
Beberapa hari kemudian di kampus.
Gue baru keluar dari ruangan dosen pembimbing skripsi.
Beberapa hari kemaren ketemu Putra ya gitu-gitu doank.
Dia juga masih sibuk katanya, jadi gue belom sempet tanya-tanya.
Gue berjalan ke kantin, pengen banget ngemil sambil ngejus. Yang paling penting sih, pengen banget ngebul. Haha..
Ponsel gue berbunyi notifikasi chat masuk, gue buka, dari Putra.
Putra
Yang, maaf ya hari ini aku gak ke kampus. Tapi besok aku ke rmh kamu ya, besok kan libur.
Chacha
Iya, gpp.
Putra
Jgn mrh ya sayang. Bsk seharian aku sama kamu deh.
Chacha
Ok.
Gue menghela napas dan meminum jus gue. Ferdi tiba-tiba dateng.
"Cha, sendirian?" tanya Ferdi.
"Tadinya. Tapi sekarang ada lu, jadi berdua." gue menjawab.
"Galak amat. Kemana cowo lu? Masih sibuk?"
Gue cuma mengangguk.
"Lu udah tau siapa yang kirim lu black note?" Ferdi nanya lagi.
"Belom. Bodo amat lah. Gue males juga mikirinnya."
"Jadi menurut lu Putra itu gimana?"
"Yaa, biasa aja. Kaya cowo ke cewe nya. Perhatian."
"Lu gak beneran sayang sama dia kan?"
"Hah? Kok lu begitu nanya nya?" gue heran ngedenger Ferdi nanya begitu.
"Yaa, gue nanya aja."
"Gue sayang sama dia. Dikit." jawab gue sambil nyengir.
"Haha.. Mana ada begitu."
"Ya ada lah. Gue."
"Gue jealous." kata Ferdi.
Gue sampe tersedak minum jus, "Apa?! Haha.. Ferdi, Ferdi, lu jealous? Sama Putra? Ya ampuun."
"Gue serius, Cha."
"Ya gue juga serius. Seorang Ferdi jealous? Sama cowo gue? Gak salah lu?"
Ferdi mengehela napas, "Gue suka sama lu."
Gue semakin ketawa ngedenger dia, "Hahaha.. Gue juga suka sama lu, Fer. Udah lah, gue ke kosan Adie dulu." gue menjawab sambil menggelengkan kepala dan pergi ninggalin dia.
"Gue ngomong serius, dia pikir becanda." gumam Ferdi.
*
Kosan Darwin.
Ferdi dateng ke kamar Darwin.
"Eh, mau kemana lu Win?" tanya Ferdi.
"Mau balik, bareng Chacha." jawab Darwin.
Darwin menatap Ferdi yang keliatan gak semangat, "Kenapa lu? Kalah maen billiard?"
"Nggak. Malah lebih buruk." jawab Ferdi.
Darwin duduk di depan Ferdi, "Trus, kenapa tuh muka lu lemes begitu?"
"Gue udah ngomong ke Chacha, Win."
Darwin heran, "Ngomong apaan?"
"Kalo gue suka sama dia."
Darwin terkejut, "Hah? Trus? Dia marah sama lu?"
"Boro-boro marah."
"Lah, kalo dia gak marah, kenapa lu jadi lemes?"
"Dia gak marah, malah ketawa. Dia bilang katanya dia juga suka sama gue sambil nyengir, trus pergi." jawab Ferdi.
Darwin tersenyum, "Dia pasti mikir lu gak serius kan."
"Iya. Padahal gue udah bilang kalo gue serius."
"Berarti, Fer. Dia emang bener-bener anggap lu sahabat nya. Lagian elu, tiba-tiba bilang suka sama dia." kata Darwin.
"Abisnya nungguin lu kelamaan. Lu gak bilang-bilang juga ke dia kalo lu suka sama dia."
"Fer, lu aja di anggep becanda sama dia. Apalagi gue. Mending kalo dia anggep gue becanda, lah kalo dia marah, gimana? Bukannya nambah ribet nanti gue."
Ferdi menggaruk-garuk kepalanya, "Hadeeh. Si Chacha ini hebat juga ya, bisa bikin kita speechless. Bisa bolak balikin perasaan kita."
"Haha.. Berlebihan lu. Gak enak ya rasanya di tolak." ledek Darwin.
"Entar juga lu rasain kalo lu nyatain perasaan lu ke dia, trus dia malah ngetawain lu."
"Gue kayanya gak berani, Fer. Jadi buat sekarang, ya kayanya lebih baik kaya gini. Gue sama dia juga bisa tetep jalan bareng, gak ada rasa nggak enakan."
"Iya sih. Apalagi dia bilang kalo dia mulai sayang sama cowonya, si Putra."
