
Oh, visual senja yang indah. Kuberdecak kagum memandang jauh langit sana. Di balkom yang telah menjadi tempat favoritku selama aku tinggal di rumah ini, kududuk menikmati teh hangat buatan tante lidya, sembari menikmati pula senja saat ini. Ya, berharap senja nan indah ini bisa menenangkan jiwaku.
Senja kala ini, adalah senja yang ceria, senja dengan semburat warna jingga yang penuh kelegaan. Namun tidak seceria dan selega hatiku saat ini, dengan geliat-geliat rasa yang tercipta atas ujian serta rintangan yang kuhadapi saat ini.
Tuhan, kembali menguji ketangguhan imanku, dengan mendatangkan lagi padaku suatu penyakit kambuhan.
Tentu saja, kuanggap kambuhan. Karena telah keempat kalinya aku merasakan sakit kepala yang sungguh luar biasa. Dan aku belum tahu dengan sejelas-jelasnya penyakit apa yang kuderita ini.
Humm. Ya, aku bingung atas penyakit yang kuderita!
Saat yang ketiga kali masuk rumah sakit. Dokter yang menanganiku tidak menjelaskan secara detail penyakitku. Yang mana saat itu, mengharuskan aku rawat inap selama seminggu.
Dan yang terakhir ini, begitupun juga.
Ya, setelah segala tes yang dilakukan oleh dokter padaku. Yaitu tes fisik, dengan menanyakan berbagai gejala terkait sakit kepala yang kualami, riwayat kesehatan, dan gaya hidupku. Lalu tes lanjutan, yaitu tes darahku untuk mengetahui adanya infeksi pada tubuhku yang mungkin menyebabkan sakit kepala. Kemudian tak luput juga, kulakukan CT scan. Tes ini dilakukan untuk melihat gambaran bagian tubuh tertentu yang bermasalah, kemudian melakukan lagi tes MRI ( Magnetic resonance imaging). Tes ini bertujuan untuk mengetahui gambaran lebih detail dari otak dan sumsum tulang belakang. Dan lagi tes EEG (electroencephalogram). Tes ini dilakukan untuk merekam sinyal listrik di otakku. Biasanya, tes ini direkomendasikan jika sakit kepala terjadi disertai kejang. Karena menurut fadil dan obet, saat aku di serang sakit kepala. Aku sempat kejang.
Selesai melakukan segala tes itu. Kutanya pun, Dokter ,yang menanganiku, beliau hanya mengatakan peradangan atau gangguan dalam pembuluh darah di sekitar otakku. Katanya lagi, kemungkinan besar penyebabnya akibat benturan.
__ADS_1
Aneh sih, menurutku!
Masa sih karena efek benturan pada kepalaku saat aku bertarung dengan preman, hingga sampai segitunya.
Humm, padahal pernah aku dengar kalau peradangan pada otak, gejalanya hanya sakit kepala ringan dan flu.
Atau...! jangan-jangan penyakitku ini parah?! Jadinya mereka enggan memberitahuku dengan alasan mungkin bisa membuatku shock!
Akh, entahlah..! Aku akan cari tahu nantinya. Tapi mudah-mudahan memang bukanlah penyakit yang parah.
Geliat rasaku yang lain dalam ketermenunganku di senja ini ialah rasa risihku, sungkanku, pada segala kebaikan mereka padaku. Yang entah bisa kubalaskan dengan apa!?
"Hei..jangan melamun!"
Duuh, terperanjat juga aku dari lamunanku oleh hardikan, Qanita. Yang tiba-tiba nongol dari pintu kamar.
"Eh, Qanita. Kaget, aku!"
__ADS_1
"O, maaf, habisnya kamu ngelamun, sih!"
"Aku tidak melamun, cuma berpikir saja, kok."
"Sama saja, Nona jingga! Malah bisa memperburuk kondisimu sekarang ini."
"Qanita!"
"Ya?"
"Terima kasih, Ya!"
"Buat?"
"Karena telah mengurusku, dan kamu rela tinggalkan kuliahmu, kerjaanmu demi merawat, aku."
"Iya, sama-sama."
__ADS_1
"Aku minta maaf juga karena