Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
BAB 7 - hapus


__ADS_3

Oh, Tuhan...! Apa yang harus kulakukan untuk menghindari, jika benar lamaran itu akan terjadi?!


Haduuuuh, kacau...kacau.....! seruku dalam hati.


Ya, seandainya aku tidak berada di dalam kelas. Mungkin aku teriak sekencang-kencangnya.


Huu..! Benar-benar galau kurasakan.


humm, ataukah aku lari saja. Tapi mau lari kemana?!?! kacau benar hidupku. masih karma, kah?! Atau apa, nih?!


Atau kuminta adelio, untuk membawaku pergi?!


Oh, tidak. Tidak mungkin adelio segila itu melakukannya. Ya, aku yang gila berharap demikian!


Begitulah yang terus bergelayut dalam pikirku. Sepanjang, Ibu guruku, menerangkan. Sepanjang itu pula aku meracau. Hanya mataku yang tertuju ke papan tulis. Tapi pikiranku seolah berada di pertengahan suatu hamparan padang pasir saat itu. Kutak tahu kemana arah yang akan kutuju. Dan, terkadang aku tidak menyadari tanganku kutubrukan pada meja, hingga membuat seisi ruangan melihatiku dengan nanar. kecuali Adelio dan Nadia.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Adelio, yang mulai curiga akan sesuatu sedang terjadi padaku.


"Aku tidak apa-apa," ucapku berbisik pula seperti Adelio tadi saat bertanya padaku.


"Tapi, kamu tampak aneh hari ini?" tanyanya lagi dan hampir saja ketahuan Guru.


"Tidak, hanya sedikit ngantuk, kok," ucapku meyakinkan Adelio, bahwa aku baik-baik saja.


Dia tampak masih penasaran dan ingin berucap lagi. Tapi aku segera menunjuk kedepan, tepatnya pada, Guru, yang sedang menulis di papan tulis. dengan maksudku tentunya, agar perhatian Adelio kembali ke papan tulis.


Setelah Adelio, rupanya nadia pun penasaran juga. Dia, melirikku dan tampak memberi kode padaku. Sejenak aku mencoba mengartikan kode matanya, Nadia. Namun, aku tidak paham. Akhirnya dia pun berucap terkesan berbisik. Alih-alih kudengar, eh malah kena teguran oleh, Ibu Guru.


Setelah, kena tegur. Aku mohon ijin pada Ibu Guruku, untuk ke Toilet.


"Kenapa, Jingga?" tanya Ibu guruku menatapku sinis.


"Ijin ke toilet, Bu!"


"Aku juga, Bu!" sahutnya juga, Nadia.

__ADS_1


Dan pandangan matanya, Ibu Guruku, pun beralih ke Nadia.


"Oh, Kamu juga mau ke toilet, Nadia?" tanyanya Ibu guruku pada, Nadia.


Ya, Beliau juga memandangi Nadia, sama sinisnya saat memandangiku.


"Iya, Bu," jawab Nadia.


"Kalian berdua, janjian mau ke toilet?"


Pertanyaan Ibu Guruku tersebut, membuat aku dan Nadia saling lirik.


Dan, belum sempat aku dan nadia, menanggapi. Ibu guruku menghardik, menyuruh kami kembali duduk mengikuti pelajaran. Beliau tampak geram denganku dan Nadia.


"Kalian kira, Ibu tidak memperhatikan kelakuan kalian tadi..? Tetap duduk, jangan keluar!" hardiknya Beliau.


 


..............


 


Bel sekolah berbunyi, tanda waktu pelajaran hari itu selesai.


Sepulang sekolah saat itu. Aku mengajak Nadia, kerumahku. Aku ingin curhat tentang niatnya, Bundaku, untuk menikahkanku.


"Ada apa sih, Jingga? Tumben-tumbennya kamu terlihat sedang galau, gitu!"


"Hidupku kembali rumit sekarang."


"Rumit, gimana?"


"Serumit-rumitnya. Ya. Seseorang akan melamarku, untuk menjadi istrinya."


"Adelio?"

__ADS_1


"Bukan, Nadia!"


"Lalu, siapa?" tanya, Nadia sedikit berseru hingga membuatku kaget.


"Pelan saja, keless," ucapku, lalu aku menghela napas kemudia mengembuskannya dengan sedikit tekanan.


"Maaf..." ucapnya pun, Nadia, sembari tersenyum lirih padaku.


"Dia, adik temannya, Bundaku. Dan dia itu sudah tua, Nad."


"Masa, sih?"


"Ini fotonya!"


Aku pun perlihatkan foto pria itu yang telah di kirim, bundaku, ke ponselku.


"Lah. Sepertinya aku pernah melihatnya."


"Mungkin. Karena tinggalnya di depan sana."


Ya. Memang pria tersebut, tempat tinggalnya sebenarnya, di kawasan perumahan yang sama denganku.


"Eh, bukannya itu, orang yang pernah kamu maki-maki waktu itu?"


"Kapan?" tanyaku seraya mencoba mengingatnya.


Oh, benar. Ya, aku ingat. Sudah lama memang kejadiannya. Waktu itu aku dari mall bareng nadia. Dan kami bertemu pria itu di perempatan jalan masuk kerumahku. Dan aku memang sempat memaki-makinya karena di berupaya menggodaku dan nadia.


"Kamu sudah beritahu, Adelio?"


"Belum. Aku tidak enak rasa memberitahunya."


"Ya. Mungkin hanya baru rencana, Bundamu,"


"Bundaku pasti serius,

__ADS_1


__ADS_2