
Oh Tuhan...! Ampuni segala khilafku, segala dosaku yang telah menyangsikan kodratku sebagai hamba yang lemah.
Ya, aku benar-benar baru menyadari hakikat kehidupan di dunia fana ini.
Dan meraih harapan bersahaja itu, ternyata tidak semudah yang kuyakini dahulu. Ya, sampai detik ini, aku belum juga mendapat titik terang untuk bisa bertemu orang yang menjadi harapan bersahajaku.
Tidak, aku tidak boleh patah semangat. Dan aku tidak boleh kalah dengan keadaan aku sekarang ini, aku harus kuat. Ya, kuat...!
Humm, tentu semua ini adalah suatu pelajaran buatku. Ya, termasuk untuk selalu menjadi manusia baik bagi sesama. Seperti halnya manusia-manusia baik yang kutemui di perantauanku ini.
Humm....gimana, ya, jika sekiranya hidupku di perantauan ini tidak menemukan dan berteman dengan orang baik seperti, qanita, fadil bersaudara, obet dan juga raihan.
Mereka benar-benar tulus mengurusiku dan rela mengeluarkan uang pribadinya buat keperluanku selama ini.
"Lah, melamun lagi!"
"Ya?"
__ADS_1
"Udah di kasih tau, jangan melamun. Masih saja melamun. Mau sembuh atau tidak, nih?"
"Maulah, Nit. Aku kan, harus nyari kerja cepat. Biar bisa ganti biaya rumah sakit yang kamu talangin. Pasti itu tabungan untuk biaya kuliahmu, kan?"
"Haduuh, rupanya itu yang kamu pikirin?"
"Iya, Nit. Aku tidak enak hati padamu. Aku begitu menyusahkanmu. Aku begitu membebanimu."
"Ok, begini saja. Kakak, jangan cari kerja di tempat lain. Tapi, Kakak kerja sama denganku saja, untuk membangun kembali, Q'Production House. Bagaimana?"
"Kamu yakin, aku bisa? Kan, aku hanya lulusan SMA, itupun ikut ujian paket c, saja. Karena keburu aku dinikahkan saat kelas tiga."
"Baik. Ya, aku setuju! Terima kasih, Nit!"
"Tapi tidak untuk beberapa hari kedepan, Kakak, mulai kerja!"
"Loh, kenapa?"
__ADS_1
"Aku inginkan, Kak jingga, mulai kerja. Jika kondisi kesehatan, Kak jingga, benar-benar fit. Oke!"
"Tapi, Qanita-
"Stop, jangan bahas itu lagi, ya!" timpalnya Qanita menyela ucapanku.
"Aku risih jika terus membebanimu, tante, dan juga, om. Aku ingin kerja untuk bantuin kamu cepat. Agar aku tidak hanya diurusi semata. Masa aku terus di layani, di-
"Sudah, Kak jingga," lagi Qanita memotong pernyataanku.
Ya, tampaknya Qanita geram. Raut wajahnya kulihat sudah tidak tampak lagi dihiasi sesungging senyumannya.
"Jika, Kakak, anggap aku saudara, anggap kami di keluarga ini adalah keluargamu. Maka kumohon, jangan ungkit itu lagi! Kakak jangan pikirin apa yang kami perbuat. Itu adalah suatu kebahagiaan kami, kelegaan kami bisa membantu, Kak jingga. Membantu sesama. Apalagi kedua orang tuaku sudah menganggapmu anak kandungnya. Dan satu lagi! Apa yang kami lakukan, apa yang kami berikan padamu masih tidak sebanding apa yang kamu lakukan padaku, pada adikku serta pada anak-anak lain waktu itu. Nyawamu kamu pertaruhkan untuk menolongku, menolong adikku. Coba bayangkan apa sekiranya diriku dan adikku sekarang ini, jika bukan pertolonganmu!"
Begitulah penuturan akan pernyataannya, Qanita, tentang dia dan segenap keluarga besarnya terhadapku. Akupun dibuat tercengang. Dan juga tercambuk jiwaku yang kesekian kalinya.
Mereka benar-benar tulus membantuku. Dan membantu sesama bagi mereka itu adalah suatu kebahagiaan. Ya, tak terkira maknanya.
__ADS_1
Aku kembali merenungi jati diriku saat kehidupan keluargaku masih berada di puncak