Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
hapus


__ADS_3

vy u u u i i i i i i i i i i ibh i i j i i i i i u iu i i ivi i i j u u i i j i i i i h i ivi u iv u u j i i h i j berpapasan beberapa orang di sekitar tempat tinggalnya, Fadil.


Mereka bertanya pada, Fadil, akan hendak kemana. Dan di saat Fadil menyampaikan tujuannya. Mereka pun cuek saja. Seolah itu hal biasa.


Mungkin seperti itulah, salah satu artian kota metropolitan keras. Ataukah, memang dasar pendidikan mereka tidak mengajarkan hal tentang rasa peduli?! Akh, entahlah...mungkin aku harus mempelajari lebit lanjut. Moga di petualangan pertamaku ini, dapat pengalaman lebih.


"Jadi menurutmu, rudi yang nyulik, Fania?"


"Iya, Bang. Aku curiga, si rudi dan teman-temannya yang nyulik, Kakakku."


"Benar-benar biadab tuh orang, tidak berprikemanusiaan....!" gerutu Raihan yang tampak begitu geram.


Setelah itu, Raihan bertanya tentang apa yang akan dilakukan oleh, Fadil. Dan Fadil pun menyatakan bahwa dia akan ke markasnya, si rudi.


"Baiklah, ayo kita ke sana!" ujarnya, Raihan.


Kulihat Raihan, kok, tampak biasa saja. tidak kaget atau merasa sinis dengan keinginan si Fadil. Berbeda denganku tadinya.

__ADS_1


Walau aku penasaran kenapa Raihan biasa saja dengan kenekatan yang akan dilakukan, Fadil. Aku lebih penasaran dengan dua temannya, Raihan. Aku akan bertanya pada dua pemuda urakan itu, aku pengen mengetes nyalinya. Jadi rasa penasaranku pada Raihan kupending dulu.


"Hei, Kalian berdua mau bantu, Fadil, untuk ngebebasin, Kakaknya?" tanyaku.


"O. Sorry! Kami tidak mau membuat masalah dengan, mereka," ujarnya pemuda gonrong acak-acakan itu.


"Iya, benar. Lagian bukan urusan, gue," sambung temannya. Dan, lu, juga mau ikut, si Fadil?" lanjut bertanya padaku.


"Iya," jawabku singkat.


"Yoi, Bro."


"Ahk, dasar kalian, tampang nyeramin , bertatto gitu juga. Eh, tidak punya nyali. Cemen...!" ujarku memanas-manasi dua pemuda itu.


Dan, terlihat keduanya pun berang, kubuat.


"Apa, lu, bilang?" Si gonrong acak-acakan murka padaku.

__ADS_1


"Sudah!" sahut Raihan menengahi temannya. Lalu mengajak, Fadil dan aku pergi dari hadapan dua pemuda, itu". Ayo Fadil. Mbak!"


"Iya, Bang."


Kami bertiga pun menuju ke tujuan semula. Yaitu markas penculik kakaknya Fadil.


"Ohya, Bang. ini Kak Jingga, teman baruku!" ujarnya Fadil memperkenalkanku pada Raihan.


"Ya, salam kenal, Mbak!"


Di jalan aku mulai mengajak Raihan ngobrol. Termasuk menanyakan tentang penasaranku, tadi. Yang harusnya dia menahan Fadil dan lalu memintanya melaporkan saja ke pihak yang berwajib.


Dan katanya Raihan yang menjawab rasa penasaran konyolku. Bahwa dia telah lama kenal dengan, Fadil, jadi dia telah tahu tentang karakternya, Fadil.


Dia tahu bahwa Fadil memang bocah pemberani dan pemikirannya selayak orang dewasa. Dan dia pun tidak bisa berupaya menghalangi kenekatannya, karena Fadil anaknya keras kepala dan suka nekat memang orangnya.


Tentang mengapa tidak melaporkan ke pihak berwajib masalah penculikan itu. Jawaban Raihan sama dengan yang dinyatakan oleh Fadil. Dan katanya sebagai anak-anak gelandangan, anak-anak pinggiran, terkadang malah lebih takut kalau melapor. Karena para preman tersebut akan lebih semena-mena

__ADS_1


__ADS_2