Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
hapus


__ADS_3

"Hei, wanita tidak tau diri! Kamu yakin, bisa menang?"


Aku kaget, rupanya dia sedang berada di hadapanku, dan menatapku begitu tajam. kulihat matanya memerah, terus menatapku tanpa berkedip.


"InsyaAllah," jawabku singkat membalas tatapannya.


"Kamu bisa, apa? asal kau tahu, aku akan didampingi beberapa pengacara hebat," ujarnya padaku agak berseru.


"Tidak masalah," ucapku mencoba santai.


"Akh, lebih baik. kamu nyerah saja. dan kembali hidup bergelimangan harta denganku!"


Kembali dia berucap, dan ucapannya tersebut membuatku pun berang.


"Maaf, Harta apa? perasaan aku tidak pernah dapat apa-apa darimu?"


"Hei...! Kamu tidak sadar, dengan bantuanku pada orangtuamu?" hardiknya padaku.


Jujur aku tercengang saat itu. aku tidak berkutik, saat dia mengungkapkan bantuannya pada orangtuaku.


Akupun berupaya tegas padanya. kutidak ingin mendapat tekanan dari psywar yang dilancarkan terhadapku.


Ya, masa bodoh dengan apa yang dilakukan pada kedua orang tuaku.


Namun pada saat, aku hendak berdiri untuk membalas pernyataannya. mengungkapkan juga apa yang kuketahui tentang bantuannya tersebut yang hanya berupa cara liciknya. Ibu Aisyah datang menghampiriku.

__ADS_1


"Maaf, ada apa ini?" tanya Ibu Aisyah kepada si dia.


"Oh, Ibu pengacara. Tidak terjadi apa-apa, aku hanya meminta dia untuk menarik tuntutannya. sebab tidak ada gunanya. Termasuk, Ibu. Ya, Ibu mundur saja. aku bisa membayar anda lebih," ujarnya cengesan dan begitu tampak memuakkan tampangnya.


"Maaf, Aku tidak butuh uang, Anda. Aku hanya ingin anda sadar diri, dan kembali ke jalan yang benar."


"Kurang ajar...! Akan kubuat kalian menyesal, Dan-


"Dan, apa?" selanya Ibu Aisyah cepat. Yang tidak kalah gaharnya dari si dia itu.


"Aku bisa membuat hidup anda buruk!" ancamnya dengan mata melotot.


"Hei, anda bisa kutuntut karena mengintimidasi di luar koridor persidangan!"


"Ok, tunggu saja," ucapnya pun sambil berlalu dari hadapanku.


Ya, Allah..! apakah kubisa melewati rintangan ini dengan lancar. kumohon, terus berikan pertolonganmu, Ya Allah...!


"Dek Jingga, kamu kenapa?"


"Oh, Ibu Aisyah," sahutku yang tadinya sedikit terperanjat dari termenungku. kemudian kupersilahkan, Ibu Aisyah duduk di sampingku.


"kamu mikirin, apa?" tanya Ibu Aisyah lagi sembari tersenyum padaku kali ini.


"Merenungi persidanganku, Ibu. apakah kita bisa menang?"

__ADS_1


"InsyaAllah. kita bisa menang, dek. percaya dan yakin pada, Tuhan. Kamu jangan terlalu memikirkan yang tidak-tidak, nanti kamu sakit. selalu berdoa saja!"


"Tapi dia sangat licik, Ibu!"


"Tuhan lebih kuasa atas segalanya. makanya kita berdoa menyerahkan sepenuhnya pada, Allah, agar kiranya memudahkan usaha kita. Dan tentunya kita harus yakin dan percaya pada, Kuasa Allah."


"Iya, Bu."


"Ohya, Ibu punya sesuatu yang bagus buat kita di persidangan selanjutnya."


"Apa, Bu?"


"lihat vidio ini!"


"Loh, kok ada vidio itu, Bu?"


"Seseorang mengirimkan, padaku. Tapi maaf, aku tidak bisa memberi tahu pengirimnya."


"Jadi itu bisa jadi bukti?"


"Tentu. Dua vidio ini akan semakin memberatkan si doni. Dan Insya Allah kita akan menang dan kita bisa bernapas lega."


Ringkas cerita, perseteruan aku dan dia, si suamiku, dalam persidangan. Akhirnya pun selesai. Ya, akhirnya aku bisa bernapas lega.


Maaf sobat. jika aku tidak menuliskan semua alur kisah di awal perseteruanku dengan, si dia. Ya, mulai saat aku melaporkannya hingga kubisa bernapas lega.

__ADS_1


Alasanku tentunya, karena membuat napasku sesak. Aku


__ADS_2