Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
hapus


__ADS_3

Setelah aku ngobrol sebentar dengan, Fania. Aku pun lanjut jalan lagi untuk nyari Fadil dan Fais. Menurut Fania, Fadil kemungkinan berada di tempat yang dulu aku ketemu dia pertama kalinya.


Sembari jalan menuju ke sana, aku pun menyempatkan menyinggahi beberapa butik maupun minimarket, untuk menanyakan sekiranya ada lowongan kerja. Tetap masih belum ada nasib baik mendapatkan pekerjaan.


Matahari mulai terik. Akupun potong kompas melewati gang sempit.


Setelah melewati gang tersebut, kini aku berada di jalan pinggiran suatu kawasan pasar.


"hey, kalian..! Tunggu dulu..!"


Aku meneriaki dua anak laki-laki yang berlari seperti sedang dikejar dari arah dalam pasar.


Kedua anak tersebut pun mengubah arah larinya ke arahku dan menghampiriku sembari berseru meminta tolong padaku. Dua anak laki-laki itu, mungkin seumuran dengan, fais. Ya, usianya kira-kira sembilan tahun.


"Ada apa?" tanyaku pada kedua anak tersebut yang sudah berada dihadapanku dengan ngos-ngosan.


Sebenarnya tadi, aku meneriaki dua anak itu, karena ingin menanyakan apakah dia melihat, Fadil.


"Dikejar preman, Mbak!" ujar salah satu anak laki-laki itu.


"Kenapa mengejarmu?" tanyaku lagi.


"Mereka marah sama kami, karena tidak menyetor dan mereka paksa kami untuk mencopet," ujarnya lagi anak itu tampak begitu gusar.

__ADS_1


Dan, pada saat aku hendak mengajaknya untuk pergi secepatnya dari situ. Eh, preman yang mengejar kedua anak tersebut sudah berada dihadapan kami.


"Haa, mau lari ke mana, Bocah...!" hardik salah satu preman tersebut.


Agak bergidik juga aku, memperhatikan tiga preman dihadapanku. Wuuh, udah gonrong, wajah sangar, tattoan lagi.


"Bang, ngapain ngejar dua Anak ini?" tanyaku pelan pada mereka.


Bukannya menjawab, mereka malah memandangiku seraya cengengesan.


"Waah, ada yang bening, nich, Kawan!"


Humm, rasanya bakal ada masalah lagi nih. Gumamku dalam hati saat salasatu dari mereka, mulai menggodaku. Mata mereka jelalatan memandangiku.


"Ini dulu, Kawan. Sayang jika dilewatkan," ujar preman berambut gonrong yang berada tepat dihadapanku.


Mungkin sebaiknya kusuruh dua anak itu cepat pergi dari sini. Gumamku lagi dalam hati.


Ya, akupun menyuruh dua anak itu lari. Mumpung mereka lebih fokus terhadapku.


Akan tetapi, mereka sigap juga, mencoba menahan lari dua anak itu.


"Tunggu...!" hardikku seraya mencoba menghalangi mereka, yang hendak meringkus dua bocah lelaki itu.

__ADS_1


"Minggir....!"


Hampir-hampir saja aku terpelanting kedalam got, karena dorongan preman itu. Untungnya keseimbangan tubuhku lagi tepat. Sehingga aku tidak jadi nyungsep dalam got.


Kembali aku berupaya membantu anak tersebut lepas dari cengkeraman preman itu.


"Kalian ini preman apa? Nyalinya cuma dengan anak sekecil itu!" ujarku lagi dengan berseru.


"Bacot, lu...!"


"Cepat kalian lari!" seruku pada dua anak tadi.


Dua anak itupun lari sekencang-kencangnya.


"Hei... kabur ke mana kamu...?! Kalian tetap akan kami tangkap...!" Salah satu preman tersebut meneriaki dua anak itu. Kemudian beralih berujar padaku". Waah, cari masalah kamu, ya?!"


"Mereka, hanya anak kecil," timpalku.


"Akh, untung kamu cantik. Jadi sayang jika kupukul kamu. Tapi, sebagai bayaran kesalahanmu karena menghalangi kami menangkap anak itu. Maka kamu harus bersedia menemani kami bersenang-senang...!"


"Maaf, aku tidak bisa. Aku ada urusan soalnya!" ujarku, kemudian kulangkahkan kakiku untuk segera pergi dari hadapan mereka.


Namun mereka segera

__ADS_1


__ADS_2