
Pada malam ini, kembali aku berada di tempat favoritku. Ya, di balkom kamarku tentunya.
Di sini, aku termangu memandangi gemintang yang gemerlapan di langit sana.
Humm, andaikan perasaanku bisa segempita gemintang di langit sana.
Oh, Adelio, kenapa kamu berubah?! Sudah tidak layak lagikah diriku ini untukmu?!
Di setiap waktu, kurindukan dirimu. Bayangmu selalu hadir di tidurku lewat mimpi-mimpiku dan selalu pula rasanya inginku memeluk erat bayangmu agar tetap ada saat kuterjaga.
Aku terus menanti hari kita bertemu. Menanti momen indah pada hidupku saat ini. Aku nekat berjalan sendiri demi cintaku padamu.
Tapi, kala pertemuan kita telah terjadi. Hanya rasa sakit yang kamu berikan.
Humm, Adelio, mengapa kamu menghancurkan harapanku padamu.
Kuberharap dirimu yang bakal menjadi cahayaku seperti bintang di langit sana. Tetapi malah kamu berpaling dariku.
Di kota ini pun, kini kuterperangkap dalam duka.
Oh, aku harus bagaimana kini?!
Kenapa dulu kamu nyatakan padaku tentang asamu itu! Ya, jika dulu tidak kamu nyatakan. Mungkin tidak seperih ini dukaku.
Dan, adakah kiranya sedikit saja kamu tahu kalau hanya duka dan derita yang kini mengiringi langkahku?!
Ya Tuhan, adakah aku bisa mempunyai pasangan hidup yang bisa menerangi perjalananku di kehidupan ini?!
Embusan angin malam, mulai memberiku rasa dingin pada sekujur tubuhku. Tetapi, aku masih enggan beringsut dari pinggir balkom.
Aku masih terus terpaku, merenungi kemalanganku.
...............
Dan, tidak berapa lama dalam kesendirianku merenungi nasibku. Qanita, pun datang menemuiku.
__ADS_1
Hanya, dia, yang menjadi tempat curahan segala keluhanku.
"Ada yang ingin bicara denganmu, Kak jingga." ujar, Qanita, memberitahuku seraya menyodorkan ponsel miliknya.
"Siapa?"
"Entahlah. Katanya dia menelpon ke ponselmu, tapi ponselmu tidak aktif."
"Kalau, Adelio. Tidak usah, Nit. Katakan saja aku tidak mau bicara dengannya."
"Bukan. Yang menelpon ini, seorang wanita."
"Wanita?"
"Ini, bicaralah!"
Akupun meraih ponsel di tangannya, Qanita. Mungkin Bundaku yang menelpon.
"Halo!" sapaku.
Oh, bukan Bundaku, ternyata. Tapi, sepertinya aku tahu ini suara siapa.
"Kamukah, Nadia?" tanyakupun.
"Iya, Jingga. Maafkan aku, baru menghubungimu lagi!"
"Kenapa? Apa kamu juga sudah seperti, Adelio?"
"Maksudmu, Jingga?"
"Adelio telah berubah, dia bukan Adelio yang dulu. Apa kamu juga seperti itu?"
"Kamu sudah bertemu, dengannya?"
"Ya, tadi siang."
__ADS_1
"Maafkan aku, Jingga. Aku telah membuat kesalahan besar padamu! Maafkan, aku!"
"Sumpah, aku tidak mengerti maksud maafmu dan malah terkesan aneh. Ada apa sebenarnya, Nadia?"
"Sebenarnya, waktu kamu menghubungiku di facebook, saat kamu sudah di Jakarta. Aku berbohong kalau aku tidak tahu keberadaan, adelio."
"Haa...! Kenapa?"
"Maafkan, aku!"
"Iya, kenapa kamu membohongiku? Alasanmu apa?"
"A..aku...-
"Kenapa? katakanlah!"
"Aku, aku sebenarnya, juga mencintai Adelio, Jingga!"
"A, apaaa....?! seruku terperangah.
Beberapa detik napasku tertahan.
Jika, Qanita, tidak segera mendekapku lalu berbisik padaku, agar aku tetap tenang dan memintaku istigfar serta memintaku menahan amarahku. Mungkin saja, aku pingsan. Ya, kepalaku tadinya mulai agak berdenyut, penglihatanku mulai berkunang-kunang.
"Halo, Jingga. Jingga, tolong maafkan, aku!"
"Tidak, Nadia. Kamu menyakitiku, kamu telah jahat padaku. Kupikir kamu sahabatku, kamu orang baik. Tapi ternyata kamu sungguh tidak punya hati nurani!"
"Jingga, aku tidak mengira kalau kamu masih mencarinya, masih mengharapkannya."
"Tapi, kenapa kamu bohong, kenapa waktu itu, tidak kamu katakan yang sebenarnya?"
"Aku tidak bisa terus terang waktu itu, padamu, Jingga. Dan aku juga belum siap, Adelio kembali lagi padamu. Aku telah terlanjur sayang dengannya di saat kamu muncul." terangnya, Nadia. yang membuat darahku seolah mendidih.
Aku mengupayakan pun diriku tetap tenang. Namun, tetap saja aku tidak bisa menahan rasa kecewaku, jengkel dan rasa sedihku. Tentu semua rasa tersebut bagai saling bergantian mencengkeram jiwaku. Sehingga kurasakan keperihan yang sangat tepat di dada ini.
__ADS_1