Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
BAB 43 - hapus


__ADS_3

ssdfgghjjjjjjkkkhfddfhjhvvggjgfdfhhfdfhhgfghhgggfcccv gvghh gghh hhh hhh


Yaap, setelah Jingga merasa harapan bersahajanya benar-benar berada di titik akhir. Dan tentunya tidak akan bisa mendapatkan wujud nyata akan harapannya menjalin ikatan cinta yang suci bersama Adelio. Maka, Jingga pun memutuskan mengakhiri tulisannya tentang secuil kisah lika-liku kehidupan yang dia lalui.


Aku bertanya padanya. Apakah mengakhiri tulisanmu, tentang kisah perjalananmu di kehidupan ini sebagai bentuk akhir dari segala harapanmu atau rasa pesimismu untuk meraih keindahan berikutnya. Dan, Syukur Alhamdulillah, ternyata alasannya. Dia ingin merajut kisah baru dan lebih fokus menata kehidupan selanjutnya. Ya, menurutku memang ada baiknya dia menjadi Jingga yang baru, menjadi seseorang tanpa beban pada batin dan jiwanya. Ya, apalagi beberapa hari lagi, dia akan menjalani operasi untuk salasatu cara penyembuhan penyakit yang dia derita selama ini.

__ADS_1


Bagiku, ini adalah kisah yang hebat. Ya, akupun menyayangkan kisah ini berakhir begitu saja. Maka akupun tertantang melanjutkan kisah hidup sahabatku ini. Dan aku juga merasa harapannya pada Adelio belum berakhir. Tapi kita sebagai manusia hanya bisa berasumsi, kepastiannya tentulah pada Kehendak Yang Maha Kuasa.


Ohya, Aku tertarik memberi judul untuk kisahnya sahabatku ini, dengan judul ketika Jingga bertasbih. karena aku merasa beberapa masa yang dia lalui telah patut kunyatakan bahwa beberapa masa itu adalah wujud dari ketika jingga bertasbih. Berawal dari kisah keterpurukannya waktu itu. Dia pun pelan berevolusi menjadi Jingga yang serupa warna jingga saat senja ataupun serupa filosofi warna jingga.


Jingga mulai memahami keagungan Allah Subhana Wataala. Dan dia terus berupaya menempatkan dirinya, hati dan jiwanya untuk lebih mendekat kepada Allah Yang Maha Berkehendak pada hidupnya.

__ADS_1


Dan, tak hanya itu. Akupun sungguh salut dengan ketangguhan hati dan jiwanya. Serta aku begitu terharu dengan kebesaran hatinya menerima maupun merasakan pahitnya kenyataan yang tidak sesuai harapannya. Harapan yang sekian lama terpatri pada jiwanya. Hidupnya dirundung duka tetapi keimanannya kepada Allah Subhana Wataala tidak pernah lekang. Dia tetap selalu bersimpuh dalam bertasbih pada-Nya.


Bayangkan! Dia kondisinya seperti apa, namun dia tetap bersimpati dan berempati pada kondisi sahabatnya, yaitu Nadia. Dia berbesar hati memahami perasaan cintanya Nadia pada Adelio. Ya, dia merelakan Adelio mencurahkan segala cinta dan kasih sayangnya kepada, Nadia. Padahal sesungguhnya Adelio mempunyai harapan yang sama dengan Jingga. Ya Adelio, masih mencintai Jingga. Namun, Jingga bisa memahaminya. Dan dia tidak memberitahu pada Adelio maupun Nadia tentang bagaimana kondisinya saat ini. Tidak mengungkapkan tentang penyakit yang dia derita dan entah esok atau lusa, dirinya tidak ada lagi di dunia ini.


Kemarin subuh, aku mendapatkan dirinya sedang bersimpuh di atas sajadah. Kulihat dia bertasbih dengan khusyuknya. Adapun kulihat dia seolah menangis. Dan akupun menghampirnya, kemudian pelan aku berbicara padanya.

__ADS_1


"Hapuslah air matamu, Kak jingga. Jangan lagi berlarut-larut dalam kesedihanmu itu! Kakak, harus


hapus hapus hapus hapus


__ADS_2