
Hi, Aku Jingga!
Nama panjangku, Jingga Nayara.
Usiaku sekarang dua puluh satu tahun. Aku anak sulung dari tiga bersaudara.
Kali ini aku mau nulis tentang kisah hidupku. Ya, suatu kehidupan yang rumit. Namun terdapat saat-saat yang benar-benar membuatku bahagia.
Oh, masa remajaku. Masa yang indah dan bahagia waktu itu, namun sayang!
Hanya sedetik saja kurasakan masa bahagiaku itu. Masa indahku terenggut oleh kekuasaan. Masa bahagiaku hilang oleh hal yang tidak bisa kupahami hingga kini.
Mungkin karena masa kurasakan keindahan maupun kebahagiaan hanya sekejap saja. Jadi hingga kini, kumasih ingin berada di masa-masa remajaku kala itu. Aku masih ingin masa-masa itu hadir kembali dalam hidupku.
Jika anda bertanya apakah masa indahku itu?
Apalagi jika bukan cinta pertama seorang gadis remaja.
Hmm, menggelitik juga pada perasaanku jika keingat saat-saat pertama aku mulai merasakan cinta yang pertama.
Ya. Aku mencintai seorang pria yang tidak pernah terpikir sebelumnya dalam benakku untuk suka maupun mencintainya. Malahan aku pernah benci dengan dia. Sebenci-bencinya!
Aku benci dia, karena kerap menegur dan mencibirku di sekolah.
__ADS_1
Dia bilang gini padaku. Hei, jingga! ini sekolahan. Bukan panggung dangdutan!
Ya, katanya aku seperti biduan dangdutan karena gaya pakaianku kesekolah itu terlalu vulgar. Memang, sih. Waktu SMA dulu, aku suka pakai seragam yang seksi. Baju ketat dan rok yang di atas lutut. Dan itu gaya fashionku sehari-hari. Ya, tentunya aku percaya diri, apalagi guru-guru di sekolahku tidak pernah menegurku.
Secara aku anak sultan waktu itu. siapa yang tidak kenal ayahku. Pejabat pemerintahan dan pengusaha kaya raya.
Orang kaya mah bebas. Ya, kan?
Tapi itu dulu, ya!
Sekarang, ya, aku malu juga dengan cara berpakaianku saat itu.
Aku tidak mengerti kenapa waktu itu. Dia, suka membuat masalah denganku. Padahal sebenarnya dia anak baru. Ya, dia anak pindahan dari sekolah lain.
wuuh, aku benar-benar pengen menghajarnya. Tapi, waktu itu aku berpikir bahwa banyak anak-anak atau teman-temanku yang bakalan tahu jika saat itu aku perpanjang permasalahan tersebut. ya, tentu aku malu jika jadi bahan tertawaan para siswa.
"hei, apa yang kamu lakukan....?" tanyaku histeris.
"Maaf, maaf. Aku kira tidak ada orang di dalam!"
"Maaf, maaf dasar otak porno...! Kamu sengaja, kan?"
"Sumpah, aku tidak bermaksud begitu. Lagian ini toilet pria," ujarnya menunjuk tulisan di atas pintu toilet tersebut.
__ADS_1
oh, benar toilet pria. Aku rupanya lupa kalau toilet itu baru direnovasi pada saat libur semester kemarin.
Walau aku yang salah sebenarnya. Dan aku pun lupa mengunci pintu saat aku di dalam. Tetapi aku tetap ngotot menyalahkan, dia. ya, aku gengsi tentunya.
"hei, apakah kamu melihatnya?" tanyaku dengan malu sebenarnya.
"Lihat apa?" timpalnya bertanya. Yang entah pura-pura tidak paham atau gimana.
"Jangan pura-pura tidak mengerti!" hardikku.
"oh, apakah harus kukatakan?" tanya dia balik.
Dan aku pun tak berkutik. uuhh, sialan ini, anak! Gumamku kesal.
Aku yang malah terdesak. Aku merasa makin malu saat itu. Lalu akupun berlalu dari hadapannya tanpa banyak oceh lagi. Yang hanya kukatakan padanya. Yaitu agar dia tidak memberitahu kejadian itu pada siapapun.
Dari situlah aku sebenci-bencinya dengan, dia.
Seiring berjalannya waktu dengan rasa benci tersebut. Eh, pada akhirnya malah, dia, adalah sosok yang terbaik dalam masa remajaku.
Namanya, Adelio Aksa. Dia sekelas denganku. Tapi tentunya, Dia dan aku tidak begitu akrab. Malahan kami musuhan. Mungkin dia muak denganku. Secara aku memang dahulunya seorang gadis sombong, sok cantik, sok keren.
Ya, aku mengakui, itu! Ditambah dengan masalah di toilet pada waktu itu. Ya, permasalahan
__ADS_1