
Hari ini, aku ditemani, Qanita, menulusuri sebagian wilayah kota Jakarta.
Hingga menjelang sore, sudah dua kampus universitas yang kami kunjungi untuk mencari tahu, sekiranya adelio adalah mahasiswa di salasatu universitas tersebut. Tapi ternyata tidak.
Ya, pencarian kami hingga sore hari ini tidak membuahkan hasil.
"Sudah sore, Kak jingga. Apa kita lanjutkan atau besok lagi?"
"Ya, kalau kamu sudah cape, kita pulang saja!"
"Aku sih, tidak cape. Sampai malam pun tidak apa-apa."
"Yakin?"
"Yakin, dong. Cuma takutnya, aku. Kalau kamu yang sudah cape, tapi masih memaksakan diri."
"Aku belum cape, Nit."
"Kak, kita dari tadi pagi melakukan pencarian. Aku tidak ingin, Kakak kecapean. Apalagi baru lima hari yang lalu, Kakak sempat sakit lagi. Kak jingga, ingat kata dokter 'kan? Supaya tidak sampai kecapean, apalagi stres."
"Baiklah, kita pulang saja. lagipula sore gini, mau kemana lagi. kampus mungkin udah pada tutup."
Sebenarnya aku masih sangat ingin melakukan pencarian walau hingga malam. Tetapi kupikir juga, bahwa aku tidak seharusnya berlaku egois.
__ADS_1
Ya, aku tahu bahwa, Qanita, sebenarnya sudah lelah dan letih. Dari pagi nyetir mobil sendiri, hingga sore.
Dan juga, jika benar-benar aku akan kecapean hingga sakit lagi. Tentu yang kurepotkan, Qanita lagi dan keluarganya.
Maka dari itu, kuputuskan untuk pulang saja.
"Yakin, Kak. Kita pulang sekarang?"
"Yakin, Qanita."
"Baiklah. Lagian aku juga mengkhawatirkan kondisimu jika kecapean."
"Iya, Nit. Terima kasih, ya!"
"Kita lanjutkan besok," kata Qanita lagi. Tapi aku tidak menanggapinya kali ini.
Aku larut pada rasa berat hatiku yang selalu merepotkan, Qanita.
Ingin sebenarnya kuminta agar, Qanita, tidak usah begitu fokus membantuku. Tetapi aku takut dia kesal dan merasa tidak kuhargai. Lagipula dilain sisi, bahwa bisa apa aku tanpa, Qanita.
Huuft, aku benar-benar gamang.
"Ohya, Kak. Aku baru ingat, kalau rupanya besok pagi kita harus ke Rumah sakit. Soalnya besok jadwal terapi, Kakak."
__ADS_1
"Iyaya, aku juga lupa."
Memang sebulan terakhir ini, aku harus bolak balik ke Rumah sakit. Selain cek up dan terapi, pada saat sakit kepalaku pun kambuh dan berkepanjangan, hingga aku tidak bisa menahan, maupun di saat aku tiba-tiba pingsan. Maka, akupun dilarikan ke rumah sakit. Beruntung, pingsanku tidak sering terjadi, apalagi kalau pingsan di luar sana.
"Kalau besok setelah terapi, dan Kakak di sarankan oleh dokter untuk istirahat yang banyak. Jadi bagaimana, kalau aku saja yang melakukan pencarian?"
"Lalu, aku?"
"Kakak, tetap di rumah saja, oke!?"
"Tapi, Nit?! Masa aku duduk diam saja di rumah-
"Kalau begitu, di kantor saja duduknya. Ya, sembari bantu-bantu edit vidionya anak-anak di sana!" timpal, Qanita, memotong ucapanku.
"Baiklah," ucapku pun pelan mengiyakan permintaannya, Qanita.
"Humm, mudah-mudahan adelio dan nadia secepatnya nonton vidio kita, Kak."
"Iya, aku sangat berharap demikian."
Ohya, mengenai vidio yang kami upload di channel youtube Q'production house, serta ke akunt media sosialnya, Qanita. Dan juga akunt media sosialku. Alhamdulillah sudah banyak yang menontonnya, terutama yang di channel youtube.
Alhamdulillah
__ADS_1