
Terima kasih, Ya Allah..!
Ya, dua puluh menit lamanya kuberjuang menahan sakit kepalaku. Dan, Syukur Alhamdulillah, rasa sakit kepalaku kini telah reda.
"Bu, Ke mana, qanita?" tanyaku pada,Tante lidya, yang sedari tadi menungguiku.
Ohya, aku memanggil, Tante lidya, dengan, Ibu. Karena lebih nyaman kurasa dan memang sangat wajar, jika beliau itu kupanggil Ibu. Ya, Beliau serasa adalah orangtua keduaku.
"Kata dia tadi, mau ke kampusnya, Nak."
"Ibu tidak ke butik?" tanyaku lagi.
"Tidak, Nak. Entar sore saja. Apalagi kamu'kan sakit tadi."
"Maafin aku, yang selalu merepotkan, Ibu!"
"Jangan merasa sungkan gitu, Nak! Ibu dan semua di rumah ini tidak merasa direpotkan, Kok."
"Terima kasih, Bu. Atas segala kebaikannya, padaku!"
"Sudah, Nak. Jangan lagi berpikiran seperti itu, Ya! Kamu sudah menjadi bagian keluarga ini, sudah menjadi bagian kehidupan kami. Jadi, apapun yang kami berikan kepadamu. Itulah rasa sayang kami padamu, Nak! Baiklah, Nak. Ibu ke bawah, Ya. Kalau butuh sesuatu, telepon saja!"
__ADS_1
"Iya, Bu."
Setelah, Tante lidya, keluar dari kamar. Aku lalu mengambil ponselku di meja. Aku ingin mencoba menghubungi akunt si pengunggah foto yang kemarin itu. Namun saat kulihat layar ponselku. Tertera nomor tanpa nama dengan tiga kali panggilan tak terjawab.
Semalam memang aku tidak mengaktifkan nada dering maupun getaran ponselku. Dan tadi subuh, aku lupa mengaktifkan kembali.
Karena ada yang lebih penting ingin kulakukan serta nomor tersebut tidak kukenal.
Maka kuacuhkan saja. Tetapi di saat kumulai membuka aplikasi media sosial facebook. Nomor yang tadi kembali memanggil. Akupun mengangkatnya. Dan menyapa terlebih dahulu".Halo."
"Assalamu Alaikum," ucap salam si penelpon, yang dari suaranya bisa kupastikan seorang perempuan.
"Apa saya sedang berbicara dengan, Jingga naraya?"
"Ya, benar. Aku Jingga."
"Aku, Nadia, jingga!"
"Astaga, Nadia....! Kamu rupanya?!"
"Iya, Jingga. Aku mohon maaf baru menghubungimu!"
__ADS_1
"Iya, Nadia, kenapa baru sekarang menghubungiku? Kenapa, Nadia? Aku terus menunggumu!"
"Aku mohon maaf, ya, Jingga! Kuharap kamu tidak membenciku!"
"Tidak, Nadia. Aku malah mengira kamu yang membenciku dan kamu sudah melupakanku?" tanyaku, dan Nadia tidak menyahut.
Halo..halo...?!
"Ya, Jingga. Aku masih di sini. Sekali lagi aku mohon maaf, Jingga!"
"Ya, Nadia. Lupakanlah itu! Aku sudah lega sekarang, kamu sudah menelponku."
"Halo, Jingga."
"Iya, Nad. Kapan kita bisa bertemu? Aku sangat ingin bertemu denganmu, Nad!"
"Aku juga, Jingga. Dan aku juga ingin memperjelas kenapa aku, baru menelponmu sekarang."
"Kenapa, Nadia? Apa kamu sangat sibuk, Ya?"
"I..iya, Jingga. Tapi ada alasanku yang lebih utama. Dan aku merasa kamu harus tahu, sebab aku dffff hhhhhhjh jjhjhhhhh nnnnnn hhhhhhh hhhh hhhh hhhj hjjh gggg. hhhb hhh bh bh h h h bb h h bb h b h h bh h h h h bh h hb hbu h hhhh hh. vhuhh huuu. hh vvhhh. h hhhh hh hu hv h ju hu hhh h h h uvubh hbujuj h u hvh hbhbj h gvvg g gg gv hbvh hh h hvbvhvvh u hb hb h hbhvh hvhb hh hb h h hubb bh bbb h h h hh hbbhbbhh h h h bhbbh. h h hb hh
__ADS_1