Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
hapus


__ADS_3

b h h u u ubi ibi i hi i ivu jbu ivibi i jvvh u u u u uvh uvvu hu u h u h hh h u h u u u, kurang lima menit pukul dua belas malam.


Lalu pelan juga kuangkat kepalaku dengan sedikit mengerang. Ada rasa nyeri di bagian punggungku. Dan pada saat itu pula, ada seseorang yang berada di sampingku, menahan gerakan badanku, sembari berujar". tidak usah gerak dulu!


Dan, aku memalingkan wajahku ke kanan.


Oh, aku kenal wanita muda yang berdiri di samping kanan, dekat kepalaku.


Wanita tersebut kembali berujar". Syukurlah, kamu sudah siuman."


Wanita itu merekahkan senyumannya padaku.


"Mbak Qanita, kok bisa ada di sini?" tanyaku, heran. Dengan suara pelan tentunya.


Ya, wanita tersebut adalah Qanita.


Kembali Qanita tersenyum, kemudian menyampaikan alasan mengapa dia ada bersamaku saat itu.


Ya, Qanita datang menjengukku sekaligus untuk menyampaikan rasa terima kasihnya.


"Terima kasih untuk apa, Mbak?" tanyaku masih heran serta juga bingung.


Qanita pun menyampaikan alasan terima kasihnya. Ya, tidak hanya berterima kasih karena telah menyelamatkan anak-anak jalanan tersebut, yang memang patut dijaga dan diperhatikan.


Anak-anak tersebut, juga adalah anak-anak didiknya, Qanita, di salasatu rumah singgahnya.


Dan ternyata juga, salah satu dari anak-anak yang disekap para preman tersebut, adalah adik kandungnya, Qanita.


Qanita menuturkan bahwa Adik perempuannya saat itu, ikut belajar bareng di rumah singgahnya. Namun setelah selesai belajarnya. Adiknya meminta ijin padanya untuk main sebentar bareng para anak jalanan itu. Dan, menurut adiknya saat dia diculik oleh para preman jahat.


Saat itu dia mengajak temannya ke pusat perbelanjaan, dengan maksud ingin mentraktir teman-temannya.

__ADS_1


Namun di perjalanan, mereka dihadang preman jahat di suatu gang yang agak gelap.


"Oh gitu, Mbak?"


"Iya, Mbak Jingga."


"Eh, gimana keadaan, Raihan, Obet?" tanyaku pada, Obet, yang muncul dari pintu.


"Dia, tra apa-apa," ucapnya menghampiriku.


"Lukanya bagaimana?"


"Ah, dia pu luka tusuk, sedikit saja. Su dijahit juga. Dan dia ada tidur sekarang di ruangan sebelah," terangnya obet lagi dengan dialek papuanya.


"Oh, syukurlah!"


"Iya, tra apa-apa, dia. Baru ko, Nona? Bagaimana ko pu keadaan? Ada baik saja, kah?"


"Nona'e..ko tu mantap sekali!"


"Kenapa emang, dia, Bet?" sahut Qanita bertanya pada si obet.


"Wuihh, dia tuh bukan Nona biasa rupanya! Dia pu nyali besar sampeee.....!"


"Ahk, biasa saja, obet!" timpalku.


"Oih, mantap. Dan dia tu jago silat rupanya!" ujarnya lagi, si Obet pada Qanita.


"Ohya?" Qanita terkesima oleh pernyataan, Obet.


"Ya, pokoknya, Nona ini hebat. tra ada lawan, pokoknya."

__ADS_1


"Hebat apaan, sih, Bet!"


"Memang benar kata, Obet. Kamu tuh hebat. Andaikan, kamu, gak nolong aku waktu itu, hmm...entah gimana aku sekarang, Jingga,"


"Ahk, sudahlah, itu semua pertolongan dari, Allah." ucapku pada Qanita. Kemudian aku lanjut bertanya pada, Obet, tentang letusan yang sempat kudengar, di gudang itu sewaktu aku mulai hingga tidak Obet.


NB: ( Arti dialek papua)


 


Tra\= tidak.


Trada\= tidak ada.


Su\= sudah


Sa\= saya


Deng\= dengan


Pu\= punya


kam orang/ kamorang\= kalian


Kam\= kamu


dorang\= mereka


Kitorang\= aku dan kamu/ kita semua


Kesing\= casing

__ADS_1


 


__ADS_2