Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
BAB 9 - hapus


__ADS_3

Malam ini aku berpikir keras apa yang sekiranya terbaik kuputuskan. Apa mencoba bertahan untuk menunggu sekiranya jalinan pernikahanku itu bakal kurasakan suatu cinta, kenyamanan dan bahagia tentunya seiring waktu berjalan. Ataukah memilih mundur, tapi harus mengecewakan kedua orang tuaku.


Ya, kedua orang tuaku telah nyaman menikmati efek pernikahanku dengan pria yang telah membantu usahanya bangkit lagi. Dan tentunya jaya kembali seperti masa itu.


Di sela-sela gejolak pikiranku, kutengadahkan kedua tanganku di akhir setiap salatku memohon petunjuk pada Yang MahaKuasa.


Seperti malam ini, dan malam-malam sebelumnya. Aku memanjatkan doa selepas salat tahajjudku dan tentunya kulakukan pun salat istiqarah, Memohon petunjuknya akan jalan yang sekiranya terbaik bakal ketempuh.


Dan akhirnya kuteguhkan pun niatku selepas salat subuhku. Sejenak kurenungi niatku ini akankah sanggup aku bertahan nantinya.


Ahk, tidak masalah. Aku harus yakin dan yakin. Ya, aku berserah pada, Kuasa Tuhan, saja. Jadi sekarang, aku memutuskan untuk bertahan dan aku akan menjadikan kesabaran adalah peganganku. Aku yakin, Allah Subhana Wataala, akan memberi imbalan kebahagiaan yang kekal akan kesabaran ataupun keikhlasanku. Tentunya aku ingin menjadi wanita yang mulia di sisi, Allah Subhana Wataala, jika aku mati kelak.


 


.................


 


"Halo, Kak!"


"Iya, Jingga. Gimana kabarmu?"


"Alhamdulillah. Aku baik-baik saja, Kak!"

__ADS_1


"Syukurlah,"


"Aku ingin bertemu denganmu, Kak. Sebentar saja. Kumohon!"


"Di mana ketemuannya?"


"Di tempat biasanya dulu kalau kita ketemuan."


"O, baiklah. Aku segera kesana."


"Ya, Kak."


Selepas menutup telponku. Aku pun langsung menuju ke pantai. Di pantai tersebut dahulunya adalah tempat nongrongku bersama Adelio. Dan di pantai itu pula, aku jadian dengan Adelio.


Ada banyak cerita indahku bersama Adelio di pantai itu. Sesampai di pantai yang kumaksudkan pada Adelio untuk ketemuan.


Oh, Tuhan...! kuatkan hatiku. Biarkan aku lepas dari belenggu rasaku padanya. Aku tidak ingin lagi mendambakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.


Ya. Aku memang harusnya sadar. Bahwa aku tak pantas lagi menginginkan kehadiran, Adelio, dalam hidupku sebagai kekasih ataupun seorang pendamping hidupku. Aku bukan jingga yang dulu lagi. Aku bukan gadis perawan lagi. Kalaupun aku pisah dengan suamiku. Statusku pun sebagai janda. Dan apakah adelio bisa menerima seorang, janda?!


Ya, dia pantas mendapatkan wanita yang lebih baik. Lagipula dia sedang melanjutkan pendidikannya. Dan tentunya dia pasti fokus pada kuliahnya agar bisa mencapai cita-citanya.


 

__ADS_1


...............


 


"Lama nunggu, ya, Jingga?"


"Belum lama juga, Kak."


"Kirain, sudah kesal nungguin, aku."


"Kalau dulu, ya, mungkin aku kesal."


"O, jadi sekarang udah biasa saja, udah masa bodo, gitu?"


"Maksudnya?"


"Oh. Lupakan. Ohya, sepertinya ada yang penting, sampai mau ketemuan hari ini?"


Duuh, aku kok jadi susah ngomongnya. Setelah aku sejenak membisu. Aku pun berupaya menyampaikan maksud tujuanku mengajak adelio ketemuan.


"Jujur, aku mengajakmu ketemuan. Karena aku ingin merasakan kembali masa yang pernah ada saat bersamamu, Kak. Di pantai inilah adalah saksi di mana aku benar-benar merasakan indahnya cinta. Merasakan kasih sayangmu, kak. Ya, sampai detik ini. Aku masih mencintaimu, kak."


"Jadi, Jingga?"

__ADS_1


"Jangan salah paham dulu, Kak! Aku hanya ingin ketemuan dengan, kakak, kali ini saja. dan Serta yang terakhir pula kusampaikan isi hatiku. Moga, Kakak, memakluminya!"


"Ya, Dek. Aku sangat memakluminya. Dan jujur, sebenarnya akupun sering sendirian berada di tempat ini, untuk merasakan seperti apa yang kamu rasakan. Sedih, perih, kecewa, saat mengenang masa kita. Tapi entah mengapa dalam hatiku seolah selalu ada dorongan


__ADS_2