Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
BAB 38 hapus


__ADS_3

Huuft, apa yang terjadi padaku ini?!


Haduuu...! Kenapa di saat senangku ini, berasa degdegan juga di hatiku?!


Ya. Seharusnya hatiku telah selega-leganya.


Humm.....!


Sejenak kuatur napasku. Lalu kembali aku berbicara dalam hati." Semoga saja, tidak seperti yang aku khawatirkan."


Ya, memang ada sedikit rasa khawatirku. Bilamana perasaan, Adelio, tidak seperti dulu lagi. Ataupun kini, dia, telah punya kekasih.


Aku masih termangu.


Dan kemudian, kudengar hardikan, Adelio, padaku.


"Ya?" sahutku pun seolah bertanya. Karena tidak mendengar jelas apa yang dikatakan tadi, Adelio, kepadaku.


Dan, memang tadinya. Aku kian larut dalam keresahanku. Jadi aku tidak mendengar jelas apa yang dikatakan, Adelio, padaku. Entah bertanya atau apa.


Karena aku tidak mendengar jelas itu'lah, sehingga akupun melongo. Dan hanya menyahut sekenanya saja.

__ADS_1


Adelio, kembali bersuara mengulang apa yang diucapkan tadi.


Dan, Dia, rupanya tadi bertanya, tentang ada apa kiranya denganku. Kenapa aku terlihat tampak resah.


Ya, keresahanku rupanya diperhatikan, Adelio.


"Oh, tidak apa-apa, Kak," ucapku pun sedikit salah tingkah.


Kembali aku diam sejenak, untuk mengatur napasku agar hatiku kembali tenang.


"Kak, hari ini aku senang. Karena bisa bersama, Kakak, lagi. Dan perasaanku sekarang begitu lega," ujarku kemudian.


"Ya, Akupun begitu, Dek. Berasa kembali ke masa lalu."


"Maksudnya?" tanya, Adelio, balik. Yang entah hanya pura-pura tidak mengerti.


"Ya, masih jomblo, gitu..." ujarku pun sedikit basa-basi.


"O. Masih, Dek. Ohya, aku pengen dengar cerita dari awal, bagaimana kamu sampai kemari!"


"Panjang ceritanya, Kak."

__ADS_1


"Ceritakan sedikit saja dulu! Aku penasaran soalnya!"


Kuceritakan pun sedikit kisahku yang kumulai dari terakhir aku bertemu dengannya, lalu saat kubuat keputusan bertahan dengan mantan suamiku. Kuceritakan pula sedikit tentang tekanan kuhadapi saat itu, hingga aku bercerai.


"Dek, aku sungguh prihatin, padamu. Tapi kenapa, dulu tidak secepatnya kamu pergi darinya?"


"Kak, Kupikir waktu itu adalah, Kuasa Allah. Dan, Kehendaknya'lah, mengarahkan aku untuk menjalaninya. Ya, tentu aku tidak ingin lagi menyangsikan, kehendak Allah, terhadapku. Aku ingin berupaya menjadi manusia yang ikhlas. Dan karena terkait pula dengan rasa tanggung jawabku pada orang tuaku. Lagipula jika saat itu kupilih bercerai. Kupikir, Kakak, belum tentu siap menikahiku untuk saat itu."


"Jadi kamu tidak percaya padaku waktu itu, Dek?" timpalnya, Adelio, bertanya dengan menatapku lekat.


"Bukan tidak percaya, Kak. Hanya masa-masa, Kakak, yang membuatku tidak yakin."


"Maksudnya?"


"Waktu itu, kakak, baru saja tamat SMA. Aku juga tahu bahwa, Kakak, begitu berhasrat melanjutkan pendidikan. Dan mempunyai asa yang tinggi untuk meraih impian, Kakak. Jadi, aku tidak ingin menjadi penghambat asa, Kakak. Masih dini buat kita menjalin pernikahaan, Kak." tuturku lagi memperjelas alasanku saat itu.


Ya, walaupun yang sebenar-benarnya saat itu, aku begitu berharap. Adelio, bisa membebaskanku dari belenggu pernikahan abstrak tersebut.


Tetapi pada pikiranku di sisi lain. Sisi bijak, mungkin! Bahwa, aku merasa tidak adil bagi, Adelio.


Ya, aku mungkin malah yang akan menjadi bumerang bagi masa-masanya untuk sukses dalam pendidikannya.

__ADS_1


"Tapi tidak harus langsung menikah 'kan, Dek?" timpal, Adelio.


"Ya, mungkin bisa. Tapi saat itu, pikiranku beda dengan,


__ADS_2