__ADS_1
"Hah? Serius lu Chacha bilang gitu?" Darwin bertanya terkejut.
"Iya, dia bilang sayang katanya sama cowonya, dikit." jawab Ferdi.
Darwin terdiam dan berpikir, 'Kalo Chacha mulai sayang sama Putra, gimana nanti dia kalo dia tau Putra punya cewe selain dia. Apa yang mesti gue lakuin.' gumam Darwin dalam hatinya.
*
Dirumah. Sabtu pagi menjelang siang.
Gue turun dari kamar, gue duduk di depan TV dan ngeliat nyokap gue udah rapi.
"Bun, mau kemana? Bukannya kalo Sabtu bunda gak ada jadwal ke yayasan?"
"Iya, tapi bunda mau ambil riwayat rehab Darwin di yayasan. Kan di minta sama dekan kamu."
"Ooo. Trus kok belum berangkat?" gue bertanya.
"Belum dijemput." jawab nyokap sambil nyengir.
Gue menatap nya heran, "Belum di jemput siapa bun? Bukannya kalo ke sana bunda bawa mobil sendiri?"
Gue mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Nyokap keluar, gue ngikutin dari belakang.
Gue kaget ngeliat siapa yang turun dari mobil, "Pak Dewa?"
Dekan gue tersenyum nyamperin nyokap dan gue. Dia nyapa nyokap gue.
"Hai, Diana. Udah siap?" kata pak dekan.
Nyokap gue mengangguk tersenyum.
"Pak? Ngapain bapak kesini?" Gue bertanya heran.
"Hai Danisha, saya mau nganterin ibu kamu ke yayasan nya."
"Bunda saya biasa juga nyetir sendiri kok pak. Bapak bisa ngikutin aja dari belakang."
Nyokap menyenggol gue dan senyum ke pak dekan karena gak enak.
Pak dekan senyum ke gue, "Yaa, sekalian makan siang sama ibu kamu. Kan saya udah ngerepotin ibu kamu mesti nyari-nyari file Darwin nanti disana."
"Hah?" gue bengong terperanga.
"Udah ya, Cha. Bunda jalan dulu. Kamu kalo mau makan, bu Surti udah nyiapin tuh di meja." kata nyokap sambil nyium kepala gue.
Gue masih bengong aja ngeliat nyokap gue masuk ke dalem mobil pak Dewa.
"Ini mah modus namanya." gue bergumam.
Gue masuk lagi kerumah dan duduk di depan TV.
"Mau makan sekarang, non?" tanya bu Sur ke gue.
"Nanti aja bu. Kenapa sih, bu Sur masih aja manggil saya non? Nama saya kan Chacha bu, bukan Noni atau Nona."
Bu Sur tertawa, "Ya saya kebiasaan non. Kalo kerja dimana gitu, anak majikan saya ya saya panggil non atau den."
"Hadeeeh." gue mengusap-usap muka gue.
Bel pintu rumah berbunyi, "Bu, tolong liatin ya siapa lagi itu yang dateng."
Bu Sur pun mengangguk dan keluar membukakan pintu.
Gue menoleh ke dia, Putra. Dia dateng dan bawa bunga.
"Hei." gue menjawab.
Putra langsung duduk disamping gue dan menghadap ke gue.
"Siapa yang meninggal?" gue bertanya.
"Maksud kamu?" tanya Putra.
"Itu, bawa-bawa bunga."
Putra tersenyum, "Ooo, ini. Ini buat kamu yang. Maaf ya akhir-akhir ini aku sibuk." kata Putra sambil ngasih bunga ke gue.
Gue mengambilnya.
"Itu bukan bunga buat orang meninggal kok yang. Itu kan red rose." kata Putra
"Yaa, sama aja bunga-bunga juga."
Gue sebenernya gak terlalu suka bunga. Coba kalo dia bawainnya yang lain. Tapi gue ngeliat muka dia yang langsung murung.
Gue merangkul pundaknya dan tersenyum, "Makasih ya, bunganya."
Putra menoleh ke gue dan senyum, "Iya. Bagus deh kalo kamu suka. Oiya, bunda kamu mana? Kok sepi?"
"Bunda lagi pergi."
"Ooo. Ya udah yuk, kita juga pergi." ajak Putra.
"Kemana?"
"Kemana aja terserah kamu. Kan aku udah bilang, seharian ini aku akan sama kamu, kecuali entar malem. Soalnya aku ngamen nanti malem."
"Ya udah, bentar ya, aku ganti baju dulu."
"Tumben." ledek Putra.
"Tuh kan, giliran aku bener, kamunya malah ngeledek."
Gue ke kamar dan ganti baju. Sebenernya cuma ganti kaos aja sama jeans.
