Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
hapus


__ADS_3

Ya, bully-an yang kerap diterima Bundaku. Tak hanya orang-orang jauh, tapi juga dari teman-temannya, tetangga dan paling menyedihkan yaitu cibiran dari kerabat sendiri. Belum lagi denda serta utang piutang ayahku yang menjadi alasan, Beliau.


Ya, tidak hentinya mereka mencibir keterpurukan keluargaku. Dan aku pun menjadi korbannya.


Jujur saat itu aku benar-benar melawan, aku bersikukuh menolak lamarannya, si doni. Dan pelan saat itu, aku bisa membuat Bundaku pun tidak lagi terlalu berambisi saat itu. Walau ditekan egonya, ditekan bully-an, dan kondisi keuangan untuk hidup sehari-hari sedang menipis. Tetaplah ada sisi nurani seorang, Ibu, yang tidak selayaknya menekan anaknya apalagi secara berlebihan.


Tapi apa daya. Terlanjur, Bundaku, telah memberi jalan pada si doni. Apalagi aku mendengar cerita setelah pernikahanku terjadi. Keluarga si doni sempat malu, karena aku menolaknya. Maka mungkin, itulah yang mengakibatkan mengapa aku tidak menyadari pernikahanku dengan si dia telah terjadi waktu itu.


Humm, kini aku sangat bersyukur pada perubahan, Bundaku.

__ADS_1


Di hadapanku, Beliau mengungkapkan rasa sesalnya akan arah maupun caranya melalui kehidupannya yang lalu-lalu.


"Kesilauan harta yang pernah kita miliki lalu lenyap seketika membuatku kehilangan akal pikiran yang sehat. Ya, tapi Alhamdulillah berkat iseng mengikuti pangajian di bulan ramadan kemarin, maka pelan membuatku berpikir dan menelaah hidup yang bermakna itu seperti apa. Hidup yang terasa nikmat lahir dan batin seperti apa. Huuh...Bunda akui, sewaktu kita punya harta benda.


Harta yang banyak maupun telah cukup tentunya bagi sebagian orang. Tapi, Bunda, terus saja masih terasa kurang dan seolah tidak kunikmati.


Dan kembali Beliau menangis selepas menuturkan pernyataan tentang dirinya.


"Bunda, terima kasih telah menjadi, ibu yang buat anak-anaknya, menjadi teladan kelak bagi keturunan, Bunda," ucapku mengenggam jemari kedua tangan, Bundaku. Aku pun juga ikut menyeka air mata, Bundaku.

__ADS_1


"Iya, Nak. Untuk saat ini aku masih tidak layak dinyatakan sebagai, Ibu teladan. Tapi, Ibu janji dengan nama, Allah Subhana Wataala, akan menjadi lebih baik lagi. Nak, sekali lagi, Bunda, mohon maaf atas hhhh


Berdasarkan pemberitahuan, nadia. Malam itu akupun larut dalam pikiranku. Berpikir untuk yakin membuat keputusan pergi ke Jakarta. Tentu untuk menemui nadia maupun adelio. Karena ternyata, nadia kuliah di Jakarta begitupun adelio. Memang nadia dan adelio tidak satu Universitas.


Hanya sayangnya, nadia kehilangan kontak via telepon dengan adelio. Karena ponsel beserta laptopnya yang menyimpan data adelio, rusak terendam air saat Jakarta dilanda banjir.


Setelah yakin bahwa aku memang harus ke Jakarta. Demi harapanku pada adelio sekaligus berupaya di sana untuk mencari kerja agar kubisa kuliah.


Ya, aku ingin berusaha sendiri untuk bisa mencapai cita-citaku yang pernah ada. Walaupun kata orang, mencari kerja di Jakarta tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, tidak ada salahnya mencoba. Itung-itung mencari suasana baru, mencari pengalaman baru, dan dapat juga bisa berada di Ibukota Negara sebelum pindah.

__ADS_1


__ADS_2