
Keesokan harinya dan di saat aku baru saja bangun tidur. Qanita menemuiku, lalu menyampaikan kalau Adelio sedang menungguku di ruang tamu.
Awalnya aku tidak peduli dan enggan menemuinya. Akupun tidak beringsut dari dudukku di tepi tempat tidurku, malah aku ingin kembali berbaring. Namun, Qanita masih menungguiku sembari mencoba membujukku untuk segera menemui, Adelio.
"Kak, dia nungguin di bawah!" tekannya Qanita melotot padaku.
"Beritahu dia saja, aku masih tidur karena lagi tidak enak badan," pintaku pada Qanita.
"Tidak boleh, Kak. Itu namanya nyumpahin diri sendiri."
"Kalau begitu, beritahu saja kalau aku lagi tidak ingin bertemu dia sekarang, dan ketemunya Kapan-kapan saja."
"Temui saja dulu bentar, Kak! Dia katanya mau bicara penting. Ayolah, Kak!"
"Malas, ahk. Buat apa lagi bicara."
"Siapa tahu dia mau perbaiki lagi kelanjutan hubunganmu. Ayolah, Kak! Jangan seperti ABG labil gitu, ah!"
"Ya deh, Aku mandi dulu!"
Pada akhirnya akupun memenuhi permintaan Qanita untuk menemui Adelio.
Humm, apa benar dia datang untuk memperbaiki hubungan antara aku dan dia, ya?! Tanyaku pada diriku sendiri.
Humm, Semoga saja. Gumamku sembari melangkahkan kakiku menuju kamar mandi.
__ADS_1
Apa yang dikatakan oleh Qanita tadi, bahwa kedatangan Adelio mungkin saja ingin memperbaiki kelanjutan hubunganku dengan dia, membuatku sedikit merasa senang. Dan hatiku yang tadinya membatu, telah meleleh dan siap untuk menemuinya. Perasaan kesal dan kecewaku dengan dia pun sedikit melunak.
Selesai mandi akupun segera menemui Adelio di ruang tamu.
"Ada apa, Kak?" tanyaku langsung setelah berada di hadapannya.
Namun, Adelio belum menjawab pertanyaanku. Dia hanya balik menyapaku kemudian menundukkan wajahnya.
Sembari menunggu dia membuka suara. Akupun duduk di sebelahnya, tapi aku memiilih duduk pada ujung sofa.
"Ada apa, Kak?" tanyaku lagi.
Tetapi Adelio tetap diam dan hanya menatapku.
Karena dia diam saja, dan aku begitu penasaran. Maka akupun memintanya untuk segera menyampaikan, apa yang dia hendak sampaikan padaku.
"Benar, Jingga. Sangat penting."
"Tentang apa?" tanyaku begitu penasaran.
Kutunggu dia bicara segera, namun kembali dia membisu. Tampak pun Adelio seperti berat berbicara. Dia gugup dan beberapa kali dia menghela napasnya. Oh, helaan napasnya serta membisunya itu, membuatku risau saja.
Oh, entah apa yang merasuki perasaanku. Ya, gejolak perasaan kesalku maupun perasaan sedikit benci dia, sudah benar-benar meredup. Yang ada hanyalah rasa harap dia bakal menyampaikan padaku kalau dia ingin kembali melanjutkan hubungan cinta yang tertunda antara aku dan dia.
Namun saat Adelio mulai membuka suara dan kalimat yang pertama dia ucapkan membuatku merasa berkecil hati tentang pengharapanku.
__ADS_1
Ya, apa yang dia nyatakan adalah pernyataan maaf lagi darinya. Sepertinya aku mulai tidak suka dengan kata maaf.
"Apa sebenarnya maksud maafmu?" tanyaku agak sinis.
"Ya, aku meminta maaf karena telah mengecewakanmu."
"Hanya itu?"
"Tidak. Aku ingin memperlihatkan alasanku kenapa aku tidak bisa menjadi Adelio seperti dulu, seperti yang kamu harapkan."
"Memperlihatkanku?"
"Iya."
"Maksudmu mepertemukan aku dengan wanita yang kamu cintai untuk melukai hatiku secara lebih lagi? Begitu?"
"Bukan begitu. Malah dengan bertemu dengannya, mungkin saja kamu bisa memahaminya dan kamu tidak membenciku."
"Karena wanita itu adalah, Nadia? Dan dia sahabatku. Begitukan?"
"Apa kamu sudah bertemu dengannya?"
"Dia menelponku tadi malam."
"Lantas apa yang dia sampaikan padamu?"
__ADS_1
"Sama dengan apa yang hanya bisa kamu katakan padaku. Maaf dan maaf. Kalian tidak memahami kepedihanku. Karena pernyataanmu dahulu membuatku menjadi bodoh. Berjalan tanpa arah, mengharap suatu hal yang