Gue mengambil tas selempang gue, dan nggak lupa rokok. Haha..
Dimobil Putra.
"Kita makan trus nonton yuk, yang." ajak Putra.
"Ya udah ok."
Gue sama Putra pun tiba disebuah mall. Kita makan terus nonton. Gue sih seneng-seneng aja. Mungkin karena udah lama juga gue gak jalan berdua dia. Putra sih masih sama aja kaya dulu, masih manis banget ke gue. Masih bikin gue kaya cuma milik dia.
Dia merangkul pundak gue di dalem bioskop, dan menarik gue supaya lebih dekat dengan dia.
Gue menggengam tangannya yang dipundak gue. Sebenernya gue nyaman, tapi gak tau kenapa kok gue gak bisa ya sepenuhnya sayang sama dia.
Putra mengecup kepala gue, "Aku kangen sama kamu. Kalo aku gak sibuk, pasti tiap hari kita jalan."
__ADS_1
Gue cuma menoleh ke dia dan senyum. Entah apa yang gue rasain ke dia, apalagi setelah gue dapet black note tentang dia.
Semua yang tertulis di black note itu, berbalik banget sama apa yang Putra perbuat ke gue.
Film bioskop pun selesai. Gue sama Putra keluar dari bioskop. Dia masih merangkul pundak gue sambil berjalan.
"Kamu mau kemana lagi yang?" Putra bertanya.
"Keluar dari mall, lah. Aku gak begitu suka ke mall soalnya."
Putra tersenyum, "Ok. Baguslah kamu gak suka ke mall, jadi kalo pacaran gak banyak ngeluarin duit ya kan." ledek Putra.
"Naaah, tuh tau."
Tiba-tiba seorang cewe berdiri di depan kita. Gue dan Putra menghentikan langkah. Putra tetap merangkul gue. Gue gak kenal sama ini cewe, tapi keliatannya dia marah. Terutama ke Putra.
"Put, kamu kok?!" kata cewe itu sambil melirik ke gue.
Gue gak ngerti, jadi gue masih diem aja.
Putra yang masih merangkul gue pun berbicara, "Ini Danisha, pacar aku." dia ngenalin gue ke cewe itu.
Gue mencoba tersenyum ke cewe itu, tapi dia malah marah.
"Put, jadi selama ini aku ini siapanya kamu? Kamu anggep aku apa?" tanya cewe itu.
Gue melepaskan tangan Putra dari pundak gue. Gue ngerasa ada yang gak beres sama mereka berdua, pasti ada masalah sama mereka.
"Aku gak pernah anggep kamu siapa-siapa. Gak pernah ada apa-apa di antara kita." kata Putra ke cewe itu.
Cewe itu keliatan marah dan sedih, "Tapi kan orang tua kita,"
"Lov, aku gak pernah bilang iya atas perjodohan yang orang tua kita bikin." kata Putra.
Cewe itu seperti mau menangis, "Put, aku akan aduin ini ke mama kamu."
Putra menghela napas, "Terserah kamu aja."
Cewe itu pun marah dan pergi.
Putra memandang gue. Gue juga gak begitu ngerti ada apa sebenernya. Gue langsung pergi. Gue gak tau apa yang gue rasain. Marah, kesel, cemburu. Eh, wait, wait, cemburu? Gue cemburu? Sama cewe itu?
Gue keluar dari mall, Putra mengejar gue.
"Yang, tunggu yang. Aku bisa jelasin semua." Putra menghadang jalan gue.
Gue terhenti dan menatapnya tajam.
"Yang, dengerin aku dulu. Kita ke mobil yuk."
Putra menggandeng gue ke parkiran mobil. Entah kenapa gue mau aja digandeng dia ke mobil.
Putra menyalakan mesin mobilnya supaya ac mobil menyala.
Gue cuma terdiam memandang ke depan.
"Yang, dia itu bukan siapa-siapa." Putra memulai pembicaraan.
Gue teringat black note yang dikirim ke gue, yang bilang kalo Putra bukan cowo baik-baik. Mungkin ini yang dimaksud. Gue pun mengambil black note itu dari tas gue, dan gue kasih ke Putra.
"Nih! Selama kamu gak ada dikampus. Aku dapet black note ini." gue menaruh black note itu di dadanya.
Putra mengambil dan membacanya, dia terkejut, "Ini apa yang? Siapa yang kasi kamu ini?"
"Ya mana aku tau. Kalo tau juga aku gak akan bilang ke kamu. Jadi bener kan sama apa yang tertulis disitu, kalo aku cuma mainan kamu, kamu itu gak bener-bener baik."
Putra melempar kertas-kertas tersebut ke dashboard mobil, dan menghela napas, "Ok, aku akan ceritain ke kamu. Terserah kamu nanti mau percaya aku atau kertas-kertas itu."
