Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
hapus


__ADS_3

Di saat aku lagi merenungi pernyataannya Nadia, tentang pacarku. Eh, tiba-tiba dia sudah ada dihadapanku. Panjang umur juga, orang ini.


"Hey..! Ngapain di situ mulu? Kesungai, yuuk!" ajak pacarku, si Derry.


Dia bareng temannya datang menghampiriku.


"Malas," ucapku datar.


"Ayolah, Sayang...! Asyik, loh, mandi-mandi di sungai," rajuknya, Derry.


Karena, Derry, terus merajuk. Aku pun mengiyakan.


"Kamu ikut, Nadia?"


"Kamu duluan, entar aku nyusul!" ucap Nadia.


kulangkahkan pun kakiku mengikuti, Derry. Aku sangat malas sebenarnya ke sungai. Karena aku tahu, saat itu. Ada si adelio juga di sungai.


"Tungguin, Derry!"


"Cepetan, napa!"


Aku, Derry dan Barry sudah berada di pinggir sungai. Namun, pada saat kami masih berjalan di pinggir sungai tersebut untuk menghampiri teman-teman kami. Aku melihat ular tepat di depan barry dan derry. Dari belakang aku berteriak.


"Awas, Barry...!!"


"Apa?" tanya barry yang sontak menghentikan langkahnya.


"Di depanmu ada ular!"


"Oh, sial.......!" Pekik Barry, sembari melompat kebelakang.

__ADS_1


Sedangkan, Derry. Dia pun tidak kalah takutnya dari, Barry. Dia lari terbirit-birit kearahku seraya berteriak histeris. Dan badannya menyenggolku. Apalagi...! Ya, tubuhku terjun bebas ke dalam sungai.


Arus sungai tersebut cukup deras. Sementara aku tidak bisa berenang. Arus sungai pun membawaku menjauh dari tempat jatuhku tadi.


Ya, aku histeris dan terus mengepak-ngepakkan kedua tanganku untuk berupaya tidak tenggelam. Sekilas kulihat, Derry, hanya berteriak meminta, Barry dan teman yang lain untuk menolongku.


 


.............


 


Beberapa saat kemudian


"Oh, Alhamdulillah! kamu sudah siuman, Jingga."


"Aku masih hidup, Nadia?"


"Oh, Jingga. Bersyukurlah karena kita ada di surga!"


"Yeee...bagaimana kamu bisa di surga kalau dosamu banyak."


"Lagian aku belum mau mati, Nadia."


"Bangunlah, kalau begitu!"


"Oh, iya...! Aku belum mati!" ujarku girang.


"Ni, teh hangat. Diminum dulu!"


"Thanks, Nad! Btw, yang nyelamatin aku. siapa?"

__ADS_1


"Yang kamu benci."


"Siapa?"


"Siapa orang-orang di sini yang kamu benci?"


"Umm, adelio," ujarku menatap, Nadia.


"Ya. Dia yang nyebur ke sungai untuk nyelamatin, kamu!"


Selepas Nadia memberitahuku. Akupun sejenak tertegun.


Humm. Kenapa dia yang menolongku!?! Pikirku dan bertanya-tanya dalam hatiku. Ya, aku heran tentunya.


 


.................


 


Keesokan harinya lagi. Kembali aku ketibang sial. Oh, aku tidak mengerti kenapa dengan diriku. Dua hari berturut kena sial.


Ya. Aku dan teman-teman hendak menelusuri hutan. Dan kami harus melewati jembatan gantung. Cukup panjang jembatannya. Mungkin ada dua puluh meteran lebih. Karena kejadian jatuh ke sungai kemarin. Tentu masih membuatku trauma. Saking parnonya kembali jatuh kesungai, sehingga aku panik saat berada di tengah jembatan tersebut. Dan kedua kakiku pun saling keserimpet.


Huuhh, hampir nyungsep dan jantungku hampir copot. Aku memang tidak sampai jatuh. Tapi ternyata, tas kecil yang aku pegang terlempar ke bawah sungai. Kembali aku histeris, aku berseru-seru meminta teman-teman untuk menolongku, mengambil kembali tasku itu.


Memang ada sejumlah uang dan handphone yang cukup mahal harganya di dalam. Tapi bukan itu yang membuatku shock. Yang membuatku shock karena ada kalung bermatakan berlian di dalam tasku juga.


Dan, bukan juga harga kalung tersebut kupermasalahkan. Tetapi kalung itu adalah kado ulang tahunku dari nenek aku. Tentu, sangat special bagiku kalung pemberian nenekku itu.


Namun, apa boleh buat. Aku harus ikhlasin hilangnya kalung dari nenekku itu. Teman-temanku tidak ada yang berani turun kesungai. Karena memang arus sungai lebih deras dari kemarin. Mungkin hujan tadi malam yang membuat arus sungai kian deras saat itu.

__ADS_1


Kalau dengan derry. Ya, udahlah...! Tentunya, dia acuh saja. Dia tidak ada usaha membantuku. Benar-benar tidak ada pedulinya, tuh, orang. Ya, walau sedikit pun. Padahal dia pacarku.


Dan, akupun tidak jadi pergi dengan teman-temanku. Dengan ditemani sahabatku, Nadia. kami kembali ke tenda. Sesampai di tenda, aku hanya bisa duduk termenung. Tubuhku berasa lemah. Kalung kesayangku


__ADS_2