
Oh. Astaga, rupanya aku sudah tiga hari di rumah sakit ini!
Ya Tuhan...! Sakit apa aku sebenarnya? Kenapa kepalaku ini sering sakit?! Dan sakitnya tidak tanggung-tanggung, hingga membuatku ingin saja mati!
Ya. Kembali kupertanyakan dalam hatiku akan rasa penasaranku terhadap penyakit yang kuderita ini. Telah kesekian kalinya aku harus mendapatkan perawatan di Rumah sakit, jika sakit kepalaku kambuh. Dan gejala lainnya yang membuatku benar-benar tidak berkutik.
Namun belum kuketahui sakit apa sebenarnya yang kuderita.
Humm, jika menurut artikel yang kubaca. Yang sering terjadi padaku persis dengan gejala penyakit tumor otak atau kanker otak.
Duh, semoga bukan. gumanku dengan perasaan cemas mulai membelengguku.
Dalam hatiku terus kuberharap jangan sampai yang kuderita adalah penyakit tersebut. Tetapi walau aku cemas maupun takut. Aku tetap juga penasaran ingin tahu apa sebenarnya penyakitku.
Ya. Jika, Dokter atau Qanita, datang. Aku harus ngotot kali ini mempertanyakan status sakitku ini. Mereka harus mengatakan padaku, agar aku tidak terus bertanya-tanya pada diriku sendiri.
Saat ini, aku sendirian saja di ruangan ini. Sore tadi, tante lidya, om danu dan qanita, pulang ke rumah. Sedangkan, obet dan raihan, keduanya sedang keluar membeli makanan.
__ADS_1
Kulihat jam yang terpasang di dinding depanku, sudah menunjukkan pukul delapan malam tepat.
Duh. Kok, qanita belum datang, dan Dokter yang menanganiku pun belum kesini lagi. Gumamku dengan resah gelisah, karena entah mengapa saat itu serasa ada banyak uneg-uneg dalam batinku yang ingin kucurahkan, walau kepada siapapun, jika kiranya ada orang yang aku temani sekarang ini.
Dan tentunya, aku tidak sabar untuk segera menanyakan tentang sakitku ini.
Di saat aku masih sedang merenung. Akhirnya, Qanita, pun datang berbarengan dengan kedatangan, Ibu Dokter sari, yang menanganiku selama ini.
"Malam, Dek!" sapanya Ibu Dokter, padaku.
Kemudian, Ibu Dokter sari, bertanya lagi padaku tentang apa kiranya yang kurasakan seharian ini. Dan, akupun mengatakan kalau seharian ini, aku merasa sudah nyaman.
"Syukur Alhamdulillah, Dek. Tapi, Adek jingga, jangan terlalu banyak berpikir, ya. Apalagi yang membuat susah pada hati, Adek. Harus tetap, semangat!"
"Iya, Bu Dokter,"
"Tapi semangat, bukan berarti kamu melupakan kondisi kesehatanmu. Ya, jangan juga adek berlebihan dalam kerjaannya!Istirahat yang cukup," ujarnya lagi, Ibu Dokter menasihatiku.
__ADS_1
Akupun hanya tersenyum, lalu melirik ke Qanita. Karena aku menduga. Pasti ,Qanita'lah, yang memberi tahu kepada, Ibu Dokter sari, tentangku saat bekerja.
"Ya, InsyaAllah. Adek, akan sehat kembali!" ujar lagi Ibu Dokter sari.
"Amin.Terima kasih banyak, Bu Dokter!"
"Sama-sama. Ohya, Dek. Kemungkinan besok pagi, Adek sudah bisa pulang. Tapi sebelumnya, masih ada pemeriksaan di bagian Radiologi nanti, ya, Dek!"
"Iya, Bu Dokter."
Tentu aku sangat senang, bisa keluar secepatnya dari ruangan yang berbau obat ini, dan kembali beraktifitas seperti biasa.
Tetapi sayang sekali aku masih belum tahu penyakitku malam ini. Sebab pada saat aku hendak bertanya pada, Dokter sari. Beliau, buru-buru pergi karena mendapat panggilan dari seorang perawat untuk segera menangani pasien rujukan yang baru saja masuk.
Dan, akupun juga tidak sempat bertanya pada, Qanita, karena beberapa perawat sudah menjemputku untuk ke ruang radiologi.
Menurut penjelasan, Ibu Dokter nnnn.
__ADS_1