Gue cuma diem aja.
"Cewe yang tadi itu, namanya Lovi. Dia anaknya sahabat mama aku. Mama aku sama mamanya dia, udah lama ngejodohin aku sama dia. Aku dari dulu sebenernya gak pernah mau, aku cuma anggep dia temen aja. Tapi, kalo aku sampe bikin Lovi kesel atau sedih, pasti mama aku akan marahin aku. Sekarang kamu ngerti kan, kenapa waktu itu aku belum mau ngajak kamu kerumah aku. Aku juga gak mau kalo kamu kerumah aku, tapi aku ngenalin kamu cuma sebagai temen aku." kata Putra panjang lebar.
Gue menoleh ke dia, "Ya kalo kamu gak mau di jodohin, mestinya bilang aja ke mama kamu."
"Aku udah bilang gak mau, yang. Tapi mama aku itu keras orangnya, makanya aku gak bisa tiba-tiba langsung bilang ke dia kalo aku punya pacar, atau aku gak mau sama Lovi. Aku tau mama aku, makanya pelan-pelan aku akan ngeyakinin mama untuk batalin perjodohan ini."
"Padahal, Lovi itu cantik, Put. Dan dia itu beneran kaya cewe. Kenapa kamu gak mau sama dia?" gue bertanya.
"Ya walaupun dia cantik, tapi akunya gak suka, gimana." jawab Putra.
"Put, kamu sama dia kan udah kenal lama, daripada sama aku. Masa sih sebelum kamu kenal aku, kamu gak suka sama dia."
"Yang, dari sebelum aku kenal kamu, aku emang gak pernah punya rasa sama dia. Trus tiba-tiba ada kamu, aku gak bisa berhenti mikirin kamu. Karena kamu unik, aku udah pernah bilang ke kamu."
Gue bersandar ke jok mobil dan menyamping menatap dia, "Aku gak tau mesti gimana. Selama gak ada kamu, tiba-tiba aja ada yang kirim aku black note itu. Sekarang pas lagi sama kamu, tiba-tiba ada cewe yang ngegepin kamu."
Putra memandang gue dan memegang wajah gue dengan tangannya, membelai lembut pipi gue dengan jarinya, "Yang, aku itu beneran sayang sama kamu. Coba aja kamu pikir, kalo aku cuma mainin kamu, mana mungkin aku sampe rela ngorbanin kuliah aku untuk ngejamin kamu."
Gue pun kembali berpikir, 'Iya juga sih.' gue bergumam dalam hati.
Gue memegang tangan Putra di pipi gue, entah apa yang gue rasain.
"Chacha, sayang. Kamu itu mengalihkan dunia aku." kata Putra sambil menatap gue.
Gue ngerasa wajahnya mendekat ke gue, gue menutup mata.
Dia mencium bibir gue, tangan gue memegang wajahnya, gue membalas ciumannya.
'Aduh! Kenapa gue jadi ngebales ciuman dia. Tapi ciumannya gak selembut Darwin waktu itu. Eh, wait, wait. Kok gue jadi ke inget Darwin.' gue bergumam dalam hati.
Putra terus mencium gue, dan gue sedikit terbuai. Bibirnya mulai turun ke leher gue, dan dia mulai menciumi leher gue.
Gue tersadar, "Put." gue mengangkat lembut kepalanya dengan kedua tangan gue.
"Eh, yang. Maaf yang. Aku keterusan. Maaf ya, aku gak bermaksud,"
"Iya, gak papa. Aku ngerti. Tapi aku paling gak suka sama orang yang gak jujur, jadi kalo ternyata kamu bohongin aku, aku pasti marah banget dan mungkin akan ninggalin kamu." gue menjawab.
Putra tersenyum ke gue, "Kalo aku bohongin kamu, aku gak mungkin ngenalin kamu sebagai pacar aku ke dia. Aku sayang kamu."
Gue tersenyum menatapnya, "Aku juga."
'Whaaat?! Apa gue udah gila ya. Kok bisa-bisanya gue bilang gitu ke dia.' gue bergumam dalam hati.
"Put, kita pulang aja ya."
Putra pun mengangguk, dia mengambil kertas-kertas black note dari dashboard mobil dan membuangnya ke tempat sampah.
Dia mulai menyetir mobil keluar dari parkiran mall. Satu tangannya tetap menggengam tangan gue.
Gue cuma terdiam dan terus memandangi jalan di depan.
__ADS_1
'Chacha. Ternyata gue emang sayang beneran sama lu. Padahal emang bener, awalnya gue cuma main-main sama lu. Tapi, emang lu bener-bener udah mengalihkan dunia gue." Putra berkata dalam hatinya.