
Di saat itulah adalah awal kurasakan kehidupan yang begitu nyaman. Serasa tidak lagi ada tekanan dalam jiwa maupun perasaanku.
Dan pada saat-saat itu pula. Aku mulai ada perasaan cinta pada, Adelio. Benih-benih cinta dalam rasaku mulai tumbuh bersemi.
Tapi, aku malu mengungkapkannya.
Humm, aneh juga diriku sekarang ini. Padahal dulunya aku seorang yang begitu percaya diri dan terkesan cewe agresif. Ya, ternyata tidak salah bahwa pergaulan bisa merubah perilaku atau pikiran seseorang.
Ya, Allah! Aku mencintai, dia. Biarkanlah dia menjadi bagian hidupku. aku yakin dia yang terbaik buatku dan mungkin bisa menuntunku di jalanmu, Ya Allah!
Namun tidak kusangka. Di beberapa hari kemudian. Harapanku terwujudlah sudah. Hasrat hati ingin menjalin cinta denganya rupanya bersambut jua.
Akhir pekan yang cerah-ceria. Adelio, mengajakku jalan. Aku berdua dengannya menikmati suasana senja di pantai yang indah. Benar-benar bahagia kurasakan saat itu. Sekaligus berasa hatiku berdebar-debar.
Ya, campur aduk.
Tapi, sumpah. Aku baru rasakan seperti ini. Tidak seperti yang kurasakan saat dulu aku jalan dengan cowo. Saat ini, real, kurasakan suatu rasa nyaman, indah dan melegakan.
Di pantai itu. Aku dan dia bercerita segala sesuatunya, hingga mengungkapkan isi hati masing-masing.
"Sungguh menawan jingga di langit senja, itu. Semburat warnanya turut menghiasi rasaku saat ini, Jingga!"
"Rasa apakah itu, Kak?"
"Emm...maaf! sudikah dirimu mengetahui apa yang kurasakan?"
__ADS_1
"Tentu, Kak. Katakanlah! Aku penasaran."
"Aku mencintaimu!"
"Mencintaiku?"
"Ya. Aku ingin menjadi kekasihmu!"
Oh, tidak mimpikah diriku ini, dia, menyatakan cintanya padaku?! Ya, walau kuharapkan memang. Tapi aku pura-pura seolah tertegun.
Lalu akupun menimpalinya dengan candaan. Kukakatakan tentunya pada, Adelio. Bahwa aku tahu dia sedang bercanda. Namun ternyata asli, dia, memang serius.
Diapun mengungkapkan bahwa telah lama dia suka denganku. Ya, sebelum aku akrab dengannya.
Tentu aku heran. Kok bisa?!
"Kamu serius, Kak?" tanyaku agak kikuk.
Ya, sudah beberapa hari aku menyebutnya, dia, Kakak. Karena bagiku, dia sangat pantas kusebut, Kakak. Tentunya pada waktu aku mulai memahami sebagaimana hal yang hakiki. Dan Kak Adelio lah, yang membuat pikiranku terbuka. Lagi pula usiaku lebih muda setahun darinya. Memang aku dan dia satu kelas. Tetapi, usia kami beda saat pertama masuk sekolah dasar.
"Tentulah aku serius, Jingga. Ya, itu pun kalau sekiranya tidak menganggapku lancang."
"Kok, lancang?"
"Ya, secara aku nih manusia kebanyakan. Bukan golongan pria terkeren dan terkaya. Tapi mengungkapkan perasaannya pada gadis yang parasnya sungguh menawan."
__ADS_1
"Wuihhh....tuh ngangkat aku, ato mencibirku?"
"Tidak dua-duanya."
"Kak, bukannya semua orang tau. Sekarang ini, aku gimana?"
"Kamu lebih baik dari yang dulu. Dan malah kamu sekarang ini, tampak lebih istimewa."
"Akh, kakak. Bisa saja deeh...! Humm, btw kok bisa kakak suka denganku?"
"Cinta, Jingga."
"Ya, itu maksudku! Apa yang membuat, Kakak. Punya rasa cinta, padaku?"
"Kamu cantik."
"Hanya itu?"
"Humm, gimana, ya. Kurasa akan sulit kamu menafsirkan alasanku untuk saat ini. Dan memang sulit juga untuk kurangkum penelaahan terciptanya rasaku, padaku.
"Ya, baiklah. mungkin terlalu dalam untuk bisa kupahami dalam secara gamblang saat ini,"
"Jingga, rasaku ini tecipta dari lubuk hatiku yang paling dalam."
"Tapi biasanya ada sebab ada akibat, ada kehendak pasti ada alasannya. Begitupun sebaliknya. jadi, adakah salah satu alasan, Kakak, yang secara umum, bisa kutahu?"
__ADS_1
"Ya...ya, cukup