
Tak terasa hari sudah sore. aku masih menunggui, Qanita, yang sedang mengajarkan bahasa inggris pada, Fadil, Fania, Faiz serta ada juga delapan anak lainnya. Tentunya Anak-anak jalanan yang seusianya, Fadil.
Akupun duduk santai di teras dengan membaca novel, sembari menunggui, Qanita.
Dan beberapa saat kemudian. Datanglah Raihan menghampiriku.
"Aneh benar tuh, Anak."
"Siapa yang aneh, Han?" tanyaku pada Raihan, yang menghampiriku seraya berbicara.
"Obet. Masa dia jualan kata-kata."
"Candain kamu, mungkin," ujarku lalu tertawa lirih.
"Dia serius. Gue ketemu tadi, pas dia nawarin orang, jualan kata-katanya. Aneh benar itu, anak."
"Siapa yang ditawarinnya?"
"Pak Haji bani yang tinggal di kampung sebelah."
"Terus ke mana lagi dia nawarin kata-katanya?"
"Tadi waktu gue tinggalin, dia masih di tempatnya, Pak Haji bani. Gue yang rasa malu, jadi gue cepat pergi. Takut juga kalau Pak Haji, marah. Soalnya obet, gangguin Pak Haji yang lagi tidur."
Duh, tuh anak benar konyol. Tapi tidak apalah toh, itu kata-kata yang baik juga.
"Kak Jingga, kita pulang, yuk! Sudah hampir magrib ini."
"Iya, Nit."
__ADS_1
"Han, kami pulang, ya!"
"Iya, Mbak qanita."
"Kak, besok jadi bikin vidio di sini?"
"Iya, Dil, InsyaAllah. Kalian siap-siap saja di sini, ya!"
"Beres, Kak qanita. Akan aku persiapkan segala sesuatunya untuk bikin vidio besok!"
"Terima kasih ya, Fadil!"
................
Ya, malam ini, pukul dua belas tepat. Aku belum bisa memejamkan mataku. Resah dan gelisah menanti kabar dari nadia.
Ahk, sebaiknya besok aku ijin tidak masuk kantor saja. Aku mau kembali keliling-keliling daerah ini nyari adelio. Ya, siapa tahu saja aku bisa bertemu.
Atau kudatangi setiap kampus yang ada di daerah ini?!
Humm. Aku menghela nafasku lalu sejenak berpikir, dan akhirnya aku pun merasa, bahwa memang harus kulakukan. Ya, aku harus menahan malu mendatangi setiap kampus untuk mencarinya maupun juga menanyakan tentang adelio di setiap kampus yang kudatangi.
Kulihat jam pada ponselku. Kurang seperempat pukul satu dinihari. Aku belum juga bisa memejamkan mataku.
kutatap layar ponselku lagi, dengan berharap sekiranya ada panggilan telepon masuk maupun pesan. Walaupun telah pukul satu dinihari.
__ADS_1
Ya, berharap konyol, sih. Jam segitu, juga.
Hingga beberapa menit kemudian, mataku pun mulai kurasakan berat. Kupadamkan pun ponselku lalu kujauhkan dari jangkauanku agar sekiranya aku lebih fokus untuk tidur.
Namun saat kumulai memejamkan mataku. Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang rupanya tidak bisa aku tinggalkan. Ya, besok aku dan qanita akan bikin konten youtube bersama anak-anak di rumah singgah.
Duuh, gimana ini ya?!
Ya, aku rasa tidak enak hati pada qanita jika besok aku tidak ikut dalam pembuatan konten vidio.
Hmm. Ahk, lusa saja aku ijin tidak masuk. Ya, sudah seharusnya aku profesional dalam kerjaan.
..............
Pagi hari ini aku dan Qanita sudah berada di tempatnya fadil.
"Wiiih, motor baru ya, Obet?" tanyaku pada Obet yang baru datang dengan mengendarai sepeda motor jenis bebek matic.
"Eh, Nona Jingga!"
"Motor baru?" tanyaku lagi yang kedua kalinya.
"Iya toh. Baru ambil dari an kalau dia sedang stres.
Ya, baginya obet saat itu, menganggap kekonyolannya itu
__ADS_1