Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
BAB 3 - hapus


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. Suatu hal tak terduga olehku yang menimpaku. Menimpa keluargaku.


Awal pekan yang tak seperti biasanya. Ya. Hari senin pagi yang cerah, namun tak secerah hatiku melangkahkan kakiku menuju ruang kelasku.


Mudah-mudahan belum ada anak-anak yang tahu berita tentang keluargaku. Gumamku dalam hati yang penuh kecemasan.


Dan hari itu aku merasa bagai terasing di dalam lingkungan sekolahku. Memang belum ada anak-anak di kelasku atau anak-anak lainnya yang mengungkap berita tentang, ayahku.


Tetapi tampak beberapa dari mereka melirik maupun memandangku dengan nanar dan sinis. Yang menyapaku saat itu hanya teman-teman yang akrab padaku. Salah satu dari mereka tentunya adalah, derry, pacarku. Tapi itupun hanya menyapa sekedarnya saja.


Ya, mereka menyapaku tidak seperti biasanya.


Hmm. Rasanya, aku ingin mata pelajaran di kelasku hari ini cepat selesai. Dan aku bisa cepat pulang.


"Jingga. Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa," jawabku pada, Nadia, yang datang menghampiriku, saat guru kami sedang keluar kelas.

__ADS_1


"Tapi, kok. Aku perhatikan sedari tadi, kamu tampak lesu. Dan juga wajahmu tampak pucat," tanyanya, nadia, lagi.


Dan akupun menjawab dengan jawaban yang masih sama dan bersamaan pula bel sekolah berbunyi, tanda pelajaran selesai. Lalu aku merapikan bukuku. Sementara, Nadia, masih berdiri dihadapanku tampak selidik memperhatikanku.


Setelah merapikan buku serta berucap pamit singkat pada, Nadia. Akupun bergegas keluar dari kelas. Dan langsung pulang ke rumahku tanpa lagi nongkrong sebentar di kafe langgananku bareng teman-teman, seperti biasanya yang kulakukan selepas mata pelajaran di kelas selesai.


Selesai makan siang, akupun mengurung diri di kamar.


Huuuu.... Hari ini adalah hari yang sulit kurasakan dan kupastikan akan seperti lagi pada hari-hariku berikutnya. Kehidupanku kini berbanding terbalik.Suatu keterpurukan tentunya. Ayahku menjadi tersangka tindak penyelewengan uang negara.


Beberapa hari kemudian. Kasus ayahku yang tersangka menjadi terdakwa. Kemudian ayahku pun berstatus terpidana. Dan harus mendekam dibalik jeruji besi.


Ya, sepi tentunya. Hingga beberapa cabang resto keluargaku tutup.


Oh, kawan. Benar ternyata bahwa harta benda itu tidaklah abadi. Dan kehidupan manusia itu selayak roda berputar. Dulu aku bisa mendapat segala sesuatunya. Namun kini, tak mampu lagi aku dapatkan. Dulu aku gadis populer di sekolahku. Tapi karena aku sudah tidak punya apa-apa. Aku bukan anak dari keluarga kaya raya lagi. Mereka semua pun menjauhiku.


Dan, paling menyedihkan saat aku sakit. Lalu aku harus dirawat di Rumah sakit selama beberapa hari.

__ADS_1


"Halo, Derry!"


"Ya, Jingga. Ada apa menelponku?"


"Apa kamu sedang sibuk?"


"Kenapa, emang?"


"Aku sakit dan sedang dirawat di rumah sakit. Apakah kamu berkenan, menemaniku sebentar?"


"Oh, gimana, ya?"


"Aku sendirian, Derry!"


"Aku ada urusan sebentar lagi. Maaf ya! Besok-besok saja, ya, aku menjengukmu!"


Selepas, derry, berkata demikian. Akupun tidak berkomentar lagi. Langsung kututup telponku. Nyesek terasa dadaku. Aku sangat kesal. Tetapi apa boleh buat. Beginilah aku sekarang ini di mata mereka. Aku tak ubahnya, habis manis sepah dibuang.

__ADS_1


Yang dulu berlomba mendapatkan perhatianku, yang dulu antusias menjadi temanku. Tidak ada satu pun yang datang menjengukku. Adapun teman yang datang. Tapi, tampak hanya sekedar iseng saja. Malah seolah datang mencibirku


__ADS_2