak ikut-ikutan jadi wo. Haha.."


Ponsel gue berdering, Putra telpon. Gue melirik Darwin, dia diem aja ngeliatin.


Gue ke teras kamarnya dan menjawab telpon Putra,


"Ya Put?"


"Kamu dimana yang? Kok lama angkatnya?" tanya Putra.


"Kosan Darwin."


"Kamu ke kampus sekarang ya, aku mau ngomong." kata Putra.


"Ngomong apaan? Gak bisa di telpon aja?"


"Gak lah. Ada yang aku mau tanyain. Aku tunggu di mobil sekarang ya."


"Iya." gue menjawab dan mematikan telpon.


Gue masuk ke kamar Darwin dan mengambil tas.


"Mau kemana lu?" tanya Adie.


"Gue ke kampus dulu ya." gue menjawab.


"Mau ngapain? Berantem?" ledek Adie.


Gue nyengir, "Nggak. Putra telpon, dia nungguin di parkiran."


"Gue temenin ya." kata Darwin tiba-tiba.


"Hah? Gak usah, Win. Gue mau ketemu Putra kok."


"Papi lu bilang, gue disuruh jagain lu."


"Iya, tapi ini gue mau ketemu Putra. Bukan mau berantem. Udah, gue bentaran doank kok. Nanti gue kesini lagi." gue menjawab dan pergi.


"Tuh, Win. Makanya cepetan ungkapin. Supaya dia gak sama si Putra terus." kata Ferdi ke Darwin.


"Kan waktu itu gue udah bilang ke dia." jawab Darwin.


"Itu mah elu keliatan dalam keadaan terpaksa. Bukan beneran, lagian masa nembak cewe begitu." kata Ferdi.


"Nembak siapa sih?" tanya Adie heran.


"Nembak Chacha lah. Emang lu pikir siapa lagi." jawab Ferdi ke Adie.


"Ooo, buat nyelametin Chacha dari Putra?" tanya Adie lagi.


"Bukan itu aja. Tapi nyatain perasaan yang sesungguhnya." kata Ferdi sambil ngelirik Darwin.


Adie terkejut, "Jadi, selama ini lu nyimpen perasaan ke Chacha, Win?"


Darwin hanya terdiam sambil menghisap rokoknya.


"Iya. Temen lu ini, walaupun lebih lama kenal sama Chacha, tapi gak berani nyatain perasaannya ke Chacha." kata Ferdi.


Adie nyengir, "Jadi feeling gue lu lagi suka sama cewe, ternyata itu Chacha, Win?"


"Die, lu jangan bilang-bilang Chacha ya. Gue takut dia marah dan gak mau ketemu gue lagi." kata Darwin ke Adie.


"Iya, tenang aja. Tapi, kalo lu diem di tempat, Chacha malah makin sayang nanti sama Putra. Dan Putra bisa dengan gampang ngelakuin rencananya." kata Adie ke Darwin.

__ADS_1


"Kalo itu, gue nanti pikirin rencana lain deh." jawab Darwin.


*


Gue masuk ke dalem mobil Putra. Dia udah nungguin di dalem.


Gue tersenyum ke dia, "Ada apa, Put?"


Mukanya keliatan gak seneng, dan gak noleh ke gue. Dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto gue yang lagi pelukan sama papi.


"Jangan bilang kalo semua ini bener." kata Putra dingin.


Gue menghela napas. Gue juga lupa bilang ke dia kalo selama ini nyokap jalan bareng pak Dewa. Malah waktu papi ngelamar nyokap, gue gak ngajak dia makan malem bareng, gue ngajaknya Darwin.


Gue tersenyum ke Putra, "Trus, kamu percaya sama berita ini?"


Putra menatap gue, "Ya makanya aku mau nanyain ini ke kamu, yang. Ini beneran kamu kan?"


Gue mengangguk, "Iya, ini emang aku. Trus kamu percaya kalo aku simpenannya pak Dewa? Kamu percaya kalo aku ayam kampus?"


Putra heran dan terus menatap gue, "Yang,"


"Put, kamu sayang gak sama aku?" gue bertanya.


"Ya aku sayang lah sama kamu. Makanya aku kaget pas dapet ini." jawab Putra.


"Kalo kamu emang sayang sama aku, mestinya kamu jangan langsung percaya itu."


"Tapi di foto itu,"


"Put, ini sama aja kaya waktu itu kamu dapet foto aku sama Darwin."


"Ya tapi kan akhirnya kamu udah ngejelasin ke aku siapa Darwin buat kamu. Nah ini, masa sekarang kamu mau bilang kalo pak Dewa itu sahabat kamu juga." kata Putra.


Gue tersenyum dan memegang wajahnya, mengelus pipinya dengan jari gue, "Put, pak Dewa emang bukan sahabat aku. Tapi dia akan jadi papi aku."


Putra heran, "Maksud kamu?"


"Pak Dewa mau nikah sama bunda. Ya berarti dia jadi papi aku kan." gue menjawab.


Gue mengangguk tersenyum, "Iya. Dan kamu tau, aku jadi seneng karena aku ngerasain gimana rasanya punya seorang ayah. Makanya waktu itu pak Dewa meluk aku."


Putra tersenyum dan menghela napasnya. Dia bersandar pada jok mobil dan menatap gue. Dia pun membelai lembut pipi gue dengan jarinya.


"Kamu tau gak, yang. Aku hampir gila pas dapet berita ini." kata Putra ke gue.


"Maaf ya, Put. Aku belum sempet ceritain ini ke kamu. Kemaren-kemaren juga kan kamu sibuk. Pas kita ketemuan, aku jadi lupa."


Putra nyengir, "Jadi lupa karena kangen ya."


Gue cuma tersenyum ke dia. Ada perasaan yang menggebu kalo deket dia. Gue juga gak tau kenapa kalo deket Putra gue bisa begini.


Putra tetap membelai lembut pipi gue, dia mendekatkan wajahnya ke gue. Gue tau dia mau nyium gue. Dan gue gak menolaknya.


Dia mencium bibir gue dengan penuh gairah. Gue pun ngebales ciumannya.


Gue membelai kepalanya. Putra terus mencium gue.


Setelah beberapa saat kita berciuman, dia melepaskan ciumannya. Menempelkan dahinya ke gue, "Yang, aku mohon. Apapun yang terjadi nanti, kamu jangan ninggalin aku ya."


Gue tersenyum, "Gak Put. Aku gak ninggalin kamu kok. Kecuali kalo kamu akhirnya merit sama Lovi."


Putra menghela napas dan mencium punggung tangan gue, "Yang, aku lagi usahain untuk ngebatalin perjodohan aku sama Lovi. Cuma emang gak gampang. Kamu sabar ya."


Gue mengangguk tersenyum. Entah apa yang ada di pikiran gue. Kenapa gue bisa bilang ke dia kalo gue gak akan ninggalin dia. Padahal Darwin aja udah nyuruh-nyuruh gue untuk mutusin dia. Baru kali ini gue bimbang antara dia atau sahabat gue.


*


Beberapa hari kemudian.


Seluruh kampus udah tau kalo pak Dewa itu bakalan jadi papi gue.


Shanti juga udah di skors beberapa hari.


Gue keluar dari ruang sidang. Gue tersenyum dan bernapas lega.

__ADS_1


"Akhirnya lulus juga." gue bergumam dan mengeluarkan kamera gue dari tas.


"Gurita." Darwin memanggil gue.


Gue berbalik badan menoleh ke dia.


"Gimana? Lulus?" tanya Darwin.


Gue tersenyum, "Iyalah. Ya kali gue gak lulus. Lu gimana?"


"Lulus. Tapi yang bikin gue seneng, gue juga lulus tes tahap pertama untuk beasiswa MIT." jawab Darwin.


Gue seneng ngedengernya, "Serius, Win? Waah, mesti di rayain nih."


"Iya, tapi masih ada tes kedua. Interview sih, nanti jadwalnya akan di email ke gue." kata Darwin.


"Kalo interview, perlu bantuan gue lagi gak?" gue bertanya.


Darwin mengacak-acak rambut gue, "Gak perlu. Masa gue interview nanti ada elu juga disamping gue."


"Iya juga sih. Nanti malah gue yang ditanya-tanya."


"Btw, makasih ya. Waktu itu udah nemenin gue belajar, jadinya gue lulus."


"Ya elah. Kaya sama siapa aja lu." gue menjawab nyengir.


Adie dan Ferdi nyamperin gue dan Darwin.


"Kita semua lulus kan?" tanya Ferdi.


Gue mengangguk.


"Kosan yuk. Segelas aja." ajak Ferdi.


Gue menatap Darwin, "Tanggung segelas mah."


"Ya udah, sebotol. Yuk. Udah lama nih gak minum bareng." kata Ferdi.


"Eh, bentar. Kita foto dulu berempat, kan udah lulus sidang." gue mengajak mereka berfoto. Gue meletakkan kamera gue di depan, dan menyetel mode otomatis kamera.


"Ayo, cepet-cepet. Dalam sepuluh detik ya." gue memberi aba-aba.


Kita berempat pun memasang gaya. Darwin selalu disamping gue. Kita berempat berfoto dengan banyak gaya.


Setelah selesai, gue melihat lagi foto-foto kita dan tertawa sambil keluar dari gedung dan berjalan menuju kosan.


Gue termenung dengan satu foto. Ketika gue, Ferdi, dan Adie bergaya, Darwin hanya diam tersenyum sambil menatap gue. Tatapan yang lembut, tapi gue gak tau apa artinya. Gue sampai men-close up mukanya.


'Kenapa Darwin sampe ngeliatin gue begini.' gue bergumam dalam hati.


"Yang." Putra memanggil gue.


Gue menoleh ke belakang, dia sedikit berlari menghampiri gue.


"Gimana sidangnya? Lulus?" tanya Putra ke gue.


Gue tersenyum mengangguk, "Iya."


Ketiga sahabat gue ngeliatin dengan tatapan yang gak enak. Mungkin Putra gak ngerasa, tapi gue tau banget mereka gak seneng sama Putra.


"Ya udah yuk, kita makan bareng. Aku juga lulus." ajak Putra ke gue.


Gue menatap ketiga sahabat gue. Mereka hanya terdiam.


'Aduh. Gue benci di situasi kaya gini. Gue udah mau ke kosan sama sahabat gue, tapi tiba-tiba Putra ngajakin gue jalan juga.' gue bergumam dalam hati.


"Yang. Kok diem. Yuk. Kita makan keluar kampus kaya waktu itu." Putra membuyarkan lamunan gue.


"Cha. Lu kan udah sama kita duluan." kata Ferdi ke gue.


Putra pun menatap ketiga sahabat gue itu. Mereka berempat saling memandang. Tapi dengan tatapan yang bener-bener gak enak menurut gue.


'Ya ampuuun. Gue mesti gimana ini............???????' gue bertanya dalam hati.


'Dia atau mereka?'

__ADS_1


__ADS_2