
Darwin melepaskan ciumannya, dia menyentuh bibir gue dengan jarinya, dan tersenyum.
'Aduh! Kenapa gue sampe nyium dia?! Chacha, dia sahabat lu.' gue bergumam dalam hati.
"Win, gue tidur duluan ya." gue berkata sambil memiringkan badan gue dan menutup muka gue dengan guling.
Gue sebenernya gak bener-bener tidur, gue mengutuki diri gue sendiri. Kenapa gue bego banget sampe nyium Darwin. It's a big mistake.
Gue ngedenger dia keluar kamar dan duduk diteras. Gue terus mikirin besok gimana pas bangun tidur, biasanya ya gue sama dia cuek-cuek aja. Tapi setelah ciuman tadi, gimana gue sama dia bisa biasa aja besok. Gue kepikiran sampe ketiduran.
*
Darwin duduk dikursi teras. Dia menyalakan rokok. Menggaruk-garuk kepalanya yang gak gatal.
"Kenapa gue jadi nyium Chacha? Besok gimana pas dia bangun tidur." gumam Darwin.
Darwin terus berpikir apa yang bakal dia bilang ke Chacha besok, "Gue minta maaf atau gimana ya. Kalo dia ngamuk gimana ya. Atau yang lebih buruk, dia ngejauhin gue. Aduuuh. Gimana ya."
Malam kian larut. Azis baru pulang dari ngider malemnya. Dia ngeliat Darwin lagi duduk sendirian.
"Win, lagi ngapain lu sendirian diluar? Mau jaga lilin?" ledek Azis. Dia pun duduk disamping Darwin.
"Ah elu. Iye, gue jagain lilin elu. Kalo goyang gak bakal gue tiup, biar lu ditangkep." kata Darwin ke Azis.
"Haha.. Bisa aja lu. Bagi rokok dah gue." Azis mengambil bungkus rokok dan mengambil sebatang.
"Ada siapa dikamar lu?" tanya Azis.
"Chacha."
"Ooo. Trus kok lu malah diluar? Bukannya kelonin." ledek Azis.
"Emang dia bocah pake dikelonin." jawab Darwin.
"Dia abis mabok ya di kosan Biru?"
"Kok lu tau?"
"Orang gue yang kasi tau Adie kalo dia ada dikosan Biru." jawab Azis.
Darwin hanya terdiam dan terus ngebul.
"Win, lu pacaran ya sama Chacha?" tanya Azis.
Darwin langsung menoleh ke Azis, "Nggak."
"Masa sih? Gue sering liat lu berdua dia." kata Azis.
"Ya emang kalo gue berdua dia terus kita pacaran gitu? Kalo gue berduaan sama Ferdi juga lu bilang gue pacaran sama dia." jawab Darwin.
Azis tertawa mendengarnya, "Win, Win. Gue emang gak deket sama kalian. Tapi gue juga gak bego bego amat." kata Azis sambil berdiri dan menuju ke kamarnya.
*
Besoknya.
Setelah selesai mandi, gue ngebangunin Darwin. Gue gak tau jam berapa dia masuk kamar dan tidur semalem.
Gue ngeliatin dia, "Gimana ya ngebanguninnya."
'Ya ampuun Chacha! Biasa aja kali. Kaya lu biasa ngebangunin Adie atau Ferdi.' gue bergumam dalam hati.
Gue menggoyang tamgannya, "Win, bangun Win"
Darwin menggeliat dan membuka matanya. Dia langsung duduk bersandar ke tembok.
"Cha. Lu udah mau ke kampus?" Darwin bertanya sambil mengucek matanya.
"Iya, bentar lagi abis ngopi."
Darwin berdiri ke kamar mandi, dia membasuh mukanya dengan air.
Dia duduk di depan gue dan meminum kopi gue.
"Kok gak mandi? Lu gak kuliah?" gue bertanya.
"Kuliah, nanti jam kedua." jawab Darwin sambil menyalakannya rokok.
"Cha, yang semalem itu," Darwin mulai berbicara.
Gue memotong, "Win, yang semalem itu, anggep aja gak ada apa-apa ya. Yaaa anggep aja gue sama lu khilaf. Ok."
__ADS_1
Darwin menatap gue heran, tapi kemudian dia bicara.
"Ya udah, kalo mau lu begitu." kata Darwin.
"Oiya Win, tapi Ferdi sama Adie gak perlu tau ya. Jadi ini cuma antara kita berdua aja." gue berkata pada Darwin.
Darwin pun hanya mengangguk. Gue gak tau apa yang ada dipikirannya.
"Win, ini ada flyer buat pensi sabtu besok. Lu mau ngisi acara gak?" gue bertanya memecahkan kesunyian.
Darwin membaca flyer tersebut, "Gue mana pernah ngikut-ngikut acara ginian."
"Tapi kan lu jago main gitar."
"Gue bukan orang yang mau nunjukin kehebatan gue di atas panggung. Gue main gitar buat diri gue sendiri kok." jawab Darwin.
Gue menghela napas. Gue ngerasa kok nada bicara dia jadi flat banget.
Gue berdiri dan pamit, "Ya udah. Gue kuliah dulu."
Gue pun keluar dari kamarnya.
*
Gue berjalan ke kampus, melihat Ferdi yang lagi mengunci kamarnya. Dia juga mau berangkat kuliah.
Gue menghampirinya, "Fer."
Ferdi cuma menoleh gak ngejawab. Gue tau pasti dia masih kesel sama gue.
"Fer, lu marah ya sama gue."
Ferdi menghela napasnya, "Cha, gue bukan marah lagi, tapi gue kecewa sama lu."
"Sorry, Fer. Gue kemaren gak kepikiran."
"Cha, kita bertiga tuh sayang sama lu, kita kenal sama lu bukan baru kemaren. Tinggal berapa bulan lagi juga kita lulus, tapi masa dari sekian taun kita sahabatan, lu gak ngeharagain gue, Adie, sama Darwin sih. Kita selalu ngingetin lu. Ngejagain lu. Tapi lu nya malah bandel, gak bisa dibilangin." Ferdi ngomelin gue panjang lebar.
Gue cuma diam menunduk.
"Cha, kalo kita gak peduli sama lu, gue gak bakal jemput lu kesana. Adie gak bakal nyari-nyariin lu kalo setiap sore lu belum ngambil motor dikosannya, atau Darwin gak bakal merhatiin lu sampe kaya gitu." kata Ferdi lagi.
"Iya, Fer. Maafin gue ya. Gak lagi-lagi deh gue begitu."
"Hah?" gue heran ngedengernya, 'Kok omongan dia sama Darwin sama sih. Jangan-jangan udah sekongkol nih mereka.' gue bergumam dalam hati.
"Gue juga. Kalo lu begitu lagi, lu cari aja Adie Adie yang lain." tiba-tiba Adie menyahut di belakang gue.
Gue menahan senyum, "Iya para batang ku. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku ya."
"Orang serius, malah dibecandain." Ferdi bergumam.
"Iya, iya. Makasih ya, kalo gak ada kalian gue pasti udah lost control." gue berkata sambil merangkul pundak mereka dan tersenyum.
Ferdi menjitak kepala gue, "Dasar gurita. Bener kata Darwin."
"Aduh." gue memegang kepala gue.
"Ngomong-ngomong, Darwin mana Cha? Gak kuliah dia? Lu apain dia semalem?" Ferdi bertanya.
"Darwin ada dikamarnya. Dia kan gak ada kuliah pagi, nanti jam kedua adanya." gue menjawab.
Ferdi terkejut ngedengernya, "Hah? Berarti gue kepagian donk." Ferdi menepuk jidatnya.
"Tau gada kuliah pagi, ngapain gue udah rapi jam segini." Ferdi bergumam.
Gue dan Adie tertawa, dan meninggalkan dia sendirian yang kebingungan.
*
Perkuliahan pun selesai.
Gue keluar dari gedung. Adie udah duluan keluar, entah apa yang dimakannya, pasti kalo selesai kuliah dia sakit perut.
Seseorang menarik tangan gue. Gue menoleh, "Putra."
Putra tersenyum, "Maaf. Sakit ya tangannya?"
"Nggak kok."
"Makan yuk, kamu sendirian kan?" dia bertanya.
__ADS_1
"Iya."
Dia langsung menggandeng tangan gue dan menggiring gue ke kantin.
Gue duduk di depannya.
Ketika makanan habis, dia tersenyum menatap gue dan memegang tangan gue.
"Cha, aku mau ngomong sesuatu." kata Putra.
"Ngomong apaan?"
"Aku, suka sama kamu."
Gue menatapnya terdiam. Pikiran gue melayang-layang. Di dalam benak gue, mungkin kalo gue pacaran sama dia kecanggungan gue dan Darwin akan mereda. Mungkin kalo gue punya pacar, Darwin dan gue bisa jadi biasa lagi kaya dulu.
"Iya, gue mau jadi cewe lu." gue menjawab pertanyaan yang belum Putra tanyain ke gue.
Putra kaget ngedengernya, "Kamu bilang apa?"
"Gue bilang, gue mau jadi pacar lu. Jadi cewe lu."
Putra tersenyum, "Kan aku belum nanya ke kamu, aku baru bilang kalo aku suka sama kamu."
"Ya pasti ujung-ujungnya juga lu bakal nanya, ya kan."
Putra semakin tersenyum, "Kamu emang unik. Gimana coba kalo aku cuma bilang kalo aku suka kamu, tapi aku gak minta kamu jadi pacar aku."
"Yaaa berarti anggep aja gue yang minta lu untuk jadi cowo gue." gue menjawab sambil nyengir.
Putra duduk disamping gue, "Kamu bener-bener unik. Aku suka."
Gue cuma nyengir dan menyedot minuman gue. Mengambil rokok dalam tas gue. Tapi Putra mengambil rokok gue.
"Cha, mungkin aku gak bisa larang atau minta kamu berhenti merokok sekarang. Tapi, kalo lagi sama aku, kamu gak usah ngerokok ya." kata Putra.
Gue mengernyitkan dahi, 'Kenapa pacaran malah ribet ya.' gue bergumam dalam hati.
Putra menatap gue dalam, "Please. Cuma pas lagi sama aku aja kok."
Gue menghela napas, "Ya udah iya."
Putra pun memgembalikan rokok gue ke dalam tas gue.
Dia pun tersenyum.
"Oiya, Put. Ini ada flyer pensi. Lu mau gak isi acara? Kan lu vokalist, perform aja sama band lu." gue memberikan selembar flyer ke Putra.
Putra membacanya, "Ya udah, aku ikut. Ini gak malem kok acaranya. Nanti aku bilang ke band aku."
Gue tersenyum, "Good."
"Eh, tapi ada syaratnya." kata Putra sambil tersenyum menatap gue.
"Apaan?"
"Kamu jangan panggil aku kaya sama temen kamu. Aku ini cowo kamu, bukan temen kamu." kata Putra.
'Gimana manggilnya. Emang kalo pacaran jadi aneh ya.' gue berkata dalam hati.
"Iya, aku kamu kan." gue berkata.
Putra mengganguk tersenyum, "Trus, kamu jangan terlalu sering sama temen-temen cowo kamu itu ya. Aku jealous nanti."
Gue mengernyitkan alis mata, "Kalo yang itu, gue, eh, aku gak janji ya. Mereka itu soalnya sahabat aku banget."
"Ya udah iya. Pelan-pelan aja. Aku gak minta kamu langsung berubah kok." kata Putra sambil membelai rambut gue.
"Cha, nanti juga kamu jangan sering bawa motor ya. Aku nanti jemput kamu ke rumah kamu kalo mau kuliah." kata Putra lagi.
"Hah? Rumah aku tuh lumayan jauh loh, Put. Jam berapa kamu jemput dari rumah kamu?" gue bertanya heran.
"Ya aku gak dari rumah lah. Nanti kalo pas aku ada manggung malem, aku kan gak pulang ke rumah, jadi bisa langsung jemput kamu. Lagian aku khawatir kalo kamu sering bawa motor." jawab Putra.
Gue hanya terdiam dan termenung.
'Semoga aja gue gak nyakitin siapa-siapa. Yah, walaupun gue belom suka-suka amat sama si Putra. Mungkin nanti kalo sering jalan jadi suka sama dia.' gue berkata dalam hati. Tanpa gue sadar Putra menenggelamkan kepala gue ke pundaknya, dan mencium kepala gue.
"Kamu pacar aku. Inget itu ya." kata Putra.
Putra
__ADS_1