
vu u u u u ibibibi i i u u u u u h h h u u h j h u j u u u u u u u u u j j h h h h h vh vj. u j
Fadil bangkit dari duduknya, lalu menghampiri si Faiz yang berjongkok di sudut ruang gubuk tersebut, dan bertanya padanya". Diculik di mana, Iz?"
"Di terminal," jawabnya si Faiz pelan.
"Apa preman-preman itu yang menculiknya?" Fadil bertanya lagi.
"Iya, Kak."
Terlihat Fadil begitu geram saat itu, dia kemudian melangkahkan kakinya hendak keluar gubuk tersebut.
"Kamu mau ke mana?" tanyaku menahan langkahnya, Fadil.
"Aku mau bebaskan, Kakakku!" sahutnya Fadil, dengan tetap melangkahkan kakinya.
"Memangnya kamu tahu penculiknya?"
__ADS_1
"Aku tahu," sahutnya Fadil, dan kemudian dia pun juga berkata kalau dia tahu di mana markas penculik tersebut.
"Tapi, apa sebaiknya kita lapor ke pihak berwajib," anjurku.
Namun Fadil tidak menanggapi. Dia malah melanjutkan langkahnya.
"Dek, berbahaya kalau kamu nekat ke sana!"
"Aku tahu yang akan kulakukan, Kak."
Aku tetap berupaya menahan Fadil. Tetapi dia cukup kuat bergeliat melepaskan cengkraman tanganku pada lengannya.
Dan pada saat itu juga, Fadil menghentikan langkahnya. Tampak bocah tersebut menghela napas, kemudian dia berujar". Mereka tidak peduli dengan kami. Mereka menganggap kami hanya sampah Kota, sampah jalanan." lagi si Fadil menghela napasnya.
Dia menatapku cukup tajam. kemudian dia kembali menyatakan bahwa, para penjahat itu sudah sering kali melakukan penculikan pada teman-temannya, sesama anak jalanan maupun anak-anak yang baru menggelandang di kota tersebut. Dan tidak ada tindakan dari pihak berwajib.
Ya, Fadil pun juga mengungkapkan bahwa dia dan teman lainnya kerap juga melaporkan apa yang di alami teman-temannya. Tetapi tidak mendapatkan respon maupun penanganan.
__ADS_1
"Anak-anak seperti kami tidak mendapat perhatian dari mereka," ujar Fadil lagi dengan suara tampak ditekan dan berlinang air mata saat itu.
Aku tertegun, dalam hatiku pun berkata. Oh, ternyata begini keras hidup di kota besar tanpa keluarga, tanpa orang tua. Kasihan anak-anak ini. Mereka benar-benar hidup penuh tekanan.
Aku menghela nafasku. Tak kuasa rasanya merasakan kepedihan hidup mereka.
Oh, apakah ujian lagi yang kudapatkan ini?! Humm, sepertinya bakal bertaruh resiko lagi ini?! Tapi...? haduuh..!
Akupun bingung hendak bagaimana. Dan, kuatur napasku, kemudian berupaya menenangkan pikiranku.
kupandangi Fadil dan Faiz secara bergantian, hingga membuatku kian dan kian terenyuh
Humm, kasihan juga Anak-anak ini. gumanku lagi dalam hati.
Dan pada akhirnya, kuteguhkan pun sesuatu yang memang layak kulakukan. Maka kuserukan tekat hatiku pada diriku sendiri".Baiklah, Jingga, teguhkan nyalimu untuk membuat lagi hidupmu lebih bermakna! Begitulah seruan hatiku.
Ya, apapun resikonya, bakal kuterjang. Demi rasa kepedulian sesama.
__ADS_1
Tentunya tekat ini, beralasan selain rasa empati, kasihan, peduli. Tetapi juga salah satunya adalah Rasa malu. Ya, rasanya aku malu pada diriku jika tidak membantu anak ini. Walau nyawa taruhannya, apa boleh buat. Daripada aku bagai manusia tanpa nurani maupun aku jadi pecundang .
Bocah sekecil Fadil saja, begitu tampak tak segan akan menghadapi si