
Sebelum aku mengetahui kejelasan tentang sakit apa yang kuderita. Aku sangat penasaran ingin mengetahuinya. Namun kini, aku malah tidak bisa menerima jawaban rasa penasaranku.
Napasku kian kurasa sesak. Ulu hatiku serasa perih membayangkan esok atau lusa, riwayatku bakal selesai.
Dan yang paling membuat hatiku perih, saat suatu asumsi ikut terbersit dalam pikiranku. Yaitu, aku akan mati sebelum harapanku terwujud. Atau mati sebelum sempat bertemu, adelio.
Oh, apakah harapan tak sampai ini, benar-benar akan kubawa mati?!
Ya Allah...! Tidakkah engkau beri kesembuhan lagi buatku? Ya Allah...! Aku masih ingin hidup, lebih lama lagi.
Dalam ketermanguanku kuterus berbicara dalam hati. Dan tentu pula, berjibaku menahan tekanan dari segala rasa yang menyelimuti batinku.
"Kak jingga. Kakak tabah, ya! Apa yang terjadi pada, Kakak. Hanyalah ujian dari, Allah."
Perkataan, Qanita, tersebut. Sedikit membuyarkan batinku yang telah kian larut dalam pusaran keputusasaanku untuk bisa terus meniti kehidupan ini lebih lama lagi.
Ya, setelah beberapa menit aku termangu. Akupun bertanya lagi pada, Ibu Dokter sari.
__ADS_1
"Jadi aku terkena kanker otak, Bu Dokter?!"
"Ya, Dek."
"Apakah, aku masih berpeluang besar untuk sembuh?"
"InsyaAllah."
"Seberapa parah, Dok?" kembali aku bertanya.
"Ya, dari pemeriksaan kami yang seakurat mungkin dari pemindaian organ otakmu. Kami menemukan sel kanker yang bersarang di otakmu. Tapi, Syukur Alhamdulillah. Dari pemindaian pertama, semenjak kamu masuk kerumah sakit ini. Hingga pemindaian kemarin. Tidak terjadi peningkatan yang signifikan ketahap yang kebih berisiko buruk."
"Begini, Dek. Dari hasil observasi pada kinerja sel kanker di otakmu. Sel kanker tersebut tidak begitu kuat dalam peningkatannya. Ya, kemungkinan selain kekebalan tubuhmu cukup stabil, juga dipengaruhi oleh faktor, Tuhan. Makanya selama ini, kami hanya jadwalkan waktu cek up saja. Selain mengecek, kami pun melakukan pengobatan maupun terapi yang masih standar dan belum melakukan tindakan operasi hingga tindakan medis lainnya, seperti radioterapi maupun kemoterapi. Tapi kami tetap mewanti-wanti bilamana harus segera melakukan tindakan yang lebih agar jaringan sel kanker tersebut tidak melakukan peningkatan ke tingkat lebih ganas dari yang sekarang. Jadi, demi menjaga terjadinya hal yang lebih buruk dan tentunya sebelum terlambat. Saya, mohon kesediaanmu, Dek, untuk menjalani operasi! InsyaAllah, saya akan terus berupaya melakukan yang terbaik untuk kesembuhan, Dek."
"Maaf, Bu Dokter! Apa memang harus, aku di operasi?
"Harus, Dek."
__ADS_1
"Dok, apa biaya operasi mahal?"
"Kak jingga, kumohon jangan pikirkan masalah biaya, ya!"
"Dek jingga. Qanita, telah banyak menceritakan tentangmu, padaku. Ya, orang sebaik kamu, Dek, tentu juga akan mendapat imbalan kebaikan pula. Jadi, saya pun memberitahumu seperti apa yang dikatakan, Qanita, bahwa kamu tidak harus memikirkan masalah biaya. Karena saya pribadi, juga akan membantumu, Dek."
"Oh, Terima kasih banyak, Bu Dokter!"
"Ya, Dek. Jadi komohon padamu, Dek, untuk tidak membebani batinmu dengan pikiran-pikiran yang macam-macam, ya! Buang kecemasanmu, ketakutanmu, pesimismu, apalagi rasa putus asa. Tetap semangat dan selalu yakin bisa sembuh, ya, Dek!"
"Baik, Bu Dokter. Sekali lagi, aku berterima kasih banyak."
"Ya, sama-sama. Jadi apakah kamu siap menjalani operasi?"
"Ya, aku siap."
"Baiklah. Kami akan jadwalkan operasimu, pada lima hari kedepan."
__ADS_1
................
Hari ini, aku berupaya melakukan apa yang di