
Suara sirene kapal memecah riuhnya pelabuhan tanjung priuk. kapal pelni yang kutumpangi dari kota Makassar pelan merapat pada bibir dermaga.
Huuf, Akhirnya sampai. Awal tuk menyongsong babak baru kehidupanku.
Ya, Allah, semoga pada babak baru kehidupanku kali ini, akan sesuai harapanku!
Ya, Allah, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, aku berserah atas Kuasa-Mu dalam menyertai langkahku, Amin Ya Raab!
.............
Ohya, hampir kelupaan mengenalkan tempat tinggalku yang sebenarnya. Ya, tempat kelahiranku berada di wilayah Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Pinrang, yang mana juga adalah daerah perbatasan Sulawesi selatan dengan daerah Provinsi Sulawesi barat. Tentunya daerahku di kenal dengan salah satu daerah lumbung padi di Indonesia Timur.
.................
__ADS_1
Hingga beberapa saat kemudian, badan sisi kanan kapal telah benar-benar merapat pada dermaga. Para petugas kapal pun menurunkan tangga dan serta merta para penumpang pun mulai berdesakan turun dari kapal tersebut.
Begitupun denganku, rasanya aku ingin segera keluar dari pelabuhan itu dengan cepat. Terbebas dari desak-desakan para penumpang yang lain serta para buruh pelabuhan yang saling berebutan mencari target barang untuk diangkutnya.
Dan pada akhirnya, akupun bisa bernapas lega. Aku sudah berada di luar area pelabuhan.
Humm, rupanya beginilah perjuangan para penumpang kapal laut. Tidak seperti menggunakan pesawat. Tetapi, kapal juga sebenarnya ada seninya. Beberapa hari mengarungi hamparan lautan, berpesiar dari dermaga ke dermaga lainnya. Penuh kebersamaan di dalam kapal antar penumpang. Dan hatiku serasa nyaman selama pelayaran. Apalagi saat diembus tiupan angin dan diiringi suara benturan gelombang. Sangat syahdu terasa.
.............
"Dek, ada air mineral?"
"Ada dong, yang besar apa yang sedang?"
"Yang sedang saja," ucapku lalu merogoh saku celana jeansku. Namun, aku tiba-tiba merasa cemas. Akupun kemudian berjongkok membuka tas ranselku.
"Oh, tidak. Dompet dan hpku, hilang...!" seruku.
__ADS_1
Ya, tidak kusadari saat itu, aku berseru cukup keras di antara orang-orang yang lalu-lalang di jalan tersebut. Mungkin bocah penjual keliling itupun kaget juga kubuat.
Aku memeriksa isi tasku. Namun tidak ada juga di antara pakaianku. Dompet dan hp-ku benar-benar raib.
"Kenapa, Kak? Kakak kecopetan, ya?" tanya Bocah itu.
"Sepertinya."
Beruntung, di saku celana lainnya yang ada di dalam tasku, masih terdapat tiga lembar uang lima puluhan.
Akh, sedikit lega hatiku.
Setelah membayar air meneral tersebut, si bocah laki-laki itu pun meninggalkanku. Saat itu aku masih duduk terpaku di halte bis. Seluruh sendi-sendiku kurasakan seolah kaku. Aku sangat bingung saat itu. Uang yang aku pegang sekarang. Hanya seratus ribu lebih.
Setelah hatiku serasa tenang, lalu akupun melangkahkan kakiku menyusuri trotoar. Namun entah kemana tujuanku untuk saat itu.
Aku tidak punya tujuan tertentu lagi. Alamatnya, nadia dan seorang kerabatku yang rencananya, aku akan menumpang sementara di tempatnya, jika aku belum menemukan alamatnya, nadia. Telah hilang bersama dompetku. Menelpon pun tidak bisa lagi.
Sebelum berangkat. Nadia memang memberitahuku kalau dia tidak bisa menjemputku, karena hari bersandarnya kapal yang kutampangi bertepatan dengan jadwal ujiannya.
Haduuh....! Baru sampai, udah dapat cobaan! Gerutuku pun sepanjang langkahku mencari kantor Bank yang ada di daerah itu.
__ADS_1
Setelah ki